Menulis Itu Mudah, Asal Mau Memulai: Jangan Bilang Sulit Sebelum Kamu Mencobanya
Teaser 150 karakter:
Menulis bukan soal bakat. Menulis adalah kebiasaan. Mulailah dari hal kecil, tuliskan pengalaman, lalu biarkan tulisan menemukan jalannya.
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay Guru Blogger Indonesia
Ada satu kalimat yang sering saya dengar ketika mengajak guru dan siswa menulis: “Saya sebenarnya ingin menulis, Omjay, tetapi saya tidak tahu harus mulai dari mana.” Kalimat berikutnya biasanya lebih panjang. Tidak punya ide, takut tulisan jelek, tidak percaya diri, tidak punya waktu, belum menemukan mood, bahkan merasa tidak pandai merangkai kata.
Saya tersenyum setiap kali mendengarnya. Bukan karena ingin menertawakan mereka, tetapi karena saya pernah merasakan hal yang sama.
Banyak orang mengira menulis adalah pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang berbakat. Padahal, kalau kita mau jujur, sebagian besar orang yang sekarang dikenal sebagai penulis hebat juga memulainya dari tulisan yang sederhana. Mereka pernah menghasilkan tulisan yang tidak sempurna. Mereka pernah bingung memilih judul. Mereka pernah kehabisan ide. Mereka pernah menulis kalimat yang kemudian ingin diperbaiki.
Perbedaannya hanya satu: mereka terus menulis.
Itulah pesan utama yang ingin saya sampaikan melalui materi “Menulis Itu Mudah”. Jangan membuat kegiatan menulis menjadi sesuatu yang rumit sebelum kita benar-benar mencobanya.
Menulis Itu Sulit Kalau Kita Belum Memulainya
Saya sering mengatakan kepada guru-guru, “Menulis itu seperti berbicara dengan sahabat.” Ketika berbicara, kita tidak sibuk memikirkan apakah setiap kalimat sudah sempurna. Kita cukup menyampaikan apa yang ingin kita ceritakan.
Begitu pula dengan menulis.
Tuliskan saja apa yang ada di kepala dan hati. Jangan langsung berpikir tentang tata bahasa yang sempurna, struktur tulisan yang rumit, atau bagaimana pembaca akan memberikan penilaian. Semua itu bisa diperbaiki setelah tulisan selesai.
Kesulitan terbesar dalam menulis sering kali bukan berada di tangan, melainkan berada di pikiran.
Kita terlalu banyak berpikir sebelum mulai mengetik.
“Bagaimana kalau tulisan saya jelek?”
“Bagaimana kalau tidak ada yang membaca?”
“Bagaimana kalau ada yang mengkritik?”
“Bagaimana kalau tulisan saya dianggap tidak penting?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu akhirnya membuat jari kita tidak bergerak. Laptop sudah terbuka. Ponsel sudah berada di tangan. Buku catatan sudah tersedia. Tetapi satu paragraf pun belum selesai.
Karena itu, saya selalu mengajak siapa saja yang ingin belajar menulis untuk melakukan satu hal sederhana: mulailah.
Tidak perlu menunggu tulisan menjadi hebat.
Tuliskan sesuatu yang bermakna.
Dari Mana Mendapatkan Ide?
Pertanyaan berikutnya biasanya muncul: “Omjay, kalau saya mau menulis, idenya dari mana?”
Jawabannya sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita.
Ide bisa datang dari pengalaman, keluarga, sekolah, murid, guru, buku, berita, percakapan, perjalanan, foto, masalah sehari-hari, bahkan dari sebuah kejadian sederhana yang kita alami pagi ini.
Misalnya, seorang guru melihat seorang siswa datang terlambat ke sekolah. Jangan hanya berhenti pada kalimat, “Hari ini ada siswa yang terlambat.”
Cobalah bertanya lebih jauh.
Mengapa ia terlambat?
Apa yang terjadi di rumah?
Bagaimana perasaan siswa tersebut?
Bagaimana guru menyikapinya?
Apa pelajaran yang dapat diambil?
Dari satu kejadian sederhana saja, kita bisa mendapatkan sebuah tulisan.
Saya menyebutnya “jangan menunggu ide besar.” Tuliskan hal kecil yang bermakna. Sebab, sering kali sesuatu yang kita anggap sederhana justru sangat berarti bagi orang lain.
Pengalaman mengajar selama bertahun-tahun membuat saya semakin percaya bahwa setiap guru sebenarnya memiliki ribuan cerita. Masalahnya bukan kekurangan cerita, tetapi belum membiasakan diri untuk merekamnya dalam bentuk tulisan.
Guru melihat siswa setiap hari. Guru menghadapi berbagai karakter anak. Guru menemukan masalah pembelajaran. Guru mencoba berbagai metode. Guru mengalami keberhasilan dan kegagalan.
Semua itu adalah bahan tulisan.
Sayang sekali apabila pengalaman tersebut hilang begitu saja setelah bel pulang berbunyi.
Gunakan Rumus 3M: Mulai dari Hal Kecil, Mulai dari Diri Sendiri, Mulai Saat Ini
Agar tidak terlalu banyak berpikir, saya menggunakan sebuah rumus sederhana, yaitu 3M.
