Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 29 September 2026

kata pengantar omjay untuk buku antologi guru guru sdn johar baru 04

KATA PENGANTAR

Menulis dengan Hati, Mengabadikan Pengalaman, dan Menginspirasi Sesama

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat, nikmat, dan karunia-Nya sehingga buku antologi tulisan guru-guru SDN Johar Baru 04 Jakarta ini dapat hadir di hadapan pembaca. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan. Buku ini adalah kumpulan pengalaman, pemikiran, kegelisahan, perjuangan, pembelajaran, dan cinta para guru kepada anak-anak yang mereka dampingi setiap hari.

Ketika saya membaca tulisan-tulisan dalam buku ini, saya kembali diingatkan pada satu hal sederhana: setiap guru sebenarnya memiliki buku yang belum selesai ditulis. Buku itu bernama pengalaman. Setiap hari guru bertemu dengan anak-anak yang berbeda karakter, menghadapi persoalan yang berbeda, mencoba strategi pembelajaran yang berbeda, lalu pulang membawa cerita yang kadang membuat tersenyum, terharu, bahkan merenung panjang.

Sayangnya, tidak semua pengalaman tersebut sempat dituliskan. Banyak kisah guru berhenti menjadi percakapan di ruang guru. Banyak pengalaman berharga hanya tersimpan dalam ingatan. Padahal, pengalaman yang dituliskan dapat menjadi pengetahuan bagi orang lain. Kisah seorang guru ketika mendampingi seorang anak yang takut belajar Bahasa Inggris, misalnya, memperlihatkan bahwa sebelum mengajarkan materi, guru perlu memahami manusia yang sedang belajar. Pendekatan yang humanis, permainan, komunikasi, dan pendampingan dapat membuka kembali keberanian anak untuk belajar. 

Buku ini juga memperlihatkan bahwa menjadi guru tidak cukup hanya pandai menyampaikan materi. Guru perlu hadir dengan hati. Ada anak yang datang ke sekolah dengan persoalan keluarga, ada anak yang kurang percaya diri, ada anak yang belum lancar membaca dan menulis, ada pula anak yang membutuhkan perhatian lebih agar berani berkomunikasi. Salah satu tulisan dalam antologi ini bahkan mengisahkan pendampingan seorang siswa kelas 1 yang mengalami hambatan dalam berbicara dan akhirnya membutuhkan dukungan untuk membangun rasa percaya dirinya. 

Saya melihat inilah kekuatan utama buku ini. Guru tidak hanya bercerita tentang keberhasilan, tetapi juga tentang proses. Ada tantangan, ada kesulitan, ada kegagalan, ada kegelisahan, kemudian ada usaha untuk mencari jalan keluar. Dari proses itulah pembelajaran seorang guru berlangsung.

Menariknya lagi, buku ini tidak memisahkan pendidikan dari perkembangan zaman. Kita menemukan pengalaman guru menggunakan Papan Interaktif Digital untuk mengajarkan rantai makanan kepada siswa kelas 5A. Teknologi digunakan untuk membuat pembelajaran lebih interaktif dan membantu siswa memahami konsep melalui pengalaman yang lebih konkret. Namun, sebagaimana tergambar dalam tulisan tersebut, teknologi tetaplah alat bantu. Di balik perangkat digital tetap ada guru, interaksi, diskusi, pertanyaan, kolaborasi, dan pengalaman belajar. 

Bagi saya, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan harus tetap menempatkan manusia sebagai pusatnya. Teknologi boleh semakin canggih, kecerdasan artifisial boleh semakin berkembang, tetapi pendidikan tetap membutuhkan hati seorang guru. Anak-anak membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan, memahami, membimbing, memberi contoh, dan percaya kepada mereka ketika mereka sendiri belum mampu mempercayai dirinya.

