Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 04 November 2026

kisah omjay; Menulis Sebelum Mata Terpejam

Menulis Sebelum Mata Terpejam: Kisah Omjay Mengajak Guru Mengabadikan Kehidupan Menjadi Buku

Jangan biarkan hari-harimu berlalu begitu saja. Sebab, setiap hari menyimpan cerita, setiap cerita menyimpan kenangan, dan setiap kenangan layak diabadikan menjadi tulisan.

Malam itu, Senin, 4 November 2026, suasana grup WhatsApp KBMN PGRI Gelombang 35 kembali ramai oleh pesan-pesan sederhana dari Omjay, Guru Blogger Indonesia.

Seperti biasa, Omjay menyapa bapak dan ibu peserta dengan salam penuh kehangatan.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

"Selamat malam bapak dan ibu semuanya."

Mungkin bagi sebagian orang, sapaan itu hanya pesan biasa di sebuah grup WhatsApp. Namun, bagi Omjay, ada harapan besar di balik setiap pesan yang dikirimkan. Ada keinginan agar para guru tidak sekadar menjalani kehidupan, tetapi juga mampu mengabadikan perjalanan hidupnya melalui tulisan.

Tak terasa, bulan November sudah memasuki hari keempat. Empat hari telah berlalu. Berapa banyak cerita yang sudah kita alami? Berapa banyak pengalaman yang sudah kita lalui? Dan berapa banyak di antaranya yang sempat kita tuliskan?

Pernahkah kita membayangkan bahwa suatu hari nanti anak dan cucu kita ingin mengetahui bagaimana kehidupan kita hari ini?

Mereka mungkin ingin tahu bagaimana kakek dan neneknya berjuang menjadi guru. Bagaimana dahulu mengajar dengan segala keterbatasan. Bagaimana menghadapi murid yang sulit diatur. Bagaimana menangis karena kecewa, tertawa karena bahagia, dan tetap bertahan meskipun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Sayangnya, semua kenangan itu bisa hilang apabila tidak pernah dituliskan.

Itulah sebabnya Omjay mengajak peserta KBMN PGRI Gelombang 35 melakukan refleksi diri setiap malam melalui kegiatan menulis.

Hal tersulit dalam menulis adalah memulai

Dalam pesan WhatsApp malam itu, Omjay menuliskan sebuah kalimat yang sederhana, tetapi sangat bermakna.

"Apakah yang sulit dari menulis? Hal yang sulit dari menulis adalah MEMULAI."

Benar sekali.

Banyak orang ingin menjadi penulis. Banyak guru ingin mempunyai buku sendiri. Banyak peserta pelatihan ingin melihat namanya tercetak di sampul sebuah buku.

Namun, ketika diminta menulis, tiba-tiba muncul seribu alasan.

Tidak punya waktu. Tidak punya ide. Takut salah. Takut tulisan jelek. Bingung mencari kalimat pertama. Bahkan ada yang merasa dirinya tidak berbakat menulis.

Padahal, tidak ada penulis hebat yang langsung menghasilkan tulisan sempurna pada awal perjalanan.

Semua penulis pernah menjadi pemula.

Mereka pernah menatap layar komputer tanpa tahu harus menulis apa. Mereka pernah menghapus kalimat yang sudah dibuat. Mereka pernah merasa tulisannya tidak menarik. Bahkan mungkin pernah merasa tidak ada seorang pun yang mau membaca karyanya.

Tetapi ada satu hal yang membedakan penulis dengan orang yang hanya ingin menjadi penulis.

Penulis mau memulai.

Omjay ingin bapak dan ibu memahami bahwa menulis tidak harus menunggu suasana hati menjadi baik. Tidak harus menunggu ide datang seperti hujan. Tidak harus menunggu waktu luang yang entah kapan akan tersedia.

Mulailah sekarang.

Tulislah satu paragraf. Kemudian satu halaman. Besok satu halaman lagi.

Lama-kelamaan, tulisan itu akan terkumpul menjadi sebuah buku.

Dari blog sederhana menjadi buku yang bermakna

Omjay bukanlah orang yang tiba-tiba bisa menghasilkan buku setiap bulan.

Ada perjalanan panjang di balik kebiasaan menulis setiap hari.

Sejak tahun 2007, Omjay mulai menekuni dunia blog. Salah satu rumah digital yang menjadi tempatnya menyimpan cerita adalah:

https://wijayalabs.blogspot.com

Di blog itulah Omjay menuliskan berbagai pengalaman hidup, kegiatan mengajar, perjalanan, pemikiran tentang pendidikan, serta berbagai peristiwa yang dialami setiap hari.

Kadang tulisannya sederhana. Kadang hanya menceritakan kejadian kecil yang mungkin dianggap tidak penting oleh orang lain.

