Rahasia Tetap Percaya Diri Meski Belum Menguasai Materi Saat Berbicara
Oleh: Omjay Guru Blogger Indonesia
Pernahkah Anda diminta berbicara di depan banyak orang, tetapi sebenarnya belum terlalu menguasai materi yang akan disampaikan? Kalau pernah, jangan buru-buru panik. Saya, Omjay Guru Blogger Indonesia, juga pernah berada dalam situasi seperti itu.
Ada kalanya kita mendapat undangan menjadi narasumber, moderator, guru tamu, atau pembicara dalam sebuah kegiatan. Waktu persiapan sangat terbatas. Materi belum semuanya dibaca. Slide belum sempurna. Bahkan terkadang baru mengetahui tema pembicaraan beberapa saat sebelum acara dimulai.
Lalu muncul pertanyaan dalam hati, “Bagaimana kalau nanti saya ditanya dan tidak bisa menjawab?”
Pertanyaan seperti itu sangat manusiawi. Namun, saya belajar bahwa percaya diri bukan berarti harus mengetahui semuanya. Percaya diri adalah keberanian untuk tetap berbicara sambil menyadari bahwa kita masih terus belajar.
Rahasia pertama yang saya lakukan adalah jujur kepada peserta. Saya tidak malu mengatakan bahwa saya belum mengetahui semuanya. Justru dengan kejujuran itu, suasana menjadi lebih cair. Saya bisa berkata, “Bapak dan Ibu, materi ini masih terus saya pelajari. Kalau ada yang lebih memahami, mari kita belajar bersama.”
Ajaibnya, kalimat sederhana itu sering membuat peserta merasa lebih dekat. Mereka tidak sedang berhadapan dengan orang yang merasa paling pintar, tetapi dengan seorang pembelajar yang mau berbagi pengalaman.
Rahasia kedua adalah berbicara berdasarkan pengalaman. Ketika teori belum sepenuhnya dikuasai, pengalaman menjadi penyelamat. Saya bisa menceritakan apa yang pernah saya lakukan sebagai guru, blogger, penulis, atau narasumber. Pengalaman nyata biasanya lebih mudah diceritakan daripada teori yang baru saja kita baca.
Rahasia ketiga adalah jangan takut mengatakan “saya belum tahu”. Bagi sebagian orang, kalimat itu terasa seperti kelemahan. Bagi saya, justru sebaliknya. Mengatakan belum tahu menunjukkan bahwa kita memiliki kerendahan hati untuk terus belajar.
Jika ada pertanyaan yang belum bisa saya jawab, saya biasanya mengatakan, “Pertanyaan ini menarik. Saya belum memiliki jawaban yang tepat. Izinkan saya mempelajarinya terlebih dahulu.” Setelah itu, saya mencatat pertanyaannya. Jangan sampai pertanyaan peserta hilang begitu saja.
Rahasia berikutnya adalah kuasai inti, bukan semuanya. Sebelum berbicara, saya berusaha memahami tiga hal: apa tujuan pembicaraan, siapa pesertanya, dan pesan utama apa yang ingin saya tinggalkan. Kalau tiga hal itu sudah jelas, saya tidak perlu menghafalkan seluruh materi.
Saya juga selalu berusaha menjadikan pembicaraan sebagai percakapan. Tidak perlu terlalu kaku. Sesekali humor boleh digunakan. Bertanya kepada peserta juga penting. Dengan begitu, pembicara tidak merasa sedang sendirian menghadapi ruangan.
Dari pengalaman panjang mengajar dan menulis, saya semakin yakin bahwa orang percaya kepada pembicara bukan karena pembicara mengetahui segalanya, tetapi karena pembicara tulus, jujur, dan memberikan manfaat.
Jadi, kalau suatu hari Anda diminta berbicara dan merasa belum menguasai materi, jangan langsung menolak. Persiapkan bagian terpenting, ceritakan pengalaman Anda, dengarkan peserta, dan berani mengatakan belum tahu ketika memang belum tahu.
Tidak ada manusia yang mengetahui semuanya.
Kita semua adalah pembelajar.
Dan saya, Omjay, terus belajar sambil berbagi. Sebab saya percaya pada satu prinsip sederhana:
“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.