Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 02 September 2026

Tanggalkan Baju Kesombonganmu dan Jadilah Orang yang Sabar dan Rendah Hati

Tanggalkan Baju Kesombonganmu, Jadilah Orang yang Rendah Hati dan Sabar

Inspirasi Pagi, Rabu 2 September 2026

Pagi ini saya kembali belajar dari kehidupan bahwa ilmu yang kita miliki seharusnya membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati. Gelar yang tertulis di belakang nama, jabatan yang melekat di pundak, pengalaman yang panjang, ataupun penghargaan yang tersimpan di lemari, semuanya tidak akan memiliki makna apabila membuat kita merasa lebih hebat daripada orang lain. Justru semakin banyak ilmu yang kita miliki, seharusnya semakin sadar bahwa masih begitu banyak hal yang belum kita ketahui. Karena itu, pagi ini saya ingin mengajak diri saya sendiri dan sahabat pembaca untuk menanggalkan baju kesombongan, kemudian mengenakan pakaian kerendahan hati dan kesabaran dalam menjalani kehidupan.

Sebagai seorang guru, saya sering merasakan bahwa ruang kelas adalah tempat terbaik untuk belajar menjadi manusia. Kita memang datang ke sekolah membawa ilmu, pengalaman, dan berbagai pengetahuan yang ingin dibagikan kepada peserta didik. Namun, setiap kali berhadapan dengan anak-anak, saya menyadari bahwa mereka juga membawa pelajaran yang tidak tertulis di buku. Ada anak yang mengajarkan kesabaran, ada yang mengajarkan ketelitian, ada yang mengajarkan kejujuran, bahkan ada yang tanpa sengaja mengajarkan kita untuk tidak mudah marah. Guru yang merasa dirinya paling pintar biasanya akan cepat kecewa ketika muridnya tidak memahami penjelasan. Sebaliknya, guru yang rendah hati akan bertanya kepada dirinya sendiri, “Jangan-jangan cara mengajar saya yang perlu diperbaiki?”

Saya belajar bahwa menjaga lisan merupakan salah satu bentuk persahabatan terbaik dengan diri sendiri. Banyak masalah dalam kehidupan sebenarnya tidak dimulai dari perbuatan besar, tetapi dari kata-kata kecil yang keluar tanpa dipikirkan. Satu kalimat yang menyakitkan dapat diingat seseorang selama bertahun-tahun, sedangkan permintaan maaf terkadang tidak mampu menghapus seluruh bekasnya. Karena itu, sebelum berbicara, saya berusaha mengingatkan diri agar bertanya terlebih dahulu: apakah perkataan ini benar, apakah bermanfaat, dan apakah disampaikan dengan cara yang baik? Kalau tidak, mungkin diam adalah pilihan yang jauh lebih bijaksana.

Begitu pula dengan kesabaran. Sabar bukan berarti menyerah dan membiarkan kehidupan berjalan tanpa usaha. Sabar adalah kemampuan untuk tetap melakukan kebaikan meskipun hasilnya belum terlihat. Dalam perjalanan menulis, misalnya, saya pernah menulis banyak tulisan yang pembacanya hanya sedikit. Ada tulisan yang saya kira akan ramai ternyata sepi, sementara tulisan yang dibuat sederhana justru mendapatkan perhatian pembaca. Dari situ saya belajar bahwa tugas seorang penulis bukan memaksa orang membaca, melainkan terus menulis dengan hati yang tulus. Urusan kapan tulisan itu menemukan pembacanya, biarlah menjadi bagian dari perjalanan.

Kadang-kadang kita terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia sampai lupa memperbaiki diri sendiri. Kita ingin dipuji karena pintar, ingin dianggap hebat karena memiliki gelar, ingin dihormati karena jabatan, bahkan ingin dikenal karena banyaknya karya. Padahal, kehormatan seseorang sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimilikinya, tetapi oleh bagaimana ia memperlakukan orang lain. Orang yang benar-benar berilmu tidak perlu terus-menerus mengatakan bahwa dirinya pintar. Sikap, ucapan, dan perbuatannya akan menjadi bukti. Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk.

