Menjadi Guru, Menjadi Ibu: Ketika Kelas dan Rumah Sama-Sama Memanggil
Nama saya Iin Suparti. Saya mulai mengajar sejak tahun 1999. Sudah begitu banyak anak yang pernah saya temui, saya ajar, saya dampingi, dan saya saksikan tumbuh dari waktu ke waktu. Bagi saya, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan yang dilakukan dari pagi hingga siang. Menjadi guru adalah perjalanan panjang yang mengajarkan saya tentang kesabaran, ketulusan, dan arti mencintai anak-anak yang bukan lahir dari rahim saya sendiri.
Tahun pelajaran ini saya mendapat amanah mengajar kelas 2C SD Negeri Bintaro 12. Setelah tiga tahun terakhir mengajar kelas 6, saya merasa senang sekaligus tertantang ketika kembali berhadapan dengan anak-anak kecil. Saya pikir pengalaman mengajar selama bertahun-tahun akan membuat saya mudah menyesuaikan diri. Ternyata saya harus belajar lagi.
Begitu masuk kelas, saya langsung merasakan perbedaannya. Anak-anak kelas 2 masih kecil, polos, penuh cerita, dan memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa. Lima menit pertama ketika saya menjelaskan pelajaran mungkin masih terasa tenang. Semua mata memandang ke depan. Semua terlihat memperhatikan.
Tetapi setelah itu, satu per satu suara mulai terdengar.
"Bu, saya mau pipis."
"Bu, pensil saya hilang."
"Bu, tadi halaman berapa?"
"Bu, sekarang pakai buku apa?"
"Bu, saya tidak bawa buku."
Belum selesai menjawab satu pertanyaan, sudah muncul pertanyaan berikutnya. Kadang ada yang mengadu tentang temannya. Kadang ada yang tiba-tiba bercerita tentang sesuatu yang terjadi di rumah. Kadang saya baru menjelaskan satu bagian, sudah ada tangan kecil yang terangkat tinggi-tinggi.
Awalnya saya tersenyum, tetapi dalam hati saya berkata, "Ternyata mengajar kelas 2 tidak semudah yang saya bayangkan."
Saya kemudian teringat bahwa selama tiga tahun mengajar kelas 6, saya sudah terbiasa dengan anak-anak yang lebih mandiri. Saya bisa memberikan beberapa instruksi sekaligus dan mereka relatif mampu mengikutinya. Di kelas 2, saya harus kembali belajar menggunakan bahasa yang sederhana, instruksi yang pendek, contoh yang konkret, dan tentu saja kesabaran yang lebih panjang.
Saya akhirnya memahami satu hal penting: anak yang berbeda membutuhkan cara mendidik yang berbeda.
Guru tidak bisa memaksa anak mengikuti cara guru. Justru gurulah yang harus belajar menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak.
Kelas 2 Mengajarkan Saya untuk Lebih Sabar
Hari demi hari saya mulai menikmati kembali dunia anak-anak kecil.
Saya belajar bahwa ketika seorang anak berkata, "Bu, pensil saya hilang," mungkin sebenarnya ia sedang belajar bertanggung jawab terhadap barang miliknya.
Ketika seorang anak mengadu tentang temannya, mungkin ia sedang belajar memahami hubungan sosial.
Ketika seorang anak bertanya berkali-kali, mungkin ia sedang belajar memastikan bahwa dirinya memahami apa yang harus dilakukan.
Dan ketika seorang anak tidak bisa duduk diam, mungkin ia memang sedang berada pada tahap perkembangan yang membutuhkan pendekatan berbeda.
Saya tidak lagi melihat celotehan mereka sebagai gangguan. Saya mulai melihatnya sebagai bagian dari kehidupan kelas.
Kelas 2 ternyata bukan hanya tempat anak belajar membaca, menulis, berhitung, dan memahami pelajaran. Kelas 2 adalah tempat mereka belajar menjadi pribadi kecil yang perlahan-lahan mengenal tanggung jawab, disiplin, keberanian, dan kemandirian.
Di situlah saya merasa bahwa saya pun sedang belajar.
Saya belajar kembali menjadi guru bagi anak-anak kecil.
Dari Pengalaman Menjadi Tulisan
Di tengah perjalanan mengajar itu, saya juga mendapatkan kesempatan mengikuti workshop menulis bersama Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., yang akrab disapa Om Jay, Guru Blogger Indonesia.
