Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 14 Juni 2026

Menemukan Jati Diri Melalui Minat dan Bakat

Menemukan Jati Diri Melalui Bakat dan Minat

Kisah Omjay tentang Peran Sekolah dan Orang Tua Menuntun Masa Depan Anak

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Setiap anak terlahir istimewa. Mereka datang ke dunia dengan membawa potensi, bakat, minat, dan keunikan yang berbeda-beda. Sayangnya, tidak semua anak mendapatkan kesempatan untuk mengenali dirinya sejak dini. Ada anak yang sebenarnya berbakat di bidang seni tetapi dipaksa menjadi ahli matematika. Ada pula anak yang memiliki kemampuan luar biasa dalam olahraga, tetapi justru dianggap kurang pintar karena nilai akademiknya tidak setinggi teman-temannya.

Sebagai guru yang telah mengajar lebih dari tiga dekade, saya sering menyaksikan bagaimana seorang anak berkembang pesat ketika menemukan bidang yang dicintainya. Sebaliknya, saya juga melihat banyak anak kehilangan semangat belajar karena terus dipaksa berjalan di jalan yang bukan jalan hidupnya.

Karena itulah saya sangat tertarik ketika mengikuti paparan tentang Manajemen Penelusuran Bakat dan Minat SMP Labschool Jakarta Tahun 2026 yang mengangkat tema besar “Sense of Self” atau Kesadaran Diri. Program ini bukan sekadar berbicara tentang lomba, piala, atau prestasi semata, tetapi tentang bagaimana sekolah dan orang tua bekerja sama membantu anak menemukan jati dirinya.

Dalam paparan tersebut dijelaskan bahwa pengembangan bakat dan minat harus dimulai dari pembentukan Sense of Self, yaitu kesadaran diri yang terdiri dari identitas diri, harga diri (self-esteem), dan keyakinan diri (self-efficacy). Anak perlu memahami siapa dirinya, apa kelebihannya, apa yang disukainya, serta bagaimana ia mampu menghadapi tantangan hidup di masa depan.

Saya teringat masa kecil saya di Wanaraja, Garut. Saat itu saya bukan siswa yang selalu juara kelas. Namun saya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap teknologi dan dunia elektronika. Ketika teman-teman bermain layangan, saya sering membongkar radio tua milik ayah. Kadang radio itu berhasil saya pasang kembali, kadang malah rusak total. Namun dari situlah benih kecintaan saya terhadap dunia teknologi tumbuh.

Jika saat itu tidak ada guru yang mendukung dan memberi kesempatan, mungkin saya tidak akan pernah menjadi guru informatika seperti sekarang. Saya belajar bahwa bakat tidak tumbuh dalam tekanan, tetapi berkembang dalam lingkungan yang memberikan ruang untuk mencoba, gagal, dan bangkit kembali.

Paparan tersebut juga menegaskan bahwa bakat dan minat bukan hanya soal prestasi. Yang lebih penting adalah membangun karakter, mentalitas, dan kebiasaan positif agar anak siap berjuang menghadapi kehidupan di masa depan.

Pernyataan itu sangat menyentuh hati saya. Sebab dalam perjalanan hidup, saya bertemu banyak orang yang memiliki prestasi tinggi tetapi mudah menyerah ketika menghadapi masalah. Sebaliknya, saya juga bertemu orang-orang biasa yang tidak memiliki banyak penghargaan, tetapi memiliki daya juang luar biasa sehingga berhasil meraih kesuksesan.

Karakter jauh lebih penting daripada sekadar piala.

Mentalitas jauh lebih penting daripada sekadar sertifikat.

Kebiasaan baik jauh lebih penting daripada sekadar ranking.

Dalam program penelusuran bakat dan minat tersebut, sekolah memiliki peran penting sebagai fasilitator yang menyediakan ekosistem pendukung bagi setiap siswa. Sekolah tidak hanya mengadakan kegiatan, tetapi juga merancang sistem yang terencana, sistematis, dan berkelanjutan. Mulai dari tahap input, proses, hingga output dan outcome.

