Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 13 Juni 2026

Menulis Pakai AI Boleh Gak?

Nulis Pakai AI Emang Boleh?

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

“Pak Omjay, nulis pakai AI emang boleh?”

Pertanyaan itu semakin sering saya dengar dalam berbagai pelatihan menulis, webinar literasi, dan diskusi guru di berbagai daerah. Pertanyaan itu biasanya disampaikan dengan wajah penasaran. Ada yang bertanya karena ingin mencoba. Ada yang bertanya karena takut dianggap curang. Ada pula yang bertanya karena khawatir profesi penulis akan hilang digantikan oleh kecerdasan buatan.

Saya tersenyum setiap kali mendengar pertanyaan tersebut. Sebab, saya teringat pada masa ketika komputer mulai masuk ke sekolah. Saat itu banyak orang khawatir. Mereka mengatakan bahwa siswa akan menjadi malas berpikir karena ada komputer. Beberapa tahun kemudian internet hadir dan kembali muncul kekhawatiran bahwa manusia tidak perlu lagi membaca buku karena semua informasi ada di internet. Kini AI hadir dan kembali muncul pertanyaan yang hampir sama.

Apakah menulis dengan bantuan AI boleh?

Menurut saya, jawabannya sederhana. Boleh. Bahkan sangat boleh. Namun ada syarat yang tidak boleh dilupakan. AI harus menjadi alat bantu, bukan pengganti akal, hati, dan pengalaman manusia.

Sebagai Guru Blogger Indonesia yang sudah menulis ribuan artikel di blog, media online, dan berbagai buku, saya merasakan sendiri bagaimana teknologi selalu berubah dari masa ke masa. Ketika saya mulai menulis puluhan tahun lalu, saya masih menggunakan mesin ketik. Jika salah satu huruf saja, saya harus menghapusnya dengan cairan penghapus atau mengulang mengetik dari awal. Setelah itu hadir komputer dengan aplikasi pengolah kata yang membuat pekerjaan menjadi lebih mudah. Kemudian internet hadir dan membantu saya menemukan referensi lebih cepat. Sekarang AI datang dan membantu saya menyusun ide, membuat kerangka tulisan, memperbaiki tata bahasa, serta mengembangkan gagasan.

Kalau dulu menggunakan komputer dianggap kemajuan, mengapa sekarang menggunakan AI dianggap kesalahan?

Masalahnya bukan pada alat yang digunakan. Masalahnya terletak pada bagaimana kita menggunakannya.

Saya sering mengibaratkan AI seperti sepeda motor. Sepeda motor dapat membawa seseorang ke tempat tujuan lebih cepat. Namun tetap diperlukan pengendara yang menentukan arah perjalanan. Tanpa pengendara, sepeda motor tidak akan bergerak menuju tujuan yang benar. Begitu pula AI. Secanggih apa pun AI, ia tetap membutuhkan manusia yang mengarahkan, mengoreksi, dan memberikan sentuhan kemanusiaan.

Suatu hari seorang guru mengirimkan artikel kepada saya. Tulisan itu rapi sekali. Kalimatnya teratur. Tata bahasanya sangat baik. Namun setelah saya membaca sampai selesai, ada sesuatu yang terasa hilang. Tulisan itu seperti makanan yang tampil cantik tetapi tidak memiliki rasa. Saya kemudian bertanya kepada beliau, “Apakah artikel ini dibuat sepenuhnya oleh AI?”

Beliau menjawab jujur.

“Iya Pak, saya hanya menyalin hasilnya.”

Saya lalu menjelaskan bahwa pembaca tidak hanya mencari informasi. Pembaca juga mencari pengalaman, emosi, ketulusan, dan kejujuran penulis. Itulah yang tidak bisa sepenuhnya diberikan oleh AI.

