🎬 Keluarga yang Tak Dirindukan
Malam itu, Omjay duduk sendiri di ruang tamu. Lampu tidak terlalu terang. Hanya cahaya televisi yang sesekali memantul di wajahnya. Di layar, serial Keluarga yang Tak Dirindukan mulai diputar. Awalnya Omjay mengira ini hanya drama keluarga biasa—kisah tentang konflik rumah tangga, tentang ayah yang jatuh sakit, tentang anak-anak yang dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Namun semakin episode berjalan, dada Omjay terasa sesak.
Serial itu bercerita tentang keluarga yang kehilangan arah setelah sang ayah tak lagi mampu menjadi penopang ekonomi. Anak-anaknya dipaksa memilih: melanjutkan mimpi atau mengubur cita-cita demi keluarga. Ada amarah, ada kecewa, ada cinta yang terpendam tapi tak terucap.
Omjay terdiam.
Sebagai seorang guru, ayah, sekaligus kepala keluarga, ia merasa seperti sedang menonton potongan hidupnya sendiri. Bukankah selama ini banyak keluarga Indonesia berada dalam situasi serupa? Ketika ayah tak lagi kuat bekerja. Ketika ibu menyimpan tangis di balik senyum. Ketika anak-anak menanggung beban yang seharusnya belum waktunya mereka pikul.
Omjay teringat masa-masa sulit ketika honor guru tak selalu cukup. Ketika tunjangan profesi terlambat cair. Ketika kebutuhan keluarga berjalan terus tanpa mau tahu kondisi rekening. Ia pernah berada di titik itu—titik di mana seorang ayah merasa gagal karena tak mampu memberi lebih.
Serial itu seperti cermin.
Ada satu adegan ketika sang anak memendam kecewa pada ayahnya, bukan karena tidak cinta, tetapi karena merasa hidupnya ikut terhenti. Omjay menatap layar lebih dalam. Betapa sering dalam keluarga, luka tidak datang dari kebencian, tetapi dari harapan yang tak terpenuhi.
“Keluarga yang Tak Dirindukan.”
Judulnya seperti paradoks. Siapa yang tidak merindukan keluarga? Namun Omjay mulai memahami maknanya. Ada kalanya keluarga menjadi tempat paling nyaman, tapi juga tempat paling menyakitkan. Tempat kita pulang, sekaligus tempat kita diuji.
Sebagai guru yang setiap hari berinteraksi dengan siswa, Omjay menyadari satu hal penting: banyak anak di sekolah membawa beban rumah ke ruang kelas. Mereka tampak biasa saja, tetapi hatinya mungkin sedang retak. Ada yang orang tuanya bercerai. Ada yang ayahnya sakit. Ada yang harus membantu ekonomi keluarga. Tidak semua luka terlihat.
Film itu menyadarkan Omjay kembali tentang pentingnya empati.
Ia teringat pesan yang sering ia sampaikan kepada murid-muridnya: “Sekolah bukan hanya tempat belajar pelajaran, tapi tempat belajar kehidupan.” Dan malam itu, Netflix justru menjadi ruang belajar bagi dirinya sendiri.
Ada adegan yang membuat mata Omjay berkaca-kaca—ketika seorang anak akhirnya memahami bahwa ayahnya bukan tidak mau berjuang, tetapi memang sedang kalah oleh keadaan. Betapa sering kita menilai orang tua dari hasil, bukan dari perjuangan.
Omjay menatap langit-langit rumahnya. Ia berpikir tentang anak-anaknya sendiri. Sudahkah ia cukup hadir, bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi sebagai pendengar? Sudahkah ia memberi ruang bagi mereka untuk bercerita tentang ketakutan dan mimpinya?
Serial itu tidak menawarkan akhir yang sepenuhnya manis. Tidak semua konflik selesai. Tidak semua luka sembuh seketika. Namun justru di situlah letak kejujurannya. Hidup memang tidak selalu seperti dongeng. Kadang kita hanya bisa belajar menerima, memperbaiki, dan melangkah perlahan.
Sebagai Guru Blogger Indonesia yang setiap hari menulis, Omjay merasa malam itu mendapatkan bahan tulisan yang bukan sekadar cerita, tetapi refleksi jiwa. Ia sadar, keluarga bukan sekadar status di kartu keluarga. Ia adalah perjuangan harian. Ia adalah sabar yang diulang-ulang. Ia adalah doa yang tak pernah berhenti.
“Keluarga yang Tak Dirindukan” mungkin berbicara tentang konflik. Namun bagi Omjay, film itu justru mengingatkan bahwa keluarga harus terus dirawat agar tetap menjadi tempat yang dirindukan.
Kadang yang membuat keluarga terasa jauh bukan jarak, tetapi ego. Bukan perbedaan pendapat, tetapi kurangnya komunikasi. Dan bukan kekurangan materi, tetapi kekurangan pengertian.
Malam semakin larut. Episode terakhir selesai. Layar menjadi gelap. Namun pikiran Omjay masih menyala.
Ia mengambil ponsel. Bukan untuk membuka media sosial, tetapi untuk menulis catatan kecil:
“Jangan tunggu kehilangan untuk belajar menghargai keluarga. Jangan tunggu sakit untuk belajar memahami orang tua. Jangan tunggu jauh untuk belajar merindukan.”
Sebagai guru, Omjay menyadari bahwa pendidikan pertama dan utama adalah keluarga. Jika keluarga retak, sekolah hanya bisa menjadi penopang sementara. Jika keluarga kuat, dunia luar tak mudah meruntuhkan anak-anaknya.
Film itu mungkin hanya tontonan bagi sebagian orang. Tetapi bagi Omjay, itu adalah pengingat. Pengingat bahwa menjadi ayah bukan hanya soal memberi, tetapi juga mendengar. Bukan hanya memimpin, tetapi juga merangkul. Bukan hanya mengatur, tetapi juga mengerti.
Dan malam itu, sebelum tidur, Omjay berdoa pelan:
“Ya Allah, jadikan keluargaku bukan keluarga yang tak dirindukan, tetapi keluarga yang selalu menjadi tempat pulang, tempat belajar, dan tempat bertumbuh bersama.”
Karena pada akhirnya, sehebat apa pun karier, sebanyak apa pun tulisan, setinggi apa pun jabatan—rumah tetaplah tempat kita kembali. Dan keluarga adalah amanah yang tak boleh kita abaikan.
Malam itu, Omjay tidak hanya menonton film. Ia menonton hidupnya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.