Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 03 November 2026

Menulis Dalam Kesibukan Bagaimana Caranya?

Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi




MENULIS DI TENGAH KESIBUKAN SEHARI-HARI: BAGAIMANA CARANYA?

Materi Pertemuan KBMN PGRI Gelombang 35

Selasa, 3 November 2026
Bersama Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pernahkah Anda merasa ingin menulis, tetapi selalu kehabisan waktu? Pagi hari sudah sibuk menyiapkan kebutuhan keluarga. Setelah itu berangkat bekerja, mengajar, menghadiri rapat, menyelesaikan administrasi, dan menjalankan berbagai aktivitas lainnya. Ketika malam tiba, tubuh sudah terasa lelah. Akhirnya, niat menulis kembali tertunda.

Besoknya begitu lagi. Minggu depan begitu lagi. Bahkan, tanpa terasa sudah berbulan-bulan kita tidak menghasilkan tulisan.

Apakah Anda pernah mengalami hal seperti itu?

Kalau pernah, berarti Anda tidak sendirian. Banyak guru, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan orang tua mengalami persoalan yang sama. Mereka sebenarnya ingin menulis, tetapi merasa tidak memiliki cukup waktu.

Pada kesempatan pertemuan KBMN PGRI Gelombang 35 tanggal 3 November 2026 ini, Omjay ingin mengajak kawan-kawan semua mengubah cara pandang. Sesungguhnya, masalah utama kita bukan selalu kekurangan waktu. Sering kali kita belum mampu mengatur waktu dan belum menjadikan menulis sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mari kita belajar bersama.

1. Jangan Menunggu Waktu Luang untuk Menulis

Kesalahan yang sering dilakukan calon penulis adalah menunggu waktu luang. Mereka berpikir bahwa menulis harus dilakukan ketika pekerjaan sudah selesai, rumah sudah rapi, anak-anak sudah tidur, dan semua urusan sudah beres.

Masalahnya, kapan semua itu selesai?

Dalam kehidupan sehari-hari, selalu ada pekerjaan baru yang menunggu. Guru selesai mengajar masih harus memeriksa tugas siswa. Orang tua selesai bekerja masih harus mengurus keluarga. Mahasiswa selesai kuliah masih harus mengerjakan tugas.

Karena itu, jangan menunggu waktu luang. Sisihkan waktu khusus untuk menulis.

Cobalah menyediakan waktu 10–15 menit setiap hari. Tidak perlu langsung menulis seribu kata. Cukup satu paragraf yang menceritakan pengalaman atau pemikiran kita.

Ingatlah, tulisan yang panjang selalu berawal dari kalimat pertama.

2. Manfaatkan Waktu-Waktu Kecil

Pernahkah Anda menunggu kendaraan umum? Menunggu rapat dimulai? Menunggu anak pulang sekolah? Atau menunggu antrean pelayanan?

Waktu-waktu kecil seperti itu sering kita abaikan. Padahal, jika dimanfaatkan, waktu tersebut bisa menjadi kesempatan untuk menulis.

Omjay sering mengingatkan bahwa menulis bisa dilakukan di mana saja. Kita bisa menggunakan telepon genggam untuk mencatat ide, membuat kerangka tulisan, atau menyusun beberapa kalimat.

Misalnya, ketika sedang berada di perjalanan menuju sekolah, tiba-tiba muncul ide tentang pentingnya pendidikan karakter. Jangan biarkan ide itu menghilang begitu saja.

Segera buka aplikasi catatan di ponsel, kemudian tuliskan beberapa kata kunci.

Contohnya:

· Pendidikan karakter di sekolah.

· Guru sebagai teladan.

· Siswa belajar dari kehidupan.

· Pentingnya kejujuran.

· Pengalaman menarik di kelas.

Lima kata kunci tersebut bisa berkembang menjadi sebuah artikel yang menarik.

Jadi, jangan meremehkan waktu lima menit. Kalau dimanfaatkan dengan baik, waktu lima menit bisa menjadi awal lahirnya sebuah karya.

3. Jadikan Pengalaman Sehari-hari sebagai Bahan Tulisan

Banyak orang menganggap bahwa menulis harus membahas sesuatu yang hebat, luar biasa, dan belum pernah ditulis orang lain.

Padahal, pengalaman sederhana juga bisa menjadi tulisan yang menarik.

Seorang guru bisa menulis tentang siswa yang datang terlambat, pengalaman mengajar di kelas, percakapan dengan kepala sekolah, atau kejadian lucu ketika pembelajaran berlangsung.

Seorang ibu bisa menulis tentang perjuangan menyiapkan sarapan keluarga. Seorang mahasiswa bisa menulis tentang pengalaman mengikuti perkuliahan. Bahkan, perjalanan menggunakan transportasi umum pun bisa menjadi bahan tulisan.

Omjay percaya bahwa setiap orang memiliki cerita. Tidak ada kehidupan yang benar-benar kosong dari pengalaman.

Persoalannya hanya satu: apakah kita mau memperhatikan dan menuliskannya?

Mulailah dengan pertanyaan sederhana:

· Apa pengalaman menarik yang saya alami hari ini?

· Apa pelajaran yang saya dapatkan?

· Siapa orang yang menginspirasi saya hari ini?

