Kisah Omjay: Jangan Lelah Menjadi Baik, Mungkin Allah Sedang Menjagamu
Oleh: Wijaya Kusumah
Pagi ini, Kamis, 10 September 2026, saya kembali merenungkan sebuah nasihat sederhana yang sering kali mudah kita ucapkan, tetapi tidak selalu mudah kita jalankan: jangan lelah menjadi baik.
Kemarin, Rabu pagi, saya membaca pesan inspirasi dari sahabat saya, Umedi. Pesannya sederhana, tetapi dalam sekali maknanya. Ada kalanya kebaikan kita tidak dihargai. Kita membantu, tetapi dilupakan. Kita berbuat baik, tetapi disalahpahami. Bahkan terkadang, ketika kita berusaha menjaga perasaan orang lain, justru kita yang akhirnya disakiti.
Namun, apakah semua itu menjadi alasan bagi kita untuk berhenti berbuat baik?
Saya rasa tidak.
Justru di situlah keikhlasan kita sedang diuji.
Saya belajar dalam perjalanan hidup bahwa berbuat baik tidak selalu mendapatkan tepuk tangan. Tidak semua orang akan mengucapkan terima kasih. Tidak semua perjuangan akan diketahui orang lain. Bahkan ada kebaikan yang mungkin tidak pernah diketahui oleh siapa pun.
Tetapi Allah Maha Mengetahui.
Itulah yang membuat kita harus terus melangkah.
Kebaikan Tidak Selalu Harus Dibalas Manusia
Sebagai seorang guru, saya sering merasakan hal tersebut. Ketika kita membantu murid, membimbing guru, berbagi ilmu, menulis, membuat kegiatan pendidikan, atau membantu sebuah organisasi, terkadang hasilnya tidak langsung terlihat.
Ada yang menganggap biasa saja.
Ada pula yang mungkin lupa bahwa kita pernah membantu.
Pada awalnya, tentu ada rasa kecewa. Kita ini manusia. Hati kita bisa terluka. Kita bisa merasa sedih ketika kebaikan yang kita lakukan seolah tidak dihargai.
Namun semakin bertambah usia, saya semakin memahami bahwa kebaikan seharusnya tidak bergantung pada penghargaan manusia.
Kalau kita berbuat baik hanya karena ingin dipuji, kita akan mudah kecewa.
Tetapi kalau kita berbuat baik karena Allah, hati kita akan lebih tenang.
Saya teringat pesan dalam QS. At-Taubah: 120 tentang Allah yang tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
Ayat itu mengingatkan saya bahwa tidak ada kebaikan yang benar-benar sia-sia.
Mungkin manusia lupa.
Allah tidak lupa.
Mungkin manusia tidak melihat.
Allah melihat.
Mungkin manusia tidak membalas.
Allah mampu membalas dengan cara yang jauh lebih baik.
Mungkin Allah Sedang Menjagamu
Pagi ini saya kembali mendapatkan pesan inspirasi dari Umedi dengan tema yang berbeda, tetapi masih sangat berhubungan dengan kehidupan kita: “Mungkin Allah Sedang Menjagamu.”
Kalimat itu membuat saya berhenti sejenak.
Ternyata, sesuatu yang kita anggap sebagai kehilangan belum tentu benar-benar kehilangan.
Sesuatu yang kita anggap sebagai keterlambatan belum tentu sebuah kegagalan.
Bisa jadi, Allah sedang menjaga kita.
Dalam kehidupan, kita sering membuat rencana. Kita ingin sesuatu terjadi sesuai dengan keinginan kita. Kita sudah berusaha, berdoa, dan berharap. Namun ternyata hasilnya berbeda.
Kita pun bertanya dalam hati, “Mengapa Allah belum memberikan apa yang saya inginkan?”
Padahal bisa jadi jawabannya adalah:
Karena Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik.
Atau mungkin:
Karena Allah sedang menjauhkan kita dari sesuatu yang tidak baik bagi kehidupan kita.
Inilah bagian yang tidak selalu mudah kita terima.
Kita ingin segera mendapatkan apa yang kita mau. Sementara Allah mengetahui apa yang benar-benar kita butuhkan.
QS. Al-Baqarah: 216 mengingatkan kita:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.”
Ayat ini mengajarkan kepada kita tentang pentingnya percaya kepada ketetapan Allah.
Belajar Bersabar dengan Jalan Kehidupan
Saya sendiri masih terus belajar.
