Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 20 Januari 2008

Filsafat Ilmu Komunikasi oleh Santi Maudiarti

Ketika seorang bayi lahir ke dunia, apakah dia tahu akan sesuatu?. Jawabannya tidak, dia lahir bersih bagaikan kertas putih ”tabula rasa”, begitu pula manusia ketika ia melihat atau mengalami suatu peristiwa, tedorong naluri ingin tahu, ia pun bertanya : apakah ini? Darimana datangnya?Apa sebabya demikian?, dan sebagainya. Manusia yang semula tidak tahu berusaha untuk tahu dan kemudian mencari tahu, sehingga keinginan tahunya terpenuhi. Jika keingintahuaannya terpenuhi, maka unuk sementara waktu ia telah merasa puas.


Manusia mendapat pengetahuan berdasarkan pengalaman. Pengalaman adalah hasil persentuhan alam dengan pancaindra. Namun, pengalaman semata tidak otomatis mendatangkan pengetahuan. Pengetahuan baru ada apabila demi pengalamannya manusia memberi putusan atas objeknya. Pengetahuan manusia bermacam-macam. Terdapat pengetahuan biasa yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari tanpa tahu secara mendasar apa sebabnya demikian.

Apabila pengetahuan memenuhi syarat ilmu yang sistematis, objektif, metodis, dan universal maka ia layak disebut sebagai pengetahuan ilmu atau ilmu pengetahuan atau ilmu saja. Dalam ilmu pengetahuan, manusia tidak terlalu memikirkan kegunaannya, semata-mata hanya ingin tahu. Karenanya bagaimana ilmu itu digunakan (aksiologi) menjadi penting.


Berdasarkan objeknya ilmu pengetahuan dapat dibedakan atas ilmu alam dan ilmu sosial. Yang dicari manusia dalam ilmu pengetahuan adalah kebenaran, persesuaian antara tahu dengan objeknya, oleh karena itu maka disebut kebenaran objektif. Dalam upaya mencapai kebenaran, terdapat beberapa alat bantu berpikir ilmiah, yaitu matematika dan bahasa. Apabila keduanya memenuhi syarat ilmu, yaitu sistematis, metodis, universal dan objektif maka dapat disebut sebagai ilmu matematika atau ilmu bahasa.


Selain itu, terdapat jenis pengetahuan yang lain, yakni pengetahuan filsafat atau lazimnya sering disebut filsafat saja, pengetahuan yang mencoba mencari sebab yang sedalam-dalamnya dari segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Berbeda dengan ilmu pengetahuan yang objeknya mutlak ada. Selain mengkaji yang ada, filsafat juga mengkaji objek tanpa keberadaan. Apabila ilmu pengetahuan dan filsafat berangkat dari sifat sangsi dalam menyingkapi kebenaran, misalnya sikap tidak mudah percaya, terdapat jenis pengetahuan lain yang dasarnya adalah percaya, yaitu menerima begitu saja kebenaran tanpa mempermasalahkan lagi karena diterima atas otoritas orang yang menyampaikan, yang disebut pengetahuan ketuhanan atau teologi.


Filsafat adalah ibu dari segala ilmu, darinyalah seluruh pengetahuan yang disebut epistemologi dan wilayah nilai yang dinamai aksiologi. Hakikatnya, filsafat ilmu berada pada wilayah pengetahuan (epistemologi), yakni cabang yang mengkaji teori pengetahuan, karena itu disebut teori tentang teori. Saat berpikir filsafat guna mengkaji teori tentang teori, ada tiga wilayah filsafat yang digunakan untuk menganalisis. Jadi, walaupun ia epistemologi saat mengkaji filsafat ilmu komunikasi , maka masalah ontologi (wilayah ada), epistemologi (wilayah pengetahuan), dan aksiologi (wilayah nilai) kembali dipertanyakan. Untuk itu filsafat komunikasi dari segi ontologi mempertanyakan apakah objek kajian ilmu komunikasi?. Dari segi epistemologi , bagaimana cara mendapatkan dan membangun ilmu tersebut?. Dari segi aksiologi, bagaimana pula penggunaannya?.


