Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 12 September 2026

Kegiatan Makro Mahasiswa Teknik Elektro UNJ

Ketika Omjay Kembali ke Teknik Elektro UNJ: Pohon-Pohon Itu Masih Menyimpan Kenangan

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika kaki kembali menginjak tempat yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup.

Hari itu, saya berkesempatan hadir dalam acara MAKRO Teknik Elektro UNJ bersama sahabat seperjuangan, Agus Suryadi angkatan 1990 dan Dida Daniarsyah angkatan 1991.

Bagi saya, pertemuan ini bukan sekadar menghadiri sebuah acara mahasiswa.

Ini seperti membuka kembali album kenangan yang selama puluhan tahun tersimpan rapi di dalam hati.

Saya memandang gedung lama Teknik Elektro yang masih berdiri. Bangunan itu mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang. Namun bagi saya, gedung tersebut menyimpan begitu banyak cerita.

Di sanalah saya pernah menjadi mahasiswa.

Dari IKIP Jakarta Menjadi Universitas Negeri Jakarta

Tahun 1990 adalah tahun yang tidak pernah saya lupakan.

Saat itu saya pertama kali mengenakan status sebagai mahasiswa IKIP Jakarta, mengambil pendidikan di bidang Teknik Elektro. Saya datang sebagai anak muda dengan banyak mimpi, tetapi belum tahu akan dibawa ke mana perjalanan hidup ini.

Kini, nama IKIP Jakarta sudah berubah menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Waktu memang terus berjalan.

Gedung boleh mengalami perubahan. Nama institusi boleh berubah. Generasi mahasiswa juga terus berganti.

Tetapi kenangan tidak pernah benar-benar hilang.

Ketika saya melihat gedung lama Teknik Elektro, pikiran saya melayang jauh ke masa lalu.

Saya seperti kembali menjadi mahasiswa tahun 1990.

Masih muda.

Masih penuh semangat.

Masih sering berdiskusi dengan teman-teman.

Masih belajar memahami rangkaian listrik, elektronika, kehidupan kampus, sekaligus belajar memahami kehidupan.

Yang membuat hati saya semakin tersentuh adalah ketika melihat pohon-pohon di depan gedung Teknik Elektro masih ada.

Pohon-pohon itu seolah menjadi saksi bisu perjalanan waktu.

Dulu, saya mungkin tidak pernah berpikir bahwa puluhan tahun kemudian saya akan kembali ke tempat ini sebagai seorang guru dan bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa baru.

Pohon-pohon itu tetap tumbuh.

Mahasiswanya berganti.

Generasinya berganti.

Tetapi kenangan indahnya tetap tinggal di hati.

Bertemu Adik-Adik Mahasiswa

Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada adik-adik mahasiswa Teknik Elektro UNJ yang sudah mengundang saya.

Rasanya seperti mimpi.

Saya bisa bertemu dengan adik-adik kelas yang begitu baik hati, ramah, penuh semangat, dan memiliki keinginan kuat untuk menuntut ilmu.

Saya melihat wajah-wajah muda yang mengingatkan saya kepada diri sendiri ketika pertama kali menjadi mahasiswa.

Ada semangat.

Ada rasa ingin tahu.

Ada mimpi.

Dan ada harapan besar untuk masa depan.

Saya pun merasa mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan sedikit pengalaman kepada generasi yang akan melanjutkan perjalanan Teknik Elektro UNJ.

Saya tidak ingin hanya bercerita tentang teori.

Saya ingin berbagi tentang perjalanan hidup.

Sebab setelah puluhan tahun menjalani kehidupan, saya semakin menyadari bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik.

Ilmu itu penting.

Tetapi pengalaman juga penting.

Dan yang tidak kalah penting adalah relasi.

Rumus Sukses 2P + 267

Dalam kesempatan tersebut, saya menyampaikan sebuah rumus sederhana yang saya sebut sebagai rumus sukses 2P + 267.

2P adalah Pendidikan dan Pengalaman.

P pertama adalah Pendidikan.

Sebagai mahasiswa, jangan pernah merasa bahwa kuliah hanya kewajiban untuk mendapatkan ijazah.

Kuliah adalah kesempatan untuk membangun fondasi kehidupan.

Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Kuasai bidang yang dipelajari. Jangan malu bertanya. Jangan takut mencoba sesuatu yang baru.

Namun pendidikan saja belum cukup.

Kita membutuhkan P yang kedua, yaitu Pengalaman.

Pengalaman diperoleh ketika kita berani terlibat dalam organisasi, mengikuti kegiatan kampus, membuat proyek, mengikuti perlombaan, berdiskusi, bekerja dalam tim, menghadapi kegagalan, dan mencoba kembali.

