JUALAN BUKU ALA OMJAY: DARI GURU BIASA MENJADI PEDAGANG BUKU DADAKAN
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay) — Guru Blogger Indonesia
"Pak, buku Omjay sudah terbit?"
"Sudah."
"Berapa harganya?"
"Murah."
"Murah itu berapa?"
"Lebih murah daripada harga satu kali makan keluarga di restoran."
"Lho, kok bisa?"
"Iya, karena tujuan saya bukan bikin kaya raya, tapi bikin banyak orang kaya ilmu."
Begitulah percakapan yang sering terjadi akhir-akhir ini. Sejak empat buku terbaru saya selesai dicetak, mendadak saya berubah profesi. Pagi mengajar, siang menulis, malam jadi pedagang buku keliling WhatsApp.
Kadang saya sendiri tertawa.
Bayangkan saja. Selama lebih dari tiga puluh tahun mengajar, saya terbiasa berdiri di depan kelas menjelaskan pelajaran kepada siswa. Sekarang saya berdiri di depan grup WhatsApp menawarkan buku.
Bedanya, kalau siswa tidak memperhatikan saat belajar, saya masih bisa bilang:
"Anak-anak, perhatikan ke depan!"
Tapi kalau menawarkan buku di grup WhatsApp?
Yang terlihat cuma dua centang biru tanpa komentar.
Sakitnya tuh di sini.
Namun saya sadar, menjual buku memang tidak semudah menjual gorengan.
Kalau gorengan aromanya langsung menggoda.
Kalau buku?
Harus dibaca dulu baru terasa nikmatnya.
Meskipun begitu, saya tetap semangat.
Sebab saya percaya setiap buku memiliki takdir pembacanya sendiri.
Suatu hari seorang teman bertanya.
"Omjay, kenapa bikin empat buku sekaligus? Satu saja sudah susah menjualnya."
Saya tersenyum.
"Karena saya takut lupa."
"Lupa apa?"
"Lupa bahwa hidup ini terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk mengeluh."
Teman saya tertawa.
Lalu saya menjelaskan.
Buku pertama berjudul LABSCHOOL RUMAH KEDUAKU.
Buku ini lahir dari cinta saya kepada sekolah yang sudah menjadi bagian hidup selama puluhan tahun.
Di sana saya belajar menjadi guru.
Di sana saya belajar menjadi manusia.
Dan di sana pula saya menemukan ribuan kenangan yang tak mungkin saya beli dengan uang.
Buku kedua berjudul MENULIS DENGAN HATI.
Nah, ini buku yang sangat berbahaya.
Kenapa?
Karena setelah membacanya, banyak orang mendadak ingin menulis.
Ada yang mulai membuat blog.
Ada yang mulai menulis buku.
Ada yang mulai rajin menulis status panjang di media sosial.
Pokoknya efek sampingnya cukup mengkhawatirkan bagi orang yang malas menulis.
Buku ketiga berjudul KASTA TERTINGGI SEORANG GURU.
Judulnya memang terdengar mewah.
Tapi isinya sederhana.
Saya ingin mengajak para guru memahami bahwa kasta tertinggi seorang guru bukanlah jabatan.
Bukan pula penghargaan.
Melainkan ketika ilmunya terus hidup dalam diri murid-muridnya.
Karena guru sejati akan tetap dikenang bahkan ketika namanya mulai dilupakan.
Sedangkan buku keempat berjudul KISAH OMJAY: MENULIS SETIAP HARI DAN BUKTIKAN APA YANG TERJADI.
Ini buku yang paling dekat dengan hati saya.
Buku ini berisi perjalanan panjang seorang guru biasa yang mencoba menulis setiap hari.
Awalnya tidak ada yang membaca.
Kemudian mulai ada yang membaca.
Lalu ada yang mengomentari.
Kemudian ada yang membagikan.
Dan akhirnya tulisan-tulisan itu mengantarkan saya bertemu ribuan sahabat dari seluruh Indonesia.
Yang lucu adalah ketika ada teman bertanya.
"Omjay, kalau saya beli empat buku sekaligus, saya dapat apa?"
Saya jawab.
"Dapat empat buku."
Dia tertawa.
"Lalu bonusnya?"
"Dapat ilmu."
"Bukan itu maksud saya."
"Dapat motivasi."
"Bukan itu juga."
"Dapat inspirasi."
"Masih kurang."
Akhirnya saya berkata.
"Kalau beli empat buku sekaligus, Insya Allah dapat pahala karena membantu seorang guru tetap semangat menulis."
Nah, yang ini biasanya langsung diam.
Saya sering bercanda kepada teman-teman.
Harga buku cetak hanya Rp50.000.
Buku digital Rp25.000.
Kalau dihitung-hitung, harga satu buku bahkan lebih murah daripada biaya ngopi kekinian.
Bedanya, kopi habis dalam satu jam.
Buku bisa menemani bertahun-tahun.
Kopi menghangatkan tubuh.
Buku menghangatkan pikiran.
Kopi membuat mata melek beberapa jam.
Buku membuat wawasan melek sepanjang hayat.
Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, banyak orang bertanya.
"Apakah buku masih penting?"
Jawaban saya sederhana.
Justru semakin penting.
Karena AI bisa membantu kita menulis.
Tetapi AI tidak bisa menggantikan pengalaman hidup.
AI bisa menghasilkan ribuan kata dalam hitungan detik.
Namun air mata, perjuangan, kegagalan, harapan, dan doa yang tertulis dalam sebuah buku tetap berasal dari manusia.
Itulah sebabnya saya tetap menulis.
Itulah sebabnya saya tetap menerbitkan buku.
Dan itulah sebabnya saya mengajak sahabat semua untuk membaca.
Bukan karena saya ingin buku saya laris.
Tetapi karena saya ingin semakin banyak orang percaya bahwa pengalaman hidup layak dibagikan.
---
Kalau suatu hari nanti Anda melihat saya sibuk mempromosikan buku di media sosial, jangan bayangkan saya sedang menjadi sales profesional.
Bayangkan saja seorang guru tua yang masih percaya bahwa tulisan dapat mengubah kehidupan seseorang.
Seorang guru yang terus menulis meskipun pernah sakit.
Seorang guru yang terus belajar meskipun usia terus bertambah.
Dan seorang guru yang ingin meninggalkan jejak kebaikan melalui buku-bukunya.
Jadi, kalau Anda bertanya apakah buku-buku Omjay layak dibeli?
Saya tidak akan menjawabnya.
Biarkan hati Anda yang menjawab.
Karena tulisan yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalan menuju hati pembacanya.
Salam Blogger Persahabatan.
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Guru Blogger Indonesia :::
Salam blogger persajabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com
@semua
Sangat menghibur artikelnya
BalasHapusMasyaAlloh smoga saya bisa seperti Pak Guru
BalasHapus