KATA PENGANTAR
Sebuah Perjalanan yang Bernama Menulis
Alhamdulillah, segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat, rahmat, dan kesempatan yang diberikan kepada kita. Menulis adalah salah satu cara manusia mensyukuri kehidupan. Melalui tulisan, pengalaman dapat dibagikan, ilmu dapat diwariskan, dan kebaikan dapat terus mengalir meskipun penulisnya telah selesai menjalani perjalanan di dunia.
Buku berjudul Sebuah Perjalanan yang Bernama Menulis karya Musdalifah, S.Pd.I. ini menjadi bukti bahwa perjalanan seorang guru tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Ada perjalanan panjang yang bernama belajar, membaca, mencoba, menulis, memperbaiki, menerbitkan, dan akhirnya berbagi.
Saya mengenal dunia menulis sebagai sebuah perjalanan. Tidak selalu mudah, tetapi selalu memberikan pengalaman. Kadang kita memiliki banyak ide tetapi sulit menuangkannya dalam kata-kata. Kadang semangat menulis begitu tinggi, tetapi tiba-tiba muncul writer's block. Ada pula rasa ragu ketika tulisan belum mendapatkan apresiasi seperti yang diharapkan.
Namun, justru di situlah proses belajar seorang penulis berlangsung.
Musdalifah melalui buku ini mengajak pembaca melihat berbagai sisi dunia kepenulisan. Mulai dari menulis setiap hari dengan AI, menulis sebagai passion, teknik menulis resume, menggali potensi dan mengukir prestasi, mengatasi writer's block, menulis blog, mengelola majalah sekolah, hingga menulis di kancah internasional.
Buku ini juga tidak berhenti pada aktivitas menulis. Pembaca diajak memahami bagaimana sebuah tulisan dapat dikembangkan menjadi buku, bagaimana melakukan proofreading sebelum menerbitkan tulisan, memahami diksi dan seni bahasa, sampai mengenal proses penerbitan buku melalui penerbit mayor.
Yang menarik, perjalanan tersebut sangat dekat dengan kehidupan guru. Ada pembahasan tentang mengelola majalah sekolah, kegiatan literasi sekolah, rapor literasi, pemanfaatan buku digital dalam pembelajaran, serta menjadi guru penulis yang tangguh.
Inilah yang membuat saya percaya bahwa menulis bagi seorang guru bukan sekadar kegiatan menghasilkan buku. Menulis adalah bagian dari proses mendokumentasikan pengalaman dan pengetahuan agar tidak hilang begitu saja.
Saya sering mengatakan kepada guru-guru bahwa menulis itu mudah, yang sulit adalah memulai dan menjaga konsistensi. Satu halaman hari ini mungkin terlihat sederhana. Namun, jika dilakukan setiap hari, halaman-halaman itu akan berubah menjadi sebuah buku.
Begitu pula dengan perjalanan Musdalifah.
Dua puluh tulisan yang terangkum dalam buku ini memperlihatkan bahwa menulis bukanlah pekerjaan sekali jadi. Menulis adalah proses. Ada ide yang ditemukan, pengalaman yang direnungkan, tulisan yang dibuat, kesalahan yang diperbaiki, dan akhirnya karya yang dibagikan kepada pembaca.
Saya juga mengapresiasi keberanian penulis membahas pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam kegiatan menulis. Teknologi dapat menjadi alat bantu yang sangat bermanfaat, tetapi penulis tetap harus menghadirkan gagasan, pengalaman, sudut pandang, dan hati. AI boleh membantu kita menemukan ide dan memperbaiki tulisan, tetapi pengalaman hidup seorang penulis tetap menjadi kekuatan utama sebuah karya.
Sebab, tulisan yang baik bukan hanya tulisan yang benar secara bahasa. Tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menyentuh pembaca.
Menulislah dengan hati, bukan sekadar dengan teknologi.
Bagi saya, seorang guru yang menulis sedang membangun sebuah warisan. Apa yang kita tulis hari ini mungkin belum terasa manfaatnya. Namun, beberapa tahun kemudian, tulisan itu bisa menjadi sumber inspirasi bagi murid, sesama guru, keluarga, bahkan generasi yang belum kita kenal.
Karena itu, saya mengajak para guru untuk tidak takut menulis. Jangan menunggu tulisan sempurna untuk mulai menulis. Tulislah pengalaman sederhana. Tulislah apa yang kita lihat. Tulislah apa yang kita rasakan. Tulislah apa yang kita pelajari. Kemudian teruslah belajar memperbaikinya.
Saya berharap buku Sebuah Perjalanan yang Bernama Menulis ini tidak hanya menjadi dokumentasi perjalanan Musdalifah, S.Pd.I., tetapi juga menjadi teman perjalanan bagi para pembaca yang sedang belajar menjadi penulis.
Semoga buku ini membuka pintu inspirasi, menumbuhkan keberanian untuk menulis, dan mengingatkan kita bahwa setiap orang sebenarnya memiliki cerita yang layak untuk dituliskan.
Teruslah menulis.
Sebab ketika kita menulis, kita sedang mengabadikan pengalaman. Ketika kita berbagi tulisan, kita sedang menyalakan inspirasi. Dan ketika tulisan kita memberikan manfaat bagi orang lain, di situlah perjalanan menulis menemukan maknanya.
Selamat kepada Musdalifah, S.Pd.I. atas lahirnya buku Sebuah Perjalanan yang Bernama Menulis. Semoga menjadi awal dari lahirnya karya-karya berikutnya dan menjadi jejak literasi yang terus memberikan manfaat.
Menulis tanpa henti, menginspirasi tanpa tapi.
Salam literasi.
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay – Guru Blogger Indonesia
Jakarta, 2 Oktober 2026
Blog https://wijayalabs.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.