Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 10 Oktober 2026

Dari Bali untuk Indonesia dan Dunia

Dari Bali untuk Indonesia: Kisah Omjay Mengikuti ICANN87, Belajar Menjaga Masa Depan Internet

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay)

Ada perjalanan yang bukan sekadar tentang berpindah tempat, melainkan tentang memperluas wawasan, menambah pengalaman, dan menemukan tanggung jawab baru untuk masa depan Indonesia. Bagi saya, Omjay, seorang guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, kesempatan mengikuti kegiatan ICANN87 di Bali merupakan pengalaman berharga yang ingin saya maknai lebih dalam.

Saya telah terdaftar untuk mengikuti ICANN87 Annual General Meeting yang dijadwalkan berlangsung pada 17–22 Oktober 2026 di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk belajar lebih dekat tentang tata kelola internet dunia, sistem nama domain, keamanan, serta peran berbagai komunitas dalam menjaga internet agar tetap stabil, aman, dan dapat diakses oleh masyarakat luas.

Bagi sebagian orang, internet mungkin hanya sebatas membuka media sosial, membaca berita, mengirim pesan, atau mencari informasi melalui mesin pencari. Namun, di balik setiap aktivitas tersebut, terdapat sistem yang sangat kompleks. Ada nama domain, alamat internet, server, protokol, dan berbagai organisasi yang bekerja sama agar miliaran manusia di seluruh dunia dapat terhubung.

Di sinilah saya merasa bahwa seorang guru Informatika tidak boleh berhenti belajar. Perkembangan teknologi berlangsung begitu cepat. Apa yang kita ajarkan kepada murid hari ini harus terus diperbarui agar mereka siap menghadapi tantangan masa depan.

Ketika Guru Belajar dari Dunia

Saya sering mengatakan kepada rekan-rekan guru bahwa belajar bukan hanya milik murid. Guru pun harus terus belajar sepanjang hayat. Jika murid diminta membuka wawasan, guru harus terlebih dahulu menunjukkan keteladanan dengan berani keluar dari zona nyaman.

Mengikuti ICANN87 menjadi salah satu kesempatan untuk memperluas wawasan tersebut. Saya ingin memahami bagaimana internet dikelola, bagaimana nama domain bekerja, serta bagaimana masyarakat dari berbagai negara berkontribusi dalam membangun ekosistem digital yang lebih baik.

Saya juga ingin membawa pengalaman dan pengetahuan itu kembali ke dunia pendidikan Indonesia. Sebab, ilmu yang kita peroleh akan terasa lebih bermakna apabila dibagikan kepada orang lain.

Sebagai guru Informatika, saya menyadari bahwa tugas saya bukan sekadar mengajarkan murid menggunakan komputer, membuat presentasi, mengolah data, atau menulis program. Saya juga harus membantu mereka memahami dunia digital secara utuh, termasuk siapa yang mengelolanya, bagaimana sistemnya bekerja, dan mengapa keamanan serta tanggung jawab digital sangat penting.

Internet bukan sekadar teknologi. Internet telah menjadi ruang kehidupan manusia modern. Di dalamnya ada pendidikan, ekonomi, kebudayaan, komunikasi, bahkan masa depan bangsa.

Buku-Buku yang Seolah Bergetar di Depan Portal .ID

Dalam ilustrasi komik yang saya bayangkan, ada sebuah adegan menarik. Saya membawa tumpukan buku bertuliskan Tata Kelola Internet, Literasi Digital, Pendidikan, Komunitas, dan Indonesia Maju. Tiba-tiba, buku-buku itu seolah bergetar ketika sebuah portal digital dengan simbol .id muncul di hadapan saya.

Adegan itu memang imajinatif, tetapi pesannya sangat nyata.

Saya membayangkan bahwa pengetahuan yang saya kumpulkan selama bertahun-tahun sebagai guru, blogger, penulis, dan pegiat komunitas pendidikan sedang memanggil saya untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Bukan hanya memahami teknologi untuk diri sendiri, melainkan menjembatani pengetahuan tersebut agar dapat dipahami oleh guru dan murid di Indonesia.

