Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Jumat, 20 Februari 2026

Ketika Doa Belum Dijawab

Judul: Ketika Doa Belum Dijawab: Belajar Sabar dan Husnuzan di Bulan Ramadhan

Ramadhan selalu datang membawa cahaya. Ia mengetuk hati yang lama terdiam, membangunkan jiwa yang mulai lelah, dan mengajarkan kembali makna sabar serta husnuzan kepada Allah SWT. Di bulan yang penuh ampunan ini, doa-doa melangit lebih sering dari biasanya. Tangan-tangan terangkat lebih lama, air mata lebih mudah jatuh, dan harapan terasa begitu dekat.

Namun ada satu fase yang sering membuat hati gelisah: ketika doa belum juga dikabulkan.

Setiap doa yang terucap membawa harapan. Kita memohon dengan sungguh-sungguh. Kita menyebut nama Allah dengan penuh keyakinan. Tetapi waktu berjalan, hari berganti, dan kenyataan belum berubah. Dalam keheningan itulah muncul bisikan kecil di hati, “Mengapa belum juga?”

Padahal Allah Maha Mendengar. Bahkan sebelum doa itu terucap, Allah sudah mengetahui isi hati kita. Yang sering kali perlu diperbaiki bukan keyakinan kepada Allah, tetapi kesabaran kita dalam menunggu cara dan waktu-Nya bekerja.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa doa seorang hamba akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa dan berkata, “Aku sudah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.” Tergesa-gesa adalah tanda bahwa hati mulai kehilangan sabar. Kita ingin jawaban cepat, padahal Allah menyiapkan yang tepat.

Sabar Bukan Berarti Diam

Sabar dalam doa bukan berarti pasif. Sabar bukan berarti berhenti berusaha. Justru sabar adalah kombinasi antara ikhtiar maksimal dan hati yang tetap tenang.

Kita tetap bekerja keras. Tetap memperbaiki diri. Tetap memperbanyak amal. Namun kita menjaga hati agar tidak berprasangka buruk kepada Allah. Karena sering kali, yang kita anggap keterlambatan adalah bentuk penjagaan.

Bisa jadi yang kita minta belum baik untuk saat ini. Bisa jadi Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar. Atau bisa jadi doa itu dikabulkan dalam bentuk perlindungan dari hal yang tidak kita ketahui.

Di sinilah husnuzan mengambil peran penting.

Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj, Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa Allah berfirman, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” Hadits ini begitu dalam maknanya. Cara kita memandang Allah akan memengaruhi cara kita menjalani hidup.

Jika kita berprasangka baik, maka ujian terasa sebagai proses pembentukan. Jika kita yakin Allah tidak pernah keliru, maka kegagalan pun kita lihat sebagai bagian dari rencana yang lebih luas.

Sebaliknya, jika hati dipenuhi prasangka buruk, beban terasa berlipat. Kita mudah kecewa. Cepat menyalahkan keadaan. Bahkan tanpa sadar mempertanyakan keadilan Allah. Padahal yang terbatas adalah pemahaman kita, bukan kasih sayang-Nya.

Kisah Omjay: Doa yang Dijawab dengan Cara Tak Terduga

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd yang akrab disapa Omjay, pernah mengalami fase menunggu doa yang panjang. Sebagai guru dan penulis, ia memiliki satu harapan besar: tulisannya bermanfaat dan memberi dampak luas bagi pendidikan Indonesia.

Namun perjalanan itu tidak instan.

Ada masa ketika tulisan-tulisannya sepi pembaca. Ada saat ketika gagasannya terasa seperti berbicara di ruang kosong. Bahkan pernah pula muncul pertanyaan dalam hatinya, “Apakah ini jalan yang benar?”

Alih-alih berhenti, Omjay memilih bertahan. Ia terus menulis. Ia terus berbagi. Ia tetap mengajar dengan sepenuh hati. Ia menanam keyakinan bahwa tidak ada usaha yang sia-sia di hadapan Allah.

Di bulan Ramadhan, ia memperbanyak doa. Bukan hanya meminta karya yang viral, tetapi memohon hati yang ikhlas. Bukan hanya berharap dikenal, tetapi ingin bermanfaat.

Dan Allah menjawab doanya dengan cara yang tak terduga.

Tulisan-tulisannya mulai dibaca banyak orang. Undangan berbagi literasi datang silih berganti. Namanya dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia. Tetapi yang paling penting, ia merasakan ketenangan batin. Ia memahami bahwa jawaban doa bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang proses yang membentuk dirinya.

Omjay pernah berkata bahwa doa tidak selalu mengubah keadaan dengan cepat, tetapi doa selalu mengubah hati menjadi lebih kuat.

Di situlah letak rahasianya.

Ramadhan: Sekolah Sabar dan Husnuzan

Ramadhan adalah sekolah kesabaran. Kita menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga maghrib. Kita belajar bahwa menunda kesenangan bukanlah penderitaan, tetapi latihan pengendalian diri.

Begitu pula dalam doa.

Kita belajar menunda keinginan. Kita belajar percaya bahwa waktu Allah lebih sempurna daripada waktu kita. Kita belajar bahwa tidak semua yang cepat itu baik, dan tidak semua yang lambat itu buruk.

Husnuzan membuat hati lebih ringan. Sabar membuat langkah tetap stabil. Keduanya adalah bekal penting dalam perjalanan hidup.

Mungkin hari ini doa kita belum terlihat hasilnya. Mungkin impian kita masih terasa jauh. Namun yakinlah, Allah tidak pernah menunda tanpa alasan.

Jika belum diberi, mungkin sedang dipersiapkan. Jika belum tercapai, mungkin sedang dimatangkan. Jika belum terjadi, mungkin sedang dijaga dari sesuatu yang lebih buruk.

Seperti Omjay yang terus menulis meski belum dikenal, seperti seorang hamba yang terus berdoa meski belum melihat jawaban, yang terpenting adalah tetap berjalan.

Ramadhan mengajarkan kita untuk tidak menyerah pada waktu, tetapi menyerahkan waktu kepada Allah.

Mari kita jaga prasangka baik kepada-Nya. Mari kita sabar dalam menunggu. Mari kita kuat dalam berikhtiar.

Karena pada akhirnya, setiap doa pasti dijawab: dikabulkan segera, ditunda untuk waktu terbaik, atau diganti dengan yang jauh lebih baik.

Tetap semangat. Barakallah fiikum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.