Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Jumat, 26 Juni 2026

Ketika AI Mengajarkan Omjay Menjadi Manusia yang Lebih Bijaksana

Kisah Omjay: Ketika AI Mengajarkan Saya Menjadi Manusia yang Lebih Bijaksana

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
Blog: https://wijayalabs.com

Pagi itu, seperti biasa, saya duduk di dalam kereta LRT menuju Jakarta. Di tangan saya ada telepon genggam yang selalu menemani perjalanan dari Cikunir menuju Dukuh Atas. Banyak orang sibuk menatap layar masing-masing. Ada yang menonton video, membalas pesan, membaca berita, bahkan ada yang sedang bercakap-cakap dengan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Saya tersenyum kecil. Dunia memang telah berubah sangat cepat.

Beberapa tahun yang lalu, mencari informasi membutuhkan waktu yang panjang. Kami harus membuka banyak buku di perpustakaan, membaca ensiklopedia yang tebal, mencatat satu per satu, lalu menyusunnya menjadi sebuah tulisan. Kini, hanya dengan mengetik beberapa kata, AI mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik.

Kecepatan itu sungguh luar biasa. Namun, di balik semua kemudahan itu, saya justru teringat sebuah pertanyaan yang terus menggelayut di benak saya.

Apakah AI akan menggantikan manusia?

Pertanyaan itu sering saya dengar ketika menjadi narasumber seminar maupun pelatihan guru di berbagai daerah. Banyak guru merasa cemas. Ada yang khawatir pekerjaannya tergantikan. Ada pula yang takut anak-anak menjadi malas berpikir karena semua jawaban sudah tersedia.

Saya pun selalu menjawab dengan tenang.

"AI bukanlah pengganti manusia. AI hanyalah alat. Yang menentukan manfaat atau mudaratnya adalah manusia yang menggunakannya."

Jawaban sederhana itu ternyata mampu mengubah cara pandang banyak orang.

Saya kemudian teringat masa kecil saya. Ketika belajar menulis, guru tidak pernah langsung memberikan jawaban. Beliau justru mengajukan banyak pertanyaan agar kami berpikir. Kami diajak mencari sendiri, berdiskusi, membaca berbagai sumber, lalu menyimpulkan dengan bahasa kami sendiri.

Saat itu memang terasa sulit. Namun, kesulitan itulah yang membentuk kemampuan berpikir kritis.

Hari ini saya melihat tantangannya berbeda. Anak-anak tidak lagi kesulitan mencari jawaban. Justru mereka dibanjiri begitu banyak informasi. Sayangnya, tidak semua informasi itu benar.

Di era AI generatif, siapa pun dapat membuat tulisan, gambar, video, bahkan suara yang tampak sangat meyakinkan. Di sinilah tantangan terbesar manusia muncul.

Bukan lagi bagaimana menemukan informasi, melainkan bagaimana membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Saya pernah meminta siswa mencari informasi tentang suatu tokoh nasional menggunakan AI. Hasilnya tampak sangat rapi dan meyakinkan. Namun, setelah dibandingkan dengan buku sejarah dan sumber resmi, ternyata terdapat beberapa data yang keliru.

Saat itulah saya berkata kepada mereka,

"Jangan pernah percaya begitu saja kepada AI. Jadikan AI sebagai teman berdiskusi, bukan sebagai hakim terakhir."

Anak-anak pun mulai memahami bahwa teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan manusia yang berpikir.

Sebagai guru, saya justru merasa AI membantu pekerjaan saya. Saya dapat membuat rancangan pembelajaran lebih cepat, menyusun soal, mencari inspirasi proyek, hingga mengembangkan ide tulisan. Waktu yang sebelumnya habis untuk pekerjaan administratif kini dapat saya gunakan untuk berdialog dengan siswa, mendengarkan cerita mereka, serta memberikan motivasi.

AI telah memperluas kemampuan saya sebagai pendidik.

Namun saya juga sadar, AI tidak memiliki hati.

