Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 16 September 2026

353 guru ikut pembelajaran mendalam KKA

353 Pendidik DKI Jakarta Belajar Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial: Guru Tidak Boleh Berhenti Belajar

Jakarta kembali menjadi ruang belajar bagi para pendidik. Sebanyak 353 peserta mendapat tugas mengikuti Pelatihan Penguatan Implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) Berbasis Kelompok Kerja Angkatan 3 Siklus 2 Tahun 2026.

Ada satu hal yang selalu menarik dari dunia pendidikan: ketika teknologi berkembang begitu cepat, guru justru dituntut untuk semakin rajin belajar. Bukan karena guru harus menjadi manusia paling hebat dalam menguasai teknologi, tetapi karena guru memiliki tanggung jawab untuk memastikan teknologi benar-benar digunakan untuk memperkuat proses belajar peserta didik.

Hal itulah yang terasa dalam Surat Tugas Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nomor e-0576/KG.11.00 tentang peserta Pelatihan Penguatan Implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) Berbasis Kelompok Kerja Angkatan 3 Siklus 2 Tahun 2026. Surat tersebut merupakan tindak lanjut dari surat BGTK DKI Jakarta Nomor 0858/B/B7.27/PP.01.03/2026 tertanggal 25 Agustus 2026.

Yang menarik, pelatihan ini bukan hanya berbicara mengenai teknologi. Ada dua kata penting yang perlu diperhatikan, yaitu Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial. Keduanya menunjukkan bahwa perubahan pendidikan tidak cukup dilakukan dengan memasukkan perangkat digital ke ruang kelas. Guru tetap membutuhkan pemahaman pedagogis agar teknologi yang digunakan memiliki tujuan pembelajaran yang jelas.

Surat tugas tersebut mencantumkan 353 peserta. Mereka berasal dari berbagai kelompok kerja dan satuan pendidikan di lingkungan DKI Jakarta. Daftar tersebut melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan dari berbagai jenjang serta kelompok kerja, mulai dari PAUD/TK, SD, SMP, SMA, MGMP, MKKS, MKPS, hingga kelompok kerja lainnya. Peserta terakhir dalam daftar adalah nomor 353, Rudy Trisno.

Angka 353 bukan sekadar angka.

Di balik setiap nama ada seorang guru, kepala sekolah, pengawas, atau pendidik yang membawa pengalaman dari sekolahnya masing-masing. Mereka datang dengan persoalan yang berbeda, karakter peserta didik yang berbeda, fasilitas yang berbeda, dan pengalaman teknologi yang berbeda pula. Karena itu, pelatihan berbasis kelompok kerja menjadi penting. Guru tidak hanya belajar dari narasumber, tetapi juga dapat belajar dari pengalaman rekan-rekan sesama pendidik.

Guru Belajar, Sekolah Ikut Bergerak

Pelatihan dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan, yaitu pukul 08.00–15.30 WIB. Ada ketentuan penting dalam surat tugas tersebut: setiap sekolah harus memastikan proses belajar mengajar tetap berlangsung selama guru mengikuti kegiatan pelatihan. Karena itu, sekolah diminta menyiapkan guru pengganti.

Ketentuan ini sederhana, tetapi maknanya besar.

Guru memang harus belajar, tetapi peserta didik juga tidak boleh kehilangan haknya untuk mendapatkan pembelajaran. Artinya, pengembangan kompetensi guru dan keberlangsungan pembelajaran di sekolah harus berjalan bersama.

Di sinilah manajemen sekolah memiliki peran penting. Pelatihan guru bukan kegiatan yang berdiri sendiri. Ketika seorang guru meninggalkan kelas untuk mengikuti pelatihan, sekolah harus memiliki sistem yang memungkinkan peserta didik tetap mendapatkan layanan pembelajaran.

Dengan demikian, budaya belajar bukan hanya menjadi tanggung jawab guru secara individual. Sekolah juga perlu menjadi organisasi pembelajar.

Dari Koding Menuju Cara Berpikir

Koding sering kali dipahami sebatas menulis baris-baris program. Padahal, dalam pendidikan, koding dapat menjadi pintu masuk untuk melatih cara berpikir sistematis.

Ketika siswa belajar membuat program, mereka belajar memahami masalah, menyusun langkah, mencoba, menemukan kesalahan, memperbaiki kesalahan, lalu menguji kembali hasilnya. Proses tersebut membutuhkan ketekunan.

Kehadiran Kecerdasan Artifisial kemudian membawa tantangan baru. Guru tidak cukup hanya mengetahui bahwa AI dapat menghasilkan teks, gambar, kode, atau berbagai bentuk keluaran lainnya. Guru perlu memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam proses pembelajaran dan bagaimana peserta didik tetap menjadi manusia yang berpikir.

AI dapat membantu guru dan siswa, tetapi proses pendidikan tidak boleh kehilangan unsur manusia.

Guru tetap memiliki peran dalam membimbing, memberikan konteks, mengajukan pertanyaan, mengoreksi pemahaman, membangun karakter, dan membantu peserta didik menemukan makna dari apa yang mereka pelajari.

Karena itu, pembelajaran mendalam menjadi sangat relevan untuk dibicarakan bersama dengan koding dan kecerdasan artifisial.

Teknologi boleh semakin canggih. Namun, tujuan pendidikan tetap harus berpihak pada perkembangan peserta didik.

Belajar Bersama dalam Kelompok Kerja

Daftar peserta dalam surat tugas menunjukkan keberagaman kelompok kerja. Misalnya terdapat peserta dari IPI DKI Jakarta, kelompok MKKS, MKPS, MGMP, PKG PAUD, serta berbagai kelompok kerja lainnya.

