Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Senin, 08 Juni 2026

Malas Membaca Kok Kepengen Menjadi Penulis?

Malas Membaca Kok Kepengen Jadi Penulis? Emang Bisa?

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

“Pak Omjay, saya ingin menjadi penulis.”

Saya tersenyum mendengar ucapan seorang guru muda yang mengikuti pelatihan menulis.

“Bagus sekali. Sudah berapa buku yang Anda baca bulan ini?” tanya saya.

Beliau terdiam.

“Kalau artikel?” lanjut saya.

Beliau tersenyum malu.

“Sejujurnya saya jarang membaca, Pak.”

Jawaban itu membuat saya teringat pada banyak orang yang ingin menjadi penulis terkenal, tetapi malas membaca. Mereka ingin menghasilkan tulisan yang bagus, tetapi enggan mengisi pikirannya dengan bacaan yang bermutu.

Lalu muncul pertanyaan menarik.

Malas membaca kok kepengen jadi penulis? Emang bisa?

Jawabannya sederhana.

Bisa menulis, tetapi sulit menjadi penulis yang baik.

Kisah Omjay yang Gemar Membaca

Ketika masih kecil di Wanaraja, Garut, Omjay bukanlah anak yang istimewa. Namun ada satu kebiasaan yang membuat hidup berubah.

Saya suka membaca.

Apa saja saya baca.

Mulai dari buku pelajaran, majalah, koran bekas, hingga buku cerita yang dipinjam dari teman.

Bahkan ketika menjadi mahasiswa IKIP Jakarta, saya sering menghabiskan waktu di perpustakaan.

Saat teman-teman sibuk mengobrol, saya justru asyik membuka buku.

Dari situlah saya memahami satu hal penting.

Tulisan yang baik lahir dari bacaan yang banyak.

Karena ketika membaca, kita sedang menabung kata-kata, ide, pengalaman, dan pengetahuan ke dalam pikiran.

Kelak semua itu akan keluar kembali dalam bentuk tulisan.

Penulis Itu Seperti Sumur

Suatu hari saya mengibaratkan penulis seperti sumur.

Kalau sumurnya tidak pernah diisi air hujan, lama-kelamaan akan kering.

Begitu pula seorang penulis.

Kalau tidak pernah membaca, lama-kelamaan kehabisan ide.

Ia bingung mau menulis apa.

Ia duduk berjam-jam di depan komputer tetapi layar tetap kosong.

Sebaliknya, orang yang rajin membaca seperti memiliki sumur yang selalu penuh.

Ide datang dari mana-mana.

Tulisan mengalir tanpa dipaksa.

Karena otaknya dipenuhi bahan baku tulisan.

Banyak penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara kebiasaan membaca dan kemampuan menulis. Semakin tinggi minat dan kebiasaan membaca seseorang, semakin baik pula kemampuan menulisnya karena kosakata bertambah, wawasan semakin luas, dan ide lebih mudah dikembangkan. 

Mengapa Banyak Orang Malas Membaca?

Di era media sosial saat ini, banyak orang lebih senang menonton video pendek.

Lima belas detik.

Tiga puluh detik.

Satu menit.

Selesai.

Akibatnya kemampuan membaca panjang mulai berkurang.

Padahal menulis membutuhkan kemampuan berpikir yang mendalam.

Menulis bukan sekadar mengetik kata.

Menulis adalah mengolah gagasan.

Menulis adalah menyusun logika.

Menulis adalah menyampaikan pengalaman hidup kepada orang lain.

Semua itu membutuhkan bahan bakar.

Dan bahan bakarnya adalah membaca.

Pengalaman Omjay Menulis Setiap Hari

Sudah puluhan tahun saya menulis.

Ribuan artikel telah saya hasilkan.

Banyak orang bertanya.

“Pak Omjay, kok tidak pernah kehabisan ide?”

Saya selalu menjawab.

“Saya tidak pernah berhenti membaca.”

Setiap hari saya membaca berita.

Membaca buku.

Membaca tulisan teman.

