Reuni Dadakan Alumni FPTK IKIP Jakarta di Rumah Omjay: Hangatnya Persaudaraan yang Tak Lekang oleh Waktu
Sore itu, langit di Jatibening Indah, Bekasi, tampak sedikit mendung. Namun, suasana di rumah Omjay atau Dr. Wijaya Kusumah justru terasa hangat dan penuh keceriaan. Tanpa perencanaan panjang, tanpa undangan resmi yang mewah, sebuah reuni dadakan alumni FPTK IKIP Jakarta terselenggara dengan penuh makna.
Semua berawal dari pesan singkat di grup WhatsApp alumni IKIP Jakarta. “Bagaimana kalau kita silaturahmi ke rumah Omjay?” tulis salah satu alumni. Tanpa banyak basa-basi, satu per satu anggota grup merespons dengan antusias. Dalam hitungan jam, rencana sederhana itu berubah menjadi kenyataan.
Omjay, yang dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia, menyambut kabar itu dengan hati terbuka. Rumahnya di Jatibening Indah pun dipersiapkan seadanya, tanpa kemewahan, namun penuh keikhlasan. Baginya, yang terpenting bukanlah hidangan yang tersaji, melainkan kehadiran sahabat-sahabat lama yang pernah berjuang bersama di bangku kuliah.
Menjelang magrib, satu per satu alumni mulai berdatangan. Ada yang datang dari Jakarta, Bekasi, bahkan dari luar kota. Wajah-wajah yang dulu muda kini tampak lebih matang, namun senyum dan canda mereka tetap sama seperti puluhan tahun lalu.
“Masih ingat tugas bengkel yang bikin kita begadang?” celetuk salah satu alumni, disambut gelak tawa yang pecah di ruang tamu. Kenangan masa kuliah di FPTK IKIP Jakarta seakan kembali hidup. Mereka mengenang dosen-dosen yang tegas namun penuh dedikasi, praktikum yang melelahkan, hingga perjuangan menyelesaikan skripsi.
Omjay sendiri tampak sangat bahagia. Ia menyambut setiap tamu dengan pelukan hangat. Baginya, momen ini bukan sekadar reuni, melainkan pengingat bahwa persahabatan sejati tidak pernah lekang oleh waktu.
Di ruang tengah, obrolan mengalir tanpa henti. Ada yang berbagi cerita tentang karier sebagai guru, ada yang sukses di dunia usaha, bahkan ada yang telah pensiun namun tetap aktif berkarya. Perjalanan hidup masing-masing alumni begitu beragam, namun satu hal yang sama: mereka semua pernah ditempa oleh pendidikan di IKIP Jakarta.
Salah satu momen yang paling mengharukan adalah ketika mereka sholat maghrib berjamaah dan saling mendoakan. Dalam suasana sederhana, penuh keakraban, mereka menengadahkan tangan, memohon kepada Tuhan agar persaudaraan ini tetap terjaga hingga akhir hayat.
“Dulu kita hanya mahasiswa biasa, penuh mimpi dan harapan. Sekarang kita sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup masing-masing. Tapi hari ini, kita kembali menjadi diri kita yang dulu,” ujar salah satu alumni dengan mata berkaca-kaca.
Hidangan sederhana pun tersaji di meja makan. Tidak ada menu mewah, hanya masakan rumahan yang dimasak dengan penuh cinta. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Mereka makan bersama, saling bercanda, seolah waktu berhenti sejenak.
Anak-anak dan istri Omjay yang melihat suasana itu pun ikut merasakan kehangatan. Mereka menyaksikan bagaimana ayahnya memiliki begitu banyak sahabat yang setia. Sebuah pelajaran berharga tentang arti persahabatan sejati.
Reuni dadakan ini juga menjadi pengingat penting bahwa di tengah kesibukan hidup, manusia tetap membutuhkan waktu untuk kembali pada akar—pada orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Tak terasa, malam semakin larut. Namun tak satu pun yang ingin segera pulang. Obrolan terus berlanjut, bahkan hingga larut malam. Mereka seakan enggan berpisah, karena sadar bahwa momen seperti ini tidak datang setiap saat.
Sebelum berpisah, mereka sepakat untuk tidak menunggu waktu lama untuk bertemu kembali. “Jangan tunggu reuni resmi. Yang penting kita tetap terhubung,” kata Omjay penuh harap.
Malam itu, di sebuah rumah sederhana di Jatibening Indah, telah terukir sebuah kenangan indah. Reuni dadakan yang mungkin tidak direncanakan secara matang, namun justru menjadi sangat berkesan.
Dari pertemuan itu, kita belajar bahwa persahabatan sejati tidak membutuhkan undangan resmi, tidak membutuhkan tempat mewah, dan tidak membutuhkan acara besar. Cukup dengan niat tulus untuk bertemu dan saling menyapa, maka kebahagiaan akan hadir dengan sendirinya.
Reuni itu bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang mensyukuri perjalanan hidup yang telah dilalui. Tentang bagaimana waktu telah mengubah banyak hal, namun tidak pernah mampu menghapus kenangan indah yang pernah tercipta.
Dan di rumah Omjay malam itu, semua orang pulang dengan hati yang hangat, membawa kembali semangat persahabatan yang mungkin sempat terlupakan oleh rutinitas kehidupan.
Karena pada akhirnya, yang paling berharga dalam hidup ini bukanlah apa yang kita miliki, melainkan siapa yang tetap bersama kita, meski waktu terus berlalu.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.