Karena itulah saya merasa bersyukur dapat ikut menjadi bagian dari perjalanan literasi guru-guru SDN Johar Baru 04 Jakarta. Menulis bukan hanya aktivitas menghasilkan buku. Menulis adalah cara guru melakukan refleksi. Ketika guru menulis, guru sebenarnya sedang bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang sudah saya lakukan, apa yang saya pelajari, apa yang perlu saya perbaiki, dan apa yang dapat saya bagikan kepada orang lain?

Saya selalu percaya bahwa guru yang mau menulis sedang membangun jejak pendidikan yang tidak mudah hilang. Suara guru hari ini dapat dibaca oleh guru lain beberapa tahun kemudian. Pengalaman sederhana di kelas 1 dapat memberikan inspirasi bagi guru kelas 1 di sekolah lain. Sebuah strategi pembelajaran yang dicoba di SDN Johar Baru 04 dapat menjadi gagasan baru bagi sekolah lain. Bahkan sebuah kisah tentang seorang anak dapat mengingatkan kita semua bahwa di balik setiap perilaku siswa terdapat cerita yang perlu dipahami.

Buku ini juga memperlihatkan bahwa pendidikan adalah pekerjaan bersama. Kepala sekolah, guru, murid, orang tua, alumni, masyarakat, dan berbagai pihak memiliki peran dalam menciptakan lingkungan belajar yang baik. Hal tersebut sejalan dengan semangat yang tampak dalam buku ini bahwa pengalaman pendidikan tidak seharusnya disimpan sendiri, tetapi dibagikan agar manfaatnya semakin luas. 

Saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh guru SDN Johar Baru 04 Jakarta yang telah berani menulis dan berbagi pengalaman. Tidak mudah menulis ketika kesibukan mengajar, administrasi sekolah, mendampingi murid, dan berbagai tugas lainnya terus menunggu. Namun, keberanian untuk menyediakan waktu dan menuangkan pengalaman menjadi tulisan adalah sebuah langkah penting dalam membangun budaya literasi dan budaya refleksi di sekolah.

Kepada para guru penulis, jangan pernah merasa bahwa cerita Bapak dan Ibu terlalu sederhana untuk dibagikan. Justru sering kali kisah yang sederhana adalah kisah yang paling dekat dengan kehidupan guru lainnya. Jangan menunggu menjadi guru hebat untuk mulai menulis. Tulislah pengalaman sebagai guru, maka tulisan itulah yang kelak menjadi saksi perjalanan untuk menjadi guru yang lebih baik.

Saya berharap buku antologi ini tidak berhenti sebagai dokumentasi. Semoga buku ini menjadi jembatan yang mempertemukan pengalaman para guru dengan pembaca, khususnya para pendidik. Semoga ada guru yang menemukan inspirasi, ada kepala sekolah yang mendapatkan gagasan, ada orang tua yang semakin memahami perjuangan guru, dan ada pembaca yang semakin menghargai profesi guru.

Saya juga berharap buku ini menjadi awal dari karya-karya berikutnya. Setelah satu buku lahir, jangan berhenti menulis. Karena satu tulisan dapat melahirkan tulisan berikutnya. Satu pengalaman dapat membuka pengalaman baru. Dan satu guru yang mulai menulis dapat mengajak guru-guru lain untuk ikut menulis.

Menulislah dengan hati. Ceritakan pengalaman dengan jujur. Bagikan praktik baik dengan rendah hati. Sebab pengalaman seorang guru mungkin hanya berlangsung satu hari di ruang kelas, tetapi ketika dituliskan, manfaatnya dapat berlangsung jauh lebih lama.

Akhirnya, selamat kepada keluarga besar SDN Johar Baru 04 Jakarta atas lahirnya buku antologi ini. Semoga buku ini menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk menghadirkan pendidikan yang lebih manusiawi, menyenangkan, bermakna, dan berpihak pada tumbuh kembang anak.

Teruslah mengajar.
Teruslah belajar.
Teruslah menulis.
Dan teruslah menginspirasi.

Karena guru boleh selesai mengajar pada suatu hari, tetapi tulisan guru dapat terus mengajar siapa saja yang membacanya.

Jakarta, 29 September 2026

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay – Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.