Jangan Hanya Menghitung Apa yang Belum Kita Punya: Belajar Bersyukur dalam Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia
Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia
Minggu pagi, 11 Oktober 2026, saya kembali merenungkan sebuah pesan sederhana yang memiliki makna begitu dalam. Pesan itu mengingatkan saya agar tidak hanya menghitung apa yang belum kita miliki, tetapi juga belajar mensyukuri segala nikmat yang masih Allah berikan kepada kita.
Terkadang, kita terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain. Kita melihat keberhasilan mereka, harta yang mereka miliki, jabatan yang mereka raih, rumah yang mereka tempati, atau perjalanan indah yang mereka bagikan di media sosial. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.
Akibatnya, kita merasa kurang bahagia. Kita merasa tertinggal. Kita merasa belum menjadi siapa-siapa, padahal sesungguhnya Allah telah memberikan begitu banyak nikmat yang sering kali luput dari perhatian kita.
Pagi ini, saya ingin mengajak pembaca Kompasiana untuk berhenti sejenak. Mari kita melihat kembali perjalanan hidup yang sudah kita lalui. Mari kita menghitung nikmat, bukan hanya menghitung kekurangan.
Ketika Nikmat Terasa Biasa
Sebagai seorang guru yang telah mengabdikan diri di dunia pendidikan sejak tahun 1994, saya belajar bahwa kehidupan adalah perjalanan panjang yang penuh pelajaran. Ada masa ketika kita merasa bahagia, ada masa ketika kita menghadapi kesulitan, dan ada pula masa ketika kita harus belajar menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.
Selama menjalani perjalanan tersebut, saya semakin memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari sesuatu yang besar.
Bisa bangun pada pagi hari merupakan nikmat. Bisa menghirup udara segar merupakan nikmat. Bisa melihat wajah orang-orang yang kita cintai merupakan nikmat. Bisa mendengar suara keluarga, berbincang dengan sahabat, dan melaksanakan pekerjaan yang kita sukai juga merupakan nikmat.
Sayangnya, kita sering menganggap semuanya sebagai hal yang biasa.
Kita baru menyadari betapa berharganya kesehatan ketika tubuh mulai sakit. Kita baru memahami pentingnya keluarga ketika harus berjauhan. Kita baru merasakan betapa berharganya waktu ketika kesempatan yang ada tidak dapat diulang kembali.
Padahal, setiap hari sesungguhnya memberikan kesempatan kepada kita untuk bersyukur.
Saya belajar bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya hal yang belum kita punya. Hidup adalah kesempatan untuk menggunakan apa yang sudah kita miliki dengan sebaik-baiknya.
Belajar Bersyukur dari Perjalanan Hidup
Dalam perjalanan hidup, tidak semua keinginan dapat terwujud. Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Ada impian yang membutuhkan waktu panjang untuk dicapai. Ada pula kegagalan yang memaksa kita berhenti sejenak dan mengevaluasi diri.
Namun, bukankah dari perjalanan itulah kita belajar menjadi manusia yang lebih kuat?
Saya teringat perjalanan pendidikan yang saya tempuh hingga jenjang doktoral. Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Ada tantangan, keterlambatan, dan berbagai pengalaman yang menguji kesabaran. Saya pernah merasakan betapa panjangnya sebuah perjuangan untuk menyelesaikan pendidikan.
Dalam keadaan seperti itu, dukungan keluarga, terutama istri tercinta, menjadi bagian penting dalam perjalanan saya. Saya belajar bahwa keberhasilan bukan semata-mata tentang kecerdasan atau kemampuan pribadi. Ada doa, kesabaran, pengorbanan, dan dukungan orang-orang yang menyayangi kita.
Karena itu, ketika berhasil melewati suatu kesulitan, saya berusaha mengingat bahwa ada banyak hal yang patut disyukuri.
Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Tidak semua orang memiliki pendamping yang terus memberikan semangat. Tidak semua orang dapat menyelesaikan perjuangannya sesuai dengan waktu yang direncanakan.
Maka, daripada terus-menerus mengeluh tentang apa yang belum tercapai, bukankah lebih baik kita menghargai setiap langkah kecil yang sudah berhasil kita lalui?
Bagi saya, rasa syukur bukan berarti berhenti berusaha. Bersyukur justru menjadi sumber kekuatan untuk melanjutkan perjuangan.