Namun, Omjay percaya bahwa sesuatu yang kecil hari ini bisa menjadi kenangan yang sangat berharga pada masa depan.

Dari tanggal 1 sampai 31 Oktober 2026, Omjay mengajak peserta KBMN PGRI Gelombang 35 menulis setiap hari di blog masing-masing.

Sebulan penuh bukanlah waktu yang sebentar.

Ada hari ketika ide mengalir deras. Ada pula hari ketika kepala terasa kosong. Ada hari ketika pekerjaan menumpuk. Ada pula hari ketika tubuh sudah lelah setelah seharian mengajar dan menjalankan berbagai kegiatan.

Tetapi Omjay terus berusaha memberikan contoh.

Sebab Omjay tidak ingin hanya menyuruh orang lain menulis, sementara dirinya sendiri berhenti menulis.

Apa hasilnya?

Tulisan-tulisan yang dikumpulkan selama Oktober itu kini mulai menjelma menjadi sebuah buku.

Dari tulisan harian menjadi kumpulan artikel. Dari kumpulan artikel menjadi naskah buku. Dari naskah buku menjadi sebuah karya yang bisa dibaca oleh banyak orang.

Inilah keajaiban konsistensi.

Bayangkan jika kebiasaan itu terus dilakukan selama setahun.

Satu bulan menghasilkan satu buku. Dua belas bulan menghasilkan dua belas buku.

Tentu semuanya membutuhkan proses penyuntingan, pemilihan tulisan, dan penyempurnaan naskah. Namun, bukankah perjalanan panjang selalu dimulai dari satu langkah kecil?

Kita tidak harus menjadi orang pintar untuk mulai menulis

Omjay pernah mengingat sebuah pesan dari almarhum Nusa Putra.

Tidak dibutuhkan otak untuk bisa menulis. Kita hanya perlu duduk sebentar dan mulai menulis.

Pesan itu mengingatkan Omjay bahwa menulis bukanlah kegiatan yang hanya boleh dilakukan oleh orang-orang dengan gelar tinggi atau mereka yang memiliki kecerdasan luar biasa.

Setiap orang mempunyai pengalaman.

Seorang guru mempunyai cerita tentang muridnya. Seorang kepala sekolah mempunyai pengalaman memimpin sekolah. Seorang ibu mempunyai kisah tentang perjuangan membesarkan anak. Seorang ayah mempunyai cerita tentang tanggung jawab dan pengorbanan.

Bahkan seorang murid pun mempunyai pengalaman yang layak dituliskan.

Tidak ada kehidupan yang benar-benar kosong dari cerita.

Terkadang, hal yang paling menyentuh justru bukan pengalaman yang luar biasa, melainkan kejadian sederhana yang dilakukan dengan penuh cinta.

Seorang murid yang datang terlambat tetapi tetap berusaha belajar. Seorang guru yang rela pulang sore demi membimbing siswanya. Seorang anak yang diam-diam menyimpan tulisan tangan ibunya. Atau seorang ayah yang tetap tersenyum meskipun sedang menyimpan banyak persoalan.

Semua itu adalah bahan tulisan.

Jangan menunggu menjadi terkenal untuk mulai menulis. Jangan menunggu menjadi profesor untuk menerbitkan buku. Jangan menunggu mendapatkan penghargaan untuk mengabadikan pengalaman.

Tulislah karena kehidupan kita berharga.

AI membantu, tetapi hati manusia tetap menjadi sumber cerita

Pada malam itu, Omjay juga mengingatkan peserta tentang perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).

Sekarang, menulis semakin mudah dengan bantuan teknologi.

Kita bisa menggunakan ChatGPT melalui https://chatgpt.com untuk mencari ide, membuat kerangka tulisan, memperbaiki kalimat, menyusun judul, dan membantu mengembangkan sebuah cerita.

Dahulu, seseorang mungkin membutuhkan waktu berjam-jam hanya untuk menemukan kalimat pembuka. Sekarang, teknologi dapat membantu memberikan beberapa alternatif.

Namun, Omjay ingin mengingatkan satu hal penting.

Jangan sampai kita menyerahkan seluruh pikiran dan perasaan kepada kecerdasan buatan.

AI boleh membantu menyusun kata, tetapi pengalaman hidup tetap milik kita. AI boleh membantu memperbaiki tulisan, tetapi kejujuran cerita harus datang dari hati manusia.

Jangan sampai tulisan kita kehilangan jiwa karena terlalu sibuk mengejar kesempurnaan bahasa.

Tulislah pengalaman sendiri. Ceritakan apa yang benar-benar kita rasakan. Gunakan AI sebagai teman belajar, bukan sebagai pengganti diri kita.

Sebab tulisan yang menyentuh hati pembaca bukan hanya tulisan yang memiliki tata bahasa sempurna, tetapi tulisan yang memiliki kejujuran dan rasa.

