Hujan Gerimis Aje dan Kisah Cinta Omjay dengan Siti Rokayah
**Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia**
*"Eh ujan gerimis aje, ikan teri diasinin. Eh jangan menangis aje, yang pergi jangan dipikirin..."*
Lagu itu tiba-tiba terdengar dari pengeras suara sebuah warung kopi saat Omjay duduk menikmati perjalanan pagi menuju sekolah. Entah mengapa, lirik sederhana itu membuat Omjay tersenyum sendiri.
Bukan karena ikan teri yang diasinin.
Bukan pula karena hujan gerimis yang turun malu-malu.
Tetapi karena lagu itu mengingatkan Omjay pada perjalanan cintanya dengan seorang perempuan sederhana bernama **Siti Rokayah**, wanita yang kini menjadi pendamping hidupnya.
Kalau dipikir-pikir, kisah cinta Omjay dan Siti Rokayah tidak jauh berbeda dengan hujan gerimis.
Tidak heboh.
Tidak menggelegar seperti petir.
Tidak viral seperti kisah cinta artis.
Tetapi diam-diam menyejukkan hati dan bertahan sampai hari ini.
Dulu, saat Omjay masih muda dan rambut belum banyak yang pindah ke ubun-ubun, hidup terasa penuh warna. Sebagai mahasiswa IKIP Jakarta, Omjay lebih sering memikirkan tugas kuliah daripada urusan cinta.
Maklum saja.
Uang saku pas-pasan.
Naik kereta ekonomi.
Kadang makan siang cukup dengan mie instan.
Jangankan mengajak perempuan makan di restoran mewah, membeli bakso dua mangkuk saja harus berpikir dua kali.
Namun siapa sangka, di tengah kesederhanaan itu Allah mempertemukan Omjay dengan perempuan yang kelak menjadi teman hidupnya.
Namanya Siti Rokayah.
Perempuan yang tidak pernah menuntut banyak.
Tidak pernah bertanya berapa saldo tabungan.
Tidak pernah bertanya kapan punya mobil.
Yang ia lihat adalah kesungguhan hati.
Dan itulah yang membuat Omjay jatuh cinta.
Suatu hari seorang teman bercanda kepada Omjay.
"Jay, kalau ditolak gimana?"
Omjay tertawa.
"Lah, memangnya melamar kerja? Ini urusan jodoh."
Temannya tertawa terbahak-bahak.
Namun dalam hati Omjay juga deg-degan.
Karena urusan cinta memang selalu membuat laki-laki paling berani sekalipun menjadi gugup.
Ketika akhirnya hubungan mereka semakin serius, banyak teman yang memberi nasihat.
Ada yang bilang jangan terlalu cepat.
Ada yang bilang tunggu mapan.
Ada yang bilang cari yang lebih kaya.
Ada juga yang bilang jangan menikah dulu kalau belum punya rumah.
Omjay hanya tersenyum.
Karena cinta sejati tidak pernah menunggu semuanya sempurna.
Kalau menunggu sempurna, mungkin sampai sekarang masih menunggu.
Untunglah Siti Rokayah bukan perempuan yang suka menghitung kekurangan.
Ia lebih suka mensyukuri apa yang ada.
Ketika Omjay belum punya banyak harta, ia tetap setia.
Ketika Omjay harus berjuang menjadi guru dengan penghasilan yang tidak seberapa, ia tetap mendukung.
Ketika Omjay sibuk menulis hingga larut malam, ia tetap menemani.
Bahkan saat Omjay mulai dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia, Siti Rokayah tetap sama.
Tetap sederhana.
Tetap rendah hati.
Tetap menjadi tempat pulang terbaik.
Sering kali Omjay bercanda kepadanya.
"Bu, kalau dulu Ibu nggak mau sama saya, mungkin saya masih jomblo sampai sekarang."
Siti Rokayah hanya tertawa.
