Setiap Insan Punya Peranan, Selamat Bapak Ibu yang Lolos Tahap Kedua Lomba Blog Omjay
Teaser:
Ada yang menang lomba, ada yang belum. Tetapi setiap tulisan meninggalkan jejak. Selamat kepada bapak ibu yang lolos tahap kedua Lomba Blog Omjay.
Pagi ini saya teringat sebuah lagu lama yang pernah begitu akrab dengan kehidupan saya. Lagu “Panggung Sandiwara” yang dipopulerkan Ahmad Albar. Ada penggalan lirik yang sampai sekarang masih terasa dalam ketika saya renungkan: setiap insan punya satu peranan yang harus dimainkan.
Kalimat sederhana itu ternyata sangat dalam.
Semakin bertambah usia, semakin saya memahami bahwa hidup memang seperti panggung. Kita datang dengan peran masing-masing. Tidak semua orang menjadi pemeran utama. Tidak semua orang berdiri di tengah panggung dan mendapatkan tepuk tangan. Ada yang bekerja di balik layar. Ada yang menyiapkan panggung. Ada yang mengatur cahaya. Ada yang menulis cerita. Ada pula yang hanya duduk menjadi penonton.
Namun semuanya punya arti.
Begitu juga dalam dunia pendidikan dan literasi.
Ada guru yang setiap hari berdiri di depan kelas. Ada guru yang bekerja keras menyiapkan pembelajaran meskipun tidak pernah masuk berita. Ada guru yang menulis praktik baiknya di blog. Ada yang membaca tulisan orang lain lalu mencoba menerapkannya di sekolah. Ada pula yang diam-diam menjadi penyemangat bagi teman sejawatnya.
Mungkin tidak terkenal.
Mungkin tidak mendapatkan penghargaan.
Tetapi perannya tetap penting.
Hari ini saya ingin mengucapkan selamat kepada bapak dan ibu yang berhasil masuk tahap kedua Lomba Blog Omjay.
Alhamdulillah.
Setelah melewati tahap pertama, perjalanan bapak dan ibu masih berlanjut.
Silakan cek email masing-masing untuk mendapatkan informasi mengenai tahap berikutnya.
Saya bisa membayangkan perasaan bapak dan ibu ketika membaca email tersebut. Ada yang tersenyum. Ada yang langsung mengabarkan kepada keluarga. Ada yang mengirimkan pesan ke grup WhatsApp. Ada yang mungkin masih tidak percaya bahwa tulisannya berhasil melangkah ke tahap kedua.
Nikmati kebahagiaan itu.
Tetapi jangan terlalu lama terlena.
Karena setelah satu pintu terbuka, ada pintu berikutnya yang harus kita lewati.
Dan di sinilah sebenarnya inti dari sebuah lomba menulis.
Bukan sekadar mencari siapa yang paling hebat.
Bukan sekadar mencari siapa yang mendapatkan hadiah.
Lomba menulis seharusnya menjadi ruang belajar.
Kita belajar berani menuangkan pikiran. Kita belajar menyusun pengalaman menjadi cerita. Kita belajar memilih kata. Kita belajar membuat judul. Kita belajar membaca tulisan orang lain. Kita belajar menerima kritik. Kita belajar memperbaiki tulisan.
Dan yang paling penting, kita belajar menghargai proses.
Saya sudah menulis selama bertahun-tahun. Blog pribadi saya menjadi saksi perjalanan itu. Ada tulisan yang saya banggakan. Ada tulisan yang ketika saya baca kembali membuat saya tersenyum karena merasa masih banyak kekurangan.
Tetapi saya tidak malu dengan tulisan lama.
Sebab tulisan lama adalah bagian dari perjalanan.
Kalau hari ini tulisan kita belum bagus, jangan berhenti menulis.
Tulisan yang buruk masih bisa diperbaiki. Tetapi tulisan yang tidak pernah dibuat tidak akan pernah bisa diperbaiki.
Itulah mengapa saya terus mengajak guru untuk ngeblog.
Tulislah pengalaman di kelas.
Tulislah perjalanan mengikuti pelatihan.
Tulislah keberhasilan siswa.
Tulislah kegagalan pembelajaran.
Tulislah hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari.
Karena kita tidak pernah tahu tulisan mana yang suatu hari nanti akan menyentuh hati orang lain.
Saya sering mengatakan bahwa blog adalah alat rekam yang ajaib.
Apa yang kita tulis hari ini mungkin terasa biasa saja. Tetapi lima atau sepuluh tahun kemudian, tulisan itu bisa menjadi dokumen sejarah perjalanan hidup kita sebagai guru.
Saya sendiri merasakan manfaatnya.
Tulisan-tulisan yang saya buat sejak lama menjadi semacam album kehidupan. Ketika membacanya kembali, saya seperti sedang bertemu dengan Omjay yang masih muda, masih penuh semangat, masih banyak bermimpi, dan masih terus mencari jalan untuk belajar.
Perjalanan menulis juga mengantarkan saya mengenal banyak orang.
Salah satunya melalui Kompasiana.
