Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 09 Juni 2026

Kebersamaan yang Tak Akan Terlupakan dan Tak Akan Luntur oleh Waktu



Kebersamaan yang Tak Akan Terlupakan dan Tak Akan Luntur oleh Waktu

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Sebuah foto sering kali menyimpan ribuan cerita. Ia mampu membawa kita kembali ke masa lalu, menghadirkan kenangan yang pernah kita jalani bersama. Begitu pula ketika Pak Syamsuardi mengunggah foto kebersamaan kami, para penulis buku Informatika dari Ikatan Guru Informatika Indonesia, saat berkumpul di kantor penerbit Andi Yogyakarta pada tahun 2021.

Saat melihat foto itu kembali, hati saya terasa hangat. Ingatan saya melayang pada masa ketika kami datang dari berbagai daerah di Indonesia dengan satu tujuan yang sama, yaitu berbagi ilmu dan pengalaman melalui buku. Kami bukan sekadar penulis. Kami adalah sahabat seperjuangan yang memiliki mimpi yang sama: memajukan pendidikan Informatika di Indonesia.

Foto tersebut diambil setelah serangkaian diskusi, rapat, dan penyusunan naskah buku Informatika yang akan digunakan oleh para guru dan siswa di seluruh Indonesia. Wajah-wajah yang tersenyum dalam foto itu menyimpan semangat, harapan, dan perjuangan yang luar biasa.

Kala itu dunia pendidikan sedang mengalami perubahan besar. Kurikulum terus berkembang. Teknologi digital semakin masuk ke ruang-ruang kelas. Guru Informatika dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi. Kami menyadari bahwa buku yang baik dapat menjadi jembatan bagi guru dan siswa untuk memahami dunia digital dengan lebih mudah.



Di kantor Penerbit Andi Yogyakarta itulah kami dipertemukan.

Ada yang datang dari Sumatra.

Ada yang datang dari Jawa.

Ada yang datang dari Kalimantan.

Ada yang datang dari Sulawesi.

Perbedaan daerah, suku, budaya, dan latar belakang seolah menghilang ketika kami duduk bersama membahas isi buku. Yang tersisa hanyalah semangat untuk berkarya bagi bangsa.

Saya masih ingat suasana ruangan saat itu. Tawa dan diskusi silih berganti. Kadang kami berbeda pendapat tentang isi materi. Kadang kami berdebat tentang contoh soal yang tepat. Namun semua dilakukan dengan semangat persaudaraan.

Tidak ada yang merasa paling hebat.

Tidak ada yang merasa paling pintar.

Semua saling melengkapi.

Semua saling belajar.

Itulah indahnya kolaborasi.

Bagi saya pribadi, pertemuan tersebut menjadi salah satu momen yang sangat berharga dalam perjalanan hidup sebagai guru. Selama lebih dari tiga puluh tahun mengajar di SMP Labschool Jakarta, saya belajar bahwa ilmu akan berkembang ketika dibagikan kepada orang lain.

Melalui buku, ilmu yang kita tuliskan dapat melampaui batas ruang dan waktu.

Melalui buku, seorang guru dapat mengajar ribuan siswa yang bahkan tidak pernah ditemuinya.

Melalui buku, jejak pemikiran akan tetap hidup meskipun usia terus bertambah.

Karena itulah saya merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari tim penulis buku Informatika tersebut.

Yang membuat saya terharu bukan hanya karena buku yang kami hasilkan akhirnya diterbitkan. Yang lebih berharga adalah persahabatan yang lahir selama proses itu berlangsung.

Empat tahun telah berlalu sejak foto tersebut diambil.

Banyak hal telah berubah.

Ada yang kini mendapat amanah jabatan baru.

Ada yang sudah pensiun dari tugas formalnya sebagai guru.

Ada yang semakin aktif menulis.

Ada yang sibuk menjadi narasumber di berbagai daerah.

Ada pula yang terus mengabdikan diri di sekolah masing-masing.

Namun ketika melihat foto itu, rasanya kami masih seperti dulu.

Masih tertawa bersama.

Masih berdiskusi bersama.

Masih saling menyemangati.

Inilah yang saya sebut sebagai persahabatan sejati.

Persahabatan yang tidak dibangun karena kepentingan sesaat.

Persahabatan yang tidak dibangun karena jabatan.

Persahabatan yang tidak dibangun karena keuntungan materi.

Persahabatan yang lahir dari perjuangan bersama.

Dan persahabatan seperti itulah yang biasanya bertahan sangat lama.

Saya teringat sebuah pepatah yang mengatakan:

"Orang hebat menghasilkan karya, tetapi orang-orang yang saling mendukung akan menghasilkan sejarah."

Foto di kantor Penerbit Andi Yogyakarta itu bukan sekadar dokumentasi kegiatan.

Foto itu adalah catatan sejarah.

Sejarah tentang guru-guru yang memilih untuk terus belajar.

Sejarah tentang guru-guru yang tidak menyerah menghadapi perubahan zaman.

Sejarah tentang guru-guru yang percaya bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan bangsa.

Hari ini, ketika kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin berkembang pesat, saya semakin menyadari pentingnya kebersamaan seperti yang pernah kami bangun saat itu.

Teknologi boleh berubah.

Perangkat boleh berganti.

Kurikulum boleh diperbarui.

Namun nilai-nilai persahabatan, kolaborasi, dan gotong royong tidak akan pernah usang.

AI dapat membantu kita menulis.

AI dapat membantu kita membuat materi pembelajaran.

AI dapat membantu kita mengolah data.

Tetapi AI tidak dapat menggantikan hangatnya persahabatan.

AI tidak dapat menggantikan kebahagiaan saat bertemu sahabat lama.

AI tidak dapat menggantikan rasa haru ketika melihat perjuangan teman-teman yang berjalan bersama dalam satu cita-cita.

Karena itulah saya selalu mengatakan kepada para guru muda bahwa membangun jaringan pertemanan yang baik jauh lebih penting daripada sekadar mengumpulkan sertifikat pelatihan.

Ilmu bisa dicari.

Buku bisa ditulis.

Teknologi bisa dipelajari.

Tetapi sahabat seperjuangan adalah anugerah yang tidak mudah ditemukan.

Ketika saya melihat kembali foto itu, saya tidak hanya melihat sekumpulan penulis buku Informatika.

Saya melihat keluarga besar.

Saya melihat sahabat-sahabat yang pernah berbagi mimpi.

Saya melihat orang-orang hebat yang dengan segala keterbatasannya tetap memilih untuk berkarya.

Dan saya percaya, meskipun waktu terus berjalan, rambut semakin memutih, dan usia semakin bertambah, kenangan indah itu tidak akan pernah luntur.

Sebab kenangan yang dibangun dengan ketulusan akan selalu hidup di dalam hati.

Terima kasih Pak Syamsuardi yang telah mengunggah kembali foto bersejarah ini.

Foto yang mengingatkan kami bahwa karya boleh selesai, tetapi persahabatan tidak pernah berakhir.

Foto yang mengingatkan kami bahwa waktu boleh berlalu, tetapi kebersamaan yang tulus akan selalu menemukan tempat terbaik di hati setiap orang yang pernah menjalaninya.

Kebersamaan itu tak akan terlupakan.

Kebersamaan itu tak akan luntur oleh waktu.

Dan selama buku-buku yang kami tulis masih dibaca oleh generasi berikutnya, semangat persahabatan para guru penulis Informatika Indonesia akan terus hidup, menginspirasi, dan menerangi perjalanan pendidikan bangsa Indonesia. ❤️📚🇮🇩


Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.