"Lah, siapa yang mau sama Bapak kalau bukan saya?"
Mendengar jawaban itu, Omjay langsung kalah telak.
Tidak bisa membalas.
Karena memang benar.
Kadang cinta tidak perlu banyak kata-kata manis.
Cukup satu kalimat sederhana yang membuat hati hangat sepanjang hari.
Perjalanan rumah tangga tentu tidak selalu mulus.
Ada masa sulit.
Ada masa ekonomi pas-pasan.
Ada masa ketika anak-anak masih kecil dan kebutuhan begitu banyak.
Namun seperti hujan gerimis yang turun perlahan, cinta mereka juga tumbuh perlahan.
Hari demi hari.
Tahun demi tahun.
Tanpa terasa.
Kini setelah puluhan tahun menikah, Omjay semakin memahami arti cinta yang sebenarnya.
Ternyata cinta bukan sekadar bunga, cokelat, atau kata-kata romantis.
Cinta adalah ketika istri mengingatkan minum obat saat suami lupa.
Cinta adalah ketika suami menunggu istri selesai berbelanja tanpa mengeluh.
Cinta adalah ketika keduanya saling menguatkan saat ujian hidup datang.
Beberapa tahun terakhir kesehatan Omjay sempat menurun.
Diabetes.
Hipertensi.
Vertigo.
Bahkan sempat mengalami gejala yang mirip stroke.
Dalam masa-masa itu Omjay menyaksikan sendiri bagaimana cinta seorang istri bekerja.
Bukan lewat puisi.
Bukan lewat status media sosial.
Tetapi lewat perhatian yang tulus.
Menyiapkan makanan sehat.
Mengingatkan jadwal kontrol dokter.
Mendampingi saat tubuh sedang lemah.
Di situlah Omjay sadar.
Bahwa cinta yang paling indah bukanlah cinta yang banyak dipamerkan.
Tetapi cinta yang tetap bertahan saat keadaan tidak baik-baik saja.
Karena itulah setiap kali mendengar lagu:
*"Mengapa adek menangis aje, kalau memang jodo nggak ke mana..."*
Omjay selalu tersenyum.
Memang benar.
Kalau jodoh tidak akan ke mana.
Tidak perlu mengejar sampai ke Tanjung Cina.
Tidak perlu mencari sampai ke Menado.
Kalau Allah sudah menulis namanya di Lauhul Mahfuz, sejauh apa pun jaraknya pasti akan dipertemukan.
Hari ini Omjay dan Siti Rokayah menikmati fase kehidupan yang berbeda.
Anak-anak sudah dewasa.
Cucu sudah mulai memanggil "Kakek".
Rambut mulai memutih.
Tetapi cinta itu tetap ada.
Bahkan terasa lebih indah daripada masa muda.
Karena sekarang cinta mereka dibangun oleh ribuan kenangan.
Oleh tawa yang pernah dibagi bersama.
Oleh air mata yang pernah dilalui bersama.
Oleh doa-doa yang diam-diam dipanjatkan setiap malam.
Maka kepada para pembaca, khususnya kaum wanita, Omjay ingin mengatakan satu hal.
Jangan hanya mencari laki-laki yang pandai berkata romantis.
Carilah laki-laki yang siap bertanggung jawab.
Jangan hanya mencari yang tampan hari ini.
Carilah yang tetap setia sampai rambut memutih.
Dan kepada para laki-laki, jangan pernah lupa menghargai istri yang menemani dari nol.
Karena perempuan yang setia menemani perjuangan adalah hadiah terindah dari Allah.
Hujan gerimis akhirnya reda.
Matahari mulai muncul.
Omjay kembali tersenyum sambil mengingat lirik lagu itu.