Saya juga percaya bahwa akal, iman, dan akhlak merupakan tiga hal yang harus berjalan bersama. Kecerdasan tanpa akhlak dapat membuat seseorang mudah merendahkan orang lain. Ilmu tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi alat untuk menunjukkan kehebatan diri. Sebaliknya, ilmu yang disertai iman dan akhlak akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan. Orang yang bijaksana bukanlah orang yang selalu memenangkan perdebatan, melainkan orang yang tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus memilih diam.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebaikan sebenarnya tidak selalu membutuhkan tenaga besar dan biaya mahal. Tersenyum kepada orang lain, menyapa dengan ramah, mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika bersalah, memberikan nasihat dengan tulus, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan adalah bentuk kebaikan yang sangat sederhana. Sayangnya, sesuatu yang sederhana sering kali justru sulit dilakukan karena ego kita ingin selalu menang. Kita ingin menjadi orang terakhir yang berbicara dan merasa paling benar. Padahal, terkadang kemenangan terbesar adalah ketika kita berhasil mengalahkan kesombongan yang ada di dalam diri sendiri.

Pagi ini saya kembali mengingat sebuah pelajaran penting: mahkota seseorang adalah akalnya, derajat seseorang adalah agamanya, dan kehormatan seseorang adalah akhlaknya. Kalimat tersebut mengingatkan saya bahwa manusia tidak dinilai hanya dari apa yang tampak di luar. Penampilan dapat berubah, jabatan dapat berganti, kekayaan dapat berkurang, dan popularitas dapat datang serta pergi. Namun, akhlak yang baik akan selalu meninggalkan jejak dalam ingatan orang lain.

Sebagai Omjay, guru blogger Indonesia, saya ingin terus belajar menulis bukan sekadar untuk mengejar jumlah tulisan atau pembaca, tetapi untuk berbagi pengalaman dan meninggalkan manfaat. Saya pun masih jauh dari sempurna. Masih ada saat ketika emosi datang lebih cepat daripada kesabaran. Masih ada saat ketika ego ingin didahulukan. Namun, bukankah hidup memang sebuah proses belajar? Yang penting adalah mau menyadari kekurangan, memperbaikinya, lalu mencoba lagi dengan hati yang lebih tenang.

Kita tidak akan pernah meraih kesuksesan jika tidak pernah memulainya. Karena itu, jangan menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik. Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu pintar untuk belajar. Jangan menunggu terkenal untuk menulis. Dan jangan menunggu tua untuk menjadi bijaksana. Mulailah dari hal kecil hari ini.

Tanggalkan baju kesombonganmu. Lepaskan keinginan untuk selalu dipuji. Rendahkan hati di hadapan sesama manusia dan tundukkan diri di hadapan Allah. Jagalah lisan, perbaiki akhlak, berikan nasihat dengan tulus, dan rawat kesabaran dalam setiap keadaan. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa tinggi kita berdiri yang paling penting, tetapi seberapa banyak orang yang merasa nyaman dan mendapatkan manfaat ketika berada di dekat kita.

Tetap semangat menjalani hari. Terus belajar, terus berbagi, terus menulis, dan terus memperbaiki diri.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Barakallah fiikum.

Selasa, 01 September 2026

otn 2026 akan segera digelar di jicc senayan

OTN 2026 Akan Kembali Digelar di Senayan, Saatnya Guru Informatika Bersiap

Kabar baik datang untuk para guru, peserta didik, dan pegiat teknologi pendidikan di Indonesia. Olimpiade Informatika dan KKA atau OTN 2026 direncanakan kembali digelar di kawasan Senayan, Jakarta, sekitar bulan Oktober 2026. Setelah sebelumnya menjadi ruang bertemunya guru, peserta didik, komunitas, dan pegiat informatika, OTN 2026 diharapkan dapat menghadirkan semangat baru dalam mengembangkan kompetensi digital di tengah perubahan teknologi yang berlangsung begitu cepat.

Bagi saya, OTN bukan sekadar sebuah kegiatan perlombaan. OTN adalah momentum untuk mempertemukan orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan informatika, koding, dan kecerdasan artifisial. Di sinilah guru dapat saling berbagi pengalaman, peserta didik dapat menguji kemampuan, dan komunitas dapat membangun jejaring yang lebih luas. Teknologi boleh berkembang dengan sangat cepat, tetapi manusia yang menggunakannya tetap harus belajar, berpikir kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.

