Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Senin, 20 April 2026




Menulis dengan Hati di Tengah Era AI: Kisah Omjay di Opening KBMN PGRI Angkatan 34

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay)

Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI kembali hadir. Malam itu, suasana terasa berbeda. Bukan karena kemewahan tempat atau gemerlap panggung, tetapi karena semangat yang terpancar dari layar-layar kecil di aplikasi Zoom. Ya, opening ceremony KBMN PGRI angkatan ke-34 resmi digelar secara daring, namun tetap mampu menghadirkan kehangatan dan energi yang luar biasa.

Sebagai seorang guru sekaligus pegiat literasi, saya—yang akrab disapa Omjay—merasakan kembali getaran semangat yang dulu pernah saya rasakan saat pertama kali belajar menulis. Meski hanya melalui layar, acara tersebut dikemas dengan cukup menarik. Terlihat jelas bahwa panitia bekerja dengan penuh dedikasi. Profesionalitas mereka patut diapresiasi. Dari susunan acara hingga pengaturan teknis, semuanya berjalan rapi.

Awalnya, acara ini direncanakan akan dibuka langsung oleh Pak Sumardiansyah Perdana Kusuma dari PGRI. Namun, karena adanya agenda lain di Surabaya yang waktunya bersamaan, beliau tidak dapat hadir. Sebagai gantinya, beliau menunjuk Sekretaris Jenderal APKS PGRI, Bapak Dudi Wahyudi.

Saya mengenal beliau sebagai sosok yang aktif, termasuk dalam pengelolaan KTA PGRI. Malam itu, Alhamdulillah beliau hadir dan memberikan sambutan yang hangat. Meski dalam sambutannya beliau tampak lupa secara eksplisit membuka acara, namun kehadirannya saja sudah menjadi bentuk dukungan yang luar biasa bagi keberlangsungan KBMN.

Memasuki angkatan ke-34 bukanlah perjalanan yang mudah. Konsistensi adalah kunci. Di tengah derasnya arus digitalisasi, terutama dalam dunia tulis-menulis, mempertahankan kelas seperti KBMN bukan perkara sederhana. Hari ini, menulis bukan lagi sesuatu yang dianggap sulit. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara orang memproduksi tulisan.

Banyak yang mulai berpikir praktis: untuk apa belajar menulis jika mesin bisa melakukannya dengan cepat dan rapi?

Pertanyaan itu tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.

Menulis sejatinya bukan hanya tentang menghasilkan teks. Menulis adalah proses. Ia adalah perjalanan batin. Dalam setiap kata yang kita rangkai, ada perasaan yang disisipkan, ada pengalaman yang dituangkan, dan ada keresahan yang ingin disampaikan. Menulis adalah perpaduan antara logika dan emosi.

AI memang mampu menghasilkan tulisan yang terstruktur, sistematis, bahkan tampak ilmiah. Namun, jika tidak disentuh oleh rasa manusia, tulisan itu akan terasa hambar. Ia mungkin benar secara tata bahasa, tetapi kosong secara makna.

Saya sering mengatakan kepada peserta KBMN PGRI: *“Menulislah dengan hati, bukan sekadar dengan teknologi.”*

AI hanyalah alat bantu. Ia tidak memiliki empati. Ia tidak pernah merasakan sedih, bahagia, kecewa, atau harapan. Ia hanya mengolah data. Bahkan, jika data yang diberikan keliru, maka hasilnya pun bisa menyesatkan.

Di sinilah pentingnya kelas belajar menulis seperti KBMN. Kelas ini bukan hanya tempat belajar teknik menulis, tetapi juga ruang untuk bertumbuh. Di dalamnya, peserta dilatih untuk merangkai kata secara alami, menyusun kalimat yang hidup, dan membangun logika berpikir yang runtut.

Lebih dari itu, KBMN adalah ruang berbagi energi positif. Para peserta tidak berjalan sendiri. Mereka didampingi oleh mentor dan narasumber yang dengan sabar memberikan arahan dan motivasi. Setiap pertemuan adalah suntikan semangat baru.

Saya melihat sendiri bagaimana banyak peserta yang awalnya ragu, perlahan mulai percaya diri. Dari yang tidak pernah menulis, menjadi penulis yang produktif. Dari yang hanya pembaca, menjadi kontributor aktif di berbagai platform literasi.

Itulah kekuatan komunitas.

Sebagai Guru Blogger Indonesia, saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari gerakan ini. Literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga soal membangun peradaban. Bangsa yang besar adalah bangsa yang gemar menulis, karena melalui tulisan, gagasan dapat diwariskan lintas generasi.

KBMN PGRI adalah salah satu bukti nyata bahwa gerakan literasi di Indonesia terus hidup. Bahkan, di tengah tantangan zaman yang serba instan, masih ada ruang bagi mereka yang ingin belajar dengan proses.

Saya percaya, peserta KBMN angkatan 34 adalah orang-orang pilihan. Mereka yang tidak sekadar ingin cepat, tetapi ingin benar. Mereka yang tidak hanya ingin dikenal, tetapi ingin memberi makna.

Akhirnya, saya ingin mengucapkan selamat kepada seluruh peserta KBMN PGRI angkatan 34. Nikmati setiap prosesnya. Jangan takut salah, karena dari kesalahan kita belajar. Jangan malu memulai, karena setiap penulis hebat pernah menjadi pemula.

Teruslah menulis. Teruslah berkarya.

Semoga dari kelas ini lahir penulis-penulis hebat yang mampu membumikan gerakan literasi nasional. Penulis yang tidak hanya cerdas secara kata, tetapi juga bijak dalam rasa.

Karena pada akhirnya, tulisan terbaik bukanlah yang paling panjang atau paling indah, tetapi yang paling jujur—yang lahir dari hati.

Salam literasi. ✍️
Blog https://wijayalabs.com



Salam Blogger Persahabatan 
Omjay 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

1 komentar:

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.