Apakah Guru Ini Anak Haram Pendidikan?
Oleh: Omjay (Wijaya Kusumah)
Pertanyaan itu terdengar keras. Bahkan mungkin membuat sebagian orang tersinggung. Namun pertanyaan itu muncul bukan karena kebencian, melainkan karena rasa kecewa yang sudah terlalu lama dipendam oleh banyak guru di negeri ini.
Apakah guru ini anak haram pendidikan?
Tentu yang dimaksud bukan dalam arti sebenarnya. Ini adalah sebuah metafora tentang perasaan sebagian guru yang merasa keberadaannya dibutuhkan, tenaganya dimanfaatkan, pengabdiannya dituntut, tetapi suaranya jarang didengar ketika kebijakan pendidikan dibuat.
Sebagai guru yang sudah lebih dari tiga dekade mengajar, saya merasakan sendiri bagaimana kehidupan guru terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Kurikulum berganti. Sistem penilaian berubah. Teknologi berkembang sangat cepat. Aplikasi pendidikan bermunculan silih berganti. Guru dituntut beradaptasi dengan semua perubahan itu.
Sebagian besar guru tidak pernah menolak perubahan.
Guru justru selalu berusaha belajar. Guru rela mengikuti pelatihan hingga malam hari. Guru rela menghabiskan akhir pekan untuk mengikuti webinar. Guru rela menggunakan uang pribadi membeli kuota internet agar tetap dapat meningkatkan kompetensinya.
Namun di tengah semangat belajar itu, ada satu pertanyaan yang terus muncul di benak banyak guru.
Apakah para pengambil kebijakan benar-benar mendengarkan suara guru yang berada di ruang kelas?
Sebab yang paling memahami kondisi pendidikan bukanlah mereka yang duduk di balik meja kantor berpendingin udara. Yang paling memahami kondisi pendidikan adalah mereka yang setiap hari berdiri di depan kelas, berhadapan langsung dengan puluhan siswa yang memiliki karakter, kemampuan, dan latar belakang yang berbeda-beda.
Setiap pagi guru datang ke sekolah bukan hanya membawa buku pelajaran. Guru juga membawa kesabaran, empati, dan harapan.
Mereka menghadapi murid yang belum sarapan.
Mereka menghadapi murid yang sedang mengalami masalah keluarga.
Mereka menghadapi murid yang kehilangan semangat belajar.
Mereka menghadapi murid yang kecanduan media sosial.
Mereka menghadapi murid yang menjadi korban perundungan.
Semua persoalan itu tidak pernah muncul dalam laporan statistik yang indah. Namun itulah kenyataan yang setiap hari dihadapi guru.
Sayangnya, suara dari ruang-ruang kelas itu sering kali seperti tidak sampai ke meja pengambil keputusan.
Yang terdengar justru laporan administratif.
Yang dihitung justru absensi.
Yang dipersoalkan justru kehadiran fisik.
Padahal pendidikan jauh lebih besar daripada sekadar angka dan laporan.
Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.
Pendidikan adalah membangun karakter generasi bangsa.
Pendidikan adalah pekerjaan hati yang tidak bisa diukur hanya dengan daftar hadir.
Beberapa waktu lalu saya membaca diskusi menarik di grup guru. Banyak rekan guru menyampaikan keresahan yang sama.
Mereka tidak menolak bekerja saat libur siswa jika memang ada tugas yang harus diselesaikan. Mereka juga tidak keberatan mengikuti kegiatan sekolah di luar jam pelajaran.
Yang mereka pertanyakan adalah mengapa kebijakan sering kali dibuat tanpa mempertimbangkan kondisi nyata yang mereka hadapi.
Mengapa guru yang seharusnya menjadi sumber informasi utama justru sering menjadi pihak yang terakhir diajak berdiskusi?
Mengapa suara guru lebih sering didengar ketika dibutuhkan untuk melaksanakan program, tetapi kurang didengar ketika menyampaikan persoalan di lapangan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergema.
Semakin lama, semakin banyak guru yang merasa bahwa mereka hanya menjadi objek kebijakan.
Mereka diperintah.
Mereka diminta melaksanakan.
Mereka diwajibkan melaporkan.
Namun jarang diajak merumuskan.
Padahal tidak ada pihak yang lebih memahami dunia pendidikan selain guru.
Ketika guru menyampaikan aspirasi, sering kali dianggap mengeluh.
Ketika guru menyampaikan kritik, sering kali dianggap tidak mendukung program.
Ketika guru meminta kejelasan regulasi, sering kali dianggap mempersulit keadaan.
Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah guru sedang berusaha menjaga kualitas pendidikan.
Guru ingin kebijakan yang lahir benar-benar sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Guru ingin regulasi yang diterapkan dapat membantu proses pembelajaran, bukan justru menambah beban yang tidak relevan.
Guru ingin didengar.
Hanya itu.
Mereka tidak meminta fasilitas mewah.
Mereka tidak meminta perlakuan istimewa.
Mereka hanya berharap suara mereka diperhitungkan dalam pembangunan pendidikan nasional.
Saya teringat sebuah ungkapan yang sering disampaikan oleh para guru senior.
"Kalau ingin mengetahui kondisi pendidikan yang sebenarnya, datanglah ke ruang kelas."
Bukan ke ruang rapat.
Bukan ke ruang seminar.
Bukan ke ruang presentasi.
Tetapi ke ruang kelas.
Di sanalah kehidupan pendidikan yang sesungguhnya berlangsung.
Di sana ada guru yang berjuang membuat muridnya memahami pelajaran.
Di sana ada guru yang berusaha mendamaikan dua siswa yang bertengkar.
Di sana ada guru yang menyisihkan waktu untuk mendengarkan curahan hati muridnya.
Di sana ada guru yang tetap tersenyum meskipun sedang menghadapi berbagai persoalan pribadi.
Sayangnya, perjuangan itu sering tidak terlihat.
Yang terlihat hanya angka-angka laporan.
Yang terlihat hanya target administrasi.
Yang terlihat hanya dokumen yang harus diselesaikan.
Padahal pendidikan tidak pernah lahir dari dokumen.
Pendidikan lahir dari hubungan manusia dengan manusia.
Hubungan antara guru dan murid.
Karena itulah para pengambil kebijakan perlu lebih sering mendengarkan suara guru.
Bukan sekadar mendengar, tetapi benar-benar menyimak.
Bukan sekadar menerima laporan, tetapi memahami kenyataan.
Bukan sekadar membuat aturan, tetapi merasakan dampaknya di lapangan.
Jika hal itu dilakukan, saya yakin kualitas pendidikan Indonesia akan jauh lebih baik.
Guru akan merasa dihargai.
Guru akan merasa dilibatkan.
Guru akan merasa menjadi bagian penting dari perubahan.
Maka pertanyaan "Apakah guru ini anak haram pendidikan?" semoga tidak pernah lagi muncul di masa depan.
Karena sejatinya guru bukan anak haram pendidikan.
Guru bukan anak tiri pendidikan.
Guru bukan pelengkap dalam sistem pendidikan.
Guru adalah jantung pendidikan itu sendiri.
Ketika suara guru didengar, pendidikan akan menemukan arah yang benar.
Ketika guru dihargai, pendidikan akan tumbuh lebih kuat.
Dan ketika guru dilibatkan dalam setiap kebijakan, Indonesia akan memiliki masa depan yang lebih cerah melalui tangan-tangan para pendidik yang bekerja dengan hati.
Salam Blogger Persahabatan.
Omjay Guru Blogger Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.