Tahun 2026 menjadi tahun yang menarik karena Informatika dan Koding serta Kecerdasan Artifisial atau KKA semakin mendapatkan tempat penting dalam dunia pendidikan. Peserta didik tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu belajar bagaimana teknologi bekerja, bagaimana membuat solusi digital, bagaimana menyusun algoritma, serta bagaimana menggunakan kecerdasan artifisial secara bijak. Karena itu, kegiatan seperti OTN memiliki peran strategis dalam menumbuhkan budaya belajar teknologi sejak dini.

Komunitas Guru Informatika dan KKA PGRI tentu memiliki peran penting dalam perjalanan ini. Komunitas bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga ruang untuk belajar bersama. Guru yang sudah berpengalaman dapat berbagi dengan guru yang baru mulai mengajar informatika. Sebaliknya, guru muda sering membawa energi dan gagasan baru yang membuat pembelajaran menjadi lebih segar. Dari pertemuan seperti inilah lahir kolaborasi yang kadang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya.

Saya membayangkan suasana OTN 2026 nanti akan kembali semarak. Para peserta datang dengan semangat membawa karya, ide, dan kemampuan terbaiknya. Ada yang sibuk mempersiapkan materi lomba, ada yang berlatih coding, ada yang mencoba memanfaatkan AI untuk menyelesaikan persoalan, dan tentu saja ada guru yang sibuk mendampingi anak didiknya sambil sesekali bertanya, “Pak, kalau ini salah bagaimana?” Saya biasanya menjawab dengan santai, “Tidak apa-apa salah. Yang penting jangan berhenti belajar.”

Bagi seorang guru, kesalahan dalam proses belajar bukanlah akhir perjalanan. Justru dari kesalahan itulah peserta didik belajar menemukan cara yang lebih baik. Inilah semangat yang seharusnya dibawa dalam OTN 2026. Kompetisi bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, tetapi juga tentang siapa yang berani mencoba, belajar dari kegagalan, dan pulang membawa pengalaman baru.

Jika OTN 2026 benar-benar digelar sekitar Oktober di JICC Senayan, Jakarta, saya berharap kegiatan ini menjadi pertemuan besar keluarga informatika dan KKA Indonesia. Semoga bukan hanya peserta lomba yang mendapatkan manfaat, tetapi juga para guru, sekolah, komunitas, dan masyarakat pendidikan secara lebih luas.

Tentu kita masih menunggu informasi resmi mengenai tanggal, rangkaian kegiatan, kategori lomba, mekanisme pendaftaran, serta ketentuan peserta. Namun sejak sekarang, tidak ada salahnya para guru dan peserta didik mulai mempersiapkan diri. Belajar coding, memahami konsep informatika, mengenal kecerdasan artifisial, membuat karya digital, dan yang paling penting membangun keberanian untuk mencoba.

Saya percaya, masa depan pendidikan Indonesia membutuhkan guru yang tidak takut terhadap teknologi. Guru tidak harus menjadi programmer hebat untuk mengajarkan informatika, tetapi guru harus mau terus belajar. Sebab teknologi terus berubah. Hari ini kita belajar satu aplikasi, besok mungkin muncul aplikasi baru. Hari ini kita mengenal satu model AI, besok mungkin lahir teknologi yang jauh lebih canggih.

OTN 2026 mudah-mudahan menjadi salah satu panggung untuk menunjukkan bahwa guru Indonesia siap menghadapi perubahan tersebut. Dari Senayan, semoga lahir inspirasi baru, kolaborasi baru, dan generasi baru yang tidak hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan teknologi yang bermanfaat bagi manusia.