Pertama, mulai dari hal kecil.
Jangan langsung bercita-cita menulis buku 200 halaman. Kalau baru belajar menulis, satu paragraf pun sudah merupakan sebuah kemajuan. Setelah terbiasa, satu halaman akan terasa ringan. Kemudian berkembang menjadi artikel. Dari beberapa artikel, kita bisa membuat kumpulan tulisan. Dari kumpulan tulisan itulah sebuah buku dapat lahir.
Kedua, mulai dari diri sendiri.
Tuliskan pengalaman yang benar-benar kita alami. Ketika menulis berdasarkan pengalaman sendiri, biasanya kita tidak terlalu kesulitan mencari bahan. Kita tinggal mengingat kembali apa yang terjadi, siapa yang terlibat, bagaimana perasaan kita, dan apa pembelajaran yang diperoleh.
Ketiga, mulai saat ini.
Jangan menunggu besok.
Kalau ada ide hari ini, tuliskan hari ini. Kalau menunggu besok, belum tentu ide tersebut masih kita ingat. Kalau menunggu waktu luang, bisa jadi waktu luang tidak pernah datang.
Saya lebih suka mengatakan, “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”
Jangan Takut Tulisan Jelek
Salah satu penghambat terbesar dalam menulis adalah ketakutan terhadap tulisan sendiri.
Kita sering berkata, “Tulisan saya jelek.”
Saya justru ingin mengubah kalimat itu menjadi:
“Tulisan saya sedang belajar menjadi lebih baik.”
Ada perbedaan besar di antara keduanya.
Kalimat pertama membuat kita berhenti. Kalimat kedua membuat kita terus bergerak.
Tulisan yang belum sempurna masih bisa diperbaiki. Tulisan yang belum pernah dibuat tidak bisa diperbaiki.
Karena itu, jangan takut tulisan pertama kita jelek. Tulis saja. Setelah selesai, baca kembali. Perbaiki. Edit. Tambahkan data. Perkuat cerita. Ganti judul jika diperlukan. Kemudian publikasikan.
Prosesnya sederhana:
Tulis → Baca → Perbaiki → Publikasikan.
Jangan membebani diri dengan tuntutan bahwa tulisan pertama harus langsung sempurna.
Menulis itu seperti pisau. Semakin sering diasah, semakin tajam. Demikian pula kemampuan menulis. Semakin sering kita membaca, menulis, mengevaluasi, dan menulis kembali, kemampuan kita akan semakin berkembang.
Tidak Punya Ide? Tulis Lima Pertanyaan Ini
Ada hari ketika kita merasa benar-benar tidak memiliki ide. Pada saat seperti itu, jangan langsung menyerah.
Ambil kertas atau buka aplikasi catatan, kemudian jawab lima pertanyaan sederhana:
Apa yang saya alami hari ini?
Apa yang membuat saya bahagia?
Apa yang membuat saya kecewa?
Apa yang saya pelajari hari ini?
Apa yang ingin saya bagikan kepada orang lain?
Jawaban dari kelima pertanyaan tersebut bisa menjadi bahan tulisan.
Misalnya hari ini seorang guru merasa bahagia karena seorang siswa yang biasanya pasif tiba-tiba berani mempresentasikan hasil pekerjaannya. Peristiwa itu mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tetapi bagi guru tersebut bisa menjadi cerita yang sangat bermakna.
Begitu pula ketika kita mengalami kegagalan.
Jangan hanya menyimpan kegagalan sebagai kenangan. Jadikan ia bahan pembelajaran. Tuliskan apa yang terjadi, mengapa gagal, apa yang kita lakukan setelahnya, dan apa yang akhirnya kita pelajari.
Pengalaman adalah guru. Tulisan adalah alat untuk merekam pelajaran dari pengalaman tersebut.
Tidak Punya Mood? Tulis Saja
Ada lagi alasan yang sering muncul: “Saya sedang tidak mood menulis.”
Saya memahami hal itu. Namun, kalau kita selalu menunggu mood, tulisan bisa tidak pernah selesai.
Justru sering kali mood muncul setelah kita mulai menulis, bukan sebelum menulis.
Cobalah tuliskan satu kalimat.
Kemudian satu kalimat berikutnya.
Lalu satu paragraf.
Tanpa terasa, tulisan mulai mengalir.
Tidak perlu menunggu inspirasi datang mengetuk pintu. Kadang-kadang kita harus membuka pintunya terlebih dahulu.
Kalimat sederhana seperti “Hari ini saya tidak punya ide untuk menulis” pun sebenarnya bisa menjadi awal sebuah tulisan.
Mengapa?
Karena setelah kalimat itu, kita bisa bertanya: mengapa tidak punya ide? Apa yang terjadi hari ini? Apa yang sedang kita rasakan? Dari sana cerita bisa berkembang.
Coba Tantangan Menulis 10 Menit
Kalau masih merasa menulis itu sulit, saya punya tantangan sederhana.
Sediakan waktu 10 menit.
Jangan menghapus tulisan.
Jangan takut salah.
