Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 14 Juni 2026

Kekurangan Omjay Sebagai Guru

Kekurangan Omjay sebagai Guru: Sebuah Refleksi Diri yang Terus Belajar

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Banyak orang mengenal saya sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia. Ada yang mengenal saya sebagai guru informatika SMP Labschool Jakarta, penulis buku, blogger, narasumber webinar, pendiri komunitas belajar menulis, penggerak literasi, dan aktivis organisasi profesi guru. Ketika melihat berbagai aktivitas yang saya lakukan, sebagian orang mungkin berpikir bahwa Omjay adalah sosok guru yang hebat dan nyaris tanpa kekurangan.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Semakin bertambah usia dan pengalaman, saya justru semakin sadar bahwa masih banyak kekurangan yang harus saya perbaiki. Saya percaya bahwa guru yang baik bukanlah guru yang merasa dirinya sempurna, melainkan guru yang mau mengakui kelemahannya dan terus belajar memperbaiki diri setiap hari.

Karena itulah saya menulis artikel ini. Bukan untuk merendahkan diri, tetapi sebagai bahan refleksi agar saya tetap membumi dan tidak terjebak dalam pujian yang sering diberikan orang lain.

Saya teringat sebuah nasihat bijak yang mengatakan bahwa cermin terbaik bagi manusia adalah dirinya sendiri. Ketika kita berani bercermin dengan jujur, kita akan menemukan banyak hal yang perlu diperbaiki.

Sebagai seorang guru yang sudah mengajar lebih dari tiga puluh tahun, saya menyadari bahwa salah satu kekurangan terbesar saya adalah terlalu banyak melakukan aktivitas dalam waktu yang bersamaan. Saya mengajar di sekolah, menulis artikel setiap hari, mengelola blog, mengikuti rapat organisasi, menjadi narasumber webinar, membimbing guru-guru menulis, hingga menyusun berbagai program pelatihan.

Sering kali saya merasa waktu dua puluh empat jam sehari tidak cukup. Akibatnya, saya harus membagi perhatian ke banyak hal sekaligus. Tidak jarang saya merasa kelelahan secara fisik maupun mental. Saya pernah berpikir bahwa semakin banyak kegiatan yang dilakukan, semakin besar pula manfaat yang diberikan kepada orang lain. Namun seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa tubuh manusia memiliki batas kemampuan.

Pengalaman sakit yang pernah saya alami menjadi pelajaran berharga. Ketika vertigo menyerang, ketika gula darah naik, ketika tekanan darah tidak stabil, bahkan ketika mengalami kecelakaan, saya tetap berusaha menjalankan aktivitas seperti biasa. Saya sering memaksakan diri untuk tetap mengajar, menulis, dan menghadiri kegiatan karena merasa memiliki tanggung jawab yang besar.

Kini saya mulai memahami bahwa menjaga kesehatan juga merupakan bagian dari tanggung jawab seorang guru. Bagaimana mungkin saya bisa terus menginspirasi orang lain jika kesehatan saya sendiri tidak terjaga?

Kekurangan lain yang saya rasakan adalah sulit mengatakan tidak kepada orang yang membutuhkan bantuan. Ketika ada guru meminta bantuan membuat artikel, saya bantu. Ketika ada sahabat meminta dibuatkan resensi buku, saya bantu. Ketika ada komunitas yang meminta menjadi narasumber, saya berusaha hadir. Ketika ada organisasi yang membutuhkan dukungan, saya berusaha memberikan waktu.

Keinginan untuk membantu sesama memang baik. Namun kadang-kadang saya lupa bahwa diri sendiri juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Akibatnya, jadwal menjadi sangat padat dan energi terkuras tanpa disadari.

Saya juga menyadari bahwa semangat menulis setiap hari yang selama ini saya gaungkan memiliki sisi yang perlu diseimbangkan. Menulis adalah kebiasaan yang sangat saya cintai. Bahkan saya sering mengajak guru-guru di seluruh Indonesia untuk menulis setiap hari dan membuktikan apa yang terjadi.

