Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Senin, 05 Oktober 2026

kisah Omjay Gagal Naik kereta LRT

Gagal Naik LRT, Belajar Menunggu dengan Sabar

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.

Malam ini saya mengalami sebuah kegagalan kecil.

Saya gagal naik kereta LRT tujuan Jati Mulya dari Stasiun Cikoko.

Sebenarnya saya sudah hampir masuk ke dalam kereta. Namun, petugas keamanan LRT mencegah saya untuk naik.

Kereta pun akhirnya berangkat tanpa saya.

Untuk beberapa detik, tentu ada rasa kecewa.

Saya melihat kereta yang tadi hampir saya naiki perlahan meninggalkan stasiun.

Dalam hati mungkin muncul kalimat sederhana:

“Ah, gagal lagi.”

Tetapi ternyata kegagalan kecil itu tidak perlu membuat saya marah.

Saya hanya perlu menunggu.

Informasi di stasiun menunjukkan bahwa kereta berikutnya akan datang sekitar enam menit lagi.

Enam menit.

Bagi sebagian orang, enam menit mungkin terasa sangat singkat.

Namun ketika kita sedang terburu-buru, enam menit bisa terasa panjang.

Saya pun memilih duduk dan menunggu.

Saya mencoba menikmati waktu yang ada.

Saya menarik napas.

Saya melihat orang-orang di sekitar.

Saya memperhatikan suasana stasiun.

Dan kemudian saya tersenyum sendiri.

Ternyata hidup memang seperti perjalanan menggunakan kereta.

Kadang-kadang kita sudah merasa berada di waktu yang tepat.

Kita sudah hampir sampai.

Kita sudah hampir mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.

Tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang membuat kita harus berhenti.

Kereta berangkat.

Kesempatan terlewat.

Rencana berubah.

Apa yang harus kita lakukan?

Mengeluh?

Atau menunggu kereta berikutnya?

Saya memilih menunggu.

Sebab kereta berikutnya akan datang.

Dan perjalanan saya belum selesai.

Dari pengalaman kecil malam ini, saya kembali belajar bahwa gagal bukan berarti selesai.

Gagal naik satu kereta bukan berarti kita tidak akan sampai ke tujuan.

Kita hanya perlu menunggu kereta berikutnya.

Begitu pula dalam kehidupan.

Gagal mengikuti lomba bukan berarti kita tidak akan pernah menang.

Gagal ujian bukan berarti kita tidak akan pernah lulus.

Gagal menerbitkan buku bukan berarti kita tidak akan pernah menjadi penulis.

Gagal menyelesaikan pendidikan tepat waktu bukan berarti kita tidak akan menjadi sarjana atau doktor.

Saya sendiri pernah mengalaminya.

Pendidikan S3 yang seharusnya dapat saya selesaikan dalam waktu lebih singkat ternyata membutuhkan waktu delapan tahun.

Saya pernah gagal.

Saya pernah kehilangan kesempatan.

Saya pernah kecewa.

Tetapi saya memilih untuk bangkit dan mencari jalan.

Akhirnya pada tahun 2022 saya menyelesaikan pendidikan doktor Teknologi Pendidikan.

Hari ini saya kembali mendapatkan pelajaran yang sama dari sebuah kejadian yang sangat sederhana.

Jangan terlalu lama bersedih ketika gagal.

Jika satu kereta sudah berangkat, tunggulah kereta berikutnya.

Jika satu kesempatan terlewat, persiapkan diri untuk kesempatan berikutnya.

Jika satu tulisan belum berhasil, tulislah lagi.

Jika satu ujian belum lulus, belajar lagi.

Jika satu rencana gagal, cari cara lain.

Hidup tidak berhenti hanya karena satu kegagalan.

Malam ini saya hanya menunggu enam menit.

Namun enam menit itu mengajarkan saya tentang kesabaran.

Saya belajar bahwa tidak semua hal harus terjadi sesuai dengan keinginan kita.

Ada kalanya kita harus menerima keadaan.

Ada kalanya kita harus berhenti sejenak.

Ada kalanya kita harus menunggu.

Dan selama menunggu, kita bisa melakukan sesuatu yang sangat penting:

berpikir.

Mungkin kegagalan memang sengaja hadir untuk memberikan kita waktu berpikir.

Waktu untuk mengevaluasi.

Waktu untuk menarik napas.

Waktu untuk menenangkan hati.

Waktu untuk menyadari bahwa ternyata kita tidak perlu terburu-buru.

Akhirnya, kereta LRT berikutnya datang.

Saya pun bersiap naik.

Perjalanan menuju Jati Mulya berlanjut.

Saya tersenyum.

Bukan karena berhasil naik kereta.

Tetapi karena saya mendapatkan sebuah pelajaran dari kegagalan kecil malam ini.

Ternyata gagal naik kereta bisa mengajarkan kita cara menunggu.

Dan menunggu mengajarkan kita untuk sabar.

Sabar mengajarkan kita untuk menerima.

Menerima mengajarkan kita untuk tidak mudah mengeluh.

Dan tidak mudah mengeluh membuat kita lebih kuat menghadapi perjalanan kehidupan.

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35, jangan pernah meremehkan pengalaman kecil.

Pengalaman sederhana bisa menjadi bahan tulisan yang luar biasa.

Kita tidak harus menunggu mengalami kejadian besar untuk mulai menulis.

Gagal naik LRT pun bisa menjadi tulisan.

Yang penting adalah kita mau bertanya kepada diri sendiri:

“Apa yang saya pelajari dari kejadian ini?”

Setelah menemukan jawabannya, tuliskan.

Dengan bantuan kecerdasan buatan, tulisan kita bisa dibantu menjadi lebih menarik dan enak dibaca. Namun pengalaman, perasaan, dan pelajaran hidup tetap berasal dari diri kita sendiri.

Karena itu saya selalu percaya:

AI dapat membantu merapikan tulisan, tetapi hati kitalah yang memberikan jiwa pada tulisan.

Malam ini saya gagal naik LRT.

Tetapi saya tidak gagal mencapai tujuan.

Saya hanya harus menunggu enam menit lebih lama.

Dan ternyata, enam menit itu adalah guru kecil yang mengajarkan saya arti kesabaran.

Berkali kita gagal, lekas bangkit dan cari akal.
Berkali kita jatuh, lekas berdiri, jangan mengeluh.

Teruslah menulis.

Sebab bisa jadi, pengalaman kecil yang kita anggap tidak berarti justru menjadi tulisan yang menguatkan seseorang yang sedang menghadapi kegagalannya sendiri.

Salam literasi.

Omjay – Guru Blogger Indonesia

1 komentar:

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.