Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 18 Maret 2026

Omjay Menulis Bukan Karena Uang

Menulis Bukan Karena Uang, Tapi Karena Ridho Allah: Kisah Sunyi Omjay yang Menggetarkan Hati

Di sebuah malam yang sunyi di bulan Ramadan, ketika sebagian orang terlelap dalam mimpi, Omjay justru terjaga. Bukan karena pekerjaan kantor, bukan pula karena tuntutan deadline berbayar. Ia duduk di depan laptop sederhana, ditemani secangkir teh hangat yang mulai mendingin, dan satu niat yang tak pernah berubah: menulis karena mengharap ridho Allah.

Sudah puluhan tahun Omjay menjadi guru. Mengajar, mendidik, membimbing. Tapi ada satu hal yang selalu menjadi bagian dari jiwanya—menulis. Banyak orang bertanya, “Apa untungnya menulis setiap hari? Dapat berapa?” Omjay hanya tersenyum.

Baginya, menulis bukan soal uang.

Ia pernah merasakan masa ketika tulisannya tidak dibayar. Bahkan seringkali hanya dibaca segelintir orang. Tak viral, tak trending. Tapi setiap kata yang ia rangkai, ia niatkan sebagai amal jariyah. Ia percaya, satu tulisan yang bermanfaat bisa menjadi cahaya di alam kubur kelak.

“Kalau kita menulis karena uang, maka kita akan berhenti saat uang itu tidak ada. Tapi kalau kita menulis karena Allah, kita akan terus menulis sampai napas terakhir,” begitu prinsip yang selalu ia pegang.

Di tengah kondisi tubuh yang tak lagi muda—darah tinggi, diabetes, bahkan vertigo yang kadang datang tiba-tiba—Omjay tetap menulis. Pernah suatu hari, kepalanya terasa berputar hebat. Ia harus membatalkan puasa karena tak kuat. Namun di sela istirahatnya, ia masih sempat menulis beberapa paragraf.

Bukan karena dipaksa. Bukan karena dikejar target.

Tapi karena hatinya gelisah jika tidak berbagi kebaikan.

Bagi Omjay, menulis adalah ibadah. Sama seperti salat, zakat, dan sedekah. Bedanya, tulisan bisa menembus ruang dan waktu. Bisa dibaca oleh orang yang tak pernah ia kenal, di tempat yang jauh, bahkan setelah ia tiada.

Ia sering membayangkan, mungkin suatu hari nanti ada seorang guru yang lelah membaca tulisannya, lalu kembali bersemangat mengajar. Atau seorang siswa yang hampir menyerah, menemukan harapan dari kisah yang ia tulis.

Bukankah itu pahala yang luar biasa?

Di era digital seperti sekarang, banyak orang berlomba-lomba menulis demi popularitas. Judul dibuat sensasional, isi kadang kehilangan makna. Semua demi klik, view, dan rupiah. Omjay tidak menyalahkan. Itu pilihan.

Tapi ia memilih jalan yang berbeda.

Ia menulis dengan hati.

Ia menulis dengan doa.

Ia menulis dengan harapan, setiap huruf yang ia ketik menjadi saksi di hadapan Allah bahwa ia pernah berusaha menebar kebaikan.

Pernah suatu ketika, seorang pembaca mengirim pesan singkat kepadanya. Isinya sederhana, “Tulisan Bapak membuat saya tidak jadi menyerah hari ini. Terima kasih.”

Omjay terdiam lama membaca pesan itu. Matanya berkaca-kaca. Hatinya bergetar.

Ia sadar, inilah “bayaran” yang sesungguhnya.

Bukan angka di rekening. Bukan honorarium dari media.

Tapi kebermanfaatan.

Dan dari situlah ia semakin yakin, bahwa jalan yang ia pilih tidak salah. Menulis bukan sekadar aktivitas, tapi misi hidup.

Ia tidak tahu sampai kapan Allah memberinya kesempatan untuk terus menulis. Tapi selama jari-jarinya masih bisa bergerak, selama pikirannya masih bisa merangkai kata, ia akan terus menulis.

Bukan karena uang.

Tapi karena cinta kepada Allah.

Karena ia percaya, di akhirat nanti, mungkin ia tidak membawa harta yang banyak. Tapi ia berharap membawa amal dari tulisan-tulisan sederhana yang pernah ia buat.

Tulisan yang mungkin dianggap remeh oleh dunia, tapi bernilai besar di sisi-Nya.

Penutup:

Dan ketika suatu hari nanti Omjay tak lagi menulis, semoga setiap kata yang pernah ia titipkan di dunia ini tetap hidup… menjadi doa yang tak pernah putus, menjadi cahaya yang menerangi jalannya menuju ridho Allah.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.