Ontologi merupakan cabang filsafat yang mengkaji hakikat ilmu dan objeknya. Dalam konteks ilmu komunikasi, terdapat tiga paradigma dasar yang menentukan prespektif atau cara pandang terhadap komunikasi dan ilmu komunikasi. Paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungan yang mempengaruhinya dalam berpikir, bersikap bertingkah laku.


Paradigma dalam ilmu komunikasi sebagaimana ilmu sosial lainnya menjadi penting mengingat sifat objek yang abstrak, tiga paradigma yang ada dalam memandang ilmu komunikasi bisa sama benarnya, tapi juga bisa sama salahnya. Namun betapapun spekulatifnya, sifat tegas tetap diperlukan, dan buku ini memilih untuk menggunakan tiga paradigma.

Berdasarkan ke 3 paradigma tersebut, komunikasi didefinisikan sebagai usaha penyampaian pesan antar manusia. Artinya, objek ilmu komunikasi adalah tentang penyampaian pesan antar manusia yang disampaikan dengan usaha secara sengaja dilatari motif komunikasi, dikupas terlebih dahulu tentang hakikat manusia terutama faktok rohani yang dimilikinya. Manusia tidak bisa tidak berkomunikasi. Namun tidak semua tindakan manusia adalah tindakan komunikasi. Oleh karena itu tindak komunikasi dalam penyampaian pesan ditandai dengan adanya motif komunikasi. Motif komunikasi sangat menentukan apakah sesuatu layak disebut pesan atau tidak, apakah seseorang berlaku sebagai komunikator medium atau komunikan yang bergeser menjadi komunikator.


Aksiologis mempertanyakan nilai bagaimana dan untuk tujuan apa ilmu komunikasi digunakan. Karenanya, terkait penilai etis atau moral. Hanya tindakan manusia yang dilakukan dengan sengaja yang dapat dikenai penilaian etis. Akar tindakan manusia adalah falsafah hidup. Sama halnya dengan ilmuwan komunikasi, falsafah hidupnya akan menentukannya dalam ;
(a). Memilih objek penelitian
(b). Cara melakukan penelitian
(c). Menggunakan produk hasil penelitiannya.


Pengetahuan biasa, pengetahuan untuk kebutuhansehari-hari tanpa mengetahui apa sebabnya hingga terjadi demikian dan mengapa demikian. Dasarnya adalah pengalaman. ilmu Pengetahuan adalah pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat ilmu. Ilmu komunikasi sebagai ilmu sosial yang berada pada rumpun empiris dapat dikembangkan berdasarkan paradigma positivist dan anti positivist. Ilmu komunikasi yang berlatar positivist cenderung objektif. Sedangkan ilmu komunikasi yang berlatar anti positivistisme bersifat intersubjektif.

Berdasarkan jenis data dan pengolahannya, ilmu komunikasi memiliki dua jenis, yaitu kuantitatif yang labih berlatar positivist dan kualitatif lebih berlatar antipositivist yang intersubjektif. Ilmu komunikasi menggunakan empat strategi dalam pengumpulan data penelitian, yaitu :
1. Eksperimen, digunakan pada penelitian kuantitatif.
2. Survei, digunakan pada penelitian kuantitatif dan kualitatif.
3. Analisis teks, digunakan pada penelitian kuantitatif dan kualitatif.
4. Partisipasi-observasi, digunakan pada penelitian kualitatif.


Ilmu komunikasi dengan latar positivist mencari generalisasi dan objektivitas universal disebut nomothetik. Sebaliknya, ilmu komunikasi berlatar antipositivisme mencari intersubjektivitas guna membangun ilmu secara ideografik. Oleh karena itu ilmu komunikasi yang berlatar positivisme bebas nilai, sebaliknya ilmu komunikasi yang berlatar antipositivisme justru terkait nilai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.