Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 03 Februari 2026

Tangisan Sunyi Guru Honorer

Tangisan Sunyi Guru Honorer: Ketika Air Mata Menjadi Saksi Ketidakadilan

Tangis itu pecah bukan di ruang kelas, bukan pula di hadapan murid-muridnya. Tangis itu jatuh diam-diam, di sudut rumah sederhana, saat malam semakin larut dan perut belum sepenuhnya terisi.
Ia seorang guru honorer. Pekerjaan yang mulia dalam ucapan, tetapi sering hina dalam perlakuan.

Pagi tadi ia tetap datang ke sekolah dengan senyum. Menyapa murid-muridnya dengan penuh cinta. Mengajarkan huruf, angka, dan harapan. Tak satu pun murid tahu bahwa gurunya semalam menangis. Tak satu pun tahu bahwa di balik papan tulis itu ada hati yang remuk.

Mengabdi dengan Air Mata

Sudah belasan tahun ia mengajar. Datang paling pagi, pulang paling sore. Menggantikan guru yang absen, membersihkan kelas tanpa diminta, bahkan patungan untuk kapur tulis dan spidol.
Namun ketika soal kesejahteraan ditanya, jawabannya selalu sama:
“Sabar ya, belum ada anggaran.”

Gajinya?
Tak sampai satu juta rupiah sebulan. Kadang dibayar tiga bulan sekali. Kadang lebih lama.
Sementara harga beras naik. Anak butuh susu. Motor butuh bensin.
Dan ia? Butuh keadilan.

Tangisnya pecah ketika anaknya bertanya polos,

> “Bu, besok uang jajan ada nggak?”

Ia berpaling. Tak sanggup menjawab.
Air mata jatuh tanpa suara.

Antara Idealime dan Realitas yang Kejam

Guru honorer selalu diminta ikhlas.
Ikhlas mengajar.
Ikhlas digaji kecil.
Ikhlas menunggu pengangkatan yang tak kunjung pasti.

Tapi adakah yang bertanya,
sampai kapan ikhlas harus dibayar dengan penderitaan?

Setiap tahun ada harapan baru.
Setiap tahun ada janji baru.
Tapi nasib guru honorer tetap seperti itu-itu saja.

Ironisnya, mereka yang mencerdaskan bangsa justru hidup dalam kecemasan.
Mereka yang membangun masa depan anak bangsa justru masa depannya sendiri gelap.

Tangisan yang Tak Pernah Didengar

Tangisan guru honorer bukan hanya soal uang.
Ini tentang harga diri.
Tentang rasa lelah yang tak pernah diakui.
Tentang pengabdian yang dianggap biasa.

Mereka tak menuntut kaya.
Tak minta fasilitas mewah.
Mereka hanya ingin hidup layak sebagai manusia.

Ketika melihat guru lain mendapat tunjangan, sertifikasi, dan penghargaan, mereka tersenyum. Tapi senyum itu pahit.
Bukan iri, melainkan luka.

“Apakah pengabdian kami kurang lama?”
“Apakah kami bukan guru yang sebenarnya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui, lalu kembali menjadi tangis di malam hari.

Jika Guru Terus Menangis, Siapa yang Akan Tertawa?

Bangsa ini sering bicara soal pendidikan.
Soal generasi emas.
Soal Indonesia maju.

Tapi bagaimana mungkin pendidikan maju jika gurunya menangis?
Bagaimana mungkin anak-anak tumbuh bahagia jika gurunya mengajar sambil menahan lapar?

Air mata guru honorer adalah alarm keras bagi negeri ini.
Jika kita terus menutup mata, maka suatu hari bukan hanya guru yang menangis, tetapi masa depan bangsa ikut runtuh.

Harapan di Balik Air Mata

Meski menangis, guru honorer tetap datang ke kelas.
Tetap mengajar dengan hati.
Tetap mencintai murid-muridnya tanpa syarat.

Karena bagi mereka, pendidikan bukan sekadar pekerjaan.
Ini adalah panggilan jiwa.

Namun panggilan jiwa tidak boleh terus-menerus dibayar dengan penderitaan.

Sudah saatnya negara hadir.
Bukan dengan janji, tapi dengan kebijakan nyata.
Bukan dengan simpati, tapi dengan keadilan.

Penutup: Jangan Biarkan Guru Menangis Sendiri

Jika hari ini Anda membaca tulisan ini dan mata terasa basah,
ingatlah…
di luar sana ada jutaan guru honorer yang menangis lebih lama dari yang Anda bayangkan.

Tangisan mereka bukan kelemahan.
Tangisan mereka adalah jeritan keadilan.

Dan semoga, suatu hari nanti, air mata itu berganti senyum.
Bukan karena mereka berhenti mengabdi,
tetapi karena akhirnya negeri ini menghargai gurunya sendiri.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.