Kegiatan juga berlangsung di sejumlah tempat. Dalam daftar tersebut tercatat antara lain kegiatan di BGTK DKI Jakarta, TK Negeri Senen 01, TK IKAL 2, SDN Tanjung Duren Selatan 01, TK Regina Pacis, SMP Labschool Kebayoran Baru, SMP Labschool Jakarta, hingga SMP Negeri 1 Jakarta.

Salah satu yang menarik adalah adanya kegiatan MGMP Informatika SMP JT 1 yang tercatat berlangsung pada 8 September 2026 di SMP Labschool Jakarta.

Bagi guru Informatika, perkembangan KKA tentu menjadi bagian yang sangat dekat dengan pembelajaran sehari-hari. Namun, tantangannya bukan sekadar mengajarkan teknologi terbaru. Tantangannya adalah bagaimana membuat teknologi tersebut menjadi pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

Guru Informatika hari ini bukan hanya mengajarkan perangkat dan aplikasi. Guru juga berhadapan dengan pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana menyiapkan generasi yang mampu menggunakan teknologi secara cerdas, kritis, kreatif, aman, dan bertanggung jawab.

Ada Tanggung Jawab Setelah Pelatihan

Satu hal penting dalam surat tugas ini jangan sampai terlewatkan.

Peserta tidak berhenti pada kehadiran di ruang pelatihan. Mereka juga diwajibkan menyampaikan laporan tertulis hasil pelatihan kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.

Ini berarti pelatihan diharapkan menghasilkan sesuatu yang dapat dilaporkan dan ditindaklanjuti.

Bagi saya, laporan pelatihan seharusnya tidak hanya menjadi dokumen administratif. Lebih jauh dari itu, laporan dapat menjadi rekaman perjalanan belajar seorang guru. Apa yang dipelajari? Apa yang berubah? Apa yang dapat diterapkan di sekolah? Apa kendalanya? Apa yang perlu diperbaiki?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru membuat pelatihan memiliki makna.

Sebab, ukuran keberhasilan sebuah pelatihan bukan hanya berapa banyak guru yang hadir. Ukuran lainnya adalah apa yang terjadi setelah guru kembali ke sekolah.

Apakah pembelajaran berubah?

Apakah siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih baik?

Apakah guru menjadi lebih percaya diri?

Apakah kelompok kerja menjadi lebih aktif?

Apakah praktik baik menyebar dari satu sekolah ke sekolah lainnya?

Di situlah dampak sebenarnya mulai terlihat.

Jangan Sampai Guru Belajar, Tetapi Kelas Tidak Berubah

Ada kalimat yang menurut saya layak direnungkan bersama: jangan sampai guru mengikuti banyak pelatihan, tetapi tidak ada perubahan berarti di ruang kelas.

Pelatihan adalah pintu masuk. Perubahan sesungguhnya terjadi ketika pengetahuan yang diperoleh dibawa pulang, dicoba, dievaluasi, lalu diperbaiki.

Tidak semua materi pelatihan harus langsung berhasil ketika diterapkan. Guru boleh mencoba dan gagal. Guru boleh menemukan kendala. Bahkan kegagalan dalam mencoba sebuah strategi pembelajaran dapat menjadi bahan belajar berikutnya.

Yang penting, ada keberanian untuk mencoba.

Inilah semangat yang dibutuhkan dalam menghadapi pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial. Dunia pendidikan sedang bergerak. Guru pun harus bergerak.

Bukan berarti guru harus mengejar semua teknologi yang muncul. Guru justru perlu memilih teknologi yang benar-benar relevan dengan tujuan pembelajaran.

Teknologi adalah alat.

Guru tetap manusia yang menentukan untuk apa alat tersebut digunakan.

353 Nama, 353 Cerita, dan Satu Semangat Belajar

Jika kita melihat daftar 353 peserta secara lebih dekat, kita sebenarnya sedang melihat 353 cerita pendidikan.

Ada guru yang mungkin sudah puluhan tahun mengajar. Ada yang sedang belajar teknologi dari awal. Ada yang sudah terbiasa menggunakan perangkat digital. Ada pula yang mungkin baru mulai mengenal berbagai konsep KKA.

Semua berada dalam satu ruang belajar.

Itulah indahnya profesi guru.

Guru yang hari ini menjadi peserta pelatihan, besok dapat menjadi orang yang berbagi kepada rekan-rekannya. Pengetahuan tidak berhenti pada dirinya sendiri. Pengetahuan dapat bergerak dari satu guru ke guru lainnya, dari satu sekolah ke sekolah lainnya, hingga akhirnya sampai kepada peserta didik.

Semoga Pelatihan Penguatan Implementasi Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial Berbasis Kelompok Kerja Angkatan 3 Siklus 2 Tahun 2026 benar-benar menjadi bagian dari perjalanan perubahan pendidikan di DKI Jakarta.

Sebab pada akhirnya, pendidikan tidak berubah hanya karena ada kebijakan baru.

Pendidikan berubah ketika guru mau belajar, mencoba, berbagi, dan terus memperbaiki pembelajaran.

Dan 353 peserta pelatihan ini telah mendapatkan satu kesempatan penting untuk terus bertumbuh sebagai pendidik.

Guru tidak boleh berhenti belajar. Sebab ketika guru berhenti belajar, ruang kelas juga berisiko berhenti berkembang.

Salam Blogger Persahabatan.
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.