Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Senin, 08 Juni 2026

Ikhlas itu ....

Ikhlas Itu Ketika Kita Tetap Berjalan Walau Tidak Selalu Dihargai

Refleksi Pagi dalam Kisah Omjay

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Senin pagi, 8 Juni 2026, Omjay membaca sebuah pesan yang sangat sederhana, tetapi maknanya begitu dalam.

"Ketika kau lebih mempertanyakan apa amalmu dibanding apa posisimu, apa peranmu dibanding apa kedudukanmu, apa tugasmu dibanding apa jabatanmu."

Kalimat itu membuat Omjay terdiam cukup lama.

Pikiran Omjay melayang pada perjalanan hidup yang telah dilalui selama lebih dari tiga puluh tahun menjadi guru. Banyak peristiwa datang dan pergi. Ada masa ketika nama sering disebut. Ada masa ketika karya mendapat apresiasi. Namun ada pula masa ketika apa yang sudah dilakukan seakan tidak terlihat oleh siapa pun.

Di situlah Omjay belajar tentang sebuah kata yang sangat mudah diucapkan tetapi sangat sulit dipraktikkan, yaitu ikhlas.

Ketika Jabatan Tidak Lagi Menjadi Tujuan

Dalam kehidupan, banyak orang mengejar jabatan.

Tidak sedikit yang merasa bahagia ketika mendapatkan posisi tertentu. Sebaliknya, banyak pula yang kecewa ketika tidak memperoleh jabatan yang diinginkan.

Omjay pernah berada pada fase itu.

Sebagai manusia biasa, tentu ada keinginan untuk dihargai. Ada harapan agar apa yang sudah dikerjakan mendapatkan pengakuan.

Namun semakin bertambah usia, Omjay mulai memahami bahwa jabatan hanyalah titipan.

Jabatan datang dan pergi.

Kedudukan bisa berubah.

Posisi dapat berganti.

Tetapi amal kebaikan akan tetap tinggal.

Ketika seseorang meninggal dunia, orang tidak akan bertanya berapa tinggi jabatannya.

Orang akan mengenang apa yang telah diperbuatnya.

Orang akan mengingat manfaat yang pernah diberikan kepada sesama.

Karena itu Omjay mulai mengubah pertanyaan dalam hidup.

Bukan lagi:

"Apa jabatan saya?"

Tetapi:

"Apa manfaat yang sudah saya berikan hari ini?"

Bukan lagi:

"Mengapa saya tidak dipilih?"

Melainkan:

"Apakah saya sudah bekerja dengan sungguh-sungguh?"

Perubahan cara berpikir itulah yang membuat hati menjadi lebih tenang.

Pelajaran dari Dunia Pendidikan

Sebagai guru di SMP Labschool Jakarta sejak tahun 1994, Omjay telah bertemu ribuan siswa.

Banyak di antara mereka yang kini telah menjadi dokter, dosen, pengusaha, tentara, polisi, programmer, pejabat, dan berbagai profesi lainnya.

Menariknya, ketika mereka bertemu kembali dengan Omjay, hampir tidak ada yang bertanya tentang jabatan yang pernah Omjay pegang.

Mereka justru mengenang hal-hal sederhana.

Ada yang masih ingat pelajaran Informatika.

Ada yang mengingat nasihat ketika mereka sedang mengalami masalah.

Ada yang mengingat motivasi menulis yang pernah diberikan.

Ada pula yang mengaku menjadi penulis karena terinspirasi dari blog Omjay.

Saat itulah Omjay sadar.

Yang membekas dalam kehidupan orang lain bukanlah jabatan kita.

Yang membekas adalah kebaikan yang pernah kita berikan.

Jangan Keluar dari Barisan Karena Tersinggung

Bagian lain dari inspirasi pagi itu juga sangat menyentuh.

"Ketika ketersinggungan pribadi tak membuatmu keluar dari barisan dan merusak tatanan."

Betapa sering manusia merasa tersinggung.

Kadang karena ucapan.

Kadang karena perlakuan.

Kadang karena merasa tidak dihargai.

Omjay pun pernah mengalaminya.

Ada tulisan yang dikritik.