Bagi saya, OTN 2026 bukan hanya tentang olimpiade. Ia adalah tentang semangat belajar tanpa henti. Sebab di dunia informatika, satu hal yang pasti adalah perubahan. Dan guru yang mau terus belajar akan selalu memiliki tempat dalam perubahan itu.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Belajarlah setiap hari dan rasakan bagaimana teknologi dapat menjadi sahabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. OTN 2026, semoga kita bertemu kembali di Senayan!

tpg belum cair guru kembali diuji kesabarannya

TPG Belum Cair, Guru Kembali Diuji dengan Mata Pelajaran Kesabaran

Kisah Omjay, Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Pagi itu, Selasa, 1 September 2026, grup percakapan guru kembali ramai. Bukan karena ada kabar kenaikan kesejahteraan, bukan pula karena pemerintah memberikan hadiah istimewa kepada para guru. Yang ramai justru pertanyaan yang sejak beberapa minggu terakhir terus berulang: “TPG sudah cair belum?” Pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya ternyata tidak sesederhana mengisi daftar hadir di sekolah.

Ada guru yang mengabarkan bahwa TPG di Jawa Barat sudah cair sejak malam sebelumnya. Ada pula guru di Jawa Barat yang sampai siang masih menunggu “hilal” masuknya tunjangan ke rekening. Saya membaca percakapan itu sambil tersenyum getir. Seorang guru mengatakan hampir setiap hari membuka mobile banking. Saya kemudian bergurau, jangan-jangan sekarang ada mata pelajaran baru bagi guru, yaitu Matpel Kesabaran, dengan praktik wajib berupa membuka mobile banking setiap pagi, siang, sore, dan malam.

Guru memang manusia paling terlatih dalam urusan sabar. Menunggu siswa mengumpulkan tugas saja sudah biasa. Menunggu rapat selesai juga biasa. Menunggu kebijakan pemerintah yang berubah-ubah pun sudah menjadi bagian dari perjalanan profesi. Namun, kalau yang ditunggu adalah tunjangan profesi guru yang menjadi hak setelah memenuhi berbagai persyaratan, tentu rasa sabar itu memiliki batas.

Dalam percakapan tersebut muncul berbagai pengalaman dari para guru. Ada yang menyebut pencairan mulai dilakukan sejak 31 Agustus, tetapi belum semua guru menerimanya. Ada pula yang menyampaikan bahwa di Jakarta masih ada guru yang belum menerima. Bahkan saya mendapat laporan bahwa di Bekasi terdapat guru yang tunjangan sertifikasinya belum cair sejak April hingga memasuki September. Artinya, ada yang sudah menunggu sekitar enam bulan.

Saya tidak ingin menjadikan pengalaman pribadi atau cerita di grup percakapan sebagai satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh daerah mengalami persoalan yang sama. Setiap daerah bisa memiliki mekanisme dan waktu pencairan yang berbeda. Namun, banyaknya keluhan dari guru menunjukkan satu hal penting: pemerintah dan organisasi profesi guru perlu memberikan informasi yang jelas, terbuka, dan mudah dipahami.

Guru tidak membutuhkan janji yang muluk-muluk. Guru hanya ingin kepastian. Kalau memang ada kendala administrasi, sampaikan kendalanya. Kalau ada proses verifikasi yang belum selesai, jelaskan tahapannya. Kalau dana sudah tersedia tetapi pencairan membutuhkan waktu, berikan informasi yang transparan. Jangan biarkan guru hanya menjadi penonton yang setiap hari mengecek saldo rekening sambil bertanya dalam hati, “Hari ini cair nggak, ya?”

Yang lebih menarik, percakapan guru juga mulai membicarakan soal berbagai potongan. Ada yang mempertanyakan potongan pajak dan BPJS, bahkan muncul cerita mengenai pemotongan tambahan yang disebut berkaitan dengan kesalahan pemotongan sebelumnya. Hal seperti ini tentu membutuhkan penjelasan resmi agar tidak berkembang menjadi prasangka.

Menurut saya, masalah potongan harus dibicarakan secara terbuka. Guru berhak mengetahui berapa jumlah tunjangan yang seharusnya diterima, berapa yang dipotong, apa dasar pemotongannya, dan ke mana dana tersebut dialokasikan. Transparansi bukan bentuk ketidakpercayaan kepada pemerintah. Justru transparansi adalah cara membangun kepercayaan.

Dalam percakapan grup itu, muncul pula gagasan untuk membuat petisi apabila persoalan TPG belum mendapatkan kepastian. Saya kira gagasan tersebut perlu dibicarakan secara serius oleh organisasi guru. Bukan untuk membuat keributan, apalagi untuk mencari musuh, tetapi untuk menyampaikan aspirasi secara tertib, terukur, dan bermartabat.

