Dari Surat Undangan, Saya Belajar: Menjadi Guru Berarti Terus Berbagi
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Ada kebahagiaan tersendiri ketika seorang guru menerima surat undangan untuk menjadi narasumber. Bukan semata-mata karena mendapatkan kesempatan berbicara di depan banyak orang, tetapi karena ada kepercayaan yang diberikan kepada kita untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan.
Hari ini, Rabu, 23 September 2026, saya menerima sebuah surat yang membuat saya kembali merenungkan perjalanan panjang sebagai seorang guru.
Surat itu datang dari SMK Negeri 18 Jakarta, melalui surat bernomor 787/PK.01.04, tertanggal 22 September 2026. Isinya adalah permohonan kepada Kepala SMP Labschool Jakarta agar menugaskan saya menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Literasi TKA.
Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada:
- Hari: Jumat
- Tanggal: 25 September 2026
- Waktu: 08.00 WIB sampai selesai
- Tempat: Aula SMK Negeri 18 Jakarta
- Acara: Kegiatan Pelatihan Literasi TKA
Bagi sebagian orang, mungkin surat seperti ini hanyalah surat undangan biasa.
Namun bagi saya, surat tersebut mempunyai makna yang lebih dalam.
Dari Guru Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat
Saya mulai mengajar sejak tahun 1994.
Artinya, perjalanan saya sebagai guru sudah sangat panjang. Banyak perubahan terjadi dalam dunia pendidikan. Dulu kita mengajar dengan papan tulis dan kapur. Kemudian hadir komputer, internet, LCD projector, smartphone, media sosial, pembelajaran digital, hingga sekarang kita berhadapan dengan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Perubahan itu mengajarkan saya satu hal.
Guru tidak boleh berhenti belajar.
Ketika guru berhenti belajar, ia akan kesulitan mengajak muridnya untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Itulah sebabnya saya selalu berusaha belajar dari siapa saja dan dari mana saja.
Saya belajar dari buku.
Saya belajar dari pengalaman mengajar.
Saya belajar dari murid.
Saya belajar dari guru lain.
Saya belajar dari komunitas.
Dan sekarang saya juga belajar bagaimana teknologi AI dapat digunakan secara bijak dalam dunia pendidikan.
Undangan Ini Mengingatkan Saya pada Perjalanan Menulis
Menjadi narasumber juga tidak bisa dilepaskan dari perjalanan saya sebagai seorang penulis.
Saya mulai menulis di blog sejak tahun 2007.
Awalnya saya hanya ingin mendokumentasikan pengalaman mengajar. Saya menulis apa yang saya lakukan di kelas, apa yang saya pelajari, dan apa yang saya rasakan sebagai seorang guru.
Ternyata tulisan-tulisan sederhana itu membawa saya ke banyak tempat.
Saya kemudian mendapatkan kesempatan menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan pendidikan.
Dari satu undangan muncul undangan berikutnya.
Dari satu tulisan lahir tulisan lainnya.
Dari satu pertemuan saya bertemu banyak guru hebat.
Saya semakin percaya bahwa menulis adalah salah satu cara guru meninggalkan jejak kebaikan.
Ketika kita menulis, pengalaman yang kita miliki tidak berhenti di dalam diri kita.
Pengalaman itu dapat dibaca orang lain.
Dapat dipelajari.
Dapat dikembangkan.
Bahkan mungkin dapat menginspirasi guru yang belum pernah kita kenal.
Literasi TKA Bukan Sekadar Persiapan Menghadapi Tes
Dalam kegiatan Pelatihan Literasi TKA nanti, saya tentu tidak ingin sekadar berbicara tentang bagaimana menjawab soal.
Literasi jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca teks.
Literasi adalah kemampuan memahami informasi, mengolahnya, menilai kebenarannya, kemudian menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan.
Di tengah derasnya informasi digital, kemampuan seperti ini menjadi semakin penting.
Anak-anak kita setiap hari berhadapan dengan berbagai informasi.
Ada informasi yang benar.
Ada informasi yang belum tentu benar.
Ada opini.
Ada iklan.
Ada konten yang dibuat manusia.
Ada pula konten yang dibuat dengan bantuan AI.
Karena itu, kemampuan literasi harus terus dibangun.
Guru mempunyai peran penting dalam proses tersebut.
Saya Datang Bukan untuk Menggurui
Jika nanti berdiri di depan para peserta pelatihan, saya tidak ingin merasa sebagai orang yang paling tahu.
Saya datang sebagai sesama pembelajar.
Saya akan membawa pengalaman.
Saya akan berbagi praktik yang pernah saya lakukan.
Saya juga akan membawa cerita tentang keberhasilan dan kegagalan.
Sebab dari kegagalan pun kita bisa belajar.
Saya percaya bahwa narasumber yang baik bukanlah orang yang membuat peserta merasa dirinya hebat.
Narasumber yang baik adalah orang yang membuat peserta pulang dengan membawa gagasan baru yang bisa dipraktikkan.
Itulah prinsip yang ingin saya pegang.
Terima Kasih atas Kepercayaan
Saya mengucapkan terima kasih kepada SMK Negeri 18 Jakarta yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk berbagi dalam kegiatan Pelatihan Literasi TKA.
Saya juga berterima kasih kepada Kepala SMP Labschool Jakarta atas dukungan dan kepercayaannya.
Surat undangan ini kembali mengingatkan saya bahwa perjalanan seorang guru memang tidak pernah selesai.
Mengajar membuat kita belajar.
Belajar membuat kita berkembang.
Menulis membuat pengalaman kita terdokumentasi.
Berbagi membuat ilmu kita bermanfaat bagi orang lain.
Maka, selama masih diberi kesempatan, saya akan terus belajar, mengajar, menulis, dan berbagi.
Karena bagi saya, menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan ilmu kepada murid.
Menjadi guru adalah perjalanan untuk terus menjadi manusia pembelajar.
Dan seperti yang sering saya katakan:
“Menulislah dengan hati, berbagi dengan ikhlas, dan teruslah belajar sampai akhir hayat.”
Semoga kegiatan Pelatihan Literasi TKA di SMK Negeri 18 Jakarta, Jumat 25 September 2026, menjadi ruang bertemunya pengalaman, gagasan, dan semangat untuk memajukan pendidikan Indonesia.
Salam literasi.
Salam guru pembelajar.
Salam Blogger Guru Indonesia.
Wijaya Kusumah
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Ketua IGTIK PGRI
Guru Blogger Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.