Dari pengalaman itulah seseorang menjadi semakin matang.

Lalu ada 267, yang saya ibaratkan sebagai tangga lagu relasi.

Relasi adalah tangga yang membantu kita naik menuju kesempatan-kesempatan baru.

Bukan berarti mencari teman hanya untuk kepentingan pribadi.

Bukan pula membangun hubungan karena ingin mendapatkan keuntungan sesaat.

Relasi dibangun dengan silaturahmi, kepercayaan, kolaborasi, dan saling memberikan manfaat.

Jangan pernah meremehkan orang yang kita temui hari ini.

Bisa jadi, suatu hari nanti teman yang duduk di samping kita di bangku kuliah menjadi orang yang membuka pintu kesempatan bagi kita.

Begitu pula sebaliknya.

Kita mungkin menjadi orang yang membuka jalan bagi orang lain.

Karena itu, jagalah hubungan baik.

Dulu Saya Adalah Mereka

Ada satu hal yang membuat pertemuan ini begitu menyentuh hati.

Ketika berdiri di hadapan mahasiswa Teknik Elektro UNJ, saya sadar bahwa dulu saya adalah mereka.

Dulu saya juga duduk sebagai mahasiswa.

Dulu saya juga memiliki banyak pertanyaan tentang masa depan.

Dulu saya juga belum mengetahui bahwa perjalanan hidup akan membawa saya menjadi guru, blogger, penulis, dan terus belajar sampai hari ini.

Kalau ada yang bertanya kepada saya, apakah saya sudah merencanakan semuanya sejak menjadi mahasiswa tahun 1990?

Jawabannya tentu tidak.

Hidup ternyata memiliki jalannya sendiri.

Tugas kita adalah terus belajar, berusaha, berdoa, dan membuka diri terhadap kesempatan yang datang.

Kadang-kadang jalan yang kita kira biasa saja ternyata membawa kita kepada tempat yang luar biasa.

Kembali Bukan Berarti Mundur

Kembali ke kampus setelah puluhan tahun bukan berarti kita mundur ke masa lalu.

Justru dari masa lalu kita belajar menghargai perjalanan.

Saya berdiri di antara adik-adik mahasiswa dengan membawa pengalaman yang jauh lebih panjang daripada ketika saya pertama kali masuk kampus.

Namun saya tidak merasa lebih tinggi.

Saya justru merasa sebagai seorang kakak yang sedang berbagi cerita kepada adik-adiknya.

Saya ingin mengatakan kepada mereka:

Jangan sia-siakan masa kuliah.

Nikmati prosesnya.

Bangun persahabatan.

Aktif berkegiatan.

Perbanyak pengalaman.

Jaga nama baik almamater.

Dan yang paling penting, jangan pernah berhenti belajar.

Sebab dunia setelah kampus jauh lebih luas daripada yang kita bayangkan.

Terima Kasih, Adik-Adik Teknik Elektro UNJ

Terima kasih kepada adik-adik mahasiswa Teknik Elektro UNJ yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk kembali ke rumah lama ini.

Terima kasih karena telah membuat seorang alumni tahun 1990 kembali merasakan denyut kehidupan kampus.

Terima kasih karena membuat saya kembali mengenang masa muda.

Ketika acara selesai dan saya melihat kembali gedung lama serta pohon-pohon yang ada di depannya, hati saya terasa hangat.

Ternyata ada tempat-tempat tertentu yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan.

Kita hanya pergi untuk menjalani kehidupan.

Lalu suatu hari, kita kembali.

Dan ketika kembali, kenangan itu menyambut kita dengan cara yang sangat indah.

Saya pun tersenyum.

IKIP Jakarta boleh berganti nama menjadi Universitas Negeri Jakarta.

Generasi boleh berganti.

Mahasiswa boleh datang dan pergi.

Tetapi semangat untuk belajar, berkarya, dan mengabdi akan selalu hidup.

Hari itu saya pulang membawa kebahagiaan.

Bukan karena saya telah memberikan sesuatu kepada adik-adik mahasiswa.

Justru saya merasa merekalah yang telah memberikan hadiah kepada saya: kesempatan untuk kembali menjadi mahasiswa, walau hanya sejenak.

Salam dari seorang alumni Teknik Elektro IKIP Jakarta angkatan 1990.

Salam blogger persahabatan.
Omjay guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Sebab suatu hari nanti, tulisan yang kita buat hari ini mungkin akan menjadi pohon kenangan yang menaungi generasi setelah kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.