Tanggalkan Baju Kesombonganmu, Jadilah Orang yang Rendah Hati dan Sabar
Inspirasi Pagi, Rabu 2 September 2026
Pagi ini saya kembali belajar dari kehidupan bahwa ilmu yang kita miliki seharusnya membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati. Gelar yang tertulis di belakang nama, jabatan yang melekat di pundak, pengalaman yang panjang, ataupun penghargaan yang tersimpan di lemari, semuanya tidak akan memiliki makna apabila membuat kita merasa lebih hebat daripada orang lain. Justru semakin banyak ilmu yang kita miliki, seharusnya semakin sadar bahwa masih begitu banyak hal yang belum kita ketahui. Karena itu, pagi ini saya ingin mengajak diri saya sendiri dan sahabat pembaca untuk menanggalkan baju kesombongan, kemudian mengenakan pakaian kerendahan hati dan kesabaran dalam menjalani kehidupan.
Sebagai seorang guru, saya sering merasakan bahwa ruang kelas adalah tempat terbaik untuk belajar menjadi manusia. Kita memang datang ke sekolah membawa ilmu, pengalaman, dan berbagai pengetahuan yang ingin dibagikan kepada peserta didik. Namun, setiap kali berhadapan dengan anak-anak, saya menyadari bahwa mereka juga membawa pelajaran yang tidak tertulis di buku. Ada anak yang mengajarkan kesabaran, ada yang mengajarkan ketelitian, ada yang mengajarkan kejujuran, bahkan ada yang tanpa sengaja mengajarkan kita untuk tidak mudah marah. Guru yang merasa dirinya paling pintar biasanya akan cepat kecewa ketika muridnya tidak memahami penjelasan. Sebaliknya, guru yang rendah hati akan bertanya kepada dirinya sendiri, “Jangan-jangan cara mengajar saya yang perlu diperbaiki?”
Saya belajar bahwa menjaga lisan merupakan salah satu bentuk persahabatan terbaik dengan diri sendiri. Banyak masalah dalam kehidupan sebenarnya tidak dimulai dari perbuatan besar, tetapi dari kata-kata kecil yang keluar tanpa dipikirkan. Satu kalimat yang menyakitkan dapat diingat seseorang selama bertahun-tahun, sedangkan permintaan maaf terkadang tidak mampu menghapus seluruh bekasnya. Karena itu, sebelum berbicara, saya berusaha mengingatkan diri agar bertanya terlebih dahulu: apakah perkataan ini benar, apakah bermanfaat, dan apakah disampaikan dengan cara yang baik? Kalau tidak, mungkin diam adalah pilihan yang jauh lebih bijaksana.
Begitu pula dengan kesabaran. Sabar bukan berarti menyerah dan membiarkan kehidupan berjalan tanpa usaha. Sabar adalah kemampuan untuk tetap melakukan kebaikan meskipun hasilnya belum terlihat. Dalam perjalanan menulis, misalnya, saya pernah menulis banyak tulisan yang pembacanya hanya sedikit. Ada tulisan yang saya kira akan ramai ternyata sepi, sementara tulisan yang dibuat sederhana justru mendapatkan perhatian pembaca. Dari situ saya belajar bahwa tugas seorang penulis bukan memaksa orang membaca, melainkan terus menulis dengan hati yang tulus. Urusan kapan tulisan itu menemukan pembacanya, biarlah menjadi bagian dari perjalanan.
Kadang-kadang kita terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia sampai lupa memperbaiki diri sendiri. Kita ingin dipuji karena pintar, ingin dianggap hebat karena memiliki gelar, ingin dihormati karena jabatan, bahkan ingin dikenal karena banyaknya karya. Padahal, kehormatan seseorang sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimilikinya, tetapi oleh bagaimana ia memperlakukan orang lain. Orang yang benar-benar berilmu tidak perlu terus-menerus mengatakan bahwa dirinya pintar. Sikap, ucapan, dan perbuatannya akan menjadi bukti. Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk.
Saya juga percaya bahwa akal, iman, dan akhlak merupakan tiga hal yang harus berjalan bersama. Kecerdasan tanpa akhlak dapat membuat seseorang mudah merendahkan orang lain. Ilmu tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi alat untuk menunjukkan kehebatan diri. Sebaliknya, ilmu yang disertai iman dan akhlak akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan. Orang yang bijaksana bukanlah orang yang selalu memenangkan perdebatan, melainkan orang yang tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus memilih diam.
Dalam kehidupan sehari-hari, kebaikan sebenarnya tidak selalu membutuhkan tenaga besar dan biaya mahal. Tersenyum kepada orang lain, menyapa dengan ramah, mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika bersalah, memberikan nasihat dengan tulus, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan adalah bentuk kebaikan yang sangat sederhana. Sayangnya, sesuatu yang sederhana sering kali justru sulit dilakukan karena ego kita ingin selalu menang. Kita ingin menjadi orang terakhir yang berbicara dan merasa paling benar. Padahal, terkadang kemenangan terbesar adalah ketika kita berhasil mengalahkan kesombongan yang ada di dalam diri sendiri.
Pagi ini saya kembali mengingat sebuah pelajaran penting: mahkota seseorang adalah akalnya, derajat seseorang adalah agamanya, dan kehormatan seseorang adalah akhlaknya. Kalimat tersebut mengingatkan saya bahwa manusia tidak dinilai hanya dari apa yang tampak di luar. Penampilan dapat berubah, jabatan dapat berganti, kekayaan dapat berkurang, dan popularitas dapat datang serta pergi. Namun, akhlak yang baik akan selalu meninggalkan jejak dalam ingatan orang lain.
Sebagai Omjay, guru blogger Indonesia, saya ingin terus belajar menulis bukan sekadar untuk mengejar jumlah tulisan atau pembaca, tetapi untuk berbagi pengalaman dan meninggalkan manfaat. Saya pun masih jauh dari sempurna. Masih ada saat ketika emosi datang lebih cepat daripada kesabaran. Masih ada saat ketika ego ingin didahulukan. Namun, bukankah hidup memang sebuah proses belajar? Yang penting adalah mau menyadari kekurangan, memperbaikinya, lalu mencoba lagi dengan hati yang lebih tenang.
Kita tidak akan pernah meraih kesuksesan jika tidak pernah memulainya. Karena itu, jangan menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik. Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu pintar untuk belajar. Jangan menunggu terkenal untuk menulis. Dan jangan menunggu tua untuk menjadi bijaksana. Mulailah dari hal kecil hari ini.
Tanggalkan baju kesombonganmu. Lepaskan keinginan untuk selalu dipuji. Rendahkan hati di hadapan sesama manusia dan tundukkan diri di hadapan Allah. Jagalah lisan, perbaiki akhlak, berikan nasihat dengan tulus, dan rawat kesabaran dalam setiap keadaan. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa tinggi kita berdiri yang paling penting, tetapi seberapa banyak orang yang merasa nyaman dan mendapatkan manfaat ketika berada di dekat kita.
Tetap semangat menjalani hari. Terus belajar, terus berbagi, terus menulis, dan terus memperbaiki diri.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Barakallah fiikum.