Ketika Guru Menjerit karena Rombel Gemuk dan Jam Mengajar yang Kian Sulit
Kisah Omjay Mendengar Suara Hati Guru Indonesia
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
Pagi itu, seperti biasa, grup WhatsApp para guru ramai dengan berbagai diskusi. Ada yang membahas pembelajaran, ada yang berbagi informasi terbaru dari pemerintah, dan ada pula yang menyampaikan keluhan yang mewakili suara hati ribuan guru di seluruh Indonesia.
Salah satu pesan yang membuat saya terdiam datang dari seorang sahabat guru.
Beliau menuliskan harapan agar PB PGRI memperjuangkan dua hal yang dianggap sangat penting bagi kehidupan guru saat ini.
Pertama, jumlah siswa dalam satu kelas atau rombongan belajar (rombel) yang dinilai terlalu besar. Beliau berharap jumlah siswa dalam satu kelas diturunkan menjadi sekitar 20 hingga 25 orang agar proses pembelajaran lebih efektif.
Kedua, syarat minimal 24 jam tatap muka untuk menerima tunjangan profesi guru agar diturunkan menjadi 18 jam karena semakin banyak guru PPPK yang diangkat sehingga distribusi jam mengajar semakin sulit dipenuhi.
Saya membaca pesan itu berulang kali.
Lalu saya tersenyum kecil.
Bukan karena menganggapnya lucu, tetapi karena saya memahami betul kegelisahan yang sedang dirasakan para guru.
Selama lebih dari tiga dekade menjadi guru, saya melihat sendiri bagaimana perubahan kebijakan pendidikan selalu membawa konsekuensi baru di lapangan.
Ketika Satu Kelas Berisi Terlalu Banyak Anak
Saya masih ingat saat pertama kali mengajar tahun 1994.
Di beberapa sekolah negeri, jumlah siswa dalam satu kelas bisa mencapai 45 hingga 50 orang.
Bahkan ada yang lebih.
Guru berdiri di depan kelas seperti seorang konduktor orkestra yang harus mengendalikan puluhan karakter berbeda sekaligus.
Ada siswa yang cepat memahami pelajaran.
Ada yang harus dijelaskan berkali-kali.
Ada yang aktif bertanya.
Ada pula yang diam tetapi sebenarnya sedang kebingungan.
Bayangkan jika semua itu terjadi dalam satu ruangan dengan jumlah siswa mendekati lima puluh orang.
Tidak mudah.
Ketika jumlah siswa terlalu besar, perhatian guru otomatis terbagi.
Guru akhirnya lebih banyak mengajar secara massal daripada mendampingi secara personal.
Padahal setiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda.
Di era pembelajaran mendalam (deep learning) seperti sekarang, hubungan guru dan murid justru harus semakin dekat.
Guru perlu mengenal karakter setiap peserta didik.
Guru perlu mengetahui siapa yang sedang mengalami kesulitan belajar.
Guru perlu memahami siapa yang membutuhkan dukungan emosional.
Semua itu akan lebih mudah dilakukan jika jumlah siswa dalam kelas lebih proporsional.
Saya membayangkan betapa bahagianya guru jika satu kelas hanya berisi 20 hingga 25 siswa.
Guru bisa lebih fokus.
Pembelajaran lebih hidup.
Diskusi lebih berkualitas.
Penilaian lebih akurat.
Anak-anak pun mendapatkan perhatian yang layak.
Namun di sisi lain, persoalan ini tidak sesederhana membalikkan telapak tangan.
Menurunkan jumlah siswa per rombel berarti pemerintah harus menyediakan lebih banyak ruang kelas, lebih banyak guru, dan lebih banyak anggaran.
Di sinilah pentingnya data yang akurat sebagaimana disampaikan sahabat saya dalam diskusi tersebut.
Setiap daerah memiliki kondisi berbeda.
Ada sekolah yang kelebihan murid.
Ada sekolah yang kekurangan murid.
Ada sekolah yang kekurangan guru.
Ada pula sekolah yang justru kelebihan guru pada mata pelajaran tertentu.
Karena itu, solusi terbaik harus berbasis data, bukan sekadar asumsi.
Tantangan Guru PPPK dan Jam Mengajar
Persoalan kedua yang tidak kalah penting adalah syarat 24 jam mengajar.
Jujur saja, ini menjadi topik yang sering saya dengar dalam berbagai pertemuan guru.
