Pendidikan Menunda Pengangguran? Sebuah Renungan dalam Kisah Omjay
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia
Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah komentar yang cukup menarik. Isinya kurang lebih begini:
> "Semasa saya SD guru saya mengatakan pendidikan menunda pengangguran karena semasa sekolah tidak dianggap pengangguran. Bandingkan dengan orang tua saya. Usia 6 tahun sudah menafkahi diri sendiri, usia 17 tahun sudah jadi jutawan. Bahkan ikut membangun kantor Gubernur Riau. Banyak siswa berprestasi tidak dihargai. Penemu mobil listrik dipenjara, penemu teknologi diabaikan. Negara seolah tidak ingin maju di tangan pribumi."
Komentar itu membuat saya terdiam cukup lama.
Sebagai guru yang sudah mengajar lebih dari tiga puluh tahun, saya memahami mengapa ada sebagian masyarakat yang memandang pendidikan dengan rasa kecewa. Terlebih ketika mereka melihat banyak lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Namun, benarkah pendidikan hanya menunda pengangguran?
Ketika Omjay Masih Kecil
Saya teringat masa kecil saya dahulu.
Ayah dan ibu selalu menanamkan pentingnya sekolah. Saat itu saya tidak pernah berpikir sekolah akan membuat saya kaya. Saya juga tidak pernah membayangkan suatu hari bisa menyandang gelar doktor.
Yang saya tahu, sekolah membuka wawasan.
Sekolah membuat saya mengenal dunia yang lebih luas daripada lingkungan tempat tinggal saya.
Banyak teman sebaya saya yang sejak kecil sudah bekerja membantu orang tuanya. Mereka belajar berdagang, bertani, atau menjadi tukang. Sebagian bahkan lebih cepat menghasilkan uang dibandingkan saya yang masih sibuk belajar di sekolah.
Kalau ukuran keberhasilan hanya uang, mungkin mereka memang lebih unggul saat itu.
Namun hidup ternyata jauh lebih panjang daripada sekadar usia belasan tahun.
Orang Tua Zaman Dulu dan Anak Zaman Sekarang
Saya sangat menghormati kisah orang tua yang sejak usia enam tahun sudah mandiri dan usia tujuh belas tahun sudah menjadi jutawan.
Generasi dahulu memang memiliki daya juang luar biasa.
Mereka hidup dalam kondisi yang keras.
Tidak ada gawai.
Tidak ada internet.
Tidak ada bantuan teknologi.
Mereka bertahan hidup dengan tenaga, keberanian, dan kreativitas.
Namun kita juga harus jujur bahwa kondisi zaman sudah berubah.
Jika dahulu seseorang bisa sukses hanya dengan keterampilan praktis, hari ini dunia menuntut kombinasi antara keterampilan, pendidikan, teknologi, dan kemampuan beradaptasi.
Seorang anak yang pandai memperbaiki mesin harus memahami teknologi digital.
Seorang pedagang harus memahami pemasaran online.
Seorang petani harus memahami teknologi pertanian modern.
Artinya pendidikan tetap diperlukan.
Bukan sekadar untuk mencari ijazah, tetapi untuk memahami perubahan zaman.
Pendidikan yang Salah Arah
Di sinilah saya setuju dengan sebagian kritik tersebut.
Masalahnya sering kali bukan pada pendidikan itu sendiri.
Masalahnya adalah pendidikan yang terlalu fokus pada nilai dan ijazah.
Banyak siswa diajarkan menghafal.
Banyak siswa dilatih menjawab soal.
Tetapi sedikit yang diajarkan cara memecahkan masalah nyata.
Akibatnya lahirlah lulusan yang memiliki ijazah tetapi bingung ketika menghadapi kehidupan.
Mereka menunggu pekerjaan.
Padahal seharusnya pendidikan mampu melahirkan pencipta lapangan kerja.
Saya sering mengatakan kepada murid-murid saya:
> "Jangan sekolah hanya untuk mencari kerja. Sekolahlah agar mampu menciptakan pekerjaan."
Mengapa Banyak Penemu Tidak Berkembang?
Komentar tersebut juga menyinggung tentang para inovator Indonesia yang merasa kurang mendapatkan dukungan.
