Omjay: Guru Blogger Indonesia yang Mudah Dikenali, Mudah Dipahami, dan Sulit Dilupakan
Bismillah.
Mengenal sosok Dr. Wijaya Kusumah atau yang akrab disapa Omjay memang tidaklah sulit. Bahkan, dalam keramaian sebuah seminar atau pelatihan guru sekalipun, beliau begitu mudah dikenali. Perawakannya yang khas, gaya berpakaian yang berbeda dari kebanyakan orang, ditambah dengan gaya bicara yang jenaka, membuat siapa pun cepat akrab. Namun sesungguhnya, yang membuat Omjay berbeda bukanlah sekadar penampilan fisik atau gaya komunikasinya. Yang membuatnya istimewa adalah konsistensinya dalam berkarya dan berbagi.
Saya mengenal Omjay sudah lama, jauh sebelum istilah “guru influencer” atau “content creator pendidikan” menjadi tren. Perkenalan itu berawal dari komunitas guru IT. Saat itu, banyak dari kami masih belajar memahami dasar-dasar teknologi informasi. Pengetahuan IT kami masih standar—cukup untuk mengajar, tetapi belum sampai pada tahap menginspirasi. Di tengah keterbatasan itu, Omjay hadir dengan kemampuan dan pengalaman yang terasa “jauh di atas rata-rata”.
Namun yang menarik, ia tidak pernah membuat jarak.
Sebaliknya, ia justru merangkul. Ia menjelaskan hal-hal yang rumit dengan bahasa sederhana. Ia mengajarkan teknologi tanpa membuat orang lain merasa bodoh. Ia berbagi pengalaman tanpa membuat orang lain merasa kecil. Di situlah saya menyadari bahwa menjadi ahli bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga soal kerendahan hati.
Sebagai seorang guru IT dan juga trainer, penyajian materi Omjay sangat mudah dicerna. Ia tidak sekadar menyampaikan teori, tetapi membumikan praktik. Ketika banyak pelatihan terasa kaku dan penuh istilah teknis, Omjay justru menghadirkan suasana santai, penuh humor, tetapi tetap berbobot. Gaya bahasanya yang ringan membuat peserta pelatihan merasa nyaman. Kita tahu kapan harus serius, dan kapan boleh tertawa.
Namun ada satu hal yang paling membuat saya takjub: kemampuannya menulis.
Entah bagaimana caranya, hampir semua kegiatan Omjay bisa tertuang dalam tulisan. Dari aktivitas bangun tidur, perjalanan ke sekolah, pengalaman mengajar, diskusi dengan rekan guru, hingga refleksi sebelum tidur—semuanya bisa menjadi artikel. Dan bukan artikel biasa. Tulisan-tulisan itu hidup. Mengalir. Dekat dengan pembaca.
Banyak orang berkata ingin menulis, tetapi menunggu inspirasi. Omjay tidak menunggu inspirasi. Ia menciptakan inspirasi dari kehidupan sehari-hari. Baginya, hidup adalah bahan tulisan. Setiap peristiwa adalah pelajaran. Setiap pengalaman adalah hikmah.
Konon, jumlah tulisannya bukan lagi puluhan. Bukan ratusan. Bisa jadi sudah ribuan. Ia membuktikan bahwa menulis bukan soal bakat semata, tetapi soal kebiasaan. “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi,” begitu prinsip yang sering ia gaungkan. Dan ia sendiri adalah bukti nyata dari kalimat itu.
Di tengah era digital yang serba cepat, banyak orang sibuk membuat konten demi popularitas. Namun Omjay menulis bukan untuk viral. Ia menulis untuk berbagi. Ia menulis untuk mendokumentasikan perjalanan hidup. Ia menulis untuk menginspirasi sesama guru agar berani berkarya.
Sebagai Guru Blogger Indonesia, Omjay telah menjadi contoh bahwa guru tidak hanya mengajar di kelas. Guru juga bisa mengajar melalui tulisan. Guru bisa membangun literasi digital. Guru bisa menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Yang membuatnya semakin istimewa adalah kemudahannya diajak berkomunikasi. Tidak ada sekat senioritas. Tidak ada jarak antara “yang sudah ahli” dan “yang masih belajar”. Siapa pun yang ingin bertanya, berdiskusi, atau sekadar menyapa, akan dilayani dengan ramah. Sikap inilah yang membuat banyak guru merasa dekat dengannya.
Dalam dunia pendidikan yang sering kali dipenuhi tekanan administrasi dan tuntutan kurikulum, kehadiran sosok seperti Omjay adalah oase. Ia mengingatkan bahwa menjadi guru harus tetap bahagia. Harus tetap kreatif. Harus tetap mau belajar.
Menariknya lagi, Omjay tidak hanya berbicara tentang teknologi. Ia juga berbicara tentang kehidupan. Tentang perjuangan. Tentang makna menjadi pendidik. Tulisan-tulisannya sering kali menyentuh sisi spiritual dan kemanusiaan. Ia menyadari bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter.
Banyak guru mungkin merasa kemampuan IT-nya biasa saja. Merasa belum layak disebut ahli. Namun dari Omjay kita belajar bahwa perjalanan setiap orang berbeda. Yang penting bukan seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa konsisten kita melangkah.
Saya pribadi merasakan manfaat besar dari mengenal beliau. Dari sekadar anggota komunitas guru IT, saya belajar bahwa berbagi ilmu tidak harus menunggu sempurna. Bahwa menulis tidak harus menunggu waktu luang. Bahwa teknologi bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dimanfaatkan.
Omjay mudah dikenali. Mudah dipahami. Mudah diajak berkomunikasi. Namun dampaknya tidak sederhana. Ia telah menggerakkan banyak guru untuk mulai menulis. Ia telah membangkitkan semangat literasi di kalangan pendidik. Ia telah menunjukkan bahwa guru bisa tetap relevan di era digital.
Di balik gaya jenakanya, ada kerja keras yang tidak semua orang lihat. Di balik tulisannya yang mengalir, ada disiplin yang kuat. Di balik kesederhanaannya, ada visi besar untuk pendidikan Indonesia.
Semoga Omjay selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk terus berkarya. Semoga semangatnya menular ke lebih banyak guru di seluruh nusantara. Dan semoga kita semua bisa belajar satu hal penting darinya: bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menulis sejarah hidup kita sendiri.
Sehat dan sukses selalu, Omjay. Terima kasih telah menjadi inspirasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.