Menulis Membuat Saya Belajar Menghargai Kehidupan
Sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia, saya telah menjadikan menulis sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Sejak mengembangkan blog pribadi pada tahun 2007, saya belajar bahwa pengalaman sederhana dapat menjadi tulisan yang bermakna bagi orang lain.
Saya menulis tentang pendidikan, guru, keluarga, perjalanan, teknologi, dan berbagai peristiwa yang memberikan pelajaran kehidupan.
Mengapa saya terus menulis?
Salah satu alasannya adalah karena menulis membuat saya belajar memperhatikan hal-hal kecil yang sering terlewatkan. Ketika sebuah peristiwa dituangkan menjadi tulisan, saya mencoba menemukan makna di baliknya.
Saya belajar bahwa tidak semua kebahagiaan harus dirayakan dengan sesuatu yang mahal. Tidak semua keberhasilan harus diumumkan dengan gemerlap pujian. Terkadang, kebahagiaan terbesar justru hadir ketika kita dapat menjalani hari dengan tenang, berkumpul bersama keluarga, membantu orang lain, dan menyelesaikan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab.
Melalui tulisan, saya juga ingin mengajak para guru dan peserta Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI untuk melihat pengalaman hidup dari sudut pandang yang lebih positif.
Cobalah menuliskan tiga nikmat yang kita rasakan hari ini. Mungkin kita masih diberi kesehatan untuk bekerja. Mungkin ada teman yang menyapa dengan ramah. Mungkin ada murid yang tersenyum setelah memahami pelajaran. Mungkin ada anggota keluarga yang mendoakan kita.
Hal-hal sederhana seperti itu layak diabadikan dalam tulisan.
Jangan menunggu pengalaman besar untuk mulai menulis. Tuliskan saja pengalaman kecil yang membuat hati kita bersyukur. Bisa jadi, tulisan sederhana tersebut menjadi penguat bagi seseorang yang sedang menghadapi kesulitan.
Jangan Membandingkan Takdir Kita dengan Orang Lain
Salah satu hal yang sering mencuri kebahagiaan adalah kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
Ketika teman mendapatkan promosi jabatan, kita merasa tertinggal. Ketika orang lain membeli rumah baru, kita merasa belum berhasil. Ketika orang lain menerbitkan buku, kita merasa tulisan sendiri belum berarti.
Padahal, setiap orang mempunyai perjalanan hidup yang berbeda.
Ada yang mencapai keberhasilan pada usia muda. Ada yang harus menunggu lebih lama. Ada yang jalannya terlihat mulus, tetapi ada pula yang harus melewati banyak rintangan sebelum sampai ke tujuan.
Kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh perjuangan di balik kehidupan seseorang.
Oleh karena itu, jangan menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk merendahkan diri sendiri. Jadikanlah keberhasilan mereka sebagai inspirasi untuk terus belajar dan berkembang.
Kita boleh memiliki cita-cita tinggi. Kita boleh bekerja keras untuk memperbaiki kehidupan. Kita boleh berharap mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Namun, jangan sampai keinginan tersebut membuat kita lupa menghargai nikmat yang sudah ada.
Bersyukur dan berusaha harus berjalan beriringan.
Kita bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah, kemudian menggunakan nikmat tersebut untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Jika memiliki ilmu, bagikan ilmu itu. Jika memiliki waktu, gunakan untuk kegiatan yang baik. Jika memiliki kesempatan membantu orang lain, lakukan dengan tulus.
Dengan begitu, hidup kita tidak hanya dipenuhi keinginan untuk memiliki lebih banyak, tetapi juga keinginan untuk memberi lebih banyak manfaat.
Sebelum Tidur, Hitunglah Nikmat Allah
Ada sebuah kebiasaan sederhana yang ingin saya ajak untuk kita lakukan mulai malam ini.
Sebelum tidur, luangkan beberapa menit untuk merenungkan perjalanan hari yang baru saja kita lalui.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah hari ini saya masih diberi kesempatan untuk bernapas?
Apakah hari ini saya masih dapat melihat, mendengar, dan berkomunikasi dengan orang lain?
Apakah hari ini saya masih mempunyai kesempatan untuk bekerja, belajar, atau membantu seseorang?
Apakah hari ini saya sudah meminta maaf ketika melakukan kesalahan?