Memang dalam sejarah Indonesia ada beberapa inovator yang menghadapi berbagai tantangan.
Ada yang kesulitan mendapatkan modal.
Ada yang terbentur regulasi.
Ada yang kalah bersaing dengan produk luar negeri.
Ada pula yang kurang mendapat perhatian media.
Hal seperti itu tentu menjadi pekerjaan rumah bangsa kita.
Karena sebuah negara maju lahir dari kemampuan menghargai inovasi.
Negara-negara besar seperti Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan Amerika Serikat berkembang karena mereka menghargai para ilmuwan, penemu, dan inovatornya.
Indonesia juga harus bergerak ke arah yang sama.
Anak-anak yang kreatif harus diberi ruang.
Penemu muda harus diberi kesempatan.
Guru harus didorong untuk melahirkan inovasi.
Sekolah harus menjadi tempat tumbuhnya kreativitas, bukan sekadar tempat mengejar angka rapor.
Kisah Omjay dan Dunia Menulis
Saya sendiri merasakan bagaimana sebuah karya kadang tidak langsung dihargai.
Ketika pertama kali menulis blog, tidak banyak orang yang membaca tulisan saya.
Saya menulis setiap hari.
Kadang pembacanya hanya beberapa orang.
Bahkan ada tulisan yang tidak mendapatkan komentar sama sekali.
Namun saya terus menulis.
Hari demi hari.
Bulan demi bulan.
Tahun demi tahun.
Hingga akhirnya tulisan-tulisan itu membuka banyak pintu kesempatan.
Saya diundang menjadi narasumber.
Menulis buku.
Berkenalan dengan banyak tokoh pendidikan nasional.
Semua itu tidak terjadi dalam semalam.
Karena keberhasilan sering kali membutuhkan waktu yang panjang.
Sama seperti pendidikan.
Hasilnya tidak selalu terlihat hari ini.
Tetapi manfaatnya bisa dirasakan puluhan tahun kemudian.
Pendidikan dan Kehidupan Nyata
Bagi saya, pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang membuat anak hanya duduk di kelas.
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membuat anak mampu hidup.
Mampu berpikir.
Mampu bekerja.
Mampu berwirausaha.
Mampu beradaptasi.
Mampu menjadi manusia yang bermanfaat.
Jika sekolah hanya menghasilkan pencari kerja, maka pendidikan memang perlu dievaluasi.
Tetapi jika sekolah mampu melahirkan manusia pembelajar sepanjang hayat, maka pendidikan tetap menjadi investasi terbaik.
Refleksi untuk Kita Semua
Komentar yang saya baca tadi sebenarnya mengandung pesan penting.
Jangan sampai pendidikan mematikan kreativitas.
Jangan sampai sekolah menjauhkan anak dari dunia nyata.
Jangan sampai siswa yang berbakat justru kehilangan semangat karena tidak mendapat dukungan.
Sebagai guru, saya merasa tertantang untuk terus memperbaiki cara mengajar.
Saya ingin murid-murid saya tidak hanya pintar menjawab soal.
Saya ingin mereka berani bermimpi.
Berani mencoba.
Berani gagal.
Berani menciptakan sesuatu yang baru.
Karena masa depan Indonesia tidak akan dibangun oleh mereka yang hanya menunggu perintah.
Masa depan Indonesia akan dibangun oleh mereka yang mampu berpikir, berkarya, dan berinovasi.
Dan di situlah pendidikan seharusnya berperan.
Bukan sekadar menunda pengangguran.
Melainkan membangun manusia yang mampu menciptakan masa depannya sendiri.
Sebagaimana pesan yang selalu saya sampaikan kepada para guru dan murid:
> "Ijazah mungkin membuka pintu pertama, tetapi karakter, kreativitas, dan kerja keraslah yang akan membuat kita tetap bertahan di dalamnya."
Mari kita jadikan pendidikan sebagai jalan untuk memerdekakan manusia, bukan sekadar alat untuk mendapatkan selembar kertas bernama ijazah. Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki banyak sekolah, tetapi bangsa yang mampu melahirkan manusia-manusia yang berani berkarya untuk negerinya.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.