Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Kamis, 13 Agustus 2026

Senyum Kakek Dimjati yang Tidak Pernah Hilang Dari Ingatan

Senyum Kakek Dimjati yang Tak Pernah Hilang dari Ingatan

Ada kenangan sederhana dari Heri, cucu Kakek Dimjati, yang menurut saya justru sangat berharga untuk melengkapi kisah tentang sosok beliau. Heri mengenang Kakek Dimjati sebagai orang yang almarhum dan hambel kepada semua orang, terlebih kepada cucu-cucunya. Ia dikenal murah senyum. Bahkan setelah sekian lama berlalu, senyum Kakek Dimjati masih melekat kuat dalam ingatan Heri.

“Seingat saya senyumnya itu tidak bisa lupa.”

Kalimat sederhana tersebut terasa begitu dalam. Terkadang, seseorang tidak dikenang karena banyaknya kata-kata yang pernah diucapkan, tetapi karena sikap kecil yang diberikan kepada orang-orang di sekitarnya. Senyum adalah salah satunya. Senyum Kakek Dimjati ternyata menjadi bagian dari kenangan masa kecil yang tetap hidup dalam hati cucunya.

Heri juga mengingat masa ketika Kakek Dimjati sedang sakit dan harus berobat ke RS Fatmawati. Saat itu Kakek sempat menginap di rumah sakit, mungkin agar lebih dekat ketika harus menjalani kontrol dan pengobatan. Bagi keluarga, masa tersebut tentu bukan masa yang mudah. Melihat orang yang dicintai sakit selalu menghadirkan rasa sedih, terlebih bagi seorang cucu yang masih kecil.

Sayangnya, pada masa itu Kakek Dimjati lebih sering berada di dalam kamar karena kondisi kesehatannya. Kesempatan untuk bercengkerama dengan cucu pun menjadi terbatas. Heri sebenarnya ingin dekat dengan kakeknya, tetapi dunia anak-anak memiliki kesibukannya sendiri. Saat itu sedang musim layangan. Heri lebih banyak bermain di luar bersama teman-temannya.

“Sayang Kakek jarang keluar kamar karena sakit. Saya main terus waktu itu musim layangan, jadi kurang dekat.”

Pengakuan Heri ini justru terasa sangat manusiawi. Tidak ada penyesalan yang berlebihan, hanya sebuah kesadaran ketika ia sudah dewasa bahwa ternyata ada masa-masa kecil yang tidak mungkin diulang kembali. Dahulu ia mungkin lebih tertarik mengejar layangan di langit daripada duduk menemani kakeknya di kamar. Kini, ketika kenangan itu kembali muncul, ia menyadari bahwa waktu bersama orang yang kita cintai ternyata sangat berharga.

Dari cerita Heri, kita belajar bahwa kenangan keluarga tidak selalu berupa peristiwa besar. Kadang-kadang yang paling melekat justru sebuah senyum, sebuah tatapan, atau suasana sederhana ketika seorang kakek berada di dalam kamar sementara cucunya bermain di halaman.

Kakek Dimjati mungkin tidak banyak keluar kamar ketika sedang sakit, tetapi kasih sayangnya kepada keluarga tetap terasa. Orang yang murah senyum biasanya meninggalkan suasana hangat di hati orang-orang yang pernah berada di dekatnya. Itulah sebabnya senyum Kakek Dimjati masih diingat Heri hingga sekarang.

Ada satu pelajaran penting dari kisah ini. Selagi orang tua, kakek, nenek, atau orang-orang yang kita cintai masih ada, jangan terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri. Luangkan waktu untuk duduk bersama, mendengarkan cerita mereka, bertanya tentang masa lalu, atau sekadar menemani mereka tersenyum. Sebab ketika mereka sudah tiada, yang tersisa bukan lagi kesempatan untuk bertemu, melainkan kenangan.

Dan mungkin, suatu hari nanti, kita akan seperti Heri. Mengingat kembali masa kecil dan berkata dalam hati, “Andai waktu itu saya lebih sering duduk menemani Kakek.”

Namun kenangan tidak selalu harus berakhir dengan penyesalan. Kenangan dapat menjadi cara untuk menjaga seseorang tetap hidup dalam cerita keluarga. Senyum Kakek Dimjati yang masih diingat Heri adalah salah satu buktinya.

Kakek Dimjati telah pergi, tetapi senyumnya belum benar-benar pergi. Ia masih hidup dalam ingatan cucu-cucunya, dalam cerita keluarga, dan dalam kisah yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Sebab ada orang yang meninggalkan harta, ada yang meninggalkan nama, tetapi ada pula yang meninggalkan senyum. Dan senyum seperti itulah yang sering kali paling lama tinggal di hati.

Foto ini menjadi dokumentasi berharga dalam kisah perjalanan Kakek M.A. Dimjati di lingkungan Al-Azhar Kebayoran Baru. Dalam foto tersebut tampak Kakek M.A. Dimjati bersama para guru Al-Azhar Kebayoran Baru pada masa itu.

Foto lama seperti ini bukan sekadar gambar kenangan. Di dalamnya tersimpan cerita tentang perjuangan para guru pada masa awal perkembangan pendidikan Al-Azhar. Mereka menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah lembaga pendidikan yang kemudian berkembang besar dan dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

Bagi keluarga, foto ini tentu sangat istimewa. Sosok Kakek M.A. Dimjati yang selama ini dikenang sebagai pribadi yang rendah hati, murah senyum, dan dekat dengan banyak orang kini dapat dikenang melalui sebuah dokumentasi sejarah.

Satu foto, banyak cerita. Satu generasi guru, meninggalkan jejak pendidikan yang terus hidup sampai hari ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.