Apakah hari ini saya sudah berusaha menjadi manusia yang lebih baik daripada kemarin?
Jika masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, berarti perjalanan kita belum selesai.
Jika masih ada orang yang menyayangi kita, rawatlah hubungan itu dengan baik.
Jika masih ada kesalahan yang harus diperbaiki, jangan malu untuk mengakuinya.
Jika masih ada impian yang belum terwujud, teruslah berusaha tanpa melupakan rasa syukur.
Kemudian, ucapkanlah dengan hati yang tulus, Alhamdulillah.
Bukan karena hidup kita sempurna. Bukan pula karena semua keinginan sudah terpenuhi. Kita mengucapkan Alhamdulillah karena menyadari bahwa di tengah segala kekurangan, masih banyak nikmat Allah yang menyertai perjalanan hidup kita.
Syukur Bukan Berarti Menyerah
Saya ingin menegaskan satu hal penting. Bersyukur bukan berarti kita harus menerima keadaan tanpa berusaha memperbaikinya.
Jika belum berhasil, kita tetap boleh belajar. Jika belum memiliki sesuatu yang kita butuhkan, kita tetap boleh bekerja keras. Jika melakukan kesalahan, kita tetap harus memperbaiki diri.
Rasa syukur bukan alasan untuk berhenti melangkah. Sebaliknya, rasa syukur seharusnya membuat kita lebih bersemangat menjalani kehidupan.
Seorang guru tetap belajar meskipun sudah lama mengajar. Seorang penulis tetap menulis meskipun tulisannya belum banyak dibaca. Seorang orang tua tetap mendoakan anak-anaknya meskipun tidak semua harapannya dapat terwujud.
Kita melakukan semua itu bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian, melainkan karena kita menyadari bahwa setiap kesempatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan baik.
Saya pun ingin terus belajar menjadi guru yang bermanfaat, penulis yang konsisten, suami yang baik, ayah yang menyayangi keluarga, dan manusia yang tidak mudah melupakan nikmat Allah.
Saya tentu masih mempunyai banyak kekurangan. Masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Masih ada cita-cita yang ingin diwujudkan. Namun, saya tidak ingin seluruh perhatian hanya tertuju pada apa yang belum berhasil saya raih.
Saya ingin menikmati prosesnya, mensyukuri setiap kesempatan, dan terus berusaha memberikan manfaat kepada sesama.
Penutup: Mari Menghitung Nikmat, Bukan Kekurangan
Sahabat pembaca Kompasiana yang saya hormati, hidup ini terlalu berharga jika hanya digunakan untuk menghitung apa yang belum kita punya.
Sesekali, lihatlah kembali apa yang sudah kita miliki. Hargai kesehatan, keluarga, sahabat, pekerjaan, ilmu, dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya sesuatu.
Kita tidak harus memiliki kehidupan yang sama dengan orang lain untuk merasakan kebahagiaan. Kita hanya perlu belajar menghargai perjalanan sendiri, menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab, dan memperbanyak rasa syukur kepada Allah.
Sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia, saya ingin terus belajar menuliskan kisah-kisah kehidupan yang mengingatkan diri sendiri dan orang lain agar tidak mudah menyerah. Saya percaya bahwa tulisan sederhana yang lahir dari hati dapat menjadi pengingat bagi pembacanya.
Mari kita tutup hari dengan rasa syukur dan membuka hari esok dengan semangat baru.
Jangan hanya menghitung apa yang belum kita punya. Hitunglah juga nikmat yang masih kita miliki.
Sebab, bisa jadi apa yang hari ini kita anggap biasa adalah sesuatu yang sangat dirindukan oleh orang lain.
Semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita, mengampuni kesalahan kita, melapangkan hati kita untuk bersyukur, dan memberikan kekuatan agar kita terus berbuat baik.
Alhamdulillah untuk hari ini, untuk keluarga yang menyayangi kita, untuk kesempatan yang masih terbuka, dan untuk setiap pelajaran yang menjadikan kita lebih dewasa.
Tetap semangat menebarkan kebaikan. Tetap semangat membaca dan menulis. Semoga setiap langkah dan karya kita menjadi jalan untuk memberikan manfaat bagi sesama.
Salam Blogger Persahabatan.
Omjay Guru Blogger Indonesia
Menulislah dengan hati, karena dari hati yang bersyukur lahir tulisan yang mampu menyentuh hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.