· Peristiwa apa yang membuat saya tersenyum?

· Apa masalah yang berhasil saya selesaikan?

Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat menjadi bahan tulisan.

4. Gunakan Rumus 3M: Menulis, Membaca, dan Membagikan

Dalam perjalanan Omjay sebagai Guru Blogger Indonesia, ada kebiasaan yang terus dijaga, yaitu menulis dan membaca setiap hari.

Kita bisa menggunakan rumus sederhana 3M.

Pertama, Menulis.

Tuliskan pengalaman, gagasan, pendapat, atau pengetahuan yang kita miliki. Jangan terlalu sibuk memikirkan kesempurnaan tulisan pada tahap awal.

Kedua, Membaca.

Bacalah buku, artikel, berita, atau tulisan orang lain. Membaca akan memperkaya kosakata dan memberikan inspirasi baru.

Ketiga, Membagikan.

Bagikan tulisan melalui blog, Kompasiana, media sosial, atau platform lainnya. Dengan membagikan tulisan, kita memberikan kesempatan kepada orang lain untuk membaca dan mengambil manfaat.

Jangan takut tulisan kita belum sempurna. Penulis yang baik bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan orang yang terus belajar memperbaiki tulisannya.

5. Manfaatkan Kecerdasan Buatan (AI) sebagai Asisten Menulis

Kita hidup pada zaman ketika teknologi berkembang sangat cepat. Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dapat membantu pekerjaan menulis.

Namun, AI bukan pengganti pemikiran manusia. AI sebaiknya kita jadikan asisten untuk membantu mengembangkan ide.

Misalnya, ketika kita memiliki pengalaman mengajar tetapi bingung membuat judul, kita bisa meminta bantuan AI.

Contoh prompt:

"Bantu saya membuat lima judul artikel menarik tentang pengalaman seorang guru yang mengajar di tengah kesibukan sehari-hari. Gunakan bahasa yang sederhana, inspiratif, dan menyentuh hati."

Setelah mendapatkan judul, kita dapat meminta bantuan AI membuat kerangka tulisan.

Selanjutnya, masukkan pengalaman pribadi, pemikiran, dan sudut pandang kita sendiri.

Ingat, pengalaman adalah milik kita. AI tidak pernah mengalami kehidupan kita secara langsung. Karena itu, jangan menyerahkan seluruh proses menulis kepada mesin.

Gunakan AI untuk membantu, bukan untuk menggantikan kreativitas dan tanggung jawab kita sebagai penulis.

6. Buat Jadwal Menulis yang Realistis

Menulis setiap hari tidak berarti harus menghasilkan artikel panjang setiap hari.

Kita perlu membuat target yang masuk akal sesuai dengan kesibukan masing-masing.

Berikut contoh jadwal sederhana yang dapat diterapkan peserta KBMN PGRI Gelombang 35.

Waktu

Kegiatan

Pagi 05.00–05.15

Mencatat ide tulisan

Siang 12.00–12.10

Membaca dan mencari referensi

Sore 16.00–16.15

Mengembangkan paragraf

Malam 20.00–20.20

Menyunting dan menyelesaikan tulisan

Jadwal tersebut bukan aturan yang harus diikuti semua orang. Silakan menyesuaikannya dengan pekerjaan, kondisi keluarga, dan aktivitas masing-masing.

Yang paling penting adalah konsistensi.

Lebih baik menulis 100 kata setiap hari daripada menulis 1.000 kata sekali sebulan, kemudian berhenti karena kehabisan semangat.

7. Jangan Menunggu Tulisan Sempurna

Ada satu penyakit yang sering menghambat penulis pemula, yaitu terlalu ingin menghasilkan tulisan sempurna.

Baru menulis satu paragraf sudah dihapus. Baru mendapatkan judul sudah diganti. Baru menulis tiga kalimat sudah merasa tulisannya tidak bagus.

Akhirnya, tidak ada tulisan yang selesai.

Omjay ingin mengingatkan bahwa tulisan pertama tidak harus sempurna. Tulisan pertama harus selesai terlebih dahulu.

Setelah selesai, barulah kita membaca ulang, memperbaiki ejaan, menyusun paragraf, dan menyempurnakan isinya.

Jangan sampai keinginan menghasilkan tulisan yang sempurna justru membuat kita tidak pernah menerbitkan satu tulisan pun.

Menulis adalah keterampilan yang tumbuh melalui latihan. Semakin sering kita menulis, semakin terasah kemampuan kita.

8. Tantangan Menulis: Satu Hari Satu Cerita

Kawan-kawan peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang Omjay banggakan, sekarang saatnya kita mempraktikkan materi ini.

Omjay memberikan tantangan sederhana.

Selama tujuh hari ke depan, tulislah satu cerita setiap hari berdasarkan pengalaman nyata.

Tema yang bisa dipilih antara lain:

1. Kesibukan saya sebagai guru setiap hari.

2. Pengalaman mengatur waktu antara pekerjaan dan keluarga.

3. Peristiwa kecil yang memberikan pelajaran besar.

4. Pengalaman menulis di tengah kesibukan.

5. Cara saya menemukan ide tulisan.

6. Pengalaman menggunakan AI untuk membantu menulis.

7. Mengapa saya ingin menjadi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.