Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Kamis, 02 Juli 2026

Belajar Dari Perjalanan Nadirm Makarim

Kisah Omjay: Belajar dari Perjalanan Nadiem Makarim, Menjadikan Perubahan sebagai Semangat Berkarya

Nama Nadiem Makarim sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Sosok yang dikenal sebagai pendiri perusahaan teknologi transportasi daring itu kemudian dipercaya memimpin dunia pendidikan Indonesia. Kehadirannya membawa banyak gagasan baru yang memunculkan harapan, diskusi, bahkan kritik. Bagi saya, Omjay, semua itu merupakan bagian dari proses perubahan yang wajar dalam dunia pendidikan yang terus berkembang.

Sebagai guru yang telah mengabdikan diri selama puluhan tahun, saya menyadari bahwa setiap pemimpin memiliki visi, strategi, dan pendekatan yang berbeda. Tidak semua kebijakan akan diterima dengan cara yang sama oleh seluruh masyarakat. Ada yang merasa terbantu, ada pula yang menganggap masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Namun, di balik berbagai perbedaan pandangan tersebut, saya memilih mengambil pelajaran yang dapat menguatkan semangat untuk terus berkarya.

Saya masih ingat ketika berbagai program transformasi pendidikan mulai diperkenalkan. Dunia pendidikan berubah dengan sangat cepat. Guru dituntut semakin kreatif, siswa didorong lebih aktif, dan teknologi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran. Perubahan itu terasa semakin nyata ketika pandemi melanda. Sekolah-sekolah harus beradaptasi dengan pembelajaran jarak jauh. Saat itulah saya merasakan bahwa kemampuan belajar sepanjang hayat menjadi sangat penting bagi setiap guru.

Sebagai Guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya tidak ingin hanya menjadi penonton perubahan. Saya memilih ikut belajar. Saya mengikuti berbagai webinar, pelatihan, dan diskusi mengenai teknologi pendidikan. Saya mencoba berbagai aplikasi pembelajaran, memanfaatkan media digital, hingga akhirnya semakin aktif menulis pengalaman mengajar di blog dan berbagai platform literasi.

Dari perjalanan tersebut, saya memahami bahwa teknologi bukanlah pengganti guru. Sebaliknya, teknologi merupakan alat yang dapat membantu guru memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik. Hubungan emosional antara guru dan murid tetap tidak tergantikan. Senyum, perhatian, keteladanan, dan doa seorang guru merupakan kekuatan yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan ataupun perangkat digital.

Salah satu pelajaran yang saya ambil dari perjalanan Nadiem Makarim adalah keberanian untuk mencoba cara baru. Tidak semua inovasi langsung berhasil. Sebagian membutuhkan waktu, evaluasi, dan penyempurnaan. Namun, tanpa keberanian untuk mencoba, perubahan akan sulit terjadi. Sikap inilah yang menurut saya patut dimiliki oleh setiap pendidik.

Dalam perjalanan sebagai blogger pendidikan, saya sering bertemu guru-guru dari berbagai daerah. Banyak di antara mereka yang awalnya merasa kesulitan menggunakan teknologi. Ada yang belum pernah membuat blog, belum terbiasa mengikuti webinar, bahkan belum percaya diri menggunakan aplikasi digital. Akan tetapi, setelah belajar bersama, mereka mampu menghasilkan karya luar biasa berupa artikel, buku, video pembelajaran, hingga media ajar digital.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kemauan untuk belajar. Guru yang terus belajar akan selalu menemukan cara baru untuk melayani murid-muridnya dengan lebih baik.

Perjalanan dunia pendidikan Indonesia juga mengajarkan bahwa kebijakan apa pun perlu terus dievaluasi. Kritik yang disampaikan secara santun dapat menjadi masukan yang berharga. Sebaliknya, apresiasi terhadap hal-hal yang berjalan baik juga penting agar semangat untuk terus memperbaiki pendidikan tidak pernah padam. Dengan demikian, budaya dialog yang sehat akan lebih bermanfaat daripada saling menyalahkan.

