Alimudin Garbis Murid yang Diam-Diam Mengikuti Jejak Omjay
Oleh: Omjay, Guru Blogger Indonesia
Pagi itu saya membaca sebuah tulisan dari sahabat lama, seorang penulis, dosen, jurnalis, sekaligus kreator konten yang saya kenal sejak lama, yaitu Alimudin Garbis. Tulisan itu membuat saya terdiam cukup lama. Bukan karena isinya memuji saya, melainkan karena tulisan itu mengingatkan kembali pada perjalanan panjang yang sering kali tidak saya sadari telah memberi pengaruh kepada orang lain.
Alimudin bercerita tentang pertemuan kami bertahun-tahun lalu di sebuah seminar Ikatan Guru Indonesia (IGI) di Jakarta. Saat itu ia sedang mengalami musibah. Laptop kecil kesayangannya hilang karena tertidur di kawasan Senayan. Kehilangan laptop tentu bukan perkara ringan. Apalagi bagi seorang penulis yang menyimpan banyak karya dan ide di dalamnya. Namun takdir mempertemukan kami dalam suasana yang berbeda.
Saat peserta lain duduk rapi di kursi seminar, saya memilih duduk di pinggir ruangan. Kebiasaan itu masih saya lakukan sampai sekarang. Saya lebih senang duduk di dekat dinding atau dekat colokan listrik. Selain lebih leluasa membuka laptop, saya bisa langsung menulis ketika ide datang tanpa harus terganggu lalu-lalang peserta seminar.
Menurut Alimudin, saat itu saya terlihat seperti panitia yang sedang menunggu peserta masuk. Padahal saya bukan panitia. Saya hanya sedang melakukan kebiasaan yang sampai hari ini masih saya jalani, yaitu menulis.
Ketika itu saya sedang menyusun sebuah artikel untuk Kompasiana. Cara saya menulis memang sederhana. Saya tidak langsung membuat paragraf panjang. Saya biasanya menuliskan poin-poin penting terlebih dahulu. Ide yang muncul saya tangkap dalam bentuk pointer. Setelah semua poin terkumpul, barulah saya merangkainya menjadi kalimat dan paragraf yang utuh.
Tanpa saya sadari, cara sederhana itu diperhatikan oleh Alimudin. Ia mendekat, melihat prosesnya, lalu menyimpannya dalam ingatan. Dari situlah, katanya, ia mulai mengenal lebih dekat dunia menulis yang saya geluti.
Membaca kisah itu membuat saya tersenyum. Sebab sesungguhnya saya tidak pernah merasa menjadi orang hebat. Saya hanyalah seorang guru yang kebetulan jatuh cinta kepada dunia menulis. Saya juga mengalami banyak kegagalan, penolakan, dan masa-masa ketika tulisan saya tidak dibaca siapa pun.
Saya masih ingat ketika pertama kali menulis di blog. Pengunjungnya hanya hitungan jari. Tidak ada komentar. Tidak ada yang membagikan tulisan saya. Namun saya terus menulis. Saya percaya bahwa menulis bukan soal terkenal atau tidak terkenal. Menulis adalah proses belajar sepanjang hayat.
Karena itulah saya selalu menyampaikan kepada para guru dan peserta pelatihan menulis bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada bakat. Banyak orang pandai menulis, tetapi tidak konsisten. Banyak orang memiliki ide luar biasa, tetapi berhenti di tengah jalan. Sebaliknya, orang yang terus menulis sedikit demi sedikit setiap hari akan menghasilkan karya yang luar biasa pada waktunya.
Ketika membaca pengakuan Alimudin bahwa ia tidak mengikuti konsistensi saya, saya justru melihat hal yang berbeda. Saya melihat seorang murid yang berhasil menemukan jalannya sendiri. Ia tetap menulis. Ia berkembang menjadi dosen. Ia menjadi jurnalis. Ia aktif membuat konten dan membagikan gagasan kepada masyarakat.
Bukankah itu tujuan seorang guru?
Guru tidak harus menciptakan murid yang sama persis dengan dirinya. Guru yang baik justru melahirkan murid yang menemukan keunikan dan kekuatannya sendiri. Karena itu saya bangga membaca kisah Alimudin. Mungkin ia tidak menulis sebanyak saya. Mungkin ia tidak mengikuti semua kebiasaan saya. Namun ia tetap berkarya dan memberi manfaat kepada banyak orang.
Yang membuat saya semakin terharu adalah ketika ia mengatakan bahwa sampai sekarang ia masih memiliki kebiasaan duduk di pinggir ruangan saat menghadiri acara. Ia mencari colokan listrik, membuka laptop atau telepon genggam, lalu mulai menulis dan memperbarui status di media sosial.
Saya tertawa ketika membacanya. Ternyata kebiasaan sederhana itu menular juga.
Bagi sebagian orang, duduk di pinggir ruangan mungkin terlihat aneh. Namun bagi seorang penulis, inspirasi bisa datang kapan saja. Seminar bukan hanya tempat mendengarkan narasumber. Seminar juga tempat menemukan ide. Kadang satu kalimat dari pembicara dapat berubah menjadi satu artikel. Kadang satu foto dapat berubah menjadi satu buku. Kadang satu percakapan sederhana dapat menjadi inspirasi yang mengubah hidup seseorang.
Hari ini dunia sudah berubah. Teknologi berkembang sangat cepat. Kehadiran kecerdasan buatan seperti ChatGPT membuat proses menulis menjadi jauh lebih mudah. Namun saya selalu percaya bahwa teknologi hanyalah alat bantu. Ide, pengalaman, emosi, dan nilai-nilai kehidupan tetap berasal dari manusia.
Karena itu saya senang ketika Alimudin tetap menulis. Saya senang ketika ia tetap berbagi pengalaman. Saya senang ketika ia tetap menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Kepada sahabatku Alimudin Garbis, izinkan saya menyampaikan bahwa saya tidak pernah menganggapmu sekadar peserta seminar yang pernah bertemu di Jakarta. Saya menganggapmu sahabat seperjuangan dalam dunia literasi. Jika hari ini engkau menjadi dosen, jurnalis, dan kreator konten yang menginspirasi banyak orang, maka sesungguhnya engkau telah melangkah jauh melampaui apa yang pernah saya bayangkan.
Seorang guru akan merasa bahagia bukan ketika dipuji, tetapi ketika melihat murid-muridnya tumbuh dan berkembang. Seorang guru akan merasa sukses bukan ketika namanya terkenal, tetapi ketika murid-muridnya berhasil menemukan jalan hidupnya sendiri.
Terima kasih telah mengingat pertemuan sederhana itu. Terima kasih telah berbagi kisah yang membuat saya kembali merenungkan makna menjadi seorang guru.
Teruslah menulis, teruslah berbagi, dan teruslah menginspirasi.
Siapa tahu suatu hari nanti saya benar-benar harus memanggil Anda dengan gelar yang Anda tuliskan di akhir pesan itu:
Alimudin Garbis, Share Creator... Calon Presiden Indonesia.
Salam hangat dari guru yang masih setia duduk di pinggir ruangan mencari colokan listrik dan menulis apa saja yang bisa ditulis.
Omjay
Guru Blogger Indonesia
"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.