Jernih Hati, Luhur Budi, dan Masa Depan yang Cerah
Kisah Omjay Hari Ini di Kompasiana
Inspirasi Pagi, Senin 28 September 2026
Oleh: Wijaya Kusumah Wijaya Kusumah - omjay
Pagi itu suasana kelas Informatika di SMP Labschool Jakarta terasa hidup. Suara ketikan keyboard terdengar bersahutan. Beberapa siswa serius menatap layar komputer, sebagian berdiskusi dengan teman di sebelahnya, sementara yang lain sibuk mencoba menjalankan program yang mereka buat.
Di tengah suasana tersebut, saya melihat seorang siswa duduk diam. Matanya tertuju pada layar. Tangannya berhenti di atas keyboard. Wajahnya tampak bingung.
"Pak, saya tidak bisa. Coding saya error terus," katanya.
Saya mendekatinya. Saya tidak langsung mengambil alih komputer atau memperbaiki kodenya. Saya justru bertanya, "Menurut kamu, bagian mana yang membuat programnya error?"
Ia kembali memperhatikan layar. Kami membaca kode itu perlahan. Saya memberikan beberapa pertanyaan agar ia menemukan sendiri kesalahannya. Akhirnya ditemukan satu bagian kode yang keliru.
Kami perbaiki.
Program dijalankan kembali.
Masih error.
"Coba sekali lagi," kata saya.
Kami periksa bersama. Beberapa saat kemudian program itu akhirnya berjalan. Wajahnya yang semula tegang berubah menjadi senyum.
"Pak, ternyata saya bisa!"
Saya ikut tersenyum.
Bagi orang lain mungkin itu hanya kejadian kecil di kelas Informatika. Bagi saya, kejadian tersebut menyimpan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar coding.
Saya berkata kepadanya, "Jangan bilang saya tidak bisa. Katakan saya belum bisa."
Kata belum membuka pintu harapan. "Saya tidak bisa" seperti menutup perjalanan. Sebaliknya, "saya belum bisa" berarti masih ada kesempatan untuk belajar, mencoba, memperbaiki kesalahan, dan berkembang.
Guru Tidak Hanya Mengajarkan Materi
Saya sudah mengajar di SMP Labschool Jakarta sejak 1994. Puluhan tahun berada di dunia pendidikan membuat saya bertemu dengan begitu banyak siswa dan berbagai karakter manusia.
Ada siswa yang cepat memahami pelajaran. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang berani mencoba. Ada pula yang takut salah.
Dari mereka saya belajar bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi. Guru juga membantu siswa menemukan keberanian untuk mencoba.
Dalam Informatika, error bukan selalu kegagalan. Error justru bagian dari proses belajar. Siswa belajar mencari penyebab, membaca pesan kesalahan, memperbaiki kode, mencoba kembali, dan mengevaluasi hasilnya.
Tanpa disadari, mereka sedang belajar logika, ketelitian, kesabaran, dan pantang menyerah.
Bukankah kehidupan juga demikian?
Kita semua pernah mengalami "error". Ada rencana yang tidak berjalan, harapan yang belum terwujud, keputusan yang ternyata keliru, atau usaha yang belum memberikan hasil.
Yang penting bukan berapa kali kita mengalami kegagalan, tetapi apakah kita mau memperbaiki kesalahan dan mencoba kembali.
Dari Kelas, Saya Belajar Tentang Hati
Pengalaman sederhana di kelas tersebut membuat saya teringat pada sebuah kalimat yang terus saya renungkan:
Barangsiapa yang jernih hatinya, akan diperbaiki pula oleh Allah pada apa yang nyata di wajahnya.
Semakin bertambah usia, saya semakin memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang pencapaian, jabatan, popularitas, atau seberapa banyak orang mengenal kita.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menjaga hati, menjaga lisan, memperlakukan orang lain, dan memberikan manfaat.
Hati yang jernih membuat kita tidak mudah dikuasai kemarahan. Hati yang bersih membantu kita menerima perbedaan. Hati yang penuh syukur membuat kita mampu menikmati hal-hal sederhana.
Saya sendiri masih belajar tentang semua itu.
Dari Guru Menjadi Blogger
Perjalanan saya sebagai guru kemudian membawa saya semakin dekat dengan dunia teknologi dan menulis. Saya mulai serius menulis blog sejak 2007. Awalnya blog menjadi tempat berbagi pengalaman dan pengetahuan.