Dari kegiatan tersebut saya semakin memahami bahwa pengalaman seorang guru sebenarnya sangat kaya untuk dituliskan.
Menulis tidak harus menunggu mengalami sesuatu yang luar biasa.
Ruang kelas adalah sumber cerita.
Murid-murid adalah sumber inspirasi.
Percakapan sederhana dapat menjadi sebuah tulisan.
Bahkan rasa lelah seorang guru pun bisa menjadi bahan renungan yang bermakna.
Saya mulai melihat pengalaman mengajar kelas 2 dengan sudut pandang yang berbeda. Dulu mungkin saya hanya berpikir, "Anak-anak ini ramai sekali."
Sekarang saya bisa berkata, "Mereka sedang tumbuh. Dan saya mendapatkan kesempatan untuk menemani pertumbuhan mereka."
Itulah mungkin salah satu hadiah terbesar dari menulis. Menulis membuat kita berhenti sejenak, melihat kembali apa yang sudah kita jalani, lalu menemukan makna di balik peristiwa yang sebelumnya terlihat biasa saja.
Ketika Rumah Memanggil
Namun, perjalanan saya sebagai guru tahun ini tidak hanya berisi cerita tentang kelas.
Ada cerita lain yang jauh lebih dekat dengan hati saya.
Saat ini, saya juga harus merawat anak saya yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
Di satu sisi ada tanggung jawab saya sebagai seorang ibu. Ada rasa khawatir, lelah, dan doa yang terus saya panjatkan. Ada saat-saat ketika pikiran saya tertuju kepada anak yang sedang dirawat.
Di sisi lain, ada anak-anak kelas 2C yang setiap hari menunggu saya di sekolah.
Dua dunia yang sama-sama membutuhkan hati saya.
Saya adalah seorang guru, tetapi saya juga seorang ibu.
Ketika berada di kelas, saya berusaha memberikan perhatian kepada murid-murid saya. Ketika pulang dan berada di rumah sakit, perhatian saya kembali tertuju kepada anak saya.
Kadang tubuh terasa lelah. Pikiran pun tidak selalu tenang. Tetapi seorang ibu dan guru sering kali memiliki cara sendiri untuk tetap berdiri meskipun hatinya sedang tidak sepenuhnya baik-baik saja.
Ada kekuatan yang muncul ketika kita tahu bahwa ada anak-anak yang membutuhkan kita.
Di sekolah, anak-anak kelas 2 membutuhkan guru yang sabar.
Di rumah sakit, anak saya membutuhkan seorang ibu yang hadir dan memberikan kekuatan.
Mungkin tidak semua orang mengetahui perjuangan itu.
Tidak semua orang melihat lelahnya.
Tidak semua orang tahu berapa banyak doa yang dipanjatkan dalam diam.
Tetapi saya percaya, setiap perjuangan yang dilakukan dengan cinta tidak pernah sia-sia.
Guru Juga Manusia
Kadang masyarakat melihat guru hanya ketika guru berada di depan kelas.
Guru terlihat tersenyum, menjelaskan pelajaran, membimbing anak, memeriksa tugas, dan memberikan motivasi.
Namun, di balik senyum itu bisa saja ada banyak cerita yang tidak terlihat.
Guru juga mempunyai keluarga.
Guru juga mempunyai anak.
Guru juga bisa merasa khawatir.
Guru juga bisa lelah.
Guru juga bisa menangis.
Tetapi ketika bel masuk berbunyi, guru kembali berusaha berdiri dan memberikan yang terbaik untuk murid-muridnya.
Bukan karena guru tidak memiliki masalah, melainkan karena guru memahami bahwa anak-anak yang berada di hadapannya juga memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan kasih sayang.
Saya semakin memahami bahwa menjadi guru bukan berarti harus menjadi manusia yang sempurna.
Menjadi guru berarti terus belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Belajar memahami.
Belajar bersabar.
Belajar memaafkan.
Belajar mendengarkan.
Dan yang paling penting, belajar mencintai.
Ada Doa di Balik Setiap Langkah
Ketika mengajar kelas 2, saya sering melihat wajah-wajah kecil yang penuh harapan.
Mungkin mereka belum memahami betapa pentingnya pendidikan bagi masa depan mereka.
