Meluncurkan Satu Buku Itu Biasa, Meluncurkan Empat Buku Sekaligus Baru Luar Biasa
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
"Meluncurkan satu buku itu biasa. Meluncurkan empat buku sekaligus, itu baru luar biasa."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Omjay ketika menatap empat buku yang akan diluncurkan secara bersamaan pada tanggal 17 Juni 2026. Hati ini bergetar. Mata ini berkaca-kaca. Bukan karena merasa hebat, melainkan karena teringat perjalanan panjang yang telah dilalui.
Siapa sangka seorang guru biasa yang setiap hari mengajar di kelas bisa sampai pada titik ini?
Perjalanan itu tidak terjadi dalam semalam.
Tidak pula terjadi dalam hitungan bulan.
Semua berawal dari kebiasaan sederhana: menulis setiap hari.
Dulu Omjay bukanlah seorang penulis terkenal. Bahkan ketika pertama kali menulis di blog, pembacanya hanya segelintir orang. Terkadang tulisan yang dibuat dengan penuh semangat hanya dibaca beberapa orang saja.
Namun Omjay terus menulis.
Menulis ketika bahagia.
Menulis ketika sedih.
Menulis ketika sehat.
Bahkan menulis ketika sedang sakit.
Bagi Omjay, menulis adalah cara berbicara kepada dunia tanpa harus berteriak.
Menulis adalah cara meninggalkan jejak kehidupan.
Hari demi hari berlalu.
Tulisan demi tulisan terkumpul.
Blog demi blog terisi.
Artikel demi artikel lahir.
Sampai akhirnya tulisan-tulisan itu menjelma menjadi buku.
Dan kini, empat buku sekaligus siap diluncurkan.
Sebuah anugerah yang tidak pernah Omjay bayangkan sebelumnya.
Buku Pertama: Labschool Rumah Keduaku
Buku pertama berjudul "Labschool Rumah Keduaku."
Buku ini sangat spesial karena berisi kisah perjalanan Omjay selama lebih dari tiga dekade mengabdi di SMP Labschool Jakarta.
Labschool bukan sekadar tempat bekerja.
Labschool adalah rumah kedua.
Di sanalah Omjay bertumbuh sebagai guru.
Di sanalah Omjay belajar tentang dedikasi.
Di sanalah Omjay bertemu ribuan siswa yang kini telah sukses di berbagai bidang.
Setiap halaman buku ini dipenuhi kenangan yang tidak ternilai harganya.
Ada tawa.
Ada haru.
Ada perjuangan.
Ada cinta terhadap dunia pendidikan.
Buku Kedua: Menulis dengan Hati
Buku kedua berjudul "Menulis dengan Hati."
Buku ini lahir dari kegelisahan Omjay melihat perkembangan teknologi yang begitu cepat, terutama hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Banyak orang bertanya kepada Omjay:
"Apakah AI akan menggantikan penulis?"
Jawabannya sederhana.
Tidak.
Karena AI tidak memiliki hati.
AI memang mampu membantu menulis dengan cepat.
Namun hanya manusialah yang mampu memberi rasa dalam tulisan.
Buku ini mengajak pembaca untuk tetap menjaga keaslian diri dalam menulis.
Karena tulisan terbaik bukan yang paling canggih.
Melainkan tulisan yang mampu menyentuh hati pembacanya.
Buku Ketiga: Kasta Tertinggi Seorang Guru
Buku ketiga berjudul "Kasta Tertinggi Seorang Guru."
Judulnya mungkin terdengar unik.
Namun maknanya sangat mendalam.
Menurut Omjay, kasta tertinggi seorang guru bukanlah jabatan.
Bukan pula pangkat atau golongan.
Kasta tertinggi seorang guru adalah ketika ilmunya terus hidup dan memberi manfaat bagi banyak orang.
Guru yang menginspirasi muridnya.
Guru yang menyalakan harapan.
Guru yang meninggalkan warisan nilai kehidupan.
Itulah kasta tertinggi seorang guru.
Melalui buku ini, Omjay ingin mengajak para pendidik untuk terus berkarya dan meninggalkan jejak kebaikan.
Buku Keempat: Kisah Omjay Menulis Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi
Buku keempat berjudul "Kisah Omjay: Menulis Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi."
Inilah buku yang paling personal.
Buku ini adalah catatan perjalanan hidup Omjay sebagai guru, blogger, penulis, pembicara, dan pembelajar sepanjang hayat.
Di dalamnya terdapat kisah jatuh bangun.
Kisah perjuangan menyelesaikan studi doktoral.
Kisah menghadapi sakit.
Kisah kehilangan orang-orang tercinta.
Kisah perjalanan mengajar.
Kisah membangun komunitas literasi.
Dan tentu saja kisah bagaimana menulis setiap hari mampu mengubah kehidupan.
Buku ini menjadi bukti bahwa keajaiban sering kali lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Semua Berawal dari Satu Langkah
Saat melihat keempat buku itu berdiri berdampingan, Omjay kembali teringat pada satu pelajaran penting.
Tidak ada kesuksesan yang datang tiba-tiba.
Semuanya berawal dari satu langkah kecil.
Satu tulisan.
Satu halaman.
Satu ide.
Satu keberanian untuk memulai.
Banyak orang ingin menulis buku.
Namun sedikit yang mau menulis setiap hari.
Padahal buku yang tebal itu sesungguhnya hanya kumpulan halaman-halaman kecil yang ditulis secara konsisten.
Begitu pula kesuksesan.
Ia adalah kumpulan langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.
Sebuah Pesan untuk Para Guru Indonesia
Melalui peluncuran empat buku ini, Omjay ingin menyampaikan pesan sederhana kepada para guru di seluruh Indonesia.
Jangan pernah meremehkan tulisan Anda.
Jangan pernah merasa pengalaman Anda tidak berharga.
Setiap guru memiliki cerita.
Setiap guru memiliki inspirasi.
Setiap guru memiliki ilmu yang layak diwariskan.
Mulailah menulis hari ini.
Tidak perlu menunggu sempurna.
Tidak perlu menunggu punya banyak waktu.
Tulislah apa yang Anda alami.
Tulislah apa yang Anda rasakan.
Tulislah apa yang Anda pelajari.
Karena suatu hari nanti, tulisan itu akan menjadi saksi perjalanan hidup Anda.
Dan siapa tahu, dari kebiasaan menulis setiap hari, lahirlah bukan hanya satu buku.
Bukan pula dua buku.
Tetapi empat buku sekaligus.
Maka benar adanya:
Meluncurkan satu buku itu biasa. Meluncurkan empat buku sekaligus, itu baru luar biasa.
Namun yang lebih luar biasa lagi adalah perjalanan panjang, kerja keras, doa, dan konsistensi yang mengantarkan seseorang hingga mampu mewujudkannya.
Semoga empat buku ini menjadi amal jariyah, menginspirasi banyak orang, dan menjadi bukti bahwa seorang guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga dapat mengubah dunia melalui tulisan.
Salam Literasi.
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.