AI tidak bisa merasakan air mata seorang siswa yang sedang kehilangan orang tuanya. AI tidak dapat memeluk anak yang sedang gagal dan membutuhkan semangat. AI tidak mampu menggantikan senyum tulus seorang guru ketika melihat muridnya berhasil.

Teknologi boleh semakin canggih, tetapi kasih sayang tetap berasal dari manusia.

Saya semakin yakin bahwa kompetensi terpenting di masa depan bukanlah sekadar menguasai teknologi, melainkan memiliki kemampuan berpikir kritis, berempati, beretika, dan bertanggung jawab.

AI dapat memberikan jutaan jawaban.

Tetapi manusia yang harus menentukan jawaban mana yang layak dipercaya.

AI dapat menulis ribuan artikel.

Tetapi manusialah yang memberikan nilai, makna, pengalaman, dan kebijaksanaan di dalam tulisan itu.

Sebagai seorang ayah dan kakek, saya juga merasakan bahwa pendidikan AI tidak cukup dilakukan di sekolah. Rumah adalah benteng pertama.

Orang tua perlu mengenalkan teknologi secara sehat. Anak-anak perlu didampingi ketika menggunakan AI. Mereka perlu diajak berdiskusi, bukan sekadar diberi larangan.

Larangan tanpa penjelasan hanya akan menumbuhkan rasa penasaran.

Sebaliknya, pendampingan akan melahirkan tanggung jawab.

Saya selalu percaya bahwa keluarga yang gemar berdialog akan mampu menghadapi perubahan zaman dengan lebih baik. Anak-anak perlu diajarkan bahwa teknologi adalah alat untuk belajar, berkarya, dan berbagi manfaat, bukan tempat bergantung.

Saya sendiri menggunakan AI hampir setiap hari untuk membantu menyusun ide tulisan. Namun, saya selalu mengingat satu prinsip yang saya pegang sejak mulai menulis puluhan tahun lalu.

Tulisan terbaik tetap lahir dari hati.

AI hanya membantu merapikan gagasan. Pengalaman hidup, nilai-nilai, perjuangan, kegagalan, kebahagiaan, dan rasa syukur tetap harus berasal dari diri kita sendiri.

Karena itulah saya masih senang menulis setiap hari. Saya ingin setiap tulisan memiliki ruh yang mampu menyentuh hati pembaca. Saya ingin pembaca tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga mendapatkan inspirasi untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Perjalanan teknologi akan terus melaju. AI akan semakin pintar. Robot akan semakin cerdas. Mesin akan semakin cepat.

Namun saya percaya, masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki AI paling hebat, melainkan oleh siapa yang mampu menggunakan AI dengan hati yang bijaksana.

Mari kita jadikan AI sebagai sahabat belajar, bukan pengganti berpikir. Jadikan AI sebagai alat untuk memperluas kreativitas, bukan mematikan imajinasi. Jadikan AI sebagai penolong dalam bekerja, bukan alasan untuk berhenti belajar.

Sebab, sehebat apa pun teknologi, manusia tetap memiliki sesuatu yang tidak akan pernah dimiliki mesin: hati nurani, kasih sayang, empati, integritas, dan kebijaksanaan.

Akhirnya, saya teringat kembali semboyan yang selalu saya bagikan kepada para guru di seluruh Indonesia.

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Kini saya ingin menambahkan satu kalimat lagi.

"Gunakan AI setiap hari dengan bijaksana, lalu buktikan bahwa teknologi akan menjadi jalan untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya."

Semoga kita semua menjadi generasi yang tidak hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga bijaksana dalam memanfaatkannya. Karena pada akhirnya, yang akan dikenang dunia bukanlah kecanggihan mesin yang kita gunakan, melainkan kebaikan yang kita sebarkan melalui teknologi itu.

Salam blogger persahabatan
Blog https://wijayalabs.com
Wijaya Kusumah - omjay

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.