Ada pendapat yang tidak diterima.

Ada usaha yang tidak diapresiasi.

Bahkan ada kalanya niat baik justru disalahpahami.

Dulu hati mudah kecewa.

Namun seiring perjalanan waktu, Omjay belajar satu hal.

Jika setiap ketersinggungan dijadikan alasan untuk berhenti berbuat baik, maka hidup akan dipenuhi luka.

Jika setiap kekecewaan membuat kita keluar dari barisan perjuangan, maka tidak akan ada pekerjaan besar yang selesai.

Karena itu Omjay memilih tetap berjalan.

Tetap menulis.

Tetap mengajar.

Tetap berbagi.

Tetap membantu siapa saja yang membutuhkan.

Bukan karena semua orang menghargai, tetapi karena Allah mengetahui apa yang kita lakukan.

Bersyukur Tidak Mengubah Keadaan Secara Instan

Kalimat berikutnya juga sangat dalam maknanya.

"Bersyukur memang tidak akan mengubah isi dompetmu ataupun mengubah keadaanmu dalam sekejap."

Benar sekali.

Bersyukur tidak serta-merta membuat rekening bertambah.

Bersyukur tidak langsung menghilangkan semua masalah.

Bersyukur juga tidak membuat semua keinginan langsung terwujud.

Namun bersyukur memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Yaitu kekuatan hati.

Omjay merasakan sendiri hal itu.

Ketika mengalami vertigo.

Ketika harus dirawat di rumah sakit.

Ketika mengalami kecelakaan.

Ketika gula darah naik.

Ketika tekanan darah tidak stabil.

Bahkan ketika dokter melarang Omjay mengemudikan mobil sendiri.

Awalnya terasa berat.

Namun ketika mulai bersyukur, Omjay melihat semuanya dengan sudut pandang berbeda.

Ternyata naik transportasi umum membuat biaya lebih hemat.

Ternyata perjalanan menjadi lebih santai.

Ternyata ada kesempatan bertemu banyak orang baru.

Apa yang awalnya dianggap musibah justru menjadi jalan hadirnya nikmat lain.

Inilah keajaiban syukur.

Bukan mengubah keadaan secara instan, tetapi mengubah cara kita memandang keadaan.

Janji Allah Itu Pasti

Dalam Al-Qur'an Allah berfirman:

"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini bukan sekadar janji.

Ini adalah hukum kehidupan.

Semakin kita bersyukur, semakin banyak nikmat yang kita sadari.

Semakin kita mengeluh, semakin sedikit kebahagiaan yang kita rasakan.

Orang yang bersyukur tidak selalu memiliki segalanya.

Tetapi ia mampu melihat nikmat dalam segala hal.

Ia melihat kesehatan sebagai nikmat.

Ia melihat keluarga sebagai nikmat.

Ia melihat kesempatan hidup hari ini sebagai nikmat.

Bahkan ujian pun dilihat sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Refleksi untuk Diri Sendiri

Pagi ini Omjay mengajak diri sendiri untuk merenung.

Sudahkah kita lebih sibuk memperbaiki amal daripada mengejar posisi?

Sudahkah kita lebih fokus pada manfaat daripada jabatan?

Sudahkah kita tetap berada dalam barisan kebaikan meskipun pernah terluka oleh perkataan manusia?

Sudahkah kita mensyukuri nikmat yang selama ini sering kita abaikan?

Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan mengejar pengakuan manusia.

Karena pada akhirnya yang akan kita bawa pulang bukan jabatan, bukan kedudukan, bukan pula popularitas.

Yang akan menemani kita adalah amal kebaikan.

Maka teruslah berbuat baik.

Teruslah berbagi ilmu.

Teruslah menulis.

Teruslah menebar manfaat.

Meskipun tidak semua orang melihatnya.

Karena Allah tidak pernah melewatkan satu pun kebaikan yang kita lakukan.

Semoga pagi ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada tingginya jabatan, melainkan pada ketulusan hati dalam menjalankan amanah kehidupan.

Tetap semangat, tetap bersyukur, dan tetap ikhlas dalam setiap langkah.

Barakallahu fiikum. 🌹🙏🏻

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.