Membaca komentar pembaca.

Membaca pengalaman hidup orang lain.

Semua bacaan itu berubah menjadi inspirasi.

Kadang sebuah artikel lahir hanya karena membaca satu kalimat yang menyentuh hati.

Kadang sebuah buku lahir dari satu pengalaman sederhana yang kemudian diperkaya oleh berbagai referensi bacaan.

AI Pun Tidak Bisa Menolong Orang yang Malas Membaca

Sekarang banyak orang mengandalkan AI.

Mereka berpikir:

“Tidak perlu membaca. Tinggal tanya AI.”

Padahal AI hanyalah alat bantu.

AI dapat membantu menyusun kalimat.

AI dapat membantu mencari ide.

Namun AI tidak bisa menggantikan pengalaman membaca yang dilakukan manusia.

Tulisan yang kuat lahir dari perpaduan antara pengalaman hidup dan wawasan yang luas.

Wawasan itu diperoleh melalui membaca.

Karena itulah saya selalu mengatakan kepada peserta KBMN PGRI:

Menulislah dengan hati, tetapi isi hati itu dengan bacaan yang berkualitas.

Kalau hati kosong dan pikiran kosong, apa yang akan ditulis?

Cara Mudah Memulai Kebiasaan Membaca

Banyak orang gagal membaca karena targetnya terlalu besar.

Ingin membaca satu buku sehari.

Akhirnya menyerah.

Mulailah dari yang kecil.

Bacalah 10 menit sehari.

Bacalah satu artikel setiap pagi.

Bacalah satu bab buku sebelum tidur.

Lakukan secara konsisten.

Sedikit demi sedikit akan menjadi bukit.

Lama-kelamaan membaca menjadi kebutuhan.

Dan ketika membaca menjadi kebutuhan, menulis akan menjadi kebiasaan.

Rahasia Penulis Hebat

Coba perhatikan para penulis besar.

Mereka semua pembaca yang rakus.

Mereka membaca lebih banyak daripada yang mereka tulis.

Karena mereka sadar bahwa membaca adalah investasi.

Semakin banyak membaca, semakin kaya kosakata.

Semakin banyak membaca, semakin luas wawasan.

Semakin banyak membaca, semakin mudah menemukan ide. 

Tidak ada jalan pintas.

Tidak ada tombol ajaib.

Tidak ada rahasia tersembunyi.

Rahasia terbesar seorang penulis adalah membaca.

Refleksi untuk Kita Semua

Hari ini saya ingin mengajak diri saya sendiri dan para pembaca untuk bercermin.

Jangan-jangan kita ingin menjadi penulis terkenal, tetapi malas membuka buku.

Jangan-jangan kita ingin menghasilkan tulisan yang menginspirasi, tetapi tidak pernah menambah wawasan.

Jangan-jangan kita ingin karya kita dibaca banyak orang, tetapi kita sendiri tidak suka membaca karya orang lain.

Jika itu yang terjadi, maka sudah saatnya berubah.

Mulailah membaca hari ini.

Tidak perlu langsung banyak.

Yang penting istiqamah.

Karena setiap halaman yang kita baca sesungguhnya sedang membangun kemampuan menulis kita.

Saya, Omjay, adalah saksi hidup bahwa membaca dapat mengubah hidup seseorang.

Dari seorang anak kampung di Garut menjadi guru, blogger, penulis buku, pembicara nasional, hingga meraih gelar doktor.

Semuanya berawal dari satu kebiasaan sederhana.

Membaca.

Jadi, kalau ada yang bertanya:

“Malas membaca kok kepengen jadi penulis? Emang bisa?”

Jawabannya:

Bisa menulis satu dua halaman. Tetapi untuk menjadi penulis yang mampu menginspirasi banyak orang, membaca adalah jalan yang tidak bisa dilewati begitu saja.

Sebab penulis hebat bukanlah orang yang paling banyak menulis.

Penulis hebat adalah orang yang tidak pernah berhenti belajar melalui membaca. 📚✍️

---

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.