*"Anak Labschool emang paling jago, apalagi anak tiga dua..."*
Dan dalam hati Omjay menambahkan satu bait lagi:
*"Kalau cinta dibangun karena Allah semata, usia boleh menua, tetapi cinta akan selalu muda."*
Salam Blogger Persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com
**Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia**
*"Eh ujan gerimis aje, ikan teri diasinin. Eh jangan menangis aje, yang pergi jangan dipikirin..."*
Lagu itu tiba-tiba terdengar dari pengeras suara sebuah warung kopi saat Omjay duduk menikmati perjalanan pagi menuju sekolah. Entah mengapa, lirik sederhana itu membuat Omjay tersenyum sendiri.
Bukan karena ikan teri yang diasinin.
Bukan pula karena hujan gerimis yang turun malu-malu.
Tetapi karena lagu itu mengingatkan Omjay pada perjalanan cintanya dengan seorang perempuan sederhana bernama **Siti Rokayah**, wanita yang kini menjadi pendamping hidupnya.
Kalau dipikir-pikir, kisah cinta Omjay dan Siti Rokayah tidak jauh berbeda dengan hujan gerimis.
Tidak heboh.
Tidak menggelegar seperti petir.
Tidak viral seperti kisah cinta artis.
Tetapi diam-diam menyejukkan hati dan bertahan sampai hari ini.
Dulu, saat Omjay masih muda dan rambut belum banyak yang pindah ke ubun-ubun, hidup terasa penuh warna. Sebagai mahasiswa IKIP Jakarta, Omjay lebih sering memikirkan tugas kuliah daripada urusan cinta.
Maklum saja.
Uang saku pas-pasan.
Naik kereta ekonomi.
Kadang makan siang cukup dengan mie instan.
Jangankan mengajak perempuan makan di restoran mewah, membeli bakso dua mangkuk saja harus berpikir dua kali.
Namun siapa sangka, di tengah kesederhanaan itu Allah mempertemukan Omjay dengan perempuan yang kelak menjadi teman hidupnya.
Namanya Siti Rokayah.
Perempuan yang tidak pernah menuntut banyak.
Tidak pernah bertanya berapa saldo tabungan.
Tidak pernah bertanya kapan punya mobil.
Yang ia lihat adalah kesungguhan hati.
Dan itulah yang membuat Omjay jatuh cinta.
Suatu hari seorang teman bercanda kepada Omjay.
"Jay, kalau ditolak gimana?"
Omjay tertawa.
"Lah, memangnya melamar kerja? Ini urusan jodoh."
Temannya tertawa terbahak-bahak.
Namun dalam hati Omjay juga deg-degan.
Karena urusan cinta memang selalu membuat laki-laki paling berani sekalipun menjadi gugup.
Ketika akhirnya hubungan mereka semakin serius, banyak teman yang memberi nasihat.
Ada yang bilang jangan terlalu cepat.
Ada yang bilang tunggu mapan.
Ada yang bilang cari yang lebih kaya.
Ada juga yang bilang jangan menikah dulu kalau belum punya rumah.
Omjay hanya tersenyum.
Karena cinta sejati tidak pernah menunggu semuanya sempurna.
Kalau menunggu sempurna, mungkin sampai sekarang masih menunggu.
Untunglah Siti Rokayah bukan perempuan yang suka menghitung kekurangan.
Ia lebih suka mensyukuri apa yang ada.
Ketika Omjay belum punya banyak harta, ia tetap setia.
Ketika Omjay harus berjuang menjadi guru dengan penghasilan yang tidak seberapa, ia tetap mendukung.
Ketika Omjay sibuk menulis hingga larut malam, ia tetap menemani.
Bahkan saat Omjay mulai dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia, Siti Rokayah tetap sama.
Tetap sederhana.
Tetap rendah hati.
Tetap menjadi tempat pulang terbaik.
Sering kali Omjay bercanda kepadanya.
"Bu, kalau dulu Ibu nggak mau sama saya, mungkin saya masih jomblo sampai sekarang."
Siti Rokayah hanya tertawa.
"Lah, siapa yang mau sama Bapak kalau bukan saya?"
