Menulis adalah Passion: Kisah Omjay yang Tak Pernah Padam
Oleh: Wijaya Kusumah
Menulis bukan sekadar aktivitas merangkai kata. Ia adalah perjalanan jiwa, rekam jejak pemikiran, sekaligus warisan abadi yang tak lekang oleh waktu. Dalam kelas KBMN (Kelas Belajar Menulis Nusantara) Angkatan 34 malam itu, saya kembali diingatkan bahwa menulis bukan soal bakat, melainkan soal kemauan dan kebiasaan. Dan dari sanalah, saya teringat perjalanan panjang saya sendiri—perjalanan yang membuktikan bahwa menulis adalah passion.
Saya, Wijaya Kusumah, sering dipanggil Omjay, bukanlah seseorang yang sejak awal hebat dalam menulis. Bahkan, jika jujur, saya juga pernah berada di titik yang sama seperti banyak peserta KBMN malam itu: ragu, tidak percaya diri, dan bingung harus memulai dari mana. Namun satu hal yang membedakan adalah keberanian untuk mencoba dan terus melangkah.
Dalam sesi yang dibawakan oleh Sri Sugiastuti, atau yang akrab disapa Bunda Kanjeng, peserta diajak untuk mengubah mindset. Bahwa menulis bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dilatih. Pernyataan itu begitu sederhana, namun memiliki kekuatan luar biasa. Ia menghancurkan mitos lama yang selama ini menjadi penghambat banyak orang untuk mulai menulis.
Saya tersenyum ketika mendengar peserta berbagi alasan mengapa mereka belum menulis. Ada yang merasa tidak percaya diri, takut salah, bahkan ada yang merasa tulisannya tidak layak dibaca. Bukankah itu juga pernah saya rasakan? Namun, seperti yang disampaikan Bunda Kanjeng, musuh terbesar kita bukanlah kemampuan, melainkan diri kita sendiri.
Perjalanan saya di dunia literasi dimulai dari hal sederhana: menulis di blog. Saya percaya bahwa setiap orang yang memiliki ponsel sebenarnya sudah bisa menulis. Tinggal bagaimana kita mau atau tidak untuk memulai. Dari situlah, saya mulai aktif berbagi tulisan, membangun komunitas, hingga akhirnya dipercaya untuk membimbing banyak guru di seluruh Indonesia.
Bagi saya, menulis bukan sekadar hobi. Ia telah menjadi bagian dari hidup. Bahkan lebih dari itu, menulis adalah passion. Sebuah panggilan jiwa yang terus mendorong saya untuk berbagi, menginspirasi, dan meninggalkan jejak kebaikan.
Dalam kelas KBMN, saya melihat semangat yang sama. Ketika peserta diminta menulis tiga paragraf dengan kata kunci “mengapa”, banyak tulisan yang lahir dengan jujur dan menyentuh. Ada yang menulis karena ingin dikenang, ada yang menjadikan menulis sebagai terapi jiwa, bahkan ada yang berharap tulisannya menjadi amal jariyah.
Di situlah letak keindahan menulis. Ia tidak harus sempurna. Ia hanya perlu jujur.
Bunda Kanjeng juga membagikan beberapa teknik sederhana yang bisa menjadi jalan awal bagi penulis pemula. Salah satunya adalah free writing, menulis tanpa takut salah, membiarkan kata-kata mengalir begitu saja. Teknik lain adalah story telling, menulis seolah sedang bercerita kepada orang terdekat. Dan yang paling sederhana namun powerful adalah membiasakan menulis 15 menit setiap hari.
Saya sendiri telah membuktikan bahwa konsistensi kecil bisa menghasilkan perubahan besar. Dari menulis satu paragraf, menjadi satu artikel, hingga akhirnya puluhan bahkan ratusan tulisan. Dari yang awalnya hanya dibaca sedikit orang, hingga kini menjangkau pembaca yang lebih luas.
Menulis juga membuka banyak pintu. Saya bertemu banyak orang hebat, berbagi pengalaman, bahkan menghasilkan buku. Semua itu berawal dari satu langkah kecil: mulai menulis.
Satu hal yang selalu saya tekankan kepada para peserta adalah: jangan menunggu sempurna untuk mulai. Karena kesempurnaan itu justru datang dari proses yang panjang. Tulisan pertama kita boleh saja berantakan, tapi dari situlah kita belajar.
Dalam perjalanan ini, saya juga belajar bahwa komunitas memiliki peran penting. Lingkungan yang positif akan menjaga semangat kita tetap menyala. Seperti di KBMN, di mana para peserta saling mendukung, berbagi, dan belajar bersama. Di sana tidak ada yang merasa paling hebat, karena semua sedang bertumbuh.
Menulis, pada akhirnya, bukan hanya tentang kata-kata. Ia adalah tentang makna. Tentang bagaimana kita memberi manfaat bagi orang lain. Seperti yang disampaikan dalam kelas malam itu, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat.
Dan menulis adalah salah satu cara terbaik untuk menjadi bermanfaat.
Kini, pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing: Mengapa kita menulis?
Jika “mengapa” kita cukup kuat, maka kita akan terus menulis, apapun keadaannya. Tidak peduli sibuk, tidak peduli lelah, tidak peduli apakah tulisan kita dibaca banyak orang atau tidak. Karena kita tahu, setiap kata yang kita tulis adalah bagian dari perjalanan kita.
Saya percaya, setiap orang bisa menulis. Dan setiap orang punya cerita yang layak dibagikan.
Jadi, mari mulai menulis hari ini. Tidak perlu menunggu besok. Tidak perlu menunggu sempurna. Cukup mulai saja.
Karena bisa jadi, dari satu tulisan sederhana, lahir perubahan besar.
Dan dari situlah, passion itu tumbuh… dan tak akan pernah padam.
Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Terima kasih Omjay
BalasHapus. Sehat dan tetap semangat ya