Saya teringat kalimat yang sering saya sampaikan kepada teman-teman guru: organisasi guru akan kuat kalau guru-gurunya bersatu dan berani menyampaikan suara secara bersama-sama. Jangan sampai ada puluhan organisasi guru, tetapi ketika guru menghadapi persoalan yang sama, semuanya justru diam sendiri-sendiri.

Saya berharap para pengurus organisasi profesi dan komunitas guru dapat segera duduk bersama. Tidak harus langsung menggelar pertemuan besar. Kalau perlu, mulai saja dengan Zoom. Kita kumpulkan data, dengarkan suara guru dari berbagai daerah, petakan persoalan pencairan TPG, lalu rumuskan langkah yang tepat untuk disampaikan kepada kementerian dan pemerintah daerah.

Jangan sampai guru hanya diminta sabar tanpa pernah diberi kepastian. Sabar itu baik, tetapi kepastian juga merupakan hak. Guru sudah terlalu lama menjadi profesi yang selalu diminta memahami keadaan. Sekarang mungkin sudah waktunya pemerintah memahami keadaan guru.

Saya teringat kembali candaan saya di grup tadi: “Kayak ada mata pelajaran baru namanya kesabaran.” Semua tertawa. Tetapi di balik tawa itu sebenarnya ada kegelisahan. Sebab guru boleh bercanda, boleh tersenyum, bahkan boleh tetap mengajar dengan penuh dedikasi, tetapi kebutuhan hidup tetap berjalan.

Anak harus makan. Listrik harus dibayar. Transportasi harus tersedia. Kebutuhan sekolah juga tidak berhenti. Guru pun memiliki keluarga yang membutuhkan kepastian.

Karena itu, memasuki September 2026, saya berharap persoalan TPG tidak lagi menjadi misteri bulanan. Datanglah tepat waktu, tepat jumlah, dan dengan mekanisme yang transparan. Kalau memang ada kendala, sampaikan kepada guru secara terbuka.

Dan untuk organisasi guru, saya kira inilah saatnya bergerak bersama. Tidak perlu saling menunggu. Tidak perlu menunggu guru lain bersuara lebih dahulu. Mulailah dari data, dialog, dan persatuan.

Sebab guru yang setiap hari mengajarkan anak-anak tentang disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran tentu pantas mendapatkan hal yang sama dari negara yang mereka layani.

Guru boleh sabar. Tetapi jangan jadikan kesabaran guru sebagai alasan untuk terus menunda kepastian.

Saya, Omjay, Guru Blogger Indonesia, memilih menuliskan kegelisahan ini. Bukan karena ingin mencari masalah, tetapi karena saya percaya bahwa tulisan dapat menjadi jembatan antara suara guru dan mereka yang memiliki kewenangan untuk memperbaikinya.

Kalau suara guru bersatu, insyaallah bukan hanya TPG yang akan lebih tepat waktu, tetapi juga penghargaan terhadap profesi guru akan semakin bermartabat.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Membaca Buku ICT for Cambridge

Menemukan Inspirasi Mengajar dari Buku ICT Cambridge IGCSE, Sebuah Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia

Ada kalanya seorang guru mendapatkan inspirasi bukan dari pelatihan yang mahal, seminar yang ramai, atau teknologi terbaru yang sedang viral, tetapi justru dari sebuah buku yang sudah lama berada di atas meja. Itulah yang saya rasakan ketika melihat dan membaca buku ICT for Cambridge IGCSE™ Coursebook Third Edition karya David Waller, Victoria Wright, dan Denise Taylor. Buku terbitan Cambridge University Press ini bukan sekadar buku pelajaran teknologi informasi. Bagi saya, buku ini seperti cermin yang mengajak seorang guru Informatika bertanya kembali: sudahkah pembelajaran teknologi di kelas benar-benar membuat siswa mampu menggunakan teknologi untuk memecahkan persoalan kehidupan?