Lama-kelamaan saya menyadari bahwa pengalaman seorang guru ternyata dapat menjadi bahan belajar bagi banyak orang.
Saya kemudian aktif menulis di Kompasiana. Pengalaman mengajar, perjalanan, pertemuan dengan guru, kegiatan pendidikan, keluarga, bahkan kejadian sederhana sehari-hari menjadi sumber tulisan.
Dari situlah saya memegang prinsip:
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Saya tidak menulis karena merasa sudah menjadi penulis hebat. Saya menulis karena masih belajar.
Ketika menulis tentang kesabaran, saya sedang mengingatkan diri sendiri agar lebih sabar. Ketika menulis tentang kejujuran, saya sedang mengingatkan diri sendiri agar tetap jujur.
Menulis bagi saya adalah cara bercermin.
Ketika Guru Mulai Berani Menulis
Dalam berbagai kegiatan literasi dan komunitas belajar, saya bertemu banyak guru yang sebenarnya memiliki pengalaman luar biasa tetapi tidak percaya diri menulis.
Saya sering mengatakan kepada mereka, "Tidak perlu menunggu menjadi penulis hebat. Tuliskan saja pengalaman yang Anda alami."
Ada yang awalnya hanya berani menulis satu halaman. Kemudian berkembang menjadi artikel, buku, atau blog.
Ketika seorang guru berkata, "Omjay, sekarang saya berani menulis," saya merasakan kebahagiaan tersendiri.
Bagi saya, melihat orang lain tumbuh karena pernah kita beri semangat adalah sebuah keberhasilan.
Itulah sebabnya saya tidak pernah bosan mengajak guru untuk menulis pengalaman mereka sendiri. Sebab setiap guru memiliki cerita. Setiap kelas memiliki kisah. Setiap siswa memiliki perjuangan.
Sayang sekali jika semua itu hilang begitu saja karena tidak pernah dituliskan.
Tidak Semua Perbedaan Harus Dimenangkan
Tentu perjalanan hidup tidak selalu mulus. Ada kritik, perbedaan pendapat, kesalahpahaman, dan komentar yang terkadang membuat hati tidak nyaman.
Semakin bertambah usia, saya belajar bahwa tidak semua perkataan harus dibalas. Tidak semua komentar perlu dilayani. Tidak semua perbedaan harus dimenangkan.
Ada saatnya kita diam, tersenyum, lalu kembali bekerja.
Diam bukan berarti kalah. Terkadang diam adalah bentuk pengendalian diri. Saya lebih memilih membuktikan sesuatu melalui karya daripada menghabiskan energi dalam pertengkaran.
Di sinilah saya belajar tentang luhur budi.
Ketika seseorang berbicara kasar, kita tidak harus membalas dengan kasar. Ketika ada yang meremehkan, kita tidak perlu menjawab dengan kemarahan.
Kesopanan bukan kelemahan.
Kesopanan menunjukkan bahwa kita mampu mengendalikan diri.
Kejujuran Dimulai dari Keteladanan
Sebagai guru, saya sadar bahwa siswa tidak hanya mendengar apa yang saya katakan. Mereka memperhatikan bagaimana saya bersikap.
Guru boleh berbicara panjang tentang kejujuran, tetapi keteladanan jauh lebih kuat daripada nasihat.
Begitu pula dalam menulis. Saya berusaha menulis berdasarkan pengalaman dan pembelajaran yang saya dapatkan. Saya tidak ingin tulisan hanya menjadi kumpulan kata yang terlihat indah, tetapi kehilangan makna.
Tulisan yang lahir dari pengalaman memiliki kekuatan tersendiri.
Karena itu, saya ingin terus menulis dengan hati.
Belajar Menghargai Waktu
Pengalaman hidup juga mengajarkan saya untuk lebih menghargai waktu dan kesehatan. Ada masa ketika saya harus lebih berhati-hati dalam menjalani aktivitas.
Dari sana saya semakin menghargai hal-hal sederhana: bangun pagi, bertemu keluarga, mengajar, berjalan, menulis, dan berbagi ilmu.
Saya tidak ingin menghabiskan terlalu banyak energi untuk hal-hal yang tidak memberikan manfaat.
Tidak semua komentar harus dijawab.
Tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
Ada pekerjaan yang jauh lebih penting: menjaga hati, keluarga, diri sendiri, terus belajar, dan memberikan manfaat.