Mendengar jawaban itu, Omjay langsung kalah telak.
Tidak bisa membalas.
Karena memang benar.
Kadang cinta tidak perlu banyak kata-kata manis.
Cukup satu kalimat sederhana yang membuat hati hangat sepanjang hari.
Perjalanan rumah tangga tentu tidak selalu mulus.
Ada masa sulit.
Ada masa ekonomi pas-pasan.
Ada masa ketika anak-anak masih kecil dan kebutuhan begitu banyak.
Namun seperti hujan gerimis yang turun perlahan, cinta mereka juga tumbuh perlahan.
Hari demi hari.
Tahun demi tahun.
Tanpa terasa.
Kini setelah puluhan tahun menikah, Omjay semakin memahami arti cinta yang sebenarnya.
Ternyata cinta bukan sekadar bunga, cokelat, atau kata-kata romantis.
Cinta adalah ketika istri mengingatkan minum obat saat suami lupa.
Cinta adalah ketika suami menunggu istri selesai berbelanja tanpa mengeluh.
Cinta adalah ketika keduanya saling menguatkan saat ujian hidup datang.
Beberapa tahun terakhir kesehatan Omjay sempat menurun.
Diabetes.
Hipertensi.
Vertigo.
Bahkan sempat mengalami gejala yang mirip stroke.
Dalam masa-masa itu Omjay menyaksikan sendiri bagaimana cinta seorang istri bekerja.
Bukan lewat puisi.
Bukan lewat status media sosial.
Tetapi lewat perhatian yang tulus.
Menyiapkan makanan sehat.
Mengingatkan jadwal kontrol dokter.
Mendampingi saat tubuh sedang lemah.
Di situlah Omjay sadar.
Bahwa cinta yang paling indah bukanlah cinta yang banyak dipamerkan.
Tetapi cinta yang tetap bertahan saat keadaan tidak baik-baik saja.
Karena itulah setiap kali mendengar lagu:
*"Mengapa adek menangis aje, kalau memang jodo nggak ke mana..."*
Omjay selalu tersenyum.
Memang benar.
Kalau jodoh tidak akan ke mana.
Tidak perlu mengejar sampai ke Tanjung Cina.
Tidak perlu mencari sampai ke Menado.
Kalau Allah sudah menulis namanya di Lauhul Mahfuz, sejauh apa pun jaraknya pasti akan dipertemukan.
Hari ini Omjay dan Siti Rokayah menikmati fase kehidupan yang berbeda.
Anak-anak sudah dewasa.
Cucu sudah mulai memanggil "Kakek".
Rambut mulai memutih.
Tetapi cinta itu tetap ada.
Bahkan terasa lebih indah daripada masa muda.
Karena sekarang cinta mereka dibangun oleh ribuan kenangan.
Oleh tawa yang pernah dibagi bersama.
Oleh air mata yang pernah dilalui bersama.
Oleh doa-doa yang diam-diam dipanjatkan setiap malam.
Maka kepada para pembaca, khususnya kaum wanita, Omjay ingin mengatakan satu hal.
Jangan hanya mencari laki-laki yang pandai berkata romantis.
Carilah laki-laki yang siap bertanggung jawab.
Jangan hanya mencari yang tampan hari ini.
Carilah yang tetap setia sampai rambut memutih.
Dan kepada para laki-laki, jangan pernah lupa menghargai istri yang menemani dari nol.
Karena perempuan yang setia menemani perjuangan adalah hadiah terindah dari Allah.
Hujan gerimis akhirnya reda.
Matahari mulai muncul.
Omjay kembali tersenyum sambil mengingat lirik lagu itu.
*"Anak Labschool emang paling jago, apalagi anak tiga dua..."*
Dan dalam hati Omjay menambahkan satu bait lagi:
*"Kalau cinta dibangun karena Allah semata, usia boleh menua, tetapi cinta akan selalu muda."*
Salam Blogger Persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.