Ketika pemerintah mengangkat ratusan ribu guru PPPK, banyak sekolah merasa bersyukur.
Akhirnya kebutuhan guru mulai terpenuhi.
Namun muncul persoalan baru.
Jam mengajar yang tersedia harus dibagi kepada lebih banyak guru.
Akibatnya, tidak sedikit guru yang kesulitan memenuhi syarat minimal 24 jam tatap muka.
Saya pernah bertemu seorang guru yang harus mengajar di dua bahkan tiga sekolah berbeda hanya demi memenuhi kewajiban tersebut.
Pagi mengajar di sekolah induk.
Siang berpindah ke sekolah lain.
Sore masih harus menyelesaikan administrasi pembelajaran.
Belum lagi perjalanan yang melelahkan.
Ketika sampai di rumah, tenaga sudah hampir habis.
Padahal guru juga manusia.
Guru punya keluarga.
Guru punya anak.
Guru punya orang tua yang harus diperhatikan.
Dalam kondisi seperti itu, banyak guru bertanya:
"Mengapa tunjangan profesi harus dikaitkan dengan angka 24 jam?"
Pertanyaan ini memang sering muncul.
Terlebih di era digital saat ini, tugas guru tidak hanya mengajar di kelas.
Guru menyiapkan materi.
Guru membuat media pembelajaran.
Guru membimbing proyek siswa.
Guru melakukan asesmen.
Guru mengikuti pelatihan.
Guru mengembangkan kompetensi.
Bahkan banyak guru yang aktif menulis dan berbagi praktik baik kepada sesama guru.
Semua itu membutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit.
Guru Bukan Pemburu Jam
Sebagai guru, saya percaya bahwa tujuan utama pendidikan bukanlah mengejar angka.
Bukan mengejar jumlah jam.
Bukan mengejar administrasi.
Bukan pula mengejar laporan semata.
Tujuan utama pendidikan adalah membantu peserta didik tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
Karena itu, kebijakan apa pun hendaknya berorientasi pada kualitas pembelajaran.
Jika syarat 24 jam memang sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini, tentu perlu dikaji ulang secara komprehensif.
Namun jika tetap dipertahankan, pemerintah juga perlu memastikan distribusi guru dan distribusi jam mengajar berjalan lebih adil.
Yang paling penting adalah jangan sampai guru sibuk berburu jam hingga kehilangan fokus mendidik anak-anak.
Peran PGRI dalam Memperjuangkan Aspirasi Guru
Sebagai organisasi profesi terbesar di Indonesia, PGRI memiliki tugas besar untuk menyuarakan aspirasi anggotanya.
Tantangan pendidikan hari ini semakin kompleks.
Tidak cukup hanya berdiskusi di grup WhatsApp.
Diperlukan komunikasi yang baik antara organisasi profesi, pemerintah, DPR, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, Kementerian PAN-RB, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Perjuangan guru harus dilakukan dengan data yang kuat, kajian yang matang, dan dialog yang konstruktif.
Saya yakin suara guru akan lebih didengar jika disampaikan secara terorganisasi dan berbasis fakta.
Penutup
Ketika saya selesai membaca diskusi pagi itu, hati saya teringat kepada jutaan guru di seluruh Indonesia.
Mereka datang ke sekolah sebelum matahari tinggi.
Mereka mengajar dengan penuh kesabaran.
Mereka mendidik anak-anak bangsa dengan segala keterbatasan yang ada.
Di balik senyum mereka, terkadang tersimpan kegelisahan yang tidak terlihat.
Kegelisahan tentang rombel yang terlalu padat.
Kegelisahan tentang jam mengajar yang sulit dipenuhi.
Kegelisahan tentang kesejahteraan yang masih harus diperjuangkan.
Namun saya percaya, selama guru terus bersuara dengan santun, selama organisasi profesi terus memperjuangkan aspirasi anggotanya, dan selama pemerintah membuka ruang dialog yang sehat, maka jalan menuju pendidikan yang lebih baik akan selalu ada.
Karena sejatinya, ketika kita memperjuangkan nasib guru, kita sedang memperjuangkan masa depan anak-anak Indonesia.
Dan masa depan bangsa ini selalu dimulai dari ruang kelas tempat seorang guru mengajar dengan hati.
Salam Literasi. Salam Pendidikan. Tetap Semangat dan Terus Menginspirasi.
Barakallah fiikum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.