Jangan biarkan kenangan kita hilang bersama waktu

Ada satu hal yang sering membuat Omjay berpikir.

Suatu hari nanti, kita semua akan menjadi bagian dari masa lalu.

Rambut yang sekarang masih hitam perlahan memutih. Tubuh yang sekarang masih kuat suatu saat membutuhkan bantuan. Anak-anak yang sekarang masih kecil akan tumbuh dewasa. Murid-murid yang dahulu kita ajar akan menjalani kehidupan mereka sendiri.

Waktu tidak pernah berhenti.

Kita tidak bisa meminta hari kemarin kembali. Kita tidak bisa mengulang percakapan yang sudah berlalu. Kita juga tidak bisa memanggil kembali seseorang yang sudah mendahului kita.

Tetapi kita masih bisa menyimpan kenangan melalui tulisan.

Bayangkan suatu hari nanti cucu kita membuka sebuah buku karya kakeknya.

Ia membaca halaman demi halaman. Ia menemukan cerita tentang perjuangan kakeknya menjadi guru. Ia mengetahui bagaimana kakeknya belajar teknologi, menulis blog, membimbing guru-guru, dan mengajak banyak orang untuk terus belajar.

Mungkin saat membaca tulisan itu, ia akan tersenyum.

Mungkin ia juga akan meneteskan air mata.

Ia akan berkata dalam hati, "Ternyata dahulu kakek pernah mengalami banyak hal. Ternyata kakek juga pernah lelah, pernah gagal, pernah sedih, tetapi tidak pernah berhenti berjuang."

Bukankah itu sebuah warisan yang luar biasa?

Rumah, kendaraan, dan harta benda mungkin suatu saat akan berpindah tangan. Namun, pengalaman dan nilai kehidupan yang kita tuliskan dapat terus dibaca oleh generasi berikutnya.

Itulah alasan Omjay ingin setiap guru meninggalkan jejak digital yang baik.

Bukan untuk mengejar popularitas. Bukan pula semata-mata agar mendapatkan penghargaan.

Melainkan agar kehidupan yang kita jalani tidak berlalu begitu saja tanpa meninggalkan pelajaran.

Pesan Omjay untuk peserta KBMN PGRI Gelombang 35

Bapak dan ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang Omjay banggakan.

Jangan pernah merasa terlambat untuk menulis.

Jika hari ini belum mampu menghasilkan satu halaman, tulislah satu paragraf. Jika belum mampu menulis satu paragraf, tulislah satu kalimat.

Jika hari ini hanya mampu menulis tentang rasa lelah, tuliskanlah rasa lelah itu.

Jika hari ini mengalami kegagalan, ceritakanlah kegagalan itu.

Jika hari ini mendapatkan kebahagiaan, abadikanlah kebahagiaan itu.

Jangan malu dengan tulisan pertama kita. Jangan takut dengan komentar orang lain. Jangan membandingkan perjalanan kita dengan penulis yang sudah menghasilkan puluhan buku.

Setiap orang mempunyai waktunya sendiri.

Omjay juga masih terus belajar. Masih terus membaca. Masih terus menulis. Masih terus memperbaiki diri.

Sebab menjadi penulis bukan berarti sudah mengetahui segalanya. Menjadi penulis berarti bersedia belajar sepanjang hayat.

Malam ini, sebelum mata terpejam, cobalah mengambil telepon genggam atau membuka laptop.

Tuliskan satu pengalaman yang paling berkesan hari ini.

Tidak perlu panjang. Tidak perlu sempurna. Yang penting jujur dan berasal dari hati.

Siapa tahu tulisan sederhana yang kita buat malam ini akan menjadi bagian dari buku yang kelak dibaca anak cucu kita.

Dan siapa tahu, suatu hari nanti, seseorang akan tersenyum sambil membaca tulisan kita, lalu berkata:

"Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu. Terima kasih, Guru. Karena engkau pernah menulis, kami masih bisa mengenal perjalanan hidupmu."

Omjay ingin menutup tulisan ini dengan sebuah pesan sederhana.

Jangan hanya menjalani kehidupan. Abadikanlah kehidupan melalui tulisan.

Sebab usia manusia ada batasnya, tetapi tulisan yang baik bisa melampaui usia penulisnya.

Teruslah menulis setiap hari. Mulailah sedikit demi sedikit. Jangan menyerah hanya karena hari ini belum ada yang membaca tulisan kita.

Bisa jadi, tulisan yang kita buat hari ini belum dibaca siapa-siapa. Namun, bertahun-tahun kemudian, tulisan itulah yang akan membuat seseorang mengenang kita dengan penuh cinta.

Salam blogger persahabatan.

Omjay Guru Blogger Indonesia

Blog: https://wijayalabs.com

Blog menulis harian: https://wijayalabs.blogspot.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.