Belajar sabar.
Belajar ikhlas.
Belajar menerima.
Belajar memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan.
Ada masa ketika semuanya terasa mudah. Tetapi ada pula masa ketika kita harus melewati jalan yang berliku.
Pada saat seperti itu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah meninggalkan kita.
Bisa jadi justru Allah sedang mendekatkan kita kepada-Nya.
Kesulitan membuat kita lebih banyak berdoa.
Kegagalan membuat kita belajar.
Kehilangan membuat kita menghargai apa yang masih dimiliki.
Penundaan membuat kita belajar bersabar.
Dan kebaikan yang tidak dihargai mengajarkan kita tentang keikhlasan.
Bukankah semua itu adalah pelajaran kehidupan?
Jika Allah Memberi, Bersyukurlah
Pesan Umedi pagi ini juga mengingatkan saya pada empat sikap sederhana dalam menghadapi ketetapan Allah.
Jika Allah memberi, bersyukurlah.
Jangan merasa bahwa semua keberhasilan hanya karena usaha kita. Ada pertolongan Allah di dalamnya.
Jika Allah menunda, bersabarlah.
Jangan buru-buru berprasangka buruk. Mungkin waktunya belum tepat.
Jika Allah mengambil, ikhlaskanlah.
Tidak mudah memang. Tetapi kita harus percaya bahwa apa yang berada di tangan kita sebenarnya hanyalah titipan.
Dan yang terakhir, tetaplah berbuat baik.
Jangan biarkan luka mengubah hati kita menjadi keras.
Jangan karena pernah disakiti, kita kemudian memilih menyakiti orang lain.
Jangan karena pernah dikecewakan, kita kemudian berhenti membantu sesama.
Jangan karena kebaikan kita tidak dihargai, kita berhenti menjadi manusia yang bermanfaat.
Jangan Lelah Menjadi Baik
Saya ingin terus belajar menjadi manusia yang bermanfaat.
Sebagai guru, saya ingin ilmu yang saya miliki tidak berhenti di kepala sendiri. Saya ingin membagikannya kepada murid, guru, dan siapa pun yang membutuhkan.
Melalui tulisan, saya juga ingin meninggalkan jejak.
Bukan karena ingin dikenal selamanya.
Bukan pula karena ingin selalu mendapatkan pujian.
Saya hanya ingin apa yang saya tulis suatu hari nanti dapat menjadi manfaat bagi orang lain.
Sebab saya percaya, kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak pernah benar-benar hilang.
Mungkin kita tidak melihat hasilnya hari ini.
Mungkin kita tidak tahu siapa yang kelak mendapatkan manfaatnya.
Tetapi Allah tahu.
Maka, ketika ada orang yang tidak menghargai kebaikan kita, jangan terlalu lama bersedih.
Ketika ada orang yang salah memahami niat baik kita, jangan buru-buru membalas dengan keburukan.
Ketika doa kita belum dikabulkan, jangan berhenti berharap.
Ketika sesuatu yang kita inginkan belum menjadi milik kita, jangan merasa Allah tidak sayang kepada kita.
Bisa jadi, Allah sedang menjaga kita.
Dan bisa jadi pula, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang belum mampu kita pahami hari ini.
Menutup Pagi dengan Syukur
Pagi ini saya ingin mengingatkan diri sendiri:
Tetaplah menjadi baik, meskipun pernah disakiti.
Tetaplah ikhlas, meskipun tidak dihargai.
Tetaplah bersabar, meskipun doa belum terkabul.
Tetaplah percaya, meskipun jalan kehidupan belum sesuai harapan.
Sebab kita tidak pernah tahu rencana Allah yang sebenarnya.
Yang bisa kita lakukan adalah terus berusaha, terus berdoa, terus bersyukur, dan terus berbuat baik.
Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap lembut.
Semoga Allah memberikan kekuatan ketika kita diuji.
Semoga Allah memberikan kesabaran ketika sesuatu ditunda.
Semoga Allah memberikan keikhlasan ketika sesuatu diambil.
Dan semoga Allah menjadikan setiap langkah kecil kita sebagai amal kebaikan yang terus mengalir.
Jangan lelah menjadi baik.
Mungkin manusia tidak melihat, tetapi Allah Maha Melihat.
Mungkin manusia tidak membalas, tetapi Allah tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan.
Tetap semangat.
Barakallah fiikum.
Salam Blogger Persahabatan.
Jakarta, 10 September 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.