Menghadiri Organising for Power di Hotel Shangri-La Jakarta: Belajar Memperkuat Suara Guru untuk Masa Depan Pendidikan
Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia
Selasa, 13 Oktober 2026, menjadi hari yang istimewa bagi Omjay. Saya mendapatkan undangan untuk menghadiri sebuah kegiatan penting di Hotel Shangri-La, Jakarta, yaitu 10th Education International Asia-Pacific Regional Conference 2026 dengan tema “Organising for Power”.
Konferensi regional yang berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 ini mengangkat tema besar tentang bagaimana serikat pekerja pendidikan membangun kekuatan untuk membentuk masa depan pendidikan di kawasan Asia-Pasifik. Bagi saya, undangan ini bukan sekadar kesempatan untuk menghadiri sebuah acara, melainkan juga ruang untuk belajar, memperluas wawasan, dan memahami bagaimana perjuangan guru dapat memberikan dampak nyata bagi kemajuan pendidikan.
Sebagai seorang guru Informatika di SMP Labschool Jakarta dan bagian dari keluarga besar organisasi profesi guru, saya merasa bersyukur mendapatkan kesempatan untuk berada di tengah forum yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan pendidikan.
Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pertemuan seperti ini. Guru tidak hanya bertugas mengajar di ruang kelas, tetapi juga mempunyai peran penting dalam menyuarakan aspirasi, memperjuangkan kesejahteraan, dan memastikan bahwa kebijakan pendidikan benar-benar berpihak kepada peserta didik serta para pendidik.
Bertemu dengan tokoh-tokoh penting pendidikan Indonesia
Kegiatan ini semakin menarik karena, berdasarkan informasi yang saya terima, sejumlah tokoh penting dijadwalkan hadir, di antaranya Ibu Titiek Soeharto yang akrab disapa Mbak Titiek Prabowo, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti.
Kehadiran para tokoh tersebut menjadi perhatian tersendiri. Pendidikan merupakan urusan bersama yang membutuhkan kerja sama antara pemerintah, organisasi profesi, serikat guru, sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Guru berada di garis depan proses pendidikan. Setiap hari, guru berhadapan langsung dengan murid yang memiliki karakter, kemampuan, dan latar belakang berbeda. Guru juga menghadapi perubahan kurikulum, perkembangan teknologi, serta tuntutan untuk terus meningkatkan kompetensi.
Karena itulah, suara guru perlu didengar. Kebijakan pendidikan yang baik semestinya tidak hanya disusun berdasarkan dokumen dan angka-angka, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman nyata para pendidik di lapangan.
Bagi saya, forum seperti Organising for Power dapat menjadi kesempatan untuk mengingatkan kembali bahwa kekuatan pendidikan tidak hanya terletak pada pemerintah atau lembaga pendidikan, tetapi juga pada para guru yang bekerja dengan penuh dedikasi.
Organising for Power: Bersatu untuk memperkuat perjuangan guru
Apa sebenarnya makna Organising for Power?
Secara sederhana, istilah ini dapat dimaknai sebagai upaya membangun kekuatan bersama melalui pengorganisasian, solidaritas, dan kerja kolektif. Dalam konteks pendidikan, organisasi guru dapat menjadi wadah untuk menyatukan aspirasi, memperjuangkan hak-hak pendidik, dan mendorong terciptanya sistem pendidikan yang lebih adil dan bermutu.
Seorang guru mungkin memiliki keterbatasan ketika menyampaikan aspirasi secara sendirian. Namun, ketika guru bersatu dalam organisasi yang kuat, aspirasi tersebut dapat disampaikan dengan lebih terarah, terukur, dan bertanggung jawab.
Kekuatan organisasi bukan semata-mata soal jumlah anggota. Kekuatan itu juga tumbuh dari pengetahuan, integritas, solidaritas, dan kemampuan membangun dialog dengan para pengambil kebijakan.
Organisasi guru yang baik tidak hanya hadir ketika ada persoalan. Organisasi juga harus mampu menawarkan gagasan, memberikan masukan, mengembangkan kompetensi anggotanya, serta ikut mencari solusi atas berbagai tantangan pendidikan.
Inilah pelajaran penting yang ingin saya bawa pulang dari kegiatan ini: guru yang bersatu akan lebih kuat dalam menyuarakan perubahan, tetapi guru yang terus belajar akan lebih siap mewujudkan perubahan tersebut.
Perjuangan guru tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan
Sebagai guru yang telah mengabdikan diri di dunia pendidikan sejak 1994, saya memahami bahwa tugas guru tidak pernah sederhana. Guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, memberikan tugas, dan menilai hasil belajar. Guru juga mendampingi murid, menanamkan karakter, membangun kepercayaan diri, dan membantu generasi muda mempersiapkan masa depan.
Namun, pengabdian tersebut perlu didukung oleh kebijakan yang adil, kesejahteraan yang layak, perlindungan profesi, serta kesempatan untuk mengembangkan kompetensi.
Persoalan kesejahteraan guru, tunjangan profesi, kepastian karier, pemerataan fasilitas pendidikan, dan beban administrasi merupakan beberapa hal yang perlu terus diperhatikan. Perjuangan terhadap persoalan tersebut akan lebih bermakna jika dilakukan melalui dialog, data yang akurat, dan organisasi yang bertanggung jawab.
