Berikut contoh artikel untuk materi KBMN PGRI Gelombang 35 dengan tema “Orang yang Saya Kagumi”, mengambil sosok Buya Hamka, ulama, sastrawan, dan tokoh pendidikan Indonesia yang memberikan keteladanan melalui ilmu, karya, dan pengabdiannya kepada masyarakat.
### Buya Hamka, Ulama dan Sastrawan yang Mengajarkan Arti Kebaikan



Contoh artikel inspiratif untuk peserta KBMN PGRI Gelombang 35 bersama Omjay, Guru Blogger Indonesia.
Ada banyak tokoh yang dapat kita kagumi dalam kehidupan ini. Ada yang dikagumi karena kekayaannya, ada yang dikenal karena jabatannya, dan ada pula yang namanya terus dikenang karena ilmu, karya, serta kebaikan yang diwariskannya kepada generasi berikutnya.
Salah satu tokoh yang layak kita teladani adalah Buya Hamka, yang memiliki nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Beliau dikenal sebagai ulama, pemikir Islam, penulis, dan sastrawan besar Indonesia. Perjalanan hidupnya memberikan pelajaran bahwa seseorang dapat menyebarkan kebaikan melalui berbagai jalan: pendidikan, dakwah, sastra, dan keteladanan pribadi.
Bagi saya, Buya Hamka merupakan sosok yang menarik untuk dipelajari oleh para guru, penulis, dan pegiat literasi. Beliau menunjukkan bahwa ilmu tidak seharusnya berhenti di dalam pikiran. Ilmu perlu dibagikan agar memberikan manfaat bagi kehidupan orang lain.
6
6
### 1\. Kebaikan Buya Hamka dalam Membangun Pendidikan
Salah satu hal yang membuat saya mengagumi Buya Hamka adalah pengabdiannya dalam dunia pendidikan dan dakwah. Beliau berperan penting dalam menghidupkan kegiatan keagamaan dan pendidikan di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta.
Perlu kita ketahui, Masjid Agung Al-Azhar didirikan oleh Yayasan Pesantren Islam pada 19 November 1953 dan selesai dibangun pada 1958. Buya Hamka kemudian dikenal sebagai imam besar masjid tersebut dan turut mengembangkan kegiatan dakwah serta pendidikan. Jadi, beliau bukan pendiri tunggal masjid itu, melainkan salah satu tokoh penting dalam perkembangan Al-Azhar.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa kebaikan tidak selalu berarti membangun sesuatu sendirian. Kebaikan juga dapat diwujudkan dengan meneruskan perjuangan, mengembangkan lembaga, membimbing masyarakat, dan memastikan pendidikan terus memberikan manfaat.
Bagi seorang guru, teladan ini sangat bermakna. Sekolah bukan sekadar tempat murid memperoleh nilai dan ijazah. Sekolah harus menjadi tempat tumbuhnya karakter, ilmu pengetahuan, kepedulian, dan cita-cita.
### 2\. Buya Hamka, Sastrawan Besar Indonesia





Buya Hamka bukan hanya dikenal sebagai ulama. Beliau juga merupakan sastrawan produktif yang karya-karyanya dibaca oleh masyarakat Indonesia dan dikenal di negara tetangga.
Beberapa karya terkenalnya adalah:
* Tenggelamnya Kapal van der Wijck
* Di Bawah Lindungan Ka'bah
* Merantau ke Deli
* Tasawuf Modern
* Tafsir Al-Azhar
Karya-karya tersebut memperlihatkan keluasan pemikiran Buya Hamka. Melalui sastra, beliau mengangkat persoalan cinta, adat, kehidupan sosial, perjuangan, dan nilai-nilai keagamaan. Sementara itu, melalui buku-buku keislaman, beliau mengajak pembaca mendalami agama dan merenungkan kehidupan.
Inilah pelajaran penting bagi kita yang sedang belajar menulis bersama Omjay dalam KBMN PGRI Gelombang 35.
Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah cara menyampaikan gagasan, menyimpan pengalaman, dan mewariskan pemikiran kepada generasi berikutnya.
Kita mungkin tidak mampu menghasilkan karya sebanyak Buya Hamka. Namun, kita dapat memulai dari satu artikel, satu pengalaman, dan satu kisah kebaikan setiap hari.
### 3\. Keteladanan Buya Hamka yang Bisa Kita Praktikkan
Ada tiga pelajaran yang dapat kita ambil dari perjalanan beliau.
Pertama, teruslah belajar. Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Rasa ingin tahu, membaca buku, berdiskusi, dan belajar dari pengalaman juga merupakan jalan untuk memperluas pengetahuan.
Kedua, bagikan ilmu melalui karya. Guru dapat menulis pengalaman mengajar, orang tua dapat menuliskan kisah keluarga, dan siapa pun dapat membagikan pelajaran hidup yang bermanfaat bagi orang lain.
Ketiga, bangun sesuatu yang manfaatnya melampaui diri sendiri. Buya Hamka meninggalkan warisan berupa karya tulis dan pengabdian dalam pendidikan serta dakwah. Kita pun dapat membangun warisan sederhana melalui tulisan yang menginspirasi murid, keluarga, dan masyarakat.
### 4\. Penutup: Mengagumi Buya Hamka dengan Menulis
Sebagai guru dan penulis, kita dapat belajar dari Buya Hamka bahwa ilmu akan semakin bermakna ketika dibagikan. Karya yang ditulis dengan sungguh-sungguh dapat terus dibaca, dipelajari, dan direnungkan meskipun penulisnya telah tiada.
Saya, Omjay, mengajak peserta KBMN PGRI Gelombang 35 untuk tidak hanya mengagumi tokoh besar, tetapi juga mengambil pelajaran dari perjuangannya.
Jika Buya Hamka meninggalkan warisan melalui buku dan pengabdiannya, kita pun dapat mulai meninggalkan warisan melalui tulisan di blog pribadi.
Tidak harus langsung menjadi buku tebal. Mulailah dengan artikel sederhana tentang seseorang yang berjasa dalam hidup kita.
Tuliskan kebaikannya. Ceritakan perjuangannya. Sampaikan pelajaran yang kita peroleh.
Sebab, orang yang kita kagumi mungkin telah menyelesaikan perjalanan hidupnya, tetapi nilai-nilai kebaikannya dapat terus berjalan melalui tulisan yang kita wariskan.
Salam literasi!
Omjay — Wijaya Kusumah Guru Blogger Indonesia KBMN PGRI Gelombang 35
Dulu saya pernah membaca Tenggelamnya Kapan Van Der Wijck
BalasHapusMantapp, betul sekali omjay, sangat membantu pola berfikirku, mksh om
BalasHapus