Sebagai bagian dari keluarga besar guru Indonesia, saya percaya bahwa masa depan pendidikan tidak hanya bergantung pada seorang menteri atau pemerintah semata. Masa depan pendidikan dibangun oleh jutaan guru yang setiap hari hadir di ruang kelas, membimbing siswa dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Mereka adalah pahlawan yang bekerja dalam senyap, menanamkan karakter, ilmu pengetahuan, dan harapan bagi generasi penerus bangsa.

Perjalanan saya mengajar juga membuktikan bahwa menulis menjadi salah satu cara terbaik untuk menyebarkan inspirasi. Dari sebuah tulisan sederhana di blog, saya dapat berbagi pengalaman kepada guru-guru di berbagai pelosok Indonesia. Dari kegiatan menulis pula lahir puluhan buku yang menjadi bagian dari perjalanan literasi saya. Semua itu tidak terjadi dalam semalam, melainkan melalui proses panjang yang diisi dengan belajar, mencoba, gagal, bangkit, dan terus berkarya.

Saya meyakini bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Ketika seorang guru berani mempelajari satu aplikasi baru, mencoba satu metode pembelajaran baru, atau menulis satu artikel setiap minggu, sesungguhnya ia sedang membangun masa depan pendidikan yang lebih baik. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan dampak yang besar.

Perjalanan Nadiem Makarim mengingatkan saya bahwa seorang pemimpin akan selalu menghadapi tantangan. Tidak mungkin semua pihak memiliki pandangan yang sama. Oleh karena itu, yang terpenting adalah bagaimana setiap kebijakan dievaluasi secara objektif berdasarkan manfaat, tantangan, dan dampaknya bagi peserta didik, guru, serta dunia pendidikan secara keseluruhan. Dari proses evaluasi itulah lahir perbaikan yang berkelanjutan.

Sebagai Omjay, saya memilih untuk terus optimistis. Saya ingin mengajak para guru agar tidak berhenti belajar, tidak takut menghadapi perubahan, dan tidak menyerah menghadapi tantangan zaman. Teknologi akan terus berkembang, tetapi nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan harus tetap menjadi fondasi utama. Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan pembimbing, motivator, dan teladan bagi para siswa.

Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, kesempatan berkarya semakin terbuka lebar. Guru dapat menulis buku, membuat video pembelajaran, membangun kelas digital, hingga berbagi inspirasi melalui media sosial. Semua itu akan memberikan manfaat apabila digunakan dengan bijaksana dan tetap mengutamakan etika, kejujuran, serta tanggung jawab.

Akhirnya, perjalanan Nadiem Makarim memberikan pelajaran bahwa perubahan adalah keniscayaan. Ada kebijakan yang diapresiasi, ada pula yang diperdebatkan, dan semuanya menjadi bagian dari dinamika pendidikan Indonesia. Yang terpenting bagi kita sebagai pendidik adalah terus belajar dari setiap pengalaman, menjaga semangat kolaborasi, serta menempatkan kepentingan peserta didik sebagai tujuan utama.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap guru memiliki kesempatan untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing. Selama kita mau belajar, mau berbagi, dan mau berkarya dengan hati, pendidikan Indonesia akan terus melangkah maju. Sebab pada akhirnya, perubahan terbesar bukan hanya lahir dari kebijakan, melainkan dari jutaan guru yang setiap hari bekerja dengan penuh dedikasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

1 komentar:

  1. Benar sekali bahwa kepemimpinan seseorang tidak semuanya menyukai tapi saya yakin bahwa niat baik untuk merubah paradigma pendidikan akan mendapat pahala dari Allah SWT. Sejatinya memang keberadaan manusia hendaklah memberikan manfaat bagi masyarakat lingkungan sekitarnya.
    Sebagai seorang pendidik saya merasakan imbas dari kepemimpinan beliau, mengambil pelajaran bahwa setiap guru tidak boleh berhenti belajar bukan hanya untuk kepentingan dirinya tapi juga untuk kepentingan muridnya dan tentu saja untuk kepentingan bangsa dan negara ini. Saya berharap meskipun kepemimpinan beliau sudah berakhir, namun semangat perubahan tetap ada bagi seluruh insan pendidikan di seluruh Indonesia demi Indonesia maju di masa depan.

    BalasHapus

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.