Saya percaya bahwa guru yang sejahtera akan memiliki kesempatan lebih besar untuk berkonsentrasi pada tugas utamanya, yaitu mendidik anak-anak bangsa.
Akan tetapi, memperjuangkan kesejahteraan juga harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Guru perlu terus membaca, menulis, berdiskusi, mengikuti pelatihan, dan mempelajari perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.
Kita tidak boleh berhenti belajar hanya karena sudah lama mengajar. Pengalaman puluhan tahun justru seharusnya membuat kita semakin terbuka terhadap perubahan.
Tantangan baru: Guru di tengah perkembangan kecerdasan artifisial
Sebagai guru Informatika, saya juga melihat bahwa pendidikan sedang menghadapi perubahan besar akibat perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).
Teknologi AI membuka peluang baru untuk pembelajaran yang lebih kreatif, personal, dan efisien. Namun, teknologi ini juga menghadirkan tantangan terkait etika, privasi, kejujuran akademik, dan kemampuan berpikir kritis murid.
Di sinilah peran guru menjadi semakin penting. Guru tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi. Guru harus membimbing murid agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana, bertanggung jawab, dan manusiawi.
Saya selalu percaya bahwa teknologi merupakan alat bantu, bukan pengganti hati nurani seorang pendidik. AI dapat membantu menjelaskan konsep, menyusun latihan, atau memberikan ide pembelajaran. Namun, keteladanan, empati, perhatian, dan ketulusan seorang guru tetap memiliki tempat yang sangat penting.
Organisasi guru pun perlu ikut mempersiapkan anggotanya menghadapi perubahan ini. Pelatihan teknologi, literasi digital, pembelajaran koding, dan kecerdasan artifisial perlu menjadi bagian dari pengembangan profesional guru.
Jangan sampai guru tertinggal dalam perubahan zaman. Sebaliknya, guru harus menjadi bagian dari mereka yang mengarahkan perubahan agar teknologi benar-benar memberikan manfaat bagi pendidikan.
Belajar, berdiskusi, dan membawa pulang inspirasi
Menghadiri konferensi seperti Education International Asia-Pacific Regional Conference 2026 memberikan kesempatan untuk melihat persoalan pendidikan dari sudut pandang yang lebih luas.
Persoalan guru di Indonesia mungkin memiliki karakteristik tersendiri, tetapi tantangan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat organisasi profesi, melindungi hak pendidik, dan mempersiapkan masa depan pembelajaran juga menjadi perhatian di berbagai negara.
Dari forum seperti ini, kita dapat belajar bahwa perubahan membutuhkan kolaborasi. Tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, organisasi profesi, atau individu tertentu. Semua pihak harus mengambil bagian sesuai dengan perannya masing-masing.
Saya berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang untuk bertukar pengalaman, menyerap gagasan baru, dan memperkuat semangat untuk terus memperjuangkan pendidikan yang lebih baik.
Bagi saya pribadi, kesempatan menghadiri acara ini juga menjadi pengingat bahwa perjalanan seorang guru tidak boleh berhenti pada kegiatan mengajar di kelas. Guru perlu terus memperluas wawasan, membangun jejaring, serta berbagi pengetahuan kepada sesama pendidik.
Pengalaman yang diperoleh dari sebuah konferensi akan lebih bermakna jika tidak berhenti sebagai cerita pribadi, tetapi diolah menjadi tulisan yang bermanfaat bagi orang lain.
Itulah salah satu alasan saya terus menulis di blog dan berbagai media. Saya ingin mengabadikan pengalaman, membagikan pengetahuan, serta mengajak sesama guru untuk terus belajar sepanjang hayat.
Penutup: Kekuatan guru terletak pada persatuan dan ketulusan
Undangan untuk menghadiri Organising for Power di Hotel Shangri-La Jakarta menjadi kesempatan berharga bagi saya untuk kembali merenungkan arti perjuangan seorang guru.
Guru membutuhkan organisasi yang kuat, tetapi organisasi juga membutuhkan anggota yang aktif, kritis, dan berintegritas. Guru membutuhkan kesejahteraan yang layak, tetapi juga perlu terus meningkatkan kualitas pengabdiannya. Guru membutuhkan dukungan pemerintah, tetapi suara dan pengalaman guru sendiri juga harus menjadi bagian penting dalam menentukan arah kebijakan pendidikan.
Saya berharap konferensi ini semakin memperkuat semangat solidaritas para pendidik di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia.
Mari kita bangun organisasi guru yang bukan hanya kuat dalam menyuarakan aspirasi, tetapi juga nyata dalam memberikan manfaat. Mari kita jadikan persatuan sebagai kekuatan untuk memperjuangkan kesejahteraan, meningkatkan kompetensi, dan menciptakan pendidikan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Sebab, masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan yang tertulis di atas kertas. Masa depan pendidikan juga ditentukan oleh guru-guru yang setiap hari hadir di ruang kelas, mengajar dengan hati, dan tidak pernah lelah menyalakan harapan.
Guru bersatu, pendidikan maju. Guru berdaya, Indonesia berjaya.
Salam blogger persahabatan.
Omjay
Guru Blogger Indonesia
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.