Buku yang saya pegang tersebut adalah edisi ketiga yang diterbitkan pada 2021 dan memiliki ISBN 9781108901093. Buku ini secara resmi tercatat sebagai salah satu endorsed resources untuk Cambridge IGCSE Information and Communication Technology, termasuk syllabus 0417 dan 0983, serta mendukung pembelajaran untuk ujian mulai 2023. Cambridge menjelaskan bahwa buku ini dirancang bukan hanya untuk memperkuat pemahaman teori, tetapi juga keterampilan praktik dan kemampuan menerapkan ICT dalam situasi kehidupan nyata. 

Sebagai guru yang sudah lama mengajar Informatika, saya langsung tertarik dengan pendekatan tersebut. Saya selalu percaya bahwa belajar komputer tidak cukup hanya dengan menghafal pengertian hardware, software, jaringan, database, spreadsheet, atau internet. Anak-anak harus diberi kesempatan untuk menyentuh, mencoba, salah, memperbaiki, kemudian menghasilkan sesuatu. Kalau siswa hanya mampu menjawab soal pilihan ganda tentang spreadsheet tetapi tidak mampu menggunakannya untuk mengolah data kelas, menurut saya pembelajaran itu belum selesai. Komputer bukan benda pajangan di laboratorium. Komputer adalah alat untuk berpikir, berkarya, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Yang menarik perhatian saya dari buku Cambridge ini adalah adanya pendekatan bertahap dalam kegiatan praktik. Cambridge menjelaskan bahwa tugas praktik dalam buku tersebut menggunakan tiga tingkatan, yaitu Getting Started, Practice, dan Challenge. Dengan pola seperti ini, siswa pemula dapat memulai dari keterampilan dasar, kemudian berlatih, lalu siswa yang lebih percaya diri dapat menghadapi tantangan yang lebih tinggi. 

Saya membayangkan suasana kelas ketika pendekatan tersebut diterapkan. Guru tidak perlu lagi berkata, “Anak-anak, ikuti semua langkah yang saya lakukan.” Sebaliknya, guru dapat memberikan sebuah masalah dan membiarkan siswa mencari jalan keluarnya. Ada siswa yang cepat memahami, ada yang perlu dibimbing, dan ada pula yang tiba-tiba menemukan cara berbeda dari gurunya. Di situlah pembelajaran menjadi hidup. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber jawaban. Guru menjadi fasilitator yang membantu siswa menemukan jawaban.

Buku ini juga menarik karena tidak berhenti pada keterampilan menggunakan aplikasi. Materinya mencakup sistem komputer, perangkat input dan output, media penyimpanan, jaringan, dampak penggunaan teknologi informasi, berbagai aplikasi ICT, systems life cycle, keselamatan dan keamanan, komunikasi, serta manajemen file. Setelah itu siswa masuk ke wilayah keterampilan praktik seperti gambar, layout, styles, proofreading, grafik dan chart, produksi dokumen, database, presentasi, spreadsheet, sampai website authoring. 

Bagi saya, susunan seperti ini memberikan pesan penting bahwa literasi digital tidak sama dengan sekadar bisa menggunakan gawai. Anak yang setiap hari menggunakan telepon pintar belum tentu memahami keamanan data. Anak yang pandai membuat video belum tentu memahami hak cipta. Anak yang bisa mengakses internet belum tentu mampu menilai informasi yang benar dan salah. Anak yang mahir menggunakan aplikasi belum tentu mampu mengolah data menjadi informasi. Karena itu, pendidikan Informatika harus jauh lebih luas daripada sekadar mengajarkan tombol mana yang harus diklik.

Saya juga tertarik dengan konsep ICT in Context yang terdapat dalam buku ini. Fitur tersebut menghubungkan pembelajaran dengan situasi nyata sehingga siswa dapat melihat relevansi teknologi dalam kehidupan dan dunia kerja. Ada pula fitur Reflection yang mendorong siswa menilai dan mengevaluasi perjalanan belajarnya sendiri. 

Di sinilah saya melihat hubungan yang kuat dengan pengalaman saya sebagai guru dan blogger. Menulis di blog selama bertahun-tahun mengajarkan saya bahwa teknologi akan menjadi lebih bermakna ketika digunakan untuk menghasilkan karya. Saya tidak ingin siswa hanya menjadi konsumen teknologi. Saya ingin mereka menjadi pencipta. Mereka dapat membuat tulisan, infografis, spreadsheet, database, presentasi, website, aplikasi sederhana, bahkan memanfaatkan kecerdasan artifisial secara bijaksana untuk membantu proses belajar.