Simbol .id mengingatkan saya pada identitas digital Indonesia. Nama domain bukan sekadar tulisan di belakang alamat sebuah situs. Nama domain merupakan bagian dari sistem yang membantu manusia menemukan layanan dan informasi di internet.

Di baliknya terdapat tata kelola, kebijakan, infrastruktur, serta kerja sama banyak pihak. Semua itu perlu dipahami agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis mengenai bagaimana teknologi bekerja.

Saya membayangkan sebuah portal bercahaya yang menghubungkan ruang kelas di Jakarta dengan komunitas internet dunia. Dari ruang kelas sederhana, seorang murid dapat belajar tentang teknologi global. Dari sebuah blog pribadi, seorang guru dapat berbagi pengalaman hingga dibaca orang dari berbagai penjuru dunia.

Itulah keajaiban internet yang sesungguhnya. Teknologi membuka pintu, tetapi manusialah yang menentukan ke mana pintu itu akan membawa kita.

Penjaga Domain dan Jembatan Literasi Digital

Dalam komik tersebut, muncul tokoh-tokoh fantasi yang seolah menjadi penjaga dunia digital. Ada sosok menyerupai Barong Bali, naga biru, dan karakter kecil yang menemani perjalanan saya. Mereka menyampaikan pesan bahwa saya terpilih menjadi jembatan literasi digital.

Bagi saya, simbol-simbol itu memiliki makna yang dalam.

Barong mengingatkan saya pada kekayaan budaya Indonesia. Naga biru menggambarkan kekuatan teknologi dan jaringan yang menghubungkan dunia. Sementara itu, karakter kecil menjadi simbol bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana.

Saya memang bukan seorang penguasa internet dunia. Saya juga bukan orang yang mengetahui seluruh rahasia teknologi digital. Saya hanyalah seorang guru yang terus belajar, menulis, berbagi, dan berusaha memberikan manfaat bagi sesama.

Namun, saya percaya bahwa seorang guru dapat menjadi jembatan antara pengetahuan dan kehidupan nyata. Guru dapat menerjemahkan konsep yang rumit menjadi pelajaran yang mudah dipahami. Guru juga dapat membantu murid menyadari bahwa teknologi bukan sekadar alat untuk bermain, tetapi sarana untuk berkarya dan menyelesaikan persoalan.

Pengalaman mengikuti forum internasional seperti ICANN87 dapat menjadi bekal untuk memperkaya pembelajaran Informatika, literasi digital, koding, dan kecerdasan artifisial. Saya ingin murid-murid memahami bahwa mereka tidak harus menjadi penonton dalam perkembangan teknologi dunia. Mereka juga memiliki kesempatan untuk berkontribusi.

Indonesia membutuhkan generasi muda yang bukan hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi, menjaga keamanan digital, menghargai privasi, dan menggunakan internet secara bertanggung jawab.

Dari Blog Pribadi Menuju Percakapan Dunia

Sejak tahun 2007, saya telah menggunakan blog sebagai ruang untuk menulis, belajar, dan berbagi pengalaman. Saya merasakan sendiri bagaimana sebuah tulisan sederhana dapat menjadi pintu pertemuan dengan orang-orang yang memiliki minat serupa.

Menulis membuat saya terus membaca. Membaca membuat saya semakin ingin mengetahui sesuatu. Pengetahuan itu kemudian saya tuliskan kembali agar dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Perjalanan sebagai blogger mengajarkan saya bahwa dunia digital tidak hanya berisi angka, kode, dan mesin. Di dalamnya terdapat manusia dengan pengalaman, cita-cita, dan harapan masing-masing.

Karena itu, saya ingin memanfaatkan pengalaman mengikuti ICANN87 untuk memperkaya tulisan-tulisan saya. Saya ingin menjelaskan kepada para guru bahwa tata kelola internet bukanlah topik yang terlalu jauh dari kehidupan sekolah. Sebaliknya, pemahaman tentang internet dapat menjadi bagian penting dari pendidikan digital.