Namun dalam perjalanan itu, saya belajar bahwa menulis saja tidak cukup. Seorang penulis juga harus memperbanyak membaca, mendengar, mengamati, dan merenungkan kehidupan. Ada kalanya saya terlalu fokus menghasilkan tulisan baru sehingga kurang memberikan waktu untuk memperdalam bacaan dan melakukan refleksi yang lebih mendalam.

Padahal membaca adalah bahan bakar utama seorang penulis. Tulisan yang baik lahir dari pikiran yang kaya, dan pikiran yang kaya lahir dari kebiasaan membaca yang luas.

Sebagai guru, saya juga memiliki kecenderungan untuk terlalu idealis terhadap dunia pendidikan. Saya sangat mencintai profesi guru. Saya ingin melihat guru Indonesia hidup lebih sejahtera. Saya ingin melihat pendidikan Indonesia semakin maju. Saya ingin melihat murid-murid tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.

Namun kadang-kadang idealisme itu membuat saya kecewa ketika berhadapan dengan kenyataan. Tidak semua perubahan bisa terjadi dengan cepat. Tidak semua kebijakan sesuai harapan. Tidak semua orang memiliki semangat perjuangan yang sama.

Dalam kondisi seperti itu, saya belajar bahwa perubahan besar membutuhkan kesabaran. Guru bukan hanya dituntut memiliki semangat, tetapi juga ketabahan. Kita harus mampu menerima kenyataan sambil terus berusaha memperbaikinya sedikit demi sedikit.

Saya juga menyadari bahwa terkadang saya terlalu sibuk mengejar target dan program sehingga kurang menikmati proses perjalanan itu sendiri. Padahal kebahagiaan sering kali hadir bukan ketika tujuan tercapai, melainkan ketika kita menikmati langkah demi langkah menuju tujuan tersebut.

Ketika melihat kembali perjalanan hidup saya dari seorang anak kampung di Wanaraja Garut hingga menjadi guru, penulis, dan doktor pendidikan, saya memahami bahwa semua pencapaian itu bukan karena saya hebat. Semua terjadi karena pertolongan Allah SWT, dukungan keluarga, doa orang tua, bantuan sahabat, serta kesempatan yang diberikan oleh banyak orang baik di sekitar saya.

Kesadaran itulah yang membuat saya terus belajar rendah hati. Setinggi apa pun ilmu seseorang, selalu ada yang lebih berilmu. Sebanyak apa pun pengalaman seseorang, selalu ada yang lebih berpengalaman. Sebesar apa pun prestasi seseorang, tetap ada kekurangan yang perlu diperbaiki.

Hari ini saya ingin mengatakan kepada diri saya sendiri bahwa menjadi guru bukan berarti harus sempurna. Menjadi guru berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat. Guru yang baik bukan guru yang tidak pernah salah, tetapi guru yang berani mengakui kesalahan dan terus memperbaiki diri.

Karena itu, jika ada satu pelajaran penting yang saya dapatkan dari refleksi ini, maka pelajaran tersebut adalah bahwa perjalanan menjadi guru sesungguhnya adalah perjalanan mengenal diri sendiri. Semakin lama mengajar, semakin saya sadar bahwa masih banyak yang harus dipelajari. Semakin banyak menulis, semakin saya sadar bahwa masih banyak yang harus dibaca. Semakin banyak berbagi ilmu, semakin saya sadar bahwa masih banyak ilmu yang belum saya ketahui.

Semoga refleksi sederhana ini menjadi pengingat bagi saya pribadi untuk terus menjaga kesehatan, mengelola waktu dengan lebih bijak, memperbanyak membaca, menikmati proses kehidupan, dan tetap rendah hati dalam setiap langkah. Sebab pada akhirnya, guru yang paling hebat bukanlah guru yang merasa dirinya paling pintar, melainkan guru yang tidak pernah berhenti belajar hingga akhir hayatnya.

Salam literasi.

Omjay Guru Blogger Indonesia
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Blog https://wijayalabs.com
Wijaya Kusumah - omjay

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.