TPG Belum Cair, Guru Kembali Diuji dengan Mata Pelajaran Kesabaran
Kisah Omjay, Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com
Pagi itu, Selasa, 1 September 2026, grup percakapan guru kembali ramai. Bukan karena ada kabar kenaikan kesejahteraan, bukan pula karena pemerintah memberikan hadiah istimewa kepada para guru. Yang ramai justru pertanyaan yang sejak beberapa minggu terakhir terus berulang: “TPG sudah cair belum?” Pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya ternyata tidak sesederhana mengisi daftar hadir di sekolah.
Ada guru yang mengabarkan bahwa TPG di Jawa Barat sudah cair sejak malam sebelumnya. Ada pula guru di Jawa Barat yang sampai siang masih menunggu “hilal” masuknya tunjangan ke rekening. Saya membaca percakapan itu sambil tersenyum getir. Seorang guru mengatakan hampir setiap hari membuka mobile banking. Saya kemudian bergurau, jangan-jangan sekarang ada mata pelajaran baru bagi guru, yaitu Matpel Kesabaran, dengan praktik wajib berupa membuka mobile banking setiap pagi, siang, sore, dan malam.
Guru memang manusia paling terlatih dalam urusan sabar. Menunggu siswa mengumpulkan tugas saja sudah biasa. Menunggu rapat selesai juga biasa. Menunggu kebijakan pemerintah yang berubah-ubah pun sudah menjadi bagian dari perjalanan profesi. Namun, kalau yang ditunggu adalah tunjangan profesi guru yang menjadi hak setelah memenuhi berbagai persyaratan, tentu rasa sabar itu memiliki batas.
Dalam percakapan tersebut muncul berbagai pengalaman dari para guru. Ada yang menyebut pencairan mulai dilakukan sejak 31 Agustus, tetapi belum semua guru menerimanya. Ada pula yang menyampaikan bahwa di Jakarta masih ada guru yang belum menerima. Bahkan saya mendapat laporan bahwa di Bekasi terdapat guru yang tunjangan sertifikasinya belum cair sejak April hingga memasuki September. Artinya, ada yang sudah menunggu sekitar enam bulan.
Saya tidak ingin menjadikan pengalaman pribadi atau cerita di grup percakapan sebagai satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh daerah mengalami persoalan yang sama. Setiap daerah bisa memiliki mekanisme dan waktu pencairan yang berbeda. Namun, banyaknya keluhan dari guru menunjukkan satu hal penting: pemerintah dan organisasi profesi guru perlu memberikan informasi yang jelas, terbuka, dan mudah dipahami.
Guru tidak membutuhkan janji yang muluk-muluk. Guru hanya ingin kepastian. Kalau memang ada kendala administrasi, sampaikan kendalanya. Kalau ada proses verifikasi yang belum selesai, jelaskan tahapannya. Kalau dana sudah tersedia tetapi pencairan membutuhkan waktu, berikan informasi yang transparan. Jangan biarkan guru hanya menjadi penonton yang setiap hari mengecek saldo rekening sambil bertanya dalam hati, “Hari ini cair nggak, ya?”
Yang lebih menarik, percakapan guru juga mulai membicarakan soal berbagai potongan. Ada yang mempertanyakan potongan pajak dan BPJS, bahkan muncul cerita mengenai pemotongan tambahan yang disebut berkaitan dengan kesalahan pemotongan sebelumnya. Hal seperti ini tentu membutuhkan penjelasan resmi agar tidak berkembang menjadi prasangka.
Menurut saya, masalah potongan harus dibicarakan secara terbuka. Guru berhak mengetahui berapa jumlah tunjangan yang seharusnya diterima, berapa yang dipotong, apa dasar pemotongannya, dan ke mana dana tersebut dialokasikan. Transparansi bukan bentuk ketidakpercayaan kepada pemerintah. Justru transparansi adalah cara membangun kepercayaan.
Dalam percakapan grup itu, muncul pula gagasan untuk membuat petisi apabila persoalan TPG belum mendapatkan kepastian. Saya kira gagasan tersebut perlu dibicarakan secara serius oleh organisasi guru. Bukan untuk membuat keributan, apalagi untuk mencari musuh, tetapi untuk menyampaikan aspirasi secara tertib, terukur, dan bermartabat.
Saya teringat kalimat yang sering saya sampaikan kepada teman-teman guru: organisasi guru akan kuat kalau guru-gurunya bersatu dan berani menyampaikan suara secara bersama-sama. Jangan sampai ada puluhan organisasi guru, tetapi ketika guru menghadapi persoalan yang sama, semuanya justru diam sendiri-sendiri.
Saya berharap para pengurus organisasi profesi dan komunitas guru dapat segera duduk bersama. Tidak harus langsung menggelar pertemuan besar. Kalau perlu, mulai saja dengan Zoom. Kita kumpulkan data, dengarkan suara guru dari berbagai daerah, petakan persoalan pencairan TPG, lalu rumuskan langkah yang tepat untuk disampaikan kepada kementerian dan pemerintah daerah.
Jangan sampai guru hanya diminta sabar tanpa pernah diberi kepastian. Sabar itu baik, tetapi kepastian juga merupakan hak. Guru sudah terlalu lama menjadi profesi yang selalu diminta memahami keadaan. Sekarang mungkin sudah waktunya pemerintah memahami keadaan guru.
Saya teringat kembali candaan saya di grup tadi: “Kayak ada mata pelajaran baru namanya kesabaran.” Semua tertawa. Tetapi di balik tawa itu sebenarnya ada kegelisahan. Sebab guru boleh bercanda, boleh tersenyum, bahkan boleh tetap mengajar dengan penuh dedikasi, tetapi kebutuhan hidup tetap berjalan.
Anak harus makan. Listrik harus dibayar. Transportasi harus tersedia. Kebutuhan sekolah juga tidak berhenti. Guru pun memiliki keluarga yang membutuhkan kepastian.
Karena itu, memasuki September 2026, saya berharap persoalan TPG tidak lagi menjadi misteri bulanan. Datanglah tepat waktu, tepat jumlah, dan dengan mekanisme yang transparan. Kalau memang ada kendala, sampaikan kepada guru secara terbuka.
Dan untuk organisasi guru, saya kira inilah saatnya bergerak bersama. Tidak perlu saling menunggu. Tidak perlu menunggu guru lain bersuara lebih dahulu. Mulailah dari data, dialog, dan persatuan.
Sebab guru yang setiap hari mengajarkan anak-anak tentang disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran tentu pantas mendapatkan hal yang sama dari negara yang mereka layani.
Guru boleh sabar. Tetapi jangan jadikan kesabaran guru sebagai alasan untuk terus menunda kepastian.
Saya, Omjay, Guru Blogger Indonesia, memilih menuliskan kegelisahan ini. Bukan karena ingin mencari masalah, tetapi karena saya percaya bahwa tulisan dapat menjadi jembatan antara suara guru dan mereka yang memiliki kewenangan untuk memperbaikinya.
Kalau suara guru bersatu, insyaallah bukan hanya TPG yang akan lebih tepat waktu, tetapi juga penghargaan terhadap profesi guru akan semakin bermartabat.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.