Ketika saya menulis tentang perjuangan menghadapi diabetes, tekanan darah tinggi, vertigo, atau pengalaman dirawat di rumah sakit, AI tidak pernah merasakan semua itu. Ketika saya menulis tentang kesedihan kehilangan kakak tercinta yang wafat pada bulan Mei 2026, AI tidak ikut menangis bersama keluarga saya. Ketika saya menulis tentang kebahagiaan menggendong cucu pertama saya, Tanaya Faza Atisa, AI tidak ikut merasakan getaran cinta seorang kakek kepada cucunya.

Pengalaman hidup itulah yang membuat sebuah tulisan memiliki jiwa.

AI bisa membantu menyusun kata-kata. Namun AI tidak memiliki hati yang berdebar saat mengenang masa lalu. AI tidak memiliki air mata yang jatuh ketika menuliskan kehilangan orang yang dicintai. AI tidak memiliki rasa syukur ketika melihat perjuangan panjang akhirnya membuahkan hasil.

Karena itulah saya selalu mengatakan kepada para peserta pelatihan menulis bahwa AI boleh digunakan, tetapi jangan biarkan AI mengambil alih hati Anda.

Gunakan AI untuk membantu membuat kerangka tulisan. Gunakan AI untuk mencari ide judul yang menarik. Gunakan AI untuk memperbaiki ejaan dan tata bahasa. Gunakan AI untuk berdiskusi ketika ide sedang buntu. Namun setelah itu, masukkan pengalaman pribadi, pendapat, refleksi, dan perasaan Anda sendiri ke dalam tulisan tersebut.

Menulis bukan sekadar menyusun kata demi kata. Menulis adalah proses menyampaikan sebagian isi hati kepada orang lain. Itulah sebabnya dua orang yang mengalami peristiwa yang sama bisa menghasilkan tulisan yang sangat berbeda. Sebab setiap manusia memiliki cara pandang, pengalaman hidup, dan emosi yang berbeda.

Saya sendiri menggunakan AI sebagai teman diskusi dalam menulis. Ketika ide sedang macet, saya bertanya kepada AI. Ketika membutuhkan sudut pandang baru, saya berdiskusi dengan AI. Namun setelah itu saya tetap membaca ulang, mengedit, menambah pengalaman pribadi, dan memastikan tulisan tersebut tetap memiliki ciri khas Omjay.

Banyak pembaca mengatakan bahwa mereka menyukai tulisan Omjay karena terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada yang mengaku tersentuh. Ada yang mengaku termotivasi. Bahkan ada yang menangis ketika membaca kisah tertentu. Hal itu bukan karena saya penulis hebat. Hal itu terjadi karena saya berusaha menulis dengan hati.

Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, justru tulisan yang berasal dari pengalaman nyata akan semakin berharga. Ketika ribuan artikel dapat dibuat oleh mesin dalam hitungan detik, tulisan yang lahir dari pengalaman hidup manusia akan menjadi sesuatu yang sangat istimewa. Pembaca akan mencari keaslian. Pembaca akan mencari cerita nyata. Pembaca akan mencari suara manusia di tengah lautan tulisan yang seragam.

Karena itu, saya ingin mengajak para guru, dosen, mahasiswa, pelajar, dan para pegiat literasi untuk tidak takut menggunakan AI. Jangan memusuhi teknologi. Jadikan teknologi sebagai sahabat yang membantu pekerjaan kita menjadi lebih mudah. Namun jangan pernah menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi. Tetaplah membaca, tetaplah belajar, tetaplah mengamati kehidupan, dan tetaplah menulis dengan hati.

Pada akhirnya, pertanyaan “Nulis pakai AI emang boleh?” dapat dijawab dengan sangat sederhana.

Boleh.

Bahkan sangat boleh.

Tetapi ingatlah satu hal yang paling penting.

AI dapat membantu jari kita mengetik lebih cepat, tetapi hanya hati manusialah yang mampu membuat sebuah tulisan hidup dan dikenang sepanjang masa.

Maka menulislah dengan hati, gunakan AI dengan bijak, dan buktikan apa yang terjadi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.