Saya menulis bukan untuk mengejar popularitas. Saya menulis karena ingin merekam apa yang saya alami dan berbagi apa yang saya pelajari. Pelan-pelan, tulisan demi tulisan menjadi jejak yang ternyata membawa saya menuju berbagai pengalaman.
Saya pernah menulis kisah perjalanan tersebut dalam artikel “Alhamdulillah, Omjay Pelan-Pelan Menuju Maestro Kompasiana.”
Baca kisah Omjay di Kompasiana
Saya menyadari satu hal: tidak ada perjalanan yang benar-benar instan.
Semua membutuhkan waktu.
Begitu pula dengan bapak dan ibu yang hari ini berhasil masuk tahap kedua.
Jangan hanya melihat hasil akhirnya.
Lihatlah perjalanan yang sudah ditempuh.
Mungkin sebelum menulis, bapak dan ibu harus mencari waktu di tengah kesibukan mengajar. Mungkin harus menunggu anak tidur. Mungkin harus menulis setelah pekerjaan rumah selesai. Mungkin harus berkali-kali menghapus tulisan karena merasa kurang bagus.
Tetapi akhirnya tulisan itu selesai.
Dikirim.
Dan sekarang masuk tahap kedua.
Itu sudah merupakan sebuah pencapaian.
Selamat!
Namun saya juga ingin menyampaikan sesuatu kepada bapak dan ibu yang belum berhasil masuk tahap kedua.
Tolong jangan berhenti menulis hanya karena nama kita tidak ada dalam daftar.
Jangan biarkan satu hasil lomba membuat kita kehilangan keberanian untuk berkarya.
Bisa jadi tulisan kita belum terpilih kali ini, tetapi tulisan itu tetap bermanfaat bagi pembacanya.
Bisa jadi juri belum menemukan sesuatu yang mereka cari dalam tulisan kita, tetapi pembaca lain justru menemukan inspirasi di sana.
Dan bisa jadi kemenangan terbesar seorang guru bukanlah mendapatkan piala.
Kemenangan terbesar seorang guru adalah ketika pengalaman dan pengetahuannya membuat guru lain menjadi lebih baik dan membuat muridnya belajar lebih bahagia.
Itulah mengapa saya tidak ingin Lomba Blog Omjay berhenti sebagai sebuah perlombaan.
Saya ingin setelah lomba selesai, bapak dan ibu tetap menulis.
Blog tetap diisi.
Pengalaman tetap direkam.
Praktik baik tetap dibagikan.
Inspirasi tetap disebarkan.
Sebab dunia pendidikan membutuhkan lebih banyak cerita nyata dari ruang kelas.
Kita terlalu sering mendengar teori.
Sekarang saatnya guru berbicara tentang pengalaman.
Apa yang dilakukan?
Bagaimana caranya?
Apa masalahnya?
Apa yang berubah?
Apa yang dipelajari?
Cerita-cerita itulah yang menurut saya sangat berharga.
Jangan tunggu menjadi penulis terkenal untuk mulai menulis.
Mulailah menulis agar suatu hari tulisan kita dikenal karena manfaatnya.
Dan jangan menunggu sempurna untuk berbagi.
Berbagilah, lalu sempurnakan tulisan kita dari waktu ke waktu.
Bapak dan ibu peserta Lomba Blog Omjay, ingatlah bahwa kita semua sedang memainkan peran masing-masing.
Ada yang sedang berada di tahap pertama.
Ada yang sekarang masuk tahap kedua.
Ada yang nanti menjadi finalis.
Ada yang mendapatkan penghargaan.
Ada pula yang belum berhasil tahun ini.
Tetapi cerita kita belum selesai.
Panggung masih panjang.
Tulisan kita masih banyak.
Inspirasi kita masih menunggu untuk dibagikan.
Maka, kepada bapak dan ibu yang lolos tahap kedua, sekali lagi saya ucapkan:
Selamat!
Silakan cek email masing-masing.
Baca informasinya dengan teliti.
Persiapkan diri.
Tulis dengan hati.
Jangan takut berbeda.
Jangan takut sederhana.
Jangan takut tulisan kita belum sempurna.
Yang penting, tulisan itu jujur, memiliki makna, dan memberikan manfaat.
Dan kepada semua peserta, baik yang lanjut maupun yang belum, saya titip satu pesan:
Jangan berhenti menulis hanya karena belum menang.
Sebab mungkin kita tidak memenangkan lomba hari ini.
Tetapi kita sedang memenangkan sesuatu yang jauh lebih panjang:
jejak kehidupan.
Suatu hari nanti, anak-anak kita mungkin membaca tulisan kita.
Murid-murid kita mungkin menemukannya.
Guru lain mungkin belajar darinya.
Dan orang yang bahkan tidak pernah kita kenal mungkin mendapatkan kekuatan dari cerita yang pernah kita tuliskan.
Saat itulah kita sadar bahwa tulisan ternyata mempunyai umur yang jauh lebih panjang daripada penulisnya.
Maka teruslah menulis.
Teruslah berbagi.
Teruslah menginspirasi.
Karena setiap insan memang memiliki satu peranan yang harus dimainkan.
Mainkan peran kita sebaik mungkin.
Dan untuk bapak ibu guru, jangan lupa:
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Salam Blogger Persahabatan.
Yuk kita ngeblog!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.