Pada tahap awal, siswa diberikan kesempatan untuk beradaptasi dan mengenali berbagai pilihan kegiatan. Setelah itu mereka memasuki tahap pendalaman sesuai minat masing-masing. Pada akhirnya mereka memperoleh pengalaman, prestasi, dan portofolio yang dapat menjadi bekal masa depan.

Saya membayangkan betapa bahagianya seorang anak ketika sekolah tidak hanya bertanya, “Nilaimu berapa?” tetapi juga bertanya, “Apa yang kamu sukai?” dan “Apa impianmu?”

Pertanyaan sederhana seperti itu sering kali mampu mengubah hidup seorang anak.

Dalam paparan tersebut juga dijelaskan bahwa siswa dapat mengembangkan bakat dan minat melalui berbagai jalur. Ada jalur mandiri, di mana siswa mengikuti kompetisi atas inisiatif sendiri. Ada jalur ekstrakurikuler yang menjadi wadah pengembangan bakat di sekolah. Ada pula jalur delegasi sekolah yang secara khusus menyiapkan siswa untuk mengikuti kompetisi tertentu dengan pendampingan resmi dari sekolah.

Menurut saya, pendekatan seperti ini sangat baik karena memberikan kesempatan kepada semua siswa sesuai kebutuhan dan tingkat kesiapan mereka.

Tidak semua anak harus menjadi juara nasional.

Tidak semua anak harus mengikuti olimpiade.

Tidak semua anak harus tampil di panggung besar.

Yang penting setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya.

Hal menarik lainnya adalah adanya sistem apresiasi yang terstruktur. Prestasi siswa tidak hanya diumumkan dalam upacara atau acara khusus, tetapi juga dipublikasikan melalui media sosial sekolah, dinding prestasi, serta diberikan penghargaan berupa Pin Pemuda dan Pin Infinity sesuai pencapaian yang diraih siswa.

Sebagai guru, saya memahami betapa pentingnya apresiasi.

Kadang seorang anak tidak membutuhkan hadiah mahal.

Mereka hanya ingin usahanya dihargai.

Mereka hanya ingin mendengar gurunya berkata, “Saya bangga kepadamu.”

Kalimat sederhana itu bisa menjadi bahan bakar semangat yang bertahan bertahun-tahun.

Program ini juga dilengkapi dengan sistem portofolio digital yang mendokumentasikan seluruh prestasi siswa sehingga perkembangan mereka dapat dipantau secara berkelanjutan. Bahkan terdapat dashboard talent yang memetakan prestasi siswa berdasarkan bidang seperti olahraga, riset dan inovasi, serta seni budaya.

Sebagai orang tua dan guru, saya melihat sistem seperti ini sangat membantu dalam proses perencanaan masa depan anak. Orang tua tidak lagi hanya mengandalkan nilai rapor, tetapi dapat melihat perjalanan prestasi dan minat anak secara lebih utuh.

Di bagian akhir paparan, terdapat agenda internasional yang membuka kesempatan bagi siswa untuk mengikuti berbagai kegiatan global seperti AYIMUN di Malaysia, International Conference, Aussie Student Immersion, Nippon Challenge Program, hingga UK Student Immersion.

Membaca bagian itu membuat saya teringat pesan Ki Hajar Dewantara yang juga ditampilkan dalam paparan tersebut:

"Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu."

Kalimat itu begitu dalam maknanya.

Tugas kita sebagai orang tua dan guru bukan mencetak anak menjadi seperti yang kita inginkan.

Tugas kita adalah membantu mereka menemukan siapa dirinya.

Ketika seorang anak mengenal dirinya, ia akan menemukan jalan hidupnya.

Ketika seorang anak menemukan bakat dan minatnya, ia akan belajar dengan gembira.

Ketika seorang anak merasa dihargai, ia akan tumbuh percaya diri.

Dan ketika sekolah serta orang tua berjalan beriringan menuntun mereka, maka masa depan yang cerah bukan lagi sekadar harapan, melainkan kenyataan yang perlahan akan terwujud.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Pendidikan adalah perjalanan panjang membantu setiap anak menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri. Itulah hakikat sejati penelusuran bakat dan minat, yaitu menuntun anak menemukan jati diri agar kelak mereka mampu berdiri tegak menghadapi masa depan dengan penuh keyakinan dan kebanggaan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.