Judul: Ya Allah, Jika Engkau Titipkan 1 Miliar di Rekeningku, Jadikan Itu Jalan Dakwah dan Keberkahan
Oleh: Wijaya Kusumah
Ramadhan selalu datang dengan cara yang berbeda. Ia tidak pernah sekadar bulan. Ia adalah cermin. Ia memantulkan siapa diri kita sebenarnya. Di sepertiga malam, ketika dunia terlelap dan hanya suara kipas angin yang terdengar pelan, saya menengadahkan tangan dan berdoa:
“Ya Allah, semoga di rekeningku ada uang halal 1 miliar di bulan Ramadhan.”
Bagi sebagian orang, doa itu mungkin terdengar materialistis. Namun bagi saya, doa itu bukan tentang angka. Ia tentang makna. Tentang keberkahan. Tentang tanggung jawab.
Saya, Dr. Wijaya Kusumah, yang biasa disapa Omjay, hanyalah seorang guru. Seorang guru yang setiap hari menulis, mengajar, dan belajar. Guru yang percaya bahwa pena lebih tajam dari pedang, dan tulisan lebih panjang usianya daripada usia penulisnya.
Saya belajar dari kehidupan bahwa rezeki tidak selalu berbentuk uang. Kadang ia hadir dalam bentuk kesehatan. Kadang dalam bentuk murid-murid yang sukses. Kadang dalam bentuk kesempatan berbagi di berbagai seminar. Namun di Ramadhan ini, saya memberanikan diri berdoa lebih besar.
Mengapa 1 miliar?
Karena saya ingin membayar lunas hutang-hutang kecil kehidupan yang sering tak terlihat. Saya ingin membantu keluarga yang diam-diam menahan air mata. Saya ingin membangun perpustakaan kecil gratis untuk anak-anak yang tak mampu membeli buku. Saya ingin memberangkatkan orang tua umroh. Saya ingin berbagi lebih luas tanpa harus menunggu cukup.
Ramadhan mengajarkan saya tentang keikhlasan. Tentang lapar yang mendidik empati. Tentang haus yang menumbuhkan rasa syukur.
Saya teringat perjalanan umroh tahun 2017 bersama rombongan guru Labschool Jakarta. Saat itu saya berdiri di depan Ka’bah. Air mata jatuh tanpa diminta. Saya merasa kecil. Sangat kecil. Semua gelar, semua jabatan, semua poin kepenulisan di Kompasiana terasa tidak berarti di hadapan Allah.
Di depan Baitullah, saya tidak meminta jabatan. Tidak meminta popularitas. Saya hanya meminta agar hidup saya bermanfaat.
Dan hari ini, ketika saya berdoa tentang 1 miliar, saya sadar: yang saya pinta bukan uangnya, tapi keberkahannya.
Karena uang halal 1 miliar yang tanpa keberkahan hanya akan menjadi angka. Namun uang halal yang diberkahi, meski hanya 10 ribu rupiah, bisa menjadi jalan surga.
Saya pernah berada di titik di mana saldo rekening nyaris kosong. Saat TPG belum cair. Saat kebutuhan sekolah anak harus dipenuhi. Saat biaya rumah sakit datang tak terduga. Namun di saat-saat itulah saya justru paling rajin menulis.
Menulis bukan sekadar hobi bagi saya. Ia adalah ibadah. Ia adalah cara saya mengetuk pintu langit.
Setiap artikel yang saya tulis, saya niatkan sebagai sedekah ilmu. Setiap pengalaman yang saya bagikan, saya niatkan sebagai penguat bagi guru lain yang mungkin sedang lelah.
Ramadhan tahun ini saya merenung lebih dalam. Jika Allah benar-benar mengabulkan doa saya, apa yang akan saya lakukan?
Pertama, saya akan membangun gerakan literasi yang lebih besar. Menggratiskan pelatihan menulis bagi guru-guru di daerah. Membuat kelas daring tanpa biaya. Karena saya percaya, perubahan bangsa dimulai dari guru yang gemar membaca dan menulis.
Kedua, saya ingin membuat program beasiswa kecil untuk siswa kurang mampu. Tidak perlu besar. Yang penting konsisten. Karena saya tahu rasanya ingin sekolah tetapi terkendala biaya.
Ketiga, saya ingin berbagi lebih banyak tanpa perlu menghitung-hitung.
Namun di balik doa 1 miliar itu, ada doa yang lebih besar: semoga hati saya tetap sederhana.
Karena saya takut bukan pada kemiskinan. Saya lebih takut pada kelalaian. Saya takut jika uang membuat saya lupa diri. Saya takut jika angka membuat saya lupa bersyukur.
Ramadhan adalah bulan pelurusan niat.
Mungkin Allah tidak memberi saya 1 miliar. Mungkin Allah memberi saya kesehatan. Atau memberi saya umur panjang untuk terus menulis. Atau memberi saya murid-murid hebat yang kelak menjadi pemimpin bangsa.
Dan bukankah itu juga rezeki yang tak ternilai?
Saya percaya satu hal: Allah tidak pernah salah menghitung.
Jika saya belum kaya secara materi, mungkin karena Allah ingin saya kaya dalam kesabaran. Jika doa saya belum dikabulkan hari ini, mungkin Allah sedang menyiapkan waktu terbaik.
Saya teringat sebuah kalimat yang sering saya sampaikan kepada guru-guru dalam seminar:
“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”
Hari ini saya menambahkan satu kalimat lagi:
“Berdoalah setiap hari dan lihat bagaimana Allah bekerja.”
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar. Ia tentang menahan putus asa. Tentang menahan keluh kesah. Tentang tetap percaya meski rekening belum berubah.
Dan jika suatu hari benar-benar ada notifikasi masuk: “Saldo bertambah Rp1.000.000.000”, saya ingin sujud pertama saya bukan karena bangga, tetapi karena takut.
Takut tidak amanah.
Karena sejatinya, yang membuat merinding bukanlah angka 1 miliar. Yang membuat merinding adalah kesadaran bahwa setiap rupiah akan dimintai pertanggungjawaban.
Ramadhan mengajarkan saya satu hal paling sederhana namun paling sulit: cukup.
Jika Allah memberi, saya bersyukur. Jika Allah menahan, saya bersabar. Jika Allah mengganti dengan sesuatu yang tak pernah saya bayangkan, saya ridha.
Dan mungkin, justru dalam keridhaan itulah tersimpan 1 miliar keberkahan yang tidak tercatat di rekening, tetapi tercatat di langit.
Ya Allah… Jika Engkau titipkan 1 miliar di bulan Ramadhan, jadikan ia cahaya, bukan cobaan. Jadikan ia jalan dakwah, bukan jalan kesombongan. Jadikan ia saksi bahwa aku ingin berbagi, bukan memiliki.
Dan jika Engkau belum memberikannya, cukupkan aku dengan hati yang tenang.
Karena pada akhirnya, yang paling kaya bukanlah yang paling banyak uangnya, tetapi yang paling dalam syukurnya.
Ramadhan selalu mengajarkan itu kepada saya.
Dan saya percaya, keajaiban tidak selalu turun dari langit. Kadang ia lahir dari doa yang tidak pernah berhenti.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.