Ketika seorang murid membuat blog, mengembangkan aplikasi, atau membangun situs web, ia sedang belajar menjadi bagian dari dunia digital. Ketika seorang guru membimbing murid agar memahami keamanan akun, jejak digital, dan etika berkomunikasi, guru tersebut sedang menanamkan tanggung jawab sebagai warga digital.

Semua itu berawal dari kemauan untuk belajar.

Saya ingin terus menulis tentang pengalaman ini, mendokumentasikan pengetahuan yang diperoleh, dan membagikannya kepada komunitas guru Informatika. Harapan saya sederhana: semakin banyak guru yang memahami teknologi, semakin luas pula kesempatan murid Indonesia untuk berkembang.

Pulang Membawa Tugas Baru

Ada satu kalimat yang sangat bermakna dalam ilustrasi komik tersebut: “Dari Bali untuk Indonesia, tugas baru dimulai!”

Kalimat itu mengingatkan saya bahwa mengikuti kegiatan internasional bukanlah garis akhir. Justru, setelah memperoleh pengalaman baru, tanggung jawab kita menjadi semakin besar.

Saya ingin kembali dengan membawa semangat untuk terus belajar dan berbagi. Pengetahuan yang diperoleh dari forum internasional harus diolah menjadi sesuatu yang berguna bagi masyarakat Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan.

Saya ingin membagikan pengalaman kepada rekan-rekan guru melalui tulisan, diskusi, komunitas belajar, dan kegiatan pendidikan. Saya ingin mengajak mereka melihat bahwa internet memiliki banyak sisi yang perlu dipahami, mulai dari teknologi dasar hingga tata kelola global.

Saya juga ingin mengingatkan murid-murid bahwa masa depan mereka tidak hanya ditentukan oleh seberapa mahir mereka menggunakan gawai. Masa depan juga ditentukan oleh karakter, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan kemauan untuk terus belajar.

Teknologi boleh berkembang semakin canggih. Kecerdasan artifisial boleh membantu manusia mengerjakan banyak hal. Namun, hati nurani, empati, kejujuran, dan tanggung jawab tetap harus menjadi pegangan.

Sebagai seorang guru, saya tidak ingin murid hanya menjadi konsumen teknologi. Saya ingin mereka menjadi pencipta, pemikir, dan manusia yang mampu menggunakan teknologi untuk membantu sesama.

Penutup: Belajar, Menulis, dan Berbagi untuk Negeri

Perjalanan Omjay menuju ICANN87 Bali adalah bagian dari ikhtiar untuk terus belajar di tengah perubahan zaman. Melalui kegiatan yang dijadwalkan pada 17–22 Oktober 2026, saya berharap dapat memperoleh wawasan baru tentang tata kelola internet dan membangun hubungan dengan komunitas yang memiliki kepedulian terhadap masa depan dunia digital.

Saya percaya, sekecil apa pun pengetahuan yang kita peroleh, akan menjadi berharga jika dibagikan dengan tulus. Sebuah tulisan dapat membuka wawasan. Sebuah diskusi dapat menumbuhkan gagasan. Sebuah pertemuan dapat melahirkan kerja sama. Dan sebuah langkah kecil dari seorang guru mungkin dapat menginspirasi banyak murid untuk berani bermimpi.

Dari Bali, saya ingin membawa pulang lebih dari sekadar kenangan perjalanan. Saya ingin membawa pulang semangat, pengetahuan, dan tanggung jawab untuk terus mengembangkan literasi digital di Indonesia.

Sebab, bagi saya, menjadi guru bukan hanya tentang berdiri di depan kelas dan menyampaikan pelajaran. Menjadi guru adalah perjalanan panjang untuk terus belajar, memberi teladan, dan menyalakan harapan.

Dari Bali untuk Indonesia. Dari ruang kelas untuk dunia. Dari tulisan sederhana untuk perubahan yang bermakna.

Salam Blogger Persahabatan.

Wijaya Kusumah - omjay 

Wijaya Kusumah 

Guru Informatika SMP Labschool Jakarta

Blog: https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.