Mungkin mereka belum mengerti bahwa guru mereka datang ke sekolah membawa banyak cerita dari rumah.
Mereka hanya tahu bahwa ada "Bu Iin" yang mengajar mereka.
Ada "Bu Iin" yang menjawab pertanyaan mereka.
Ada "Bu Iin" yang mengingatkan mereka untuk membuka buku.
Ada "Bu Iin" yang menegur ketika mereka berbuat salah.
Dan ada "Bu Iin" yang tetap tersenyum ketika kelas mulai ramai.
Sementara itu, jauh di dalam hati, ada seorang ibu yang juga sedang menitipkan harapan kepada Tuhan agar anaknya yang sedang dirawat segera diberikan kesembuhan.
Mungkin itulah kehidupan.
Kita tidak pernah tahu ujian apa yang sedang dibawa seseorang ketika ia datang ke hadapan kita.
Karena itu, jangan mudah menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat.
Bisa jadi seseorang yang hari ini tersenyum sedang menyimpan kekhawatiran yang besar.
Bisa jadi seseorang yang terlihat kuat sebenarnya sedang berjuang agar tidak menyerah.
Dan bisa jadi seorang guru yang tetap mengajar dengan penuh kasih sedang membawa doa untuk anaknya yang sedang terbaring di rumah sakit.
Saya Ingin Terus Belajar
Pengalaman mengajar kelas 2 dan pengalaman mendampingi anak yang sedang dirawat membuat saya semakin memahami bahwa kehidupan seorang guru adalah perjalanan belajar yang tidak pernah selesai.
Saya belajar dari murid.
Saya belajar dari keluarga.
Saya belajar dari keadaan.
Saya belajar dari kesulitan.
Saya juga belajar melalui tulisan.
Workshop menulis bersama Om Jay mengingatkan saya bahwa pengalaman yang kita jalani hari ini dapat menjadi pelajaran bagi orang lain ketika kita mau mengabadikannya melalui tulisan.
Karena itu, saya ingin terus menulis.
Bukan karena tulisan saya sempurna.
Bukan pula karena saya merasa paling hebat.
Saya menulis karena saya ingin merekam perjalanan.
Merekam pengalaman.
Merekam rasa.
Merekam perjuangan.
Sebab suatu hari nanti, ketika saya membaca kembali tulisan ini, saya ingin mengingat bahwa pernah ada masa ketika saya harus menyesuaikan diri kembali mengajar kelas 2, sekaligus menjalani hari-hari sebagai seorang ibu yang mendampingi anaknya di rumah sakit.
Dan saya ingin mengatakan kepada diri saya sendiri:
"Iin, ternyata kamu mampu melewati semuanya."
Penutup
Menjadi guru selama lebih dari dua puluh tahun telah mengajarkan saya bahwa setiap jenjang memiliki cerita dan tantangannya sendiri. Setelah tiga tahun mengajar kelas 6, saya kembali ke kelas 2 dan ternyata harus belajar dari awal tentang bagaimana memahami dunia anak-anak kecil.
Pada saat yang sama, kehidupan pribadi mengajarkan saya tentang arti kekuatan seorang ibu.
Di sekolah saya belajar mendampingi anak-anak.
Di rumah sakit saya belajar mendampingi anak sendiri.
Keduanya sama-sama membutuhkan cinta.
Keduanya sama-sama membutuhkan kesabaran.
Dan keduanya membuat saya semakin bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan.
Saya tidak tahu seperti apa hari-hari yang akan datang. Tetapi saya ingin menjalaninya satu per satu.
Mengajar dengan hati.
Merawat dengan kasih.
Menulis dengan jujur.
Dan terus berdoa.
Semoga anak saya segera diberikan kesembuhan. Semoga anak-anak kelas 2C tumbuh menjadi anak-anak yang baik, mandiri, dan penuh semangat belajar. Dan semoga perjalanan kecil saya sebagai guru dan ibu dapat menjadi cerita yang kelak memberikan manfaat bagi orang lain.
Karena pada akhirnya, mungkin inilah hakikat seorang guru:
bukan hanya mengajarkan pelajaran kepada anak-anak, tetapi juga belajar dari kehidupan untuk menjadi manusia yang lebih sabar, lebih kuat, dan lebih penuh kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.