Ketika melihat bagian spreadsheet, database, grafik, dan website authoring, saya langsung membayangkan bagaimana materi tersebut dapat dikembangkan menjadi pembelajaran berbasis proyek. Misalnya siswa diberikan data sederhana tentang kegiatan kelas. Mereka diminta membersihkan data, mengolahnya menggunakan spreadsheet, membuat grafik, menarik kesimpulan, kemudian mempublikasikan hasil analisisnya dalam sebuah halaman web. Dengan satu proyek saja, siswa dapat belajar pengolahan data, visualisasi, komunikasi, desain, dan pemecahan masalah.

Saya pun semakin yakin bahwa guru Informatika perlu rajin membaca buku dari berbagai sumber. Tidak harus meniru semuanya, tetapi mengambil gagasan terbaik kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa Indonesia. Buku Cambridge ini dibuat untuk konteks Cambridge IGCSE sehingga tentu tidak bisa langsung dianggap sebagai kurikulum Indonesia. Namun, pendekatan pembelajarannya dapat menjadi inspirasi yang sangat berharga bagi guru.

Ada satu hal lagi yang membuat saya tersenyum. Kadang-kadang kita sebagai guru terlalu sibuk mengejar materi sampai lupa bertanya kepada siswa, “Apa yang bisa kamu lakukan dengan pengetahuan ini?” Padahal pertanyaan itulah yang seharusnya menjadi pusat pembelajaran. Anak tidak akan membawa semua definisi buku ke masa depannya. Namun, kemampuan berpikir, memecahkan masalah, bekerja dengan data, berkomunikasi, membuat karya, dan belajar secara mandiri akan terus mereka bawa.

Buku ini akhirnya membuat saya kembali kepada prinsip sederhana yang selama ini saya pegang sebagai Omjay Guru Blogger Indonesia: menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Membaca buku membuat kita mendapatkan ide. Mengajar membuat ide itu diuji. Menulis membuat pengalaman tersebut terdokumentasi. Ketika pengalaman dibagikan kepada orang lain, muncullah inspirasi baru. Begitulah guru seharusnya terus bergerak dari membaca, mencoba, menulis, berbagi, lalu belajar kembali.

Bagi saya, ICT for Cambridge IGCSE™ Coursebook Third Edition bukan hanya buku Cambridge. Ia adalah pengingat bahwa pembelajaran Informatika seharusnya membawa siswa dari mengetahui menjadi melakukan, dari melakukan menjadi menciptakan, dan dari menciptakan menjadi mampu memecahkan persoalan nyata. Teknologi boleh berubah sangat cepat, tetapi kemampuan manusia untuk belajar, berpikir, berkarya, dan berbagi tidak pernah kehilangan makna.

Mungkin itulah alasan saya senang menemukan buku ini. Di tengah perkembangan AI yang begitu cepat, kita justru semakin membutuhkan pendidikan Informatika yang kuat. Anak-anak tidak cukup diajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Mereka harus diajarkan mengapa teknologi digunakan, kapan harus digunakan, bagaimana menggunakannya secara aman, dan untuk tujuan apa teknologi tersebut dimanfaatkan.

Sebagai guru, saya ingin terus belajar. Sebagai blogger, saya ingin terus menulis. Sebagai pendidik, saya ingin terus mencoba. Sebab saya percaya, guru yang berhenti belajar akan segera tertinggal oleh muridnya sendiri. Dan seperti biasa, saya kembali mengingat kalimat sederhana yang selalu menemani perjalanan saya:

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Hari ini saya membaca buku Cambridge. Besok mungkin saya mencoba satu pendekatan baru di kelas. Lusa saya menuliskan pengalamannya. Dari sebuah buku, lahirlah sebuah ide. Dari sebuah ide, lahirlah pembelajaran. Dan dari pembelajaran, semoga lahir generasi yang tidak hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga bijaksana dalam memanfaatkannya.

Inilah kisah Omjay, Guru Blogger Indonesia yang percaya bahwa membaca buku bukanlah akhir dari belajar. Membaca adalah awal dari sebuah perjalanan untuk mencoba, berkarya, dan menginspirasi.