Jangan takut tulisan jelek.
Jangan berhenti untuk terlalu lama berpikir.
Tulislah terus selama 10 menit.
Pilih salah satu tema yang paling dekat dengan kehidupan kita: pengalaman paling berkesan sebagai guru, murid yang tidak pernah menyerah, pelajaran yang kita dapatkan hari ini, alasan mengapa kita ingin menjadi penulis, atau satu kejadian lucu dalam kehidupan.
Sepuluh menit mungkin terdengar singkat. Tetapi kalau dilakukan secara konsisten, sepuluh menit setiap hari akan menjadi kebiasaan yang luar biasa.
Satu hari satu tulisan.
Tidak harus panjang.
Yang penting ada sesuatu yang direkam.
Dari Satu Tulisan Bisa Menjadi Banyak Karya
Jangan meremehkan satu tulisan.
Satu catatan kecil bisa berkembang menjadi artikel. Artikel bisa menjadi tulisan blog. Beberapa artikel dapat dikumpulkan menjadi buku. Buku dapat menjadi warisan pemikiran.
Inilah salah satu alasan saya terus menulis sejak bertahun-tahun lalu.
Saya tidak pernah tahu tulisan mana yang suatu hari akan dibaca orang lain dan memberikan manfaat.
Sebuah pengalaman di kelas yang kita tulis hari ini mungkin dibaca seorang guru di daerah lain beberapa tahun kemudian. Bisa jadi ia mendapatkan inspirasi dari sana. Bisa jadi ia mencoba cara yang sama kepada muridnya. Bisa jadi kemudian lahir perubahan yang lebih besar.
Kita mungkin tidak melihat seluruh dampaknya.
Tetapi kita sudah meninggalkan jejak.
Itulah mengapa saya sering mengatakan:
“Blog adalah alat rekam yang ajaib.”
Apa yang kita tulis hari ini dapat menjadi dokumentasi perjalanan hidup dan perjalanan profesi kita di masa depan.
Bagaimana dengan AI?
Di era kecerdasan artifisial seperti sekarang, kita juga tidak perlu takut menggunakan AI untuk membantu proses menulis.
AI dapat membantu mencari alternatif judul, membuat kerangka, memberikan pertanyaan pemantik, membantu memperbaiki struktur tulisan, atau memberikan umpan balik.
Namun ada satu hal yang tidak boleh kita serahkan sepenuhnya kepada AI: pengalaman kita sendiri.
Pengalaman adalah milik kita.
Sudut pandang adalah milik kita.
Perasaan adalah milik kita.
Cerita yang kita alami adalah milik kita.
Karena itu, gunakan AI sebagai teman berpikir, bukan sebagai pengganti pikiran.
Tulisan yang baik bukan sekadar kumpulan kalimat yang tersusun rapi. Di dalamnya ada pengalaman, pemikiran, nilai, dan suara penulis.
AI membantu kita menulis. Tetapi manusialah yang memberikan makna.
Jangan Bilang Menulis Itu Sulit Sebelum Kamu Mencobanya
Pada akhirnya, saya ingin mengajak guru, siswa, mahasiswa, orang tua, dan siapa saja untuk berhenti mengatakan “menulis itu sulit” sebelum benar-benar mencobanya.
Menulis tidak harus dimulai dengan buku.
Tidak harus dimulai dengan artikel panjang.
Tidak harus dimulai dengan bahasa yang indah.
Mulailah dari satu kalimat.
Kemudian satu paragraf.
Lalu satu halaman.
Setelah itu, lakukan kembali esok hari.
Menulis setiap hari. Rasakan apa yang terjadi.
Mungkin pada awalnya tulisan kita masih sederhana. Tidak apa-apa. Kita sedang belajar. Yang penting jangan berhenti.
Sebab kemampuan menulis bukan hadiah yang turun dari langit. Ia tumbuh dari kebiasaan.
Hari ini satu paragraf.
Besok satu halaman.
Lusa satu artikel.
Beberapa waktu kemudian mungkin menjadi sebuah buku.
Dan suatu hari nanti, kita akan tersenyum ketika membaca tulisan lama sambil berkata, “Ternyata saya pernah memulai dari tulisan sesederhana itu.”
Itulah keajaiban menulis.
Tulisan yang awalnya hanya beberapa kalimat dapat berubah menjadi kenangan, pengetahuan, inspirasi, bahkan warisan pemikiran.
Jadi, kalau hari ini Anda masih bertanya, “Apakah menulis itu sulit?”
Saya hanya ingin mengatakan:
Jangan bilang menulis itu sulit sebelum kamu mencobanya.
Sekarang tutup sejenak rasa takut itu. Buka laptop. Ambil ponsel. Buka buku catatan. Tulis satu kalimat tentang apa yang sedang Anda pikirkan.
Jangan tunggu hebat untuk mulai menulis. Mulailah menulis, lalu biarkan tulisan membuat Anda semakin hebat.
Salam Blogger Persahabatan.
Yuk kita ngeblog!
6 Tag SEO
#MenulisItuMudah #MenulisSetiapHari #GuruMenulis #LiterasiDigital #KisahOmjay #GuruBloggerIndonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.