Life is Beautiful When Children Smile
Ketika Senyum Anak-Anak di Turki Kembali Hadir dalam Kenangan Omjay
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
Pagi itu LRT Jabodebek melaju perlahan meninggalkan Stasiun Cikunir menuju Dukuh Atas. Dari balik jendela kereta, saya memandang langit Jakarta yang mulai cerah. Kesibukan kota perlahan bergerak. Para pekerja bergegas menuju kantor, para pelajar bersiap menuju sekolah, dan saya kembali membuka ponsel untuk membaca tulisan lama yang pernah saya buat di Kompasiana berjudul Life is Beautiful When Children Smile. Tulisan itu seakan membuka kembali pintu kenangan yang selama ini tersimpan rapi di dalam hati.
Tiba-tiba ingatan saya melayang jauh ke negeri dua benua, Turki. Negeri yang pernah saya kunjungi beberapa tahun lalu dalam sebuah perjalanan pendidikan yang sangat berkesan. Saat itu saya datang bukan hanya untuk melihat bangunan bersejarah, masjid-masjid megah, atau menikmati keindahan kota Istanbul. Ada sesuatu yang jauh lebih membekas dalam ingatan saya, yaitu senyum anak-anak Turki yang tulus dan menenangkan hati.
Saya masih ingat ketika berjalan di sebuah taman kota. Anak-anak berlari dengan riang sambil bermain kejar-kejaran. Mereka tertawa lepas tanpa beban. Wajah mereka memancarkan kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ketika melihat saya membawa kamera, beberapa anak melambaikan tangan sambil tersenyum. Ada yang bahkan mendekat dan mencoba menyapa dengan bahasa Inggris sederhana.
Senyum mereka begitu tulus.
Senyum yang tidak dibuat-buat.
Senyum yang lahir dari hati yang masih bersih.
Saat itulah saya menyadari bahwa kebahagiaan sesungguhnya sering kali hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Tidak perlu gedung mewah. Tidak perlu kendaraan mahal. Tidak perlu jabatan tinggi. Kebahagiaan bisa hadir melalui senyum seorang anak kecil.
Hari ini, ketika usia saya sudah melewati banyak perjalanan hidup, kenangan itu justru semakin kuat terasa. Apalagi setelah saya memiliki cucu tercinta, Tanaya Faza Afisa. Setiap kali melihat cucu saya tersenyum, saya seperti kembali berada di Turki. Ada kehangatan yang sama. Ada ketulusan yang sama. Ada harapan yang sama bahwa dunia ini masih indah selama anak-anak masih bisa tersenyum bahagia.
Perjalanan hidup beberapa bulan terakhir membuat saya semakin memahami arti senyum seorang anak. Setelah mengalami berbagai ujian kesehatan, mulai dari diabetes, hipertensi, hingga gejala yang menyerupai stroke, saya sempat merasakan masa-masa sulit. Ada saat ketika tangan terasa lemah. Ada saat ketika kepala berputar hebat. Ada saat ketika dokter meminta saya mengurangi aktivitas yang terlalu berat.
Namun setiap kali pulang ke rumah dan melihat cucu saya tersenyum, rasa lelah itu perlahan hilang.
Anak-anak memang memiliki kekuatan luar biasa.
Mereka tidak memberi ceramah panjang.
Mereka tidak memberikan teori motivasi.
Mereka hanya tersenyum.
Tetapi senyum itu mampu menghidupkan kembali semangat yang hampir padam.
Saya jadi teringat pengalaman saat mengajar di SMP Labschool Jakarta. Selama lebih dari tiga dekade menjadi guru, saya menyaksikan ribuan wajah siswa datang dan pergi. Ada yang kini menjadi dokter, insinyur, dosen, pengusaha, wartawan, bahkan pejabat publik. Namun satu hal yang tidak pernah berubah adalah senyum mereka saat merasa dihargai oleh gurunya.
Sebagai guru, sering kali kita terlalu fokus pada nilai rapor, target kurikulum, dan pencapaian akademik. Padahal ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada itu semua, yaitu menjaga agar anak-anak tetap memiliki senyum bahagia di wajah mereka.
Karena anak yang bahagia akan lebih mudah belajar.
Anak yang bahagia akan lebih kreatif.
Anak yang bahagia akan lebih percaya diri.
Anak yang bahagia akan tumbuh menjadi manusia yang penuh empati.
Pengalaman di Turki mengajarkan saya bahwa investasi terbesar sebuah bangsa bukanlah gedung pencakar langit atau teknologi canggih, melainkan anak-anak yang tumbuh dengan hati yang bahagia. Senyum mereka adalah indikator bahwa lingkungan di sekitarnya memberikan rasa aman, cinta, dan harapan.
Bahkan sebuah tulisan tentang senyum anak dari Turki pernah menggambarkan bahwa dunia yang damai dimulai dari tawa seorang bayi dan senyum yang menyebar dari satu rumah ke rumah lainnya hingga menjangkau seluruh dunia. Pesan sederhana itu sangat menyentuh hati saya.
Kini ketika saya menulis artikel ini di dalam LRT menuju sekolah, saya kembali merenungkan satu hal penting. Dunia memang sedang berubah sangat cepat. Kecerdasan buatan berkembang pesat. Teknologi semakin canggih. Informasi bergerak dalam hitungan detik. Namun ada satu hal yang tidak boleh hilang dari kehidupan manusia, yaitu kemampuan untuk menghadirkan senyum di wajah anak-anak.
Sebab ketika anak-anak tersenyum, dunia terasa lebih damai.
Ketika anak-anak tertawa, harapan terasa lebih dekat.
Ketika anak-anak bahagia, masa depan bangsa terlihat lebih cerah.
Mungkin itulah alasan mengapa kenangan di Turki masih terus hidup dalam hati saya hingga hari ini. Bukan karena kemegahan bangunannya. Bukan karena keindahan kotanya. Bukan pula karena lezatnya kulinernya.
Yang paling saya ingat adalah senyum anak-anaknya.
Senyum yang mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak pernah jauh dari kita.
Senyum yang mengingatkan bahwa hidup akan selalu indah selama kita mampu menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak di sekitar kita.
Maka hari ini saya ingin mengajak para guru, orang tua, dan siapa pun yang membaca tulisan ini untuk menjadi penjaga senyum anak-anak. Dengarkan mereka. Hargai mereka. Dampingi mereka. Berikan cinta dan perhatian yang cukup. Karena kelak ketika kita menoleh ke belakang, mungkin yang paling kita rindukan bukanlah jabatan, harta, atau penghargaan, melainkan senyum tulus anak-anak yang pernah hadir dalam perjalanan hidup kita.
Dan seperti yang selalu saya yakini, hidup memang akan terasa sangat indah ketika anak-anak tersenyum.
Life is Beautiful When Children Smile.
Salam blogger persahabatan.
Wijaya Kusumah (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
Wijaya Kusumah - omjay
Blog https://wijayalabs.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.