Masa Lalu Bukan Penjara
Masa lalu tidak boleh menjadi penjara.
Kalau pernah salah, perbaiki. Kalau pernah gagal, belajar. Kalau pernah kecewa, jangan kehilangan harapan.
Saya memilih melihat masa lalu sebagai guru, bukan sebagai beban.
Bertemu siswa mengajarkan saya kesabaran. Bertemu guru mengajarkan kebersamaan. Menulis mengajarkan kejujuran. Kritik mengajarkan introspeksi. Kegagalan mengajarkan ketekunan. Keberhasilan mengajarkan rasa syukur.
Hidup adalah sekolah yang tidak pernah selesai.
Menjadi Guru yang Terus Belajar
Dunia pendidikan terus berubah. Teknologi berkembang. Coding, kecerdasan artifisial, literasi digital, dan berbagai teknologi baru semakin dekat dengan kehidupan siswa.
Sebagai guru Informatika, saya merasa harus terus belajar.
Namun, di tengah perkembangan teknologi tersebut, saya selalu mengingatkan diri sendiri bahwa teknologi hanyalah alat. Pendidikan tetap membutuhkan manusia yang memiliki hati, empati, keteladanan, dan pengalaman.
Teknologi boleh semakin canggih, tetapi pendidikan tidak boleh kehilangan sentuhan manusia.
Itulah yang saya lihat dari pengalaman siswa di kelas tadi. Ia tidak hanya membutuhkan komputer dan coding. Ia membutuhkan seorang guru yang bersedia mendampingi dan mengatakan, "Coba lagi."
Kadang-kadang satu kalimat sederhana dapat mengubah cara seorang anak melihat dirinya sendiri.
Jernihkan Hati, Teruslah Berkarya
Pagi ini, Senin 28 September 2026, saya kembali mengingatkan diri sendiri untuk menjaga hati.
Hati yang jernih membuat kita lebih mudah memaafkan. Rasa syukur membuat kita mampu melihat nikmat. Keikhlasan membuat kita tidak terlalu bergantung pada pengakuan manusia.
Saya ingin menjalani kehidupan dengan prinsip sederhana:
Berbuat baik, berkata baik, menulis yang baik, dan memberikan manfaat sebanyak mungkin.
Tidak perlu selalu dipuji. Tidak perlu selalu dikenal. Tidak perlu selalu dianggap benar.
Cukup terus berjalan dalam kebaikan.
Sebab manusia mungkin salah menilai kita, tetapi Allah mengetahui isi hati, niat, perjuangan, dan setiap langkah yang kita lakukan.
Inilah kisah Omjay hari ini: seorang guru yang masih belajar menjadi guru, seorang blogger yang masih belajar menjadi penulis, dan seorang manusia yang masih belajar menjaga hati.
Pengalaman di kelas tadi kembali mengingatkan saya bahwa kita semua mungkin pernah mengalami "error" dalam kehidupan.
Jangan buru-buru mengatakan, "Saya tidak bisa."
Mungkin kita hanya sedang berada pada tahap:
"Saya belum bisa."
Mari Menulis Kisah Kita Sendiri
Mari mulai dari diri sendiri. Jika pernah kecewa, belajar memaafkan. Jika pernah gagal, mencoba kembali. Jika pernah salah, berani memperbaiki. Jika pernah diremehkan, jangan berhenti berkarya.
Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik. Tidak perlu menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis.
Tuliskan pengalaman kita. Bagikan ilmu yang kita miliki. Hadirkan manfaat melalui karya sederhana.
Siapa tahu tulisan yang kita anggap biasa ternyata sedang dibutuhkan oleh seseorang yang hampir menyerah. Siapa tahu satu kalimat yang kita tuliskan mampu membuat seorang guru kembali bersemangat, seorang siswa kembali percaya diri, atau seorang pembaca berani memulai langkah baru.
Mari menulis dengan hati, berbagi dengan ikhlas, dan berkarya untuk memberi manfaat.
Saya, Omjay, akan terus belajar, terus mengajar, dan terus menulis.
Bagaimana dengan Anda?
Apa satu kebaikan yang akan Anda lakukan hari ini? Pengalaman apa yang ingin Anda tuliskan agar menjadi inspirasi bagi orang lain?
Mari mulai hari ini.
Jangan hanya menjadi pembaca. Jadilah penulis kehidupan Anda sendiri.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Barakallah fiikum.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.