Dua Pejuang PGRI: Ayah Didi dan Pak Syam, Mengabdi Tanpa Banyak Bicara
Ada foto yang sekadar menjadi kenangan. Ada pula foto yang menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, pengabdian, persahabatan, dan kesetiaan. Foto dua orang pejuang PGRI ini adalah salah satunya. Di sebuah ruang tunggu bandara, Ayah Didi dan Pak Syam duduk berdampingan sambil membentangkan bendera PGRI. Wajah mereka mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya tersimpan perjalanan panjang memperjuangkan martabat guru dan pendidikan Indonesia.
Bagi saya, melihat foto ini seperti membuka kembali lembaran sejarah perjuangan para guru. Bendera PGRI yang mereka pegang bukan sekadar kain dengan lambang organisasi. Di dalamnya ada harapan jutaan guru. Ada suara guru yang ingin didengar. Ada perjuangan agar profesi guru dihargai. Ada doa agar anak-anak Indonesia memperoleh pendidikan yang lebih baik.
Ayah Didi dan Pak Syam adalah dua sosok yang layak disebut pejuang PGRI.
Mereka bukan pejuang yang membawa senjata. Senjata mereka adalah keteguhan hati, keberanian menyampaikan aspirasi, kesetiaan kepada organisasi, dan keyakinan bahwa guru harus terus diperjuangkan. Perjuangan mereka mungkin tidak selalu masuk berita. Tidak selalu mendapatkan penghargaan. Bahkan mungkin tidak banyak orang yang mengetahui berapa banyak waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan yang telah mereka korbankan.
Namun begitulah perjuangan seorang guru.
Sering kali yang paling tulus justru tidak banyak berbicara tentang pengorbanannya.
Ayah Didi dan Pak Syam mengajarkan kepada kita bahwa berjuang tidak harus menunggu menjadi orang besar. Berjuang bisa dimulai dari kepedulian terhadap teman sejawat. Berjuang bisa dilakukan dengan hadir ketika organisasi membutuhkan. Berjuang bisa diwujudkan dengan menyampaikan suara guru dengan cara yang bermartabat.
Saya membayangkan perjalanan panjang yang telah mereka lalui. Berangkat dari satu daerah ke daerah lain, menghadiri pertemuan, berdiskusi, menyampaikan aspirasi, mendengarkan keluhan guru, kemudian kembali pulang membawa harapan baru. Tidak semua perjalanan mudah. Ada rasa lelah, ada perbedaan pendapat, ada kekecewaan, bahkan mungkin ada saat ketika perjuangan terasa seperti tidak menghasilkan apa-apa.
Tetapi mereka tetap berjalan.
Karena bagi seorang pejuang, hasil bukan satu-satunya alasan untuk berjuang. Ada nilai yang jauh lebih besar, yaitu keyakinan bahwa apa yang diperjuangkan itu benar dan bermanfaat bagi orang lain.
Foto ini juga mengingatkan saya bahwa PGRI bukan hanya sebuah organisasi. PGRI adalah rumah besar guru Indonesia. Di dalamnya berkumpul guru-guru dari berbagai daerah, berbagai latar belakang, dan berbagai generasi. Mereka dipersatukan oleh satu cita-cita: menjaga martabat guru dan memperjuangkan pendidikan Indonesia.
Bendera PGRI yang dibentangkan Ayah Didi dan Pak Syam seakan sedang berkata kepada kita semua: jangan pernah lelah memperjuangkan guru.
Guru boleh berganti generasi. Pengurus organisasi boleh berganti. Zaman terus berubah. Teknologi berkembang begitu cepat. Tantangan pendidikan semakin kompleks. Namun semangat perjuangan untuk memuliakan guru tidak boleh berhenti.
Hari ini mungkin kita menikmati hasil dari perjuangan orang-orang terdahulu. Besok, generasi setelah kita akan menikmati hasil dari apa yang kita perjuangkan hari ini.
Karena itu, jangan pernah menganggap kecil sebuah perjuangan.
Sebuah tulisan yang menyuarakan keresahan guru mungkin menjadi awal perubahan. Sebuah pertemuan kecil mungkin menghasilkan kebijakan besar. Sebuah keberanian untuk berbicara mungkin membuka jalan bagi ribuan guru lainnya.
Dan terkadang, sebuah foto sederhana di ruang tunggu bandara dapat menjadi pengingat bahwa perjuangan itu nyata.
Saya melihat Ayah Didi dan Pak Syam bukan hanya sebagai dua orang yang sedang memegang bendera PGRI. Saya melihat dua manusia yang sedang memegang amanah sejarah.
Amanah untuk meneruskan perjuangan para pendahulu.
Amanah untuk menjaga marwah guru.
Amanah untuk memastikan bahwa guru tidak berjalan sendirian.
Kita mungkin tidak tahu sampai kapan tenaga mereka akan terus kuat. Usia akan bertambah. Rambut akan memutih. Langkah mungkin tidak lagi secepat dahulu. Tetapi semangat pengabdian tidak harus menjadi tua.
Justru semakin bertambah usia, semakin banyak pengalaman yang dapat diwariskan kepada generasi muda.
Kepada para pejuang PGRI seperti Ayah Didi dan Pak Syam, izinkan kami mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena telah menunjukkan bahwa menjadi guru bukan sekadar pekerjaan. Menjadi guru adalah pengabdian. Dan memperjuangkan guru adalah bagian dari perjuangan menjaga masa depan bangsa.
Semoga langkah mereka selalu dimudahkan. Semoga setiap lelah menjadi amal kebaikan. Semoga setiap perjalanan menjadi catatan sejarah yang indah. Dan semoga generasi guru hari ini tidak melupakan jasa para pejuang yang telah berjalan lebih dahulu.
Dua pejuang PGRI, Ayah Didi dan Pak Syam.
Mungkin suatu hari foto ini hanya tinggal gambar dalam album kenangan. Namun cerita di baliknya jangan sampai hilang.
Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang namanya tertulis dalam buku sejarah. Bangsa juga dibangun oleh orang-orang sederhana yang bekerja dalam diam, berjuang tanpa pamrih, dan tetap berdiri ketika perjuangan terasa berat.
Guru adalah pejuang. PGRI adalah rumah perjuangannya. Dan perjuangan itu harus terus dilanjutkan.
Salam hormat untuk Ayah Didi dan Pak Syam. Semoga semangat juang kalian menjadi inspirasi bagi kami semua.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.