Dari Lorong Sempit Lahir Solusi Besar: Belajar Menjadi Guru yang Peduli Lingkungan
Workshop Guru SMP Labschool Jakarta di Hotel Vasaka Jakarta
Ada banyak cara untuk belajar. Ada yang belajar melalui buku, membaca artikel, berdiskusi, mengikuti pelatihan, atau mendengarkan pengalaman orang lain. Namun, belajar yang paling berkesan sering kali terjadi ketika kita bertemu langsung dengan orang yang memiliki pengalaman dan gagasan untuk dibagikan.
Hal itulah yang saya rasakan dalam kegiatan workshop guru SMP Labschool Jakarta di Hotel Vasaka Jakarta.
Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah paparan bertema:
“Menuju Sekolah Ramah Lingkungan: Dari Lorong Sempit Lahir Solusi Besar.”
Materi tersebut disampaikan oleh Taufiq Supriadi, seorang Community Development Expert sekaligus Founder Surya Architecture Indonesia.
Judulnya sederhana, tetapi maknanya sangat dalam.
Dari Lorong Sempit
Ketika mendengar kata lorong sempit, mungkin yang terbayang adalah ruang kecil yang terbatas. Tidak banyak pilihan. Tidak banyak tempat untuk bergerak. Bahkan mungkin dianggap sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai lebih.
Namun, dari tempat yang sempit ternyata dapat lahir sebuah gagasan besar.
Inilah pelajaran penting yang bisa kita bawa ke lingkungan sekolah.
Sekolah tidak selalu memiliki lahan yang luas. Tidak semua sekolah mempunyai taman yang besar. Tidak semua ruang dapat dibangun kembali sesuai keinginan. Ada sekolah yang berdiri di tengah permukiman padat dengan keterbatasan lahan.
Tetapi keterbatasan bukan berarti tidak bisa berinovasi.
Justru dari keterbatasan itulah kreativitas sering kali muncul.
Lorong sekolah dapat menjadi ruang hijau. Dinding dapat menjadi media edukasi. Sudut sekolah dapat dimanfaatkan menjadi taman kecil. Atap dapat dimanfaatkan untuk kegiatan tertentu. Bahkan ruang yang selama ini dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi tempat belajar yang menyenangkan.
Kuncinya adalah kemauan melihat peluang.
Kalau Satu RT Bisa Berubah, Indonesia Juga Bisa
Ada satu kalimat dalam materi yang sangat menarik perhatian:
“Kalau satu RT bisa berubah, Indonesia juga bisa.”
Kalimat tersebut mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Perubahan dapat dimulai dari lingkungan terdekat.
Mulai dari rumah.
Mulai dari kelas.
Mulai dari sekolah.
Mulai dari satu RT.
Kemudian perubahan kecil tersebut dilakukan secara konsisten dan melibatkan semakin banyak orang.
Dalam konteks pendidikan, guru mempunyai posisi yang sangat strategis. Guru bukan hanya mengajarkan teori tentang lingkungan, tetapi juga dapat memberikan contoh nyata kepada peserta didik.
Misalnya, membiasakan siswa membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat listrik dan air, merawat tanaman, menjaga kebersihan kelas, serta memanfaatkan barang bekas menjadi media pembelajaran.
Hal-hal sederhana seperti itu jika dilakukan bersama-sama akan menjadi budaya sekolah.
Sekolah Ramah Lingkungan Dimulai dari Kebiasaan
Sekolah ramah lingkungan bukan hanya sekolah yang mempunyai banyak tanaman.
Lebih dari itu, sekolah ramah lingkungan adalah sekolah yang membangun kesadaran dan kebiasaan seluruh warganya untuk menjaga lingkungan.
Guru, siswa, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat sekitar dapat menjadi bagian dari gerakan tersebut.
Saya membayangkan sebuah sekolah di mana setiap sudutnya menjadi ruang belajar.
Di lorong ada tanaman.
Di dinding terdapat karya siswa.
Di kelas terdapat tempat pemilahan sampah.
Di halaman ada kebun kecil.
Air digunakan secara bijak.
Lampu dan perangkat elektronik digunakan seperlunya.
Barang bekas tidak langsung dibuang, tetapi dipikirkan kembali bagaimana dapat dimanfaatkan.
Dengan demikian, lingkungan sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar tentang lingkungan, tetapi menjadi tempat untuk mempraktikkan kepedulian terhadap lingkungan.
Guru Harus Berani Melihat dari Sudut yang Berbeda
Bagi saya, salah satu pesan penting dari workshop ini adalah perlunya guru memiliki cara pandang yang kreatif.
Jangan hanya melihat kekurangan.
Lihatlah potensi.
Jangan hanya melihat ruang yang sempit.
Lihat kemungkinan yang dapat diciptakan.
Jangan hanya mengatakan, “Sekolah kita tidak punya lahan.”
Tetapi bertanyalah:
“Apa yang masih bisa kita lakukan dengan ruang yang kita miliki?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat melahirkan banyak solusi.
Inilah semangat problem solving yang juga sangat penting dalam pembelajaran Informatika, Coding, dan Kecerdasan Artifisial.
Siswa perlu dibiasakan menghadapi masalah nyata, kemudian mencari solusi dengan kreativitas dan kolaborasi.
Workshop Bukan Sekadar Mendapatkan Materi
Mengikuti workshop guru bagi saya bukan sekadar mendapatkan materi untuk kemudian dilupakan.
Workshop seharusnya menjadi tempat untuk mendapatkan inspirasi baru.
Materi yang disampaikan narasumber dapat menjadi pemantik bagi guru untuk berpikir:
“Apa yang bisa saya lakukan setelah pulang dari workshop ini?”
Pertanyaan tersebut penting.
Sebab ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika dipraktikkan.
Gagasan tentang sekolah ramah lingkungan juga dapat dikembangkan menjadi proyek pembelajaran. Guru Informatika, misalnya, dapat mengajak siswa membuat kampanye digital sekolah ramah lingkungan, membuat poster digital, video pendek, infografis, website sederhana, atau aplikasi yang membantu warga sekolah melakukan pemilahan sampah.
Dengan demikian, pendidikan lingkungan dapat bertemu dengan teknologi.
Dari Hotel Vasaka Jakarta untuk SMP Labschool Jakarta
Kegiatan workshop guru SMP Labschool Jakarta di Hotel Vasaka Jakarta menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas mengajar.
Kami belajar.
Kami berdiskusi.
Kami mendapatkan inspirasi.
Dan yang paling penting, kami pulang membawa gagasan.
Saya percaya bahwa pendidikan tidak hanya tentang menyampaikan materi pelajaran kepada siswa.
Pendidikan adalah proses membangun manusia yang mampu melihat masalah, memiliki kepedulian, bekerja sama, dan menemukan solusi.
Dari lorong yang sempit, ternyata bisa lahir solusi yang besar.
Begitu pula dari sebuah sekolah, dapat lahir perubahan yang lebih luas.
Barangkali kita tidak bisa langsung mengubah Indonesia.
Tetapi kita bisa mulai dari satu kelas.
Kita bisa mulai dari satu sekolah.
Kita bisa mulai dari satu lingkungan.
Dan seperti pesan yang terpampang dalam materi workshop:
“Kalau satu RT bisa berubah, Indonesia juga bisa.”
Maka, mari kita mulai perubahan itu dari tempat kita berada.
Guru bergerak, sekolah berubah.
Sekolah berubah, lingkungan tumbuh.
Lingkungan tumbuh, Indonesia pun semakin baik.
— Wijaya Kusumah (Omjay)
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.