Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 07 Juni 2026

Ketika Kematian Datang Mengingatkan Kita

Kisah Omjay yang terinspirasi dari renungan pagi Ahad, 7 Juni 2026.

Ketika Kematian Datang Mengingatkan Kita

Renungan Pagi dalam Kisah Omjay

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Ahad pagi yang sejuk. Cahaya matahari perlahan menembus jendela rumah Omjay di Jatibening Indah, Bekasi. Seperti biasa, setelah shalat Subuh dan membaca beberapa ayat Al-Qur'an, Omjay membuka telepon genggamnya. Berbagai pesan WhatsApp masuk silih berganti. Ada informasi pendidikan, kabar teman, undangan kegiatan, hingga sebuah renungan yang membuat hati Omjay terdiam cukup lama.

Renungan itu sederhana, tetapi sangat dalam maknanya.

"Pertandingan bola 90 menit. Film serial 60 menit. Film bioskop 130 menit. Shalat hanya 5 menit."

Kalimat itu seolah mengetuk hati Omjay yang selama ini sering merasa waktu berjalan begitu cepat. Kita mampu duduk berjam-jam menonton pertandingan sepak bola. Kita mampu menghabiskan waktu berjam-jam menonton serial favorit. Bahkan tanpa terasa kita bisa berlama-lama memainkan telepon genggam.

Namun ketika adzan berkumandang, terkadang kita merasa berat meninggalkan aktivitas dunia hanya untuk beberapa menit menghadap Allah SWT.

Omjay teringat perjalanan hidupnya yang tidak selalu mudah.

Pada tahun-tahun terakhir ini, Allah beberapa kali mengingatkan Omjay melalui sakit. Pernah mengalami vertigo hebat, hipertensi, diabetes, hingga gejala yang menyerupai stroke. Saat tubuh tiba-tiba melemah dan tangan sulit digerakkan, Omjay benar-benar merasakan betapa rapuhnya manusia.

Ketika berada di ruang perawatan rumah sakit, tidak ada jabatan yang menemani. Tidak ada gelar akademik yang mampu mengurangi rasa sakit. Tidak ada popularitas yang dapat menggantikan kesehatan.

Yang tersisa hanyalah doa, dzikir, dan harapan kepada Allah SWT.

Saat itu Omjay mulai memahami bahwa hidup ini sesungguhnya sangat singkat.

Banyak sahabat yang dahulu bercanda bersama kini telah mendahului. Bahkan kakak kandung Omjay tercinta wafat pada Mei 2026. Kepergian beliau menjadi pelajaran berharga bahwa kematian tidak pernah menunggu usia tua.

Sering kali kita berkata, "Nanti saja bertobat kalau sudah tua."

Padahal siapa yang bisa menjamin kita sampai pada usia tua?

Kuburan bukan hanya milik orang yang berusia 70 atau 80 tahun. Kuburan juga menerima anak muda, remaja, bahkan bayi yang baru lahir.

Kematian tidak pernah bertanya apakah kita sudah siap atau belum.

Kematian datang tepat pada waktunya.

Renungan pagi itu juga mengingatkan Omjay tentang hakikat pertemanan.

Di WhatsApp mungkin kita memiliki ratusan bahkan ribuan kontak.

Di media sosial mungkin kita mempunyai ribuan pengikut.

Di lingkungan sekitar kita dikenal banyak orang.

Namun ketika masa sulit datang, sering kali hanya segelintir orang yang benar-benar hadir membantu.

Dan ketika kita meninggal dunia?

Yang mengantar sampai pemakaman biasanya keluarga dan beberapa sahabat dekat.

Setelah liang lahat ditutup, semua pulang.

Tinggallah kita seorang diri menghadapi alam kubur.

Saat merenungkan hal tersebut, Omjay teringat banyak peristiwa saat menghadiri pemakaman sahabat, guru, kerabat, dan keluarga.

Tangisan terdengar.

Doa dipanjatkan.

Bunga ditaburkan.

Namun setelah semuanya selesai, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.

Dunia tidak berhenti karena kematian seseorang.

Maka pertanyaannya adalah:

Apa bekal yang kita bawa ketika meninggalkan dunia ini?

Harta tidak ikut.

Jabatan tidak ikut.

Kendaraan tidak ikut.

Rumah mewah tidak ikut.

Yang ikut hanyalah amal kebaikan.

Karena itulah Omjay semakin memahami mengapa para ulama selalu mengingatkan pentingnya membaca Al-Qur'an.

Al-Qur'an bukan sekadar bacaan.

Al-Qur'an adalah petunjuk hidup.

Al-Qur'an adalah cahaya di tengah kegelapan.

Al-Qur'an adalah sahabat yang akan menemani hingga alam kubur.

Betapa sedihnya jika mushaf Al-Qur'an di rumah kita dipenuhi debu karena jarang dibuka.

Betapa ruginya jika setiap hari kita mampu membaca ratusan pesan WhatsApp tetapi tidak sempat membaca beberapa ayat Al-Qur'an.

Padahal membaca satu huruf Al-Qur'an saja bernilai pahala.

Renungan tersebut juga mengingatkan Omjay bahwa dunia hanya terdiri dari tiga hari.

Hari kemarin.

Hari ini.

Dan hari esok.

Hari kemarin telah berlalu dan tidak mungkin kembali.

Semua kesalahan, kegagalan, dan penyesalan tidak dapat diulang.

Hari ini adalah kesempatan yang Allah berikan.

Kesempatan untuk memperbaiki diri.

Kesempatan untuk meminta maaf.

Kesempatan untuk berbuat baik.

Kesempatan untuk bersedekah.

Kesempatan untuk memperbanyak ibadah.

Sedangkan hari esok?

Tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia masih diberi kesempatan hidup atau tidak.

Karena itulah Omjay belajar untuk tidak menunda kebaikan.

Jika bisa membantu hari ini, bantulah.

Jika bisa meminta maaf hari ini, mintalah.

Jika bisa bersedekah hari ini, bersedekahlah.

Jika bisa membaca Al-Qur'an hari ini, bacalah.

Jangan menunggu nanti.

Sebab belum tentu nanti itu datang.

Di usia yang kini telah melewati setengah abad, Omjay semakin menyadari bahwa kehidupan bukan tentang siapa yang paling kaya, paling terkenal, atau paling berkuasa.

Kehidupan adalah tentang bagaimana kita mempersiapkan perjalanan pulang kepada Sang Pencipta.

Semoga Allah SWT memberikan kepada kita semua hati yang lembut untuk menerima nasihat, kekuatan untuk memperbaiki diri, dan kesempatan untuk terus beramal saleh hingga akhir hayat.

Mari saling memaafkan.

Mari saling mendoakan.

Mari memperbanyak sedekah dan amal kebaikan.

Karena suatu hari nanti, aku, engkau, dan mereka akan pergi meninggalkan dunia ini.

Dan ketika saat itu tiba, semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita husnul khatimah, memasukkan kita ke dalam surga-Nya, serta menjauhkan kita dari siksa api neraka.

Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.

---

Omjay – Guru Blogger Indonesia

Mari terus menulis, berbagi, dan menginspirasi dengan hati